Sejarah Alkitab Katolik & Protestan: Alkitab-nya SAMA, Iman-nya BEDA

Posted on

Kita sering menemukan perbedaan dan perdebatan tentang penafsiran alkitab terjadi antara umat beragama, baik itu antara Katolik-Protestan, Protestan-Protestan, Kristen – Islam (Islam setidaknya mengakui bahwa mereka mengakui Injil dan Taurat, meskipun bagi mereka kitab-kitab tersebut sudah terkorupsi).

Kitab Suci Katolik dan Protestan adalah sama, hanya saja berbeda jumlah kitabnya..mengapa bisa terjadi? Apakah kesamaan Alkitab berarti iman Katolik adalah sama dengan iman Protestan dan juga Islam? Tidak juga, lalu mengapa beda? Dan bagaimana kita sebagai orang Katolik menyingkapi ini?…

 

Belajar dari Sejarah

Pertama kali, kita harus melihat kembali kepada sejarah keberadaan Alkitab itu sendiri, bagaimana proses dari tidak ada Alkitab sampai hari ini kita bisa memegang Alkitab yang kita pakai.

Alkitab merupakan terjemahan dari Bible yang juga berasal dari kata “Biblia” dalam bahasa Yunani yang berarti “buku-buku” yang digunakan oleh orang Kristen perdana untuk menunjuk pada tulisan-tulisan yang di-inspirasikan oleh Roh Kudus.

Bangsa Yahudi, murid Yesus, dan para rasul memegang kitab-kitab yang berbeda satu sama lainnya dari segi nama/judul kitab, gaya bahasa, asal kitab, dan tentu saja isi untuk tujuan/lingkup mengajar yang berbeda. Setelah kematian Yesus di kayu salib, ada keinginan dari umat Gereja perdana untuk menyamakan kumpulan kitab yang mereka punyai agar, semua murid Yesus mempunyai kitab yang sama, dan juga selain itu, untuk menjaga agar murid Yesus terhindar dari kesesatan, karena pada saat itu terdapat banyak sekali naskah-naskah sesat yang beredar.

Kanonisasi (dalam  praktek,  kanon  berarti daftar buku-buku yang diakui
sebagai bagian dari Kitab Suci
) Alkitab dimulai pada abad pertama dan berakhir pada abad ke-4, dimana dalam kanonisasi tersebut, naskah-naskah yang ada diteliti oleh Magisterium Gereja apakah itu benar di inspirasikan oleh Roh Kudus atau hanya merupakan tulisan prosa, palsu, bidat, dll..Kanonisasi ini ditutup dengan menyatakan bahwa alkitab yang sah untuk digunakan oleh umat Kristen di seluruh penjuru dunia adalah 73 kitab.

Namun pada saat terjadinya reformasi oleh kaum Protestan, Martin Luther membuang 7 kitab terakhir dari alkitab dan mendaftarkannya sebagai bagian dari kitab apokripa (kata Apokrip berarti “tersembunyi.”  Buku  yang  bersifat apokrip, maksudnya buku yang   tidak   dikenal.  Buku yang ditulis secara
“sembunyi-sembunyi.
“), sehingga pada konsili Trente, Gereja menetapkan kanon sekali lagi untuk menunjukkan bidaah Martin Luther dan tokoh protestan lainnya yang mengurangi isi alkitab dari 73 menjadi 66 kitab. Tujuh kitab yang dikurangi itu di beri nama Deuterokanonika dimana Deutero berarti “kedua kali” (bukan kanon kedua), itulah sebabnya umat Protestan memiliki Alkitab yang berisi 66 kitab sedangkan Katolik dan Orthodox memiliki alkitab dengan 73/72 kitab.

Otoritas Iman Katolik

Menilai dari sejarah Alkitab, kita dapat melihat bahwa, ke-absahan atau ke-otentikan Alkitab dijamin oleh Magisterium Gereja, jika tidak ada Magisterium Gereja, tentu saja tidak ada yang dapat menjamin bahwa alkitab tersebut benar-benar merupakan Firman Tuhan!!

Cara pandang dan penafsiran dari Alkitab yang tidak dapat salah tentunya harus dengan bantuan terang Gereja yang diwariskan kepada kita melalui Tradisi Lisan.

Lalu bagaimana dengan klaim dari pihak-pihak tertentu bahwa ‘Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran iman’?

Marilah kita sedikit membuka Alkitab dan menyelidiki, apakah benar, Alkitab menyatakan bahwa Ia-lah satu-satunya sumber iman:

Yoh 20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

Yoh 21:25 Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.

Jelaslah bahwa Alkitab sendiri tidak menyatakan bahwa Ia-lah satu-satunya sumber kebenaran iman, sebaliknya, Alkitab makin meneguhkan otoritas Iman Katolik dengan menegaskan:

2 Tes 2:15 Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.

King James Version 2 Tes 2:15 Therefore, brethren, stand fast, and hold the traditions which ye have been taught, whether by word, or our epistle.

Rasul Paulus menegaskan agar kita berpegang teguh pada ajaran (tradisi) yang kita terima, baik dari tulisan maupun lisan, kita tahu bahwa yang tulisan pasti adalah Kitab Suci, lalu bagaimana dengan yang lisan?? Tentu saja yang dari Yesus diberikan secara turun menurun dari para Rasul yang dikepalai oleh Petrus sampai ke Paus Benedictus XVI sekarang.

Oleh karena itu, otoritas iman kita menjadi jelas yaitu dari Kitab Suci, dan Tradisi (Suci) yang dijaga oleh Magisterium Gereja dibawah Paus.

Iman-nya sama?

Meninjau dari penjelasan-penjelasan sebelumnya, tentunya kita bisa dengan tegas menyimpulkan bahwa meskipun Alkitab yang kita pegang adalah sama dengan Alkitab Protestan, tentu saja Iman Katolik dan Protestan adalah tidak sama.  Perbedaan yang paling besar adalah terletak pada bagaimana umat Katolik dan Protestan menafsirkan isi Alkitab, dimana penafsiran umat Katolik akan Alkitab berpusat pada terang pengajaran dari Gereja. Kesatuan ajaran iman dan penafsiran yang berpusat pada Gereja dibawah kepemimpinan Bapa Paus inilah yang menjaga persatuan dan keutuhan iman Gereja katolik sejak 2000 tahun yang lalu sampai sekarang di seluruh dunia, dan inilah yang kita akui dalam pengakuan iman setiap kali misa yaitu: Aku percaya akan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.

——————————————————————————–
 Copyights 2005 Artikel diambil dari Santo Mikael Dot Com

About these ads

41 thoughts on “Sejarah Alkitab Katolik & Protestan: Alkitab-nya SAMA, Iman-nya BEDA

    Serafina said:
    December 10, 2010 at 7:38 pm

    DVC….
    Terima kasih untuk semuanya yang telah dipaparkan.., saya sangat senang bisa mengetahuinya…. (^_^)

    Bolehkah lagi dijelaskan tentang perbedaan kata-kata (penulisan kata) dalam Alkitab yang pernah saya temukan ketika membaca Alkitab di Gereja.., sebab Alkitab yang digunakan berbeda bentuknya….
    Beberapa ayat antara Kitab Suci Perjanjian Baru (yang dicetak 1 buku; berukuran kecil; berkulit biru), berbeda beberapa katanya dengan Alkitab (1 buku yang lengkap; berisi Kitab Suci Perjanjian Lama, Kitab Deuterokanonika, dan Kitab Suci Perjanjian Baru), sehingga ketika kita mengikuti pembacaan Kitab Suci yang dibacakan oleh pembaca, ada terdapat beberapa kata yang berbeda pada ayat yang sama….

    Mohon penjelasannya….
    Terima kasih….

    thomastrika responded:
    December 11, 2010 at 6:29 pm

    Dear Sdri. Seravina,

    Mengenai perbedaan dalam penulisan kata-kata. Ada beberapa variasi Alkitab. Ada yang Roman Catholic Version/RCV (1582) yang dipakai oleh semua umat Katolik. Dan didalamnya ada 7 kitab Deuterokanika-nya. Di Indonesia diterbitkan oleh LBI/Lembaga Biblika Indonesia. Ini adalah versi Alkitab yang pertama yang kemudian oleh sdr-sdr kita kaum Protestan direvisi dan 7 kitab/tulisan dibuang.

    Diluar dari yang RCV (Roman Catholic Version), kemudian ada lagi versi KJV/King James Version atau AV /Authorised Version (1611).. KJV direvisi lagi th1881, kemudian direvisi lagi1952 menjadi RSV/Revised Standard Version. Yg pada tahun 1971 direvisi lagi dg nama tetap RSV.

    Mgkn karena ada varian2 itu pula maka timbul perbedaan-perbedaan penulisan. Saya pribadi berfikir karena pemahaman bahasa terus berkembang maka bisa timbul spt itu. TAPI pada hakikatnya harusnya pengertiaannya sama. Maka kadang2 kalau bingung saya baca 2 versi yaitu satu yang bahasa Indonesia & satu bahasa Inggris supaya tahu apa sih arti sebenarnya.

    Tapi yg ingin di sharing kan disini adalah mgn 4 Prinsip Mengartikan Alkitab

    Secara umum, Alkitab mempunyai dua macam arti. Yang pertama disebut ‘literal/ harafiah’ sedangkan yang kedua disebut sebagai ‘spiritual/ rohaniah’. Kemudian arti rohaniah ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu: alegoris, moral dan anagogis.[3] Ke-empat macam arti ini secara jelas menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

    1. Arti literal/ harafiah.

    Arti harafiah adalah arti yang berdasarkan atas penuturan teks yang ada secara tepat. Mengikuti ajaran St. Thomas Aquinas, kita harus berpegang bahwa, “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harafiah”.[4] Jadi dalam membaca Kitab suci, kita harus mengerti akan arti kata-kata yang dimaksud secara harafiah yang ingin disampaikan oleh pengarangnya, baru kemudian kita melihat apakah ada maksud rohani yang lain. Arti rohani ini timbul berdasarkan arti harafiah.

    2. Arti alegoris

    Arti alegoris adalah arti yang lebih mendalam yang diperoleh dari suatu kejadian, jika kita menghubungkan peristiwa tersebut dengan Kristus. Contohnya:

    a) Penyeberangan bangsa Israel melintasi Laut Merah adalah tanda kemenangan yang diperoleh umat beriman melalui Pembaptisan (lih.Kel14:13-31; 1Kor 10:2).
    b) Kurban anak domba Paska di Perjanjian Lama merupakan tanda kurban Yesus Sang Anak Domba Allah pada Perjanjian Baru (Kel 12: 21-28; 1 Kor 5:7)).
    c) Abraham yang rela mengurbankan anaknya Ishak adalah gambaran dari Allah Bapa yang rela mengurbankan Yesus Kristus Putera-Nya (Kej 22: 16; Rom 8:32).
    d) Tabut Perjanjian Lama adalah gambaran dari Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru. Karena pada tabut Perjanjian Lama tersimpan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16) dan roti manna (Kel 25:30); sedangkan pada rahim Maria Sang Tabut Perjanjian Baru tersimpan Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Roti Hidup (Yoh 6:35).

    3. Arti moral

    Arti moral adalah arti yang mengacu kepada hal-hal yang baik yang ingin disampaikan melalui kejadian-kejadian di dalam Alkitab. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita …sebagai peringatan” (1 Kor 10:11).

    a) Ajaran Yesus agar kita duduk di tempat yang paling rendah jika diundang ke pesta (Luk 14:10), maksudnya adalah agar kita berusaha menjadi rendah hati.
    b) Peringatan Yesus yang mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita (Mrk 4: 24) maksudnya agar kita tidak lekas menghakimi orang lain.
    c) Melalui mukjizat Yesus menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” (Mat 20: 29-34) Yesus mengajarkan agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita.

    4. Arti anagogis

    Arti anagogis adalah arti yang menunjuk kepada surga sebagai ‘tanah air abadi’. Contohnya adalah:

    a) Gereja di dunia ini melambangkan Yerusalem surgawi (lih. Why 21:1-22:5).
    b) Surga adalah tempat di mana Allah akan menghapuskan setiap titik air mata (Why 7:17).

    Berikut ini adalah pepatah yang berasal dari Abad Pertengahan:

    “Huruf [dari kata letter/ literal] mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori; moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi.”[5]

    Serafina said:
    February 4, 2011 at 2:16 pm

    Terima kasih untuk penjelasannya..,
    saya memahaminya…. (^_^)

    KEVIN said:
    April 8, 2011 at 10:22 pm

    info yang anda berikan bagus. tapi kata yang anda gunakan salah. bukan iman melainkan agamanya…..
    agar lebih mudah mengerti saya beri contoh nyata.
    gusdur pernah bertemu dengan romo uskup agung jakarta.
    ia bilang dihadapan ribuan orang..
    Gus Dur: Saya, dengan Romo imannya sama, tapi agamanya beda. saya ama Soeharto agamanya sama, tapi imannya beda..

    iman dan agama adalah dua hal yang berbeda. secara sangat sederhana, agama adalah kulit luar, identitas, status yang ada d diri kita. namun, iman adalah yang ada didalam hati kita dan melekat untuk setiap org agar berbuat baik. itu. makasih

    thomastrika responded:
    April 8, 2011 at 11:08 pm

    Halo Sdr. Kevin,

    Terimakasih comment-nya. Maafkan saya kalau kurang menjelaskan dengan baik latar-belakang posting diatas. Untuk itu tanpa bermaksud menajamkan perbedaan atau menimbulkan perpecahan apapun di Tubuh Kristus yang adalah satu, berikut penjelasan dari posting-an diatas. Tapi apapun itu, “ut omnes unum sint” ok ..

    Mengenai Iman Katolik dan Iman kepada Tuhan:

    Iman kepada Tuhan adalah lebih bersifat umum, karena semua orang yang percaya kepada Tuhan akan dapat mengatakan bahwa dia mempunyai iman kepada Tuhan. Namun tidak semua orang yang percaya kepada Tuhan dapat mengatakan bahwa dia mempunyai Iman Katolik (Catholic Faith).

    Pada saat seseorang menjadi seorang Katolik, maka dia dituntut untuk mempunyai iman Katolik yang bersumber pada iman kepada Tuhan, Tuhan yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus, yang mendirikan Gereja Katolik sebagai tubuh mistik Kristus, yang mempercayai artikel iman seperti yang disebutkan di dalam doa “aku percaya”, yg bunyinya demikian dalam Syahadat Singkat atau Syahadat Para Rasul atau the Apostle Creed :

    “Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan Bumi
    Dan akan Yesus Kristus, PutraNya yang tunggal, Tuhan kita
    Yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria.
    Yang menderita sengsara dalam pemerintahan Ponsius Pilatus, disalibkan wafat dan dimakamkan
    Yang turun ketempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati
    Yang naik ke surga, duduk disebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa.
    Dari situ Ia kan datang mengadili orang hidup dan mati.
    Aku percaya akan Roh Kudus
    Gereja Katolik yang Kudus,
    Persekutuan para kudus
    Pengampunan dosa
    Kebangkitan badan
    Kehidupan kekal.
    Amin”

    Konsili Vatikan II, dalam dokumen Lumen Gentium mengatakan yang menjadi anggota Gereja Katolik adalah “mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan didalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan.” (LG, 14).

    Demikian tambahan informasi yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat membantu menjelaskan tentang Iman Katolik (Catholic Faith) dengan lebih jelas. Shalom.

    riyanto said:
    August 23, 2011 at 4:26 pm

    ada tujuh surat yang didelet protestan, pertanyaan saya, yang 7 surat itu apakah sesat, bohong atau apa? kenapa katholik bersikeras mempertahannkannya?

    ada hubungan apa antara Alqur’an dengan kitab2 sebelumnya, karena alqur’an mengakui Taurat, injil, mazmur, sedangkan kita tidak mengakui mereka?

    adakah indikasi bahwa alqur’an benar2 dari Allah atau tidak?

    lalu mengapa umat narani tidak mau mengakui alqur’an yang secara sejarah lebih baru.

    mohon penjelasannya!

      thomastrika responded:
      June 26, 2012 at 11:22 am

      Salam Sdr. Riyanto, mohon maaf lama belum menjawab sampai diingatkan oleh Sdr. Henri dibawah. Saya akan coba sharing-kan apa yang saya ketahui mengenai Deuterokanonika dulu. Pertanyaan2 lainnya saya sungguh belum tahu.

      Tetapi semoga sharing ini menjadi pembelajaran bersama dan bukan berujung pada perdebatan, karena ini semata-mata dari pengetahuan saya per hari ini dan dilihat dari kacamata iman saya.

        thomastrika responded:
        June 26, 2012 at 11:33 am

        Umat Kristen non-Katolik sering mengatakan bahwa kitab-kitab deuterokanonika disebut kitab-kitab Apokrif dan seharusnya tidak menjadi bagian dari Kitab Suci.

        Berikut ini adalah beberapa prinsip yang dapat kita (umat Katolik) pegang:

        1. Sebaiknya tidak menggunakan istilah “Apokrif”

        Sebenarnya menurut St. Agustinus perkataan “Apokrif” atau apocrypha artinya adalah ‘tidak jelas asal usulnya’ yang berkonotasi dengan buku yang tidak diketahui pengarangnya atau buku yang keasliannya dipertanyakan. Namun secara umum, perkataan “apokrif” tadi diartikan sebagai sesuatu yang ‘tersembunyi, salah, buruk atau sesat’, sehingga sebaiknya kita tidak menggunakan kata “apokrif” karena artinya sama sekali bukan penghalusan kata “deuterokanonika”, tetapi malahan sebaliknya, sebab menganggap bahwa kitab- kitab ini tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus.
        Maka sebaiknya kita menggunakan saja kata “Deuterokanonika” yang terjemahan bebasnya adalah, “kanon yang kedua/ secondary”. Istilah ini dikenal pada abad ke-16, yaitu setelah Martin Luther dan para pengikutnya mulai membedakan antara ketujuh kitab dalam PL dengan kitab- kitab PL lainnya (yang mereka sebut sebagai proto-canon). Padahal, sudah sejak awal kitab- kitab Deuterokanonika termasuk dalam Septuaginta, yaitu Kitab Suci Perjanjian Lama yang ditulis di dalam bahasa Yunani, yang adalah Kitab Suci yang dipegang oleh Kristus dan para rasul.

        2. Tidak seharusnya kita mengikuti hasil Konsili Javneh/ Jamnia

        Setelah kehancuran Yerusalem di tahun 70, yaitu tepatnya tahun 90- an para ahli kitab Yahudi mengadakan konsili Jamnia (Javneh) untuk meninjau kanon Kitab Suci mereka, sambil juga menolak keberadaan Injil yang tidak mereka pandang sebagai tulisan yang diinspirasikan oleh Allah, karena mereka menolak Kristus. Konsili ini akhirnya memutuskan untuk tidak memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika di dalam Kitab agama Yahudi. Apa alasan persisnya kenapa disebut demikian memang tidak diketahui. Ada yang menyebutkan karena naskah asli dalam bahasa Ibraninya tidak diketemukan, namun yang ada hanya terjemahan bahasa Yunaninya, walaupun para Bapa Gereja pada jemaat Kristen awal tidak meragukan keaslian kitab-kitab ini. [Para Bapa Gereja yang mengutip kitab- kitab Deuterokanonika dalam ajaran mereka, dan dengan demikian tidak meragukan keotentikan kitab tersebut, adalah: Para rasul dalam ajaran mereka Didache, Klemens, Polycarpus, Irenaeus, Hippolytus, Cyprian, Agustinus dan Jerome].

        Walaupun sekarang umat Yahudi umumnya menerima hasil konsili Jamnia (Javneh) namun harus diakui bahwa tidak semua komunitas Yahudi menerima otoritas konsili Jamnia ini. Umat Yahudi di Ethiopia, misalnya, memilih kanon yang sama dengan kanon PL yang ditetapkan oleh Gereja Katolik, yang memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika (cf. Encyclopedia Judaica, vol. 6, p. 1147).

        Demikian pula sebenarnya, Gereja tidak perlu menerima otoritas konsili Jamnia, sebab:
        1) Konsili agama Yahudi yang dilakukan setelah Kristus bangkit, tidak mengikat umat Kristiani, sebab kuasa mengajar telah diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, dan bukan kepada pemimpin agama yahudi;
        2) Konsili Jamnia menolak semua dokumen yang malah menjadi dasar sumber iman Kristiani, yaitu Injil dan kitab- kitab Perjanjian Baru.
        3) Dengan menolak kitab- kitab Deuterokanonika ini, konsili Jamnia menolak kitab- kitab yang dipegang oleh Yesus dan para rasul, yang telah termasuk di dalam Kitab Suci mereka yaitu Septuaginta. Adalah fakta bahwa 2/3 kutipan dalam kitab Perjanjian Baru sendiri diambil dari Septuagint dan bukan dari kitab berbahasa Ibrani.

        3.Kitab-kitab yang termasuk Deuterokanonika

        Kitab-kitab yang termasuk Deuterokanonika ini adalah:

        1. Tobit
        2. Yudit
        3. Tambahan kitab Ester
        4. Kebijaksanaan
        5. Sirakh
        6. Barukh, termasuk tambahan surat Yeremia
        7. Tambahan kitab Daniel
        8. 1 Makabe
        9. 2 Makabe

        Kitab-kitab tersebut sudah termasuk di dalam kanon Kitab Suci sesuai dengan yang ditetapkan oleh Paus Damasus I dalam sinode di Roma tahun 382 dan kemudian ditetapkan kembali pada Konsili Hippo (393) dan di Konsili Carthage (397).

        Jika kita membaca isi kitab Deuterokanonika tersebut tidak ada yang bertentangan dengan isi Alkitab yang lain, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kita-kitab tersebut ‘buruk’. Kitab tersebut malah memperjelas apa yang disampaikan dalam kitab Perjanjian Lama yang lain. Contohnya saja, di tambahan kitab Esther, ada uraian tentang mimpi Mordekai, surat penetapan Haman, doa Mordekai dan doa Esther, yang jika dibaca dalam kesatuan dengan Kitab Esther dalam kanon terdahulu dapat menjelaskan isi Kitab Esther secara lebih lengkap dan membuat ceritanya ‘make sense’. (Misalnya, di kitab terdahulu hanya disebut ada surat Haman, tetapi isi persisnya tidak dijabarkan, sedangkan di kitab tambahan Esther isi surat itu dijabarkan).

        4. Mengapa Luther dan Calvin menolak Kitab- kitab Deuterokanonika

        Kemungkinan Luther mencoret kitab Deuterokanonika terutama karena tidak setuju dengan isi Kitab 2 Makabe yang mengajarkan untuk berdoa bagi keselamatan jiwa orang-orang yang telah meninggal, sebab Luther berpendapat bahwa keselamatan diperoleh hanya karena iman (Sola Fide). Martin Luther juga menganggap beberapa kitab dalam Perjanjian Baru sebagai “kitab deuterokanonika”, seperti halnya surat rasul Yakobus – yang disebutnya sebagai “Epistle of straw/ surat jerami”, kitab Wahyu, dan surat Ibrani, karena kitab itu secara implisit mengutip kitab 2 Makabe 7, yaitu Ibr 11:35. Selanjutnya ada yang mengatakan bahwa gereja Protestan mencoret Kitab Deuterokanonika karena ingin mengikuti hasil konsili Jamnia, agar lebih sesuai dengan kitab asli dalam bahasa Ibrani yang diterima oleh umat Yahudi. Namun seperti telah dijabarkan di atas, sesungguhnya umat Kristen tidak perlu mengikuti hasil Konsili Jamnia. Karena konsili itu menolak Kristus, menolak Injil dan Perjanjian Baru, bagaimana mungkin kita bisa mempercayai bahwa mereka mempunyai otoritas dari Roh Kudus untuk menentukan kanon Kitab Suci?

        Walaupun Luther menolak kitab- kitab Deuterokanonika, namun setelah bertentangan sendiri dengan para tokoh Protestan lainnya, akhirnya Luther tetap memasukkan kitab- kitab tersebut dalam Kitab Perjanjian Baru. Luther dan para pengikutnya kemudian menyebut kitab- kitab Deuterokanonika sebagai kitab- kitab Apokrif (tidak diilhami Roh Kudus). Namun demikian, Luther tetap memasukkan kitab- kitab Deuterokanonika tersebut di dalam terjamahan Kitab Suci yang disusunnya, sebagai tambahan/ appendix antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hal ini berlangsung terus sampai tahun 1827, saat the British and Foreign Bible Society mencoret atau membuang kitab- kitab Deuterokanonika dari kitab suci mereka.

        Maka Kitab Suci versi Protestan yang ada sekarang, bukan saja tidak lengkap, jika dibandingkan dengan Kitab Suci dari Gereja Katolik, tetapi juga tidak lengkap jika dibandingkan dengan Kitab Suci yang umum mereka pakai selama sekitar 300 tahun (dari abad ke 16 sampai ke 19). Dan bahwa kitab suci Protestan sekarang ini usianya baru sekitar 150 tahun, dan ditetapkan oleh manusia, dan bukan oleh Tradisi turun temurun dari para rasul dan para Bapa Gereja. Tak dapat dipungkiri bahwa Luther menentukan sendiri kitab- kitab yang dianggapnya ‘lebih penting’ dari kitab- kitab yang lain berdasarkan pemahaman pribadinya; dan inilah yang kemudian mempengaruhi pandangan para pengikutnya. Sedangkan Gereja Katolik dalam menentukan kanon, tidak berdasarkan pemahaman pribadi melainkan dari bukti tertulis dari pengajaran para rasul dan Bapa Gereja, yang telah memasukkan kitab- kitab tersebut dalam tulisan mereka.

        Jadi yang benar adalah Gereja Katolik tidak pernah menambah-nambah Kitab Suci, sebab memang dari sejak awal ditetapkan sudah demikian. Yang terjadi adalah pengurangan oleh pihak pendiri gereja Protestan, yang akhirnya diturunkan kepada generasi-generasi berikut dalam bermacam denominasi.

        dikutip dari: katolisitas.org

        ilham said:
        September 19, 2012 at 12:04 pm

        salam sejahtera,,,,,,bukan merasa benar,,,sy hanya menceritakan sejarah yg saya dapat seperti yg saudara dapat juga,,,,,kalaupun sejarah yg saya dapat ini salah tolong di koreksi……. terima kasihhh

        sebelum ada bible, kitab sebelumnya yg ada adalah zabur n taurat,,, dan salah satu isi yg terkandung dari kedua kitab ini adalah akan muncul nabi selanjutnya yang akan memimpin ummat manusia yg bernama yesus (bagi agama nasrani) nabi isa (bagi islam),,,di kedua kitab ini sngt terang di jelaskan bagaimana charakteristik dari yesus sehingga para pembaca zabur n taurat ini bisa mengenal yesus seperti mengenal anak merka sendiri,,,namun faktanya yg terjadi adalah sebagian dari mereka tidak ingin mengakui keberadaan yesus setelh yesus muncul n menghilangkan ayat2 yg menceritakan ttg yesus di kitab mereka,,,,dan mengatakan bahwa “agama kamilah yg benar”,,,,,,hal yg terjadi begitu pun dgn bible,,,dalam bible (perjanjian lama) menceritakan bahwa akan muncul Nabi dan rasul terakhir yg akan memimpin ummat manusia setelah yesus,,,dan dalam kitab bible pun diceritakan bgmn karakter dari nabi yg terakhir ini agar ketika dia muncul para ahli kitab bisa mengenal dia seperti anak mereka sendiri,,,,,dan yg terjadi setelah kemunculan Nabi akhir zaman tersebut,,,sebagian ahli kitab bible,zabur, taurat menjadi pengikutnya,,,tp sebagian dari mereka lagi tidak mengakuinya,,,,dan akhirnya apa yg di lakukan oleh ahli kitab zabur n taurat juga di lakukan oleh ahli kitab pada saat itu dengan menghilangkan beberpa ayat ayat yg menceritakan ttg kebenaran rasul yg terakhir,,,,,,salah satu bukti lagi ada ayat yg dihilangkan ialah pada zaman yesus ada ayat yg mengatakan daging babi itu di haramkan tp kenapa pada saat yesus sudah diangkat kelangit kenapa daging babi tiba tiba di halalkan………

        terima kasihh……

    Petrus said:
    March 8, 2012 at 10:31 pm

    Memang, perbedaan yg mencolok antara katolik dan protestan yaitu otoritas kebenaran.

      thomastrika responded:
      March 10, 2012 at 6:26 pm

      Terimakasih Sdr Petrus. Mungkin lebih tepatnya ‘Otoritas/Kuasa Mengajar’ atau yang kita kenal dengan Magisterium.

    satria pitulung said:
    April 28, 2012 at 7:32 pm

    Sembahlah Allah
    Allah ialah;Maha suci
    tapi
    maha suci bukan Allah

    Allah ialah;sang pncipta
    tapi
    sang pncipta bukan Allah

    klo kita ambil hukum ilmiah Allah itu tidak ada!
    hukum ada ialah;traba,trasa,trlihat

    Allah=maha suci!
    Allah bukan Mha kotor

    klo kalian mnganggap Allah maha kotor ta’munggkin mungkin Isa/yesus Brprilaku Kasih dan mngajarkn kasih

    yg prlu di ingat!
    Prilaku Yesuslah yg mnyelamatkn!
    karna dia penunjuk jln Allah

    jangan sembah yg lain cukup
    saja “Allah”.

      thomastrika responded:
      June 26, 2012 at 9:30 am

      Salam Sdr. Satria Pitulung, maaf saya tidak mengerti komen anda. Tapi saya berterimakasih anda sudah menuliskannya. Semoga bisa menjadi renungan bersama.

        ilham said:
        September 19, 2012 at 12:09 pm

        yang di maksudkan oleh satria adalah dalam penyebaran agama yg dilakukan oleh yesus pada zamannya, yesus hanya mengatakan “sembahlah Allah seperti aku menyembah-Nya”,,,,dan yesus tidak pernah mengatakan “sembahlah Aku dan Allah”….

        terima kasih

        thomastrika responded:
        September 19, 2012 at 7:35 pm

        Sdr. ku Ilham,

        Terimakasih untuk komentar-nya.

        1. Dari tulisan anda, saya asumsikan Sdr adalah seorang muslim. Sebelumnya secara pribadi sebagai sesama umat Tuhan saya ikut turut prihatin atas dibuatnya & ditayangkannya film “innocence of muslims” yg sungguh kontroversial itu. Jujur saya saja yang menonton menjadi tidak nyaman dibuatnya. Saya kira itu hanya perbuatan orang bodoh, picik dan kurang kerjaan saja. Harapan saya, kita tetap adem dan kepala dingin menanggapinya.

        2. Maaf kalau boleh tahu ayat yang anda kutip diatas itu ada dimana ya ?

        3. Kemudian, apa yang anda ingin sampaikan dengan pertanyaan anda diatas ? Asumsi saya lagi, anda menanyakan konsep Trinitas ? Kalau benar, berikut sharingnya:

        Terus terang, kesulitan kita yang terbesar untuk memahami Trinitas adalah karena kita sebagai manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu, selalu mempunyai kerangka pikir tentang kronologis suatu kejadian. Maksudnya, kita otomatis memahami sesuatu berdasarkan urutan-urutan kejadian, yang dapat terjadi sedemikian karena adanya dimensi waktu. Maka untuk mencoba memahami Allah, memang yang tersulit adalah membayangkan Allah yang mengatasi segala sesuatu, termasuk mengatasi ruang dan waktu, sebab Dia berada dalam kekekalan. Nah karena tidak ada urutan kejadian, maka Allah dalam kepenuhan-Nya (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) ada bersama-sama dalam kekekalan itu.

        Itulah sebabnya dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah….” (Yoh 1:1-2)

        Dengan pengertian ini, maka dapat dikatakan bahwa pada zaman Perjanjian Lama, saat Sang Firman belum menjelma menjadi manusia, maka keberadaan Sang Firman (yaitu Putera Allah) itu selalu bersama-sama dengan Allah Bapa dan tidak terpisahkan dari Allah Bapa. Apa yang disabdakan Allah Bapa kepada para Nabi adalah Sang Firman, walaupun karena keterbatasan manusia yang menerimanya, maka gambaran tentang Firman ini masih samar-samar, dan belum jelas benar, sampai akhirnya setelah waktunya telah genap, Sang Sabda (Allah Putera) itu menjelma menjadi manusia melalui Bunda Maria (lih. Gal 4:4) untuk menyelamatkan umat manusia. Di Perjanjian Lama inilah Allah Bapa telah mempersiapkan, walau masih merupakan gambaran samar-samar, akan Gereja, yang terdiri dari umat pilihan-Nya yang mengimani Kristus, yaitu Putera-Nya, Sang Firman yang ditentukan sebagai yang sulung dari segala mahluk.

        Tentang perwujudan rencana keselamatan Allah secara bertahap ini, Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Gereja, Lumen Gentium mengatakan:

        “2. (Rencana Bapa yang bermaksud menyelamatkan semua orang)

        Atas keputusan kebijaksanaan serta kebaikan-Nya yang sama sekali bebas dan rahasia, Bapa yang kekal menciptakan dunia semesta. Ia menetapkan, bahwa Ia akan mengangkat manusia untuk ikut serta menghayati hidup Ilahi. Ketika dalam diri Adam umat manusia jatuh, Ia tidak meninggalkan mereka, melainkan selalu membantu mereka supaya selamat, demi Kristus Penebus, “citra Allah yang tak kelihatan, yang sulung dari segala makluk” (Kol 1:15). Adapun semua orang, yang sebelum segala zaman telah dipilih oleh Bapa, telah dikenal-Nya dan ditentukan-Nya sejak semula, untuk menyerupai citra Putera-Nya, supaya Dialah yang menjadi sulung diantara banyak saudara (Rom 8:29). Bapa menetapkan untuk menghimpun mereka yang beriman akan Kristus dalam Gereja kudus. Gereja itu sejak awal dunia telah dipralambangkan, serta disiapkan dalam sejarah bangsa Israel dan dalam Perjanjian Lama. Gereja didirikan pada zaman terakhir, ditampilkan berkat pencurahan Roh, dan akan disempurnakan pada akhir zaman. Dan pada saat itu seperti tercantum dalam karya tulis para Bapa yang suci, semua orang yang benar sejar Adam, “dari Abil yang saleh hingga orang terpilih yang terakhir”, akan dipersatukan dalam Gereja semesta di hadirat Bapa.” (Lumen Gentium 2)

        Katekismus Gereja Katolik menjelaskannya demikian:

        KGK 258 Seluruh karya ilahi adalah karya bersama ketiga Pribadi ilahi. Sebagaimana Tritunggal mempunyai kodrat yang satu dan sama, demikian juga Ia hanya memiliki kegiatan yang satu dan sama (Bdk. Konsili Konstantinopel II 553: DS 421). “Bapa, Putera, dan Roh Kudus bukanlah tiga pangkal ciptaan, melainkan satu pangkal” ” (Konsili Firense 1442: DS 1331). Walaupun demikian, tiap Pribadi ilahi melaksanakan karya bersama itu sesuai dengan kekhususan Pribadi. Seturut Perjanjian Baru (Bdk. 1 Kor 8:6). Gereja mengakui: “Satu Allah dan Bapa, dari-Nya segala sesuatu, satu Tuhan Yesus Kristus, oleh-Nya segala sesuatu, dan satu Roh Kudus, di dalam-Nya segala sesuatu berada” (Konsili Konstantinopel II 553: DS 421). Terutama pengutusan-pengutusan ilahi, penjelmaan menjadi manusia dan pemberian Roh Kudus menyatakan kekhususan Pribadi-pribadi ilahi itu.

        KGK 259 Sebagai karya yang serentak bersama dan pribadi, maka kegiatan ilahi menyatakan, baik kekhususan Pribadi-pribadi maupun kodrat-Nya yang satu. Karena itu, seluruh kehidupan Kristen berada dalam persekutuan dengan tiap Pribadi ilahi, tanpa memisah-misahkan mereka. Siapa yang memuja Bapa, melakukannya melalui Putera dalam Roh Kudus; siapa yang mengikuti Kristus, melakukannya karena Bapa menariknya (Bdk. Yoh 6:44) dan Roh menggerakkannya (Bdk. Rom 8:14).

        KGK 255 Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: “Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita” (Sin.Toledo XI 675: DS 528). Dalam mereka “segala-galanya… satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan” (K. Firenze 1442: DS 1330). “Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera” (ibid., DS 1331).

        Seandainya Sdr Ilham masih ingin mempelajari lebih lanjut silahkan ke http://katolisitas.org/8338/aku-percaya-akan-yesus-kristus-putera-allah-yang-tunggal

        Salam damai

    henri said:
    June 24, 2012 at 10:19 am

    Kenapa pertanyaan riyanto ga dijawab?? mohon donk penjelasannya..
    terimakasih.

      thomastrika responded:
      June 26, 2012 at 11:36 am

      Salam Sdr. Henri, sebagian sharing jawaban dari pertanyaan Sdr. Riyanto sudah saya postingkan diatas.

      Tetapi saya kembali mohon-kan ini semua adalah bahan untuk pembelajaran & renungan kita masing-masing dan TIDAK ADA tujuan untuk diperdebatkan atau malah memecah belah persekutuan dalam Tubuh Mistik Kristus yang adalah satu dan sama.

    Gare said:
    September 2, 2012 at 11:51 am

    Mohon dijelaskan sederhana saja maklum sy awam… Kitab2 yg dipake kristen dan atau prtestan nama kitab dan jumlah ayat pasal atau surat..
    Terus kenapa ya ? Injil kok banyak di kuasai bahasa yunani, padahal harusnya bahasa yesus (aramaic).. Krn injil kan turun di yerussalam/palestina bukannya di yunani/itali..tks

    Gare said:
    September 3, 2012 at 9:57 am

    Diskusi disini keliatannya jauh lebih enak dan prosefessional di banding di isadanislam.com, sangat terlihat tidak terlalu keliatan kepentingannya, dalam arti kita harus berpikir terbuka. Walaupun ternyata mungkin keyakinan dan pemikiran kita slah misalnya, kita harus legowo krn dlam rangka mencari kebenaran. Bahkan dalam arti lebih jauh menentukan nasib kita dikehidupan setelah mati. Apalagi disini untuk sementara belum sy liat atau dengar komentar2 yang dihapus secara sepihak oleh admin. Hehe good…job. Tks

    Nicoelnino Berman Tindaon said:
    September 30, 2012 at 10:11 pm

    Memang sangat sulit menemukan satu persamaan dlm banyak perbedaan, karena yg lebih menonjol itu perbedaannya bukan persamaannya. Tetapi biarlah kita berbeda2 dan tdk harus sama, tetapi kita tetap bersaudara. Apa yg ada di dunia ini memang harus berbeda2 (dibuat berbeda atau tdk), coba kita bayangkan bagaimana klo semua kita manusia ciptaan Tuhan ini yg laki2 semuanya sama persis, dan semua yg perempuan juga sama persis, apa jadinya ???. Mungkin yg ada hanya mirip saja, tetapi tdk sama.
    Thks. GBU

      thomastrika responded:
      October 1, 2012 at 1:13 pm

      Sdr Nico,

      Amin sdr.ku. Jauh dari niatan saya utk tulisan2 ini menjadi jawaban yang absolut atau memperuncing perbedaan. Kita adalah Satu Tubuh yang Satu dan Sama. Tulisan2 di blog ini adalah untuk saya pribadi yang sedang belajar. Kalau ada yang pertanyaan/komen saya dapat sharingkan jawabannya pasti saya akan coba sharingkan. Tapi kalau tidak, ya mohon dimaklumkan saya yang sedang belajar ini.

      Ut omnes unum sint !

      GBU saudaraku Nico

    Yohanis first youngt said:
    October 12, 2012 at 8:14 am

    Puji Tuhan dalam Nama Yesus saudaraku katholik memang benar adalah agama kristen yg pertama dan kitab suci…jgn anda kuatir klo ada kepercayaan yg lain… kristen di bangun atas satu dasar yaitu TUBUH KRISTUS satu Tubuh tetapi banyak anggota YESUS mengatakan bahwa tidak ada satu batu pun yg kokoh dari bait allah pertama di yerusalem batu2 ini akan tercerai berai dan menjadi batu penjuru….jgn ada saling mencari kebenaran seperti ahli – ahli taurat jaman yesus ingat org yang menyebut nama Yesus ia ada di pihak kita klo saudara paham alkitab….Tuhan Allah melalui nabi musa memberikan janji ketika di pulihkan org yg bertobat maka taurat dan firman akan di letakan di dalam tiap hati masing2 umatnya sehingga mereka tidak mencari2 di mana TUHAN ALLAH nya…ingat Amanat agung Tuhan Yesus pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid ku…dst anda pasti tahu klo anda ahli kitab suci kenapa ROMA yg di pilih krn ijil harus keluar dari yerusalem supaya bisa sampai ke ujung bumi dan saat itu kerajaan Romawi mempunyai pengaruh yg besar itulah cara Tuhan pakai agar injil bisa di beritakan….maaf saudaraku klo ada kata2 yg kurang tepat….ingat jadilah pelaku Firman bukan pendengar saja TUHAN YESUS MEMBERKATI..

    joshua said:
    November 12, 2012 at 9:47 pm

    benar kata Sodara Yohanis First Youngt
    Kristen dan Katholik tidak ada yg berbeda, cuma tata cara beribadahnya yang bervariasi…
    baik Katholik maupun Kristen sama-sama Percaya dalam iman bahwa Mesias itu adalah Yesus Kristus (Son of God/Tuhan Yesus)…dan petrus adlh salah satu dari kedua belas murid Tuhan Yesus..benerkan broo.. God Always Bless you

      thomastrika responded:
      November 26, 2012 at 1:20 pm

      Sdr Joshua, kalau dilihat dari sisi pandang itu ya pastinya benar. Wong kita kan Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Sama-sama Kristen.

      Tapi artikel itu berbicara mengenai hal yang berbeda. Yaitu pengakuan/syahadat “Iman Katolik”. Topik ini berbicara mengenai iman gereja bukan iman seseorang/pribadi akan Yesus Kristus, yang mana itu sudah kita imani dan amini bersama .

      Mungkin bisa dibaca lagi kalau memang tertarik mendalami, tapi sekali lagi hanya untuk menambah pengetahuan dan bukan untuk berselisih faham, karena kita ini satu tubuh mistik Kristus yang masing-masing punya peran yang sama penting.

      Shalom sdr.ku

    yohanis first young said:
    December 22, 2012 at 10:32 am

    Saudara ku thomasrika sebagai sesama pengikut kristus saya ingat kan untuk mencari pengetahuan di dalam kristus jgn di luar kristus artinya semua nya jelas dalam kitab suci…pada injil 2 timotius 3 : 16 sdh jelas Tulisan yang di ilhamkan oleh ALLAH memang bermanfaat unk mengajar, menyatakan kesalahan..dst..nya ( Tolong di baca sendiri di alkitab )..krn kalau menggunakan rancangan manusia pasti tdk akan mengerti krn tiap org berbeda..pendapatnya tetapi kalau roh kudus adalah satu…jd berdoa lalu minta sama yesus berikan hikmat lalu baca kitab suci…TUHAN AKAN MEMBERIKAN HIKMAT… dan tiap kita yang mengaku anak ALLAH lakukan lah peritah ALLAH klo tidak kt bukan anak ALLAH ingat syaadat..tidak pernah tertulis dalam kitab suci…pengakuan dari dalam hati…jangan sampai musuh memanfaatkan cela…demikian saudara yang ku kasihi TUHAN AKAN MEMBERIKAN PENGETAHUAN KEPADAMU Dengan SYARAT TAKUT AKAN ADALAH SUMBER PENGETAHUAN…itu janjinya dlm kitab Amsal.

      thomastrika responded:
      December 22, 2012 at 12:44 pm

      Saudaraku Yohanis,

      Selamat merayakan Hari Natal.

      Terimakasih komentar-nya. Maafkan saya yang masih belajar ini, tapi saya belum mendapatkan inti dari komentar saudaraku yang terakhir ini.

      Mohon dijelaskan lebih sederhana apa yang menjadi poin2 dari sharing kita ini. Misalnya: “..untuk mencari pengetahuan di dalam kristus jgn di luar kristus artinya semua nya jelas dalam kitab suci” apakah ini boleh saya asumsikan mengenai dialog tentang “sola scriptura”? Dari yang saya pelajari sejauh ini, malahan kalau kita berpegang pada prinsip “hanya alkitab” saja maka itu malah tidak alkitabiah.

      Itu sebab Gereja Katolik memiliki 3 (Tiga) Pilar Kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci (bukan ‘tradisi’) dan Magisterium Gereja (Kuasa Mengajar).

      Yg ingin saya katakan adlh bahwa Kitab Suci dan Tradisi Suci tidak mungkin bertentangan, karena keduanya datang dari sumber yang sama, yaitu Tuhan.

      Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15). Dan Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15).

      Untuk menjaga Tubuh Kristus dari perpecahan, Gereja Katolik pun memiliki Magisterium Gereja (Kuasa Mengajar).

      Dan ketiganya tidak dapat terpisahkan dan saling mendukung.

      Mungkin banyak orang berpendapat secara keliru bahwa dengan demikian maka ada doktrin atau ajaran Katolik yang mengurangi atau menambahkan Alkitab.

      Justru tanpa Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, Alkitab dapat disalah-artikan, seperti yang dikatakan oleh St. Petrus (lih. 2 Pet 3:15-17; 2 Pet 1:20-21).

      “Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan, yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik.

      Kristus mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak Kristus (lih. Luk 10:16).

      Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian.

      Selain itu, Sola Scriptura juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan kitab-kitab mana yang tidak.

      Akhirnya, Sola Scriptura juga bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga, menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang berbeda.

      Dan inilah yang sebenarnya yang menjadi salah satu sebab terjadinya perpecahan gereja-gereja sampai ada 28,000 denominasi, yang jika dilihat secara obyektif sebabnya adalah karena berprinsip pada Sola Scriptura atau Alkitab saja. Padahal doktrin sola Scriptura sendiri tidak ada di Alkitab. Jadi prinsip “Alkitab saja” tidaklah alkitabiah.

      Kemudian, mengenai “..dan tiap kita yang mengaku anak ALLAH lakukan lah peritah ALLAH klo tidak kt bukan anak ALLAH ingat syaadat.” ini juga saya belum mengerti poin-nya..

      Tentunya sebagai seorang Kristen di gereja anda pasti ada Syahadat Iman/Pengakuan Iman-kan? Kalau mau obyektif, dimana ada kalimat Syahadat Iman/Pengakuan Iman/Kredo di dalam Alkitab disebutkan secara eksplisit? Kembali jelas disini pemahaman “Sola Scriptura” sepertinya masih belum cukup.

      Sebagai sharing saja, syahadat iman/kredo/pengakuan iman saya sbg orang Katolik adalah (versi pendek):
      “Aku percaya akan Allah,
      Bapa yang Mahakuasa,
      pencipta langit dan bumi
      Dan akan Yesus Kristus,
      PutraNya yang tunggal, Tuhan kita
      Yang dikandung dari Roh Kudus,
      dilahirkan oleh Perawan Maria.
      Yang menderita sengsara
      dalam pemerintahan Ponsius Pilatus,
      disalibkan, wafat dan dimakamkan,
      Yang turun ketempat penantian,
      pada hari ketiga bangkit
      dari antara orang mati
      Yang naik kesurga,
      duduk disebelah kanan
      Allah Bapa yang Mahakuasa.
      Dari situ Ia akan datang
      mengadili orang yang hidup dan yang mati.
      Aku percaya akan Roh Kudus,
      Gereja Katolik yang Kudus,
      Persekutuan para kudus
      Pengampunan Dosa,
      Kebangkitan badan,
      Kehidupan kekal.
      Amin.”

      Penjelasan mgn syahadat iman ini bisa dilihat disini http://www.imankatolik.or.id/syahadatpendekpenjelasan.html

      Sedikit sharing mengenai Pengakuan Iman ini. Kata “kredo” berasal dari bahasa Latin “credo” yang artinya “aku percaya”. Tujuan kredo adalah mengungkapkan intisari iman secara ringkas.
      Kredo disusun berdasarkan kepercayaan pokok akan Tritunggal Mahakudus dan “karya” masing-masing dari ketiga Pribadi Allah: Bapa Sang Pencipta; Putra Sang Penebus; Roh Kudus Sang Pengudus. Dengan demikian, kredo juga mencakup sejarah karya keselamatan: diprakarsai oleh Bapa, sejarah karya keselamatan berpuncak pada Yesus, dan melalui karya Roh Kudus, misi penebusan dan Misteri Paskah Tuhan kita dilangsungkan sepanjang sejarah Gereja.

      Tentu saja, Syahadat Para Rasul bersumber pada ajaran para rasul. Menurut TRADISI SUCI, pada hari Pentakosta, para rasul menyusun pengakuan iman ini di bawah bimbingan Roh Kudus. Masing-masing dari keduabelas rasul menuliskan satu dari keduabelas pasal iman yang diungkapkan dalam syahadat. (Patut diingat bahwa St Matias telah dipilih menggantikan Yudas yang mengkhianati Tuhan kita dan mati bunuh diri.)

      St Ambrosius (wafat 397) dan Rufinus, keduanya mendukung kebenaran tradisi ini, teristimewa dalam khotbah-khotbah mereka. Tak dapat dipastikan apakah para rasul sendiri yang sesungguhnya menuliskan syahadat awal ini; namun demikian, keyakinan yang diungkapkan dalam syahadat sungguh berakar dari pengajaran mereka. Yang juga menarik, Katekismus Gereja Katolik mempergunakan keduabelas pasal Syahadat Para Rasul ini sebagai acuan dalam menguraikan iman pada Bagian I, “Pengakuan Iman.”

      Pokok-pokok kredo tersebut didapati dalam pengakuan iman yang diucapkan oleh calon baptis pada saat Pembaptisan pada masa awal Gereja. Calon baptis akan menjawab tiga pertanyaan, yang dikelompokkan menurut Pribadi Trinitas. Suatu contoh mengenai pengakuan iman pada saat pembaptisan ini didapati dalam “Tradisi Apostolik” St Hippolitus (wafat 235) yang ditulis sekitar tahun 215. Hingga sekarang, dalam “Upacara Baptis Kanak-kanak” maupun “Upacara Inisiasi Dewasa,” calon baptis (atau dalam hal baptis bayi, orangtua dan wali baptis) menyatakan pengakuan iman dengan menjawab ketiga pertanyaan mengenai Tritunggal Mahakudus: “Percayakah Saudara akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi? Percayakah Saudara akan Yesus Kristus, PutraNya yang tunggal, Tuhan kita, yang dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan, yang bangkit dari alam maut dan duduk di sisi kanan Bapa? Percayakah Saudara akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal?”

      Di lain pihak, Syahadat Nicea dihasilkan oleh Konsili Nicea I (325), yang dipanggil guna menghadapi bidaah Arius, yang pada dasarnya menyangkal keallahan Kristus. Di sini, konsili hendak mengajarkan dengan sangat jelas bahwa Yesus Kristus adalah “sehakikat” dengan Bapa, dengan kodrat ilahi yang sama; bahwa Ia dilahirkan, bukan dijadikan; dan bahwa Perawan Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus, dan melalui dia, Yesus Kristus, sungguh Allah, juga menjadi sungguh manusia. Teks asli Syahadat Nicea berakhir dengan kata-kata, “dan dalam Roh Kudus”. Tak dapat disangkal bahwa dasar dari Syahadat Nicea adalah Syahadat Para Rasul dan pengakuan iman yang dilakukan pada saat pembaptisan.

      Di kemudian hari, dalam Konsili Konstantinopel (381), lagi, Gereja tidak hanya mempertegas kutukannya terhadap Arianisme, melainkan juga mengutuk Pneumatomachs (yakni “para pembunuh Roh”). Oleh sebab itu, kredo diperluas guna menjabarkan secara jelas keallahan Roh Kudus. Sesungguhnya, konsili menyadur kredo yang ditulis pada tahun 374 oleh St Epiphanius dari Salamis. Syahadat ini, yang secara resmi berjudul, Simbol Nicea-Konstantinopel (Nicene-Constantinopolitan Symbol), diperkenalkan ke dalam perayaan Misa sekitar tahun 500. http://www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id167.htm

      Kemudian, saya juga meng-amini Amsal 1 : 7 “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”..Tetapi saya pribadi lebih suka mengartikan kata ‘TAKUT’ dengan ‘KASIH’. Jadi bagi saya, KASIH akan Tuhan adalah permulaan dari segala-galanya. Seperti yang Yesus sendiri perintahkan diatas segala-galanya ““Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu“ (Matius 22:37). Saya pribadi lebih suka itu, karena saya BUKAN umat Perjanjian Lama yang melihat Allah sbg sosok yang ‘menakutkan’ tapi saya berusaha menjadi seorang umat Perjanjian Baru yang melihat Allah sbg sosok Bapa yang mengasihi dgn segala tuntutannya, antara lain juga harus mengasihi sesama dll.

      Mohon koreksi kalau ada asumsi saya yang keliru saudaraku.

      Dan saya tetap mau mengatakan “siapalah saya ini?” sbg penutup. Shalom.

      pelajrilah kitab alqur an niscaya aman said:
      January 5, 2013 at 11:59 pm

      Saya seorang muslim pengen nanya “yesus tuh dalam kitab suci anda, adakah dia berkata sembahlah aku karena aku tuhan, atau sembahlah aku karena aku anak tuhan” dan adakah “tuhan allah nyuruh manusia nyembah yesus misalnya “hai manusia sembahlah anakku”?????

      Saya sering membaca isi bible. sungguh membuat saya semakin ber iman kepada allah swt dan nabi muhammad. Sebab
      Didalam bible Βaπyāk sekali kekeliruan ayat yang bertentangan antara paulus dengan ajaran yesus sendiri, masa paulus lebih berkuasa dari pada yesus, contoh yesus dikhitan paulus bilang ga usah, kok lebih didengar paulus dibanding yesus carilah dalam bible kalo ga percaya, lihat pahami bible maka anda akan bingung

        The Garden said:
        May 15, 2013 at 4:25 am

        INTI ajaran Yesus di Bible mengajarkan kasih, berderma sedekah, Paulus pun meneruskan ajaran tsb
        Itu INTI ajaran yg terutama
        Apakah mengajarkan kasih, derma, sedekah ke anak yatim, orang miskin dsb adalah Salah???
        Hanya iblis yg menyalahkan ajaran kasih, derma sedekah

        Mengapa hanya mencari2 kesalahan dan memfitnah?

        Bahkan 500/600 tahun kemudian …ajaran berderma dan sedekah diikuti dan dikutip oleh orang2 dari arab

        Ayat dr matius.. “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu”
        Kata2 ayat tsb ada yg mirip persis di alquran…

        Sungguh luar biasa pada jaman itu ajaran Kasih, Almsgiving/tzedakah diikuti oleh bangsa2 sekitar timur tengah dan meluas keseluruh dunia…Haleluya
        Jadikan dirimu Keajaiban bagi orang2 sekitarmu

      pelajrilah kitab alqur an niscaya aman said:
      January 6, 2013 at 12:09 am

      Saya seorang muslim pengen nanya “yesus tuh dalam kitab suci anda, adakah dia berkata sembahlah aku karena aku tuhan, atau sembahlah aku karena aku anak tuhan” dan adakah “tuhan allah nyuruh manusia nyembah yesus misalnya “hai manusia sembahlah anakku”?????

      Saya sering membaca isi bible. sungguh membuat saya semakin ber iman kepada allah swt dan nabi muhammad. Sebab
      Didalam bible Βaπyāk sekali kekeliruan ayat yang bertentangan antara paulus dengan ajaran yesus sendiri, masa paulus lebih berkuasa dari pada yesus, contoh yesus dikhitan paulus bilang ga usah, kok lebih didengar paulus dibanding yesus carilah dalam bible kalo ga percaya, lihat pahami bible maka anda akan bingung,

      “Azan islam tidak bisa dinotasikan loh” sungguh ajaran islam agama yang diridhai,

      Trus hal yang menambah keimanan saya adalah saat shalat, ada gerakan sujud, saat sujud tersebut tubuh kita membentuk huruf bacaan kode mim ha da yang tersmbung artinya muhammad, kepala mim, tubuh ha, kaki da, orang kristen mana ada…….

        thomastrika responded:
        March 13, 2013 at 2:15 am

        Puji Tuhan sdr-ku. Semoga semua orang semakin beriman. Semakin bersaudara. Semakin berbelarasa. GBU

        Joshua said:
        May 22, 2013 at 12:49 pm

        Saudara yang seorang Muslim memang kamu tidak akan mengenal Yesu krn kami tidak di pilih…pengikut kristus di pilih jadi kamu klo tidak mengerti ya saudara tidak terpilih…dan kamu bukan anaknya krn kamu tidak mendengarkan suaranya…dan dia ada di SURGA pergi siapkan tempat untuk Pengikutnya jd kuntuk apa kita ragu…klo kita minta sesuatu dia akan sampaikan kepada ALLAH Bapa kita….berbeda dengan Ajaran Nabi saudara(Muhamad) dia ada dimana ya..klo saudara Tahu Muhamad juga sendiri tidak tahu kemana dia pergi jd dia minta pengikutnya salawat untuk keselamatannya…??

        thomastrika responded:
        May 29, 2013 at 2:01 pm

        Shalom sdr Joshua

        Saya pribadi bisa mengerti beberapa poin yang anda sampaikan, tapi wording-nya saya ‘kurang sreg’.

        Saran saya mohon tata penulisannya bisa dipertimbangkan kembali lain kali.

        Salam

    Yohanis first youngt said:
    January 16, 2013 at 4:46 pm

    Terimah kasih puji Tuhan saudara thomas saya tidak mau berdebat dengan anda saya hargai tulisan anda saya tidak akan koresi krn cukup lengkap alasan saudara… sebagai pengikut kristus pertama saya akan menjelaskan yang di maksud di dalam kristus yaitu melalui roh kudus untuk itu saya katakan kepada saudara berdoa minta roh kudus masuk kedalam diri kita dan dia yang akan mengajarkan kita tentang kehendak ALLAH…saya tidak mau bertentangan dengan orang yang di pihak saya tentang Pengakuan Iman krn itu pengakuan dari dalam diri pribadi atau pun jemaat ALLAH.. saudara ku apakah kurang jelas saya katakan awas pihak lawan memanfaatkan perbedaan ini untuk mengambil keuntungan..saya kurang nyaman dengan kata syaadat itu biasaya populer di gunakan buat orang muslim klo kita org kristen pengakuan Iman….untuk itu saya sepakat untuk tidak membahas Tentang pengakuan yang berbeda…dalam sesama saudara kristen yang ada 28,000 ribu denominasi karena itu area yang sakral dan hanya dia dan tuhan yang tahu bagaimana mungkin kita dapat membandingkan atau mengukur menurut pikiran kita manusia…apa artinya pengakuan iman pada ALLAH kalau kita tidak beriman..karena iman tanpa perbuatan adalah mati..jadi saudara ku saya tidak ingin ada perdebatan krn Pengakuan itu hal pribadi antar orang atau jemaah dengan Tuhan ALLAH..dan hasil pembenaran itu ALLAH sendiri yang akan menilik tiap- tiap Hati kita…(KEBENARAN KRN IMAN )yaitu Firman Iman dalam ( Roma 10 :8 ) : firman itu di dalam mulut dan hati Mu +++

    Terakhir saya sampaikan kepada saudara Ku bahwa kerajaan ALLAH sudah dekat maka kita harus bersatu sebagai Tubuh Kristus jangan ada perdebatan satu sama lain, kita satukan IMAN kepada YESUS sebagai TUHAN yang adalah sebagai kepala Gereja dan Kita adalah ANGGOTA nya supaya di genapi Injil Matius 8 : 20 ( Hal Mengikut YESUS) “ Yesus berkata kepadanya : Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan KEPALA-NYA.
    Bagaimana yesus mau meletakan kepalanya kalau 28,000 bagian anggota Tubuh nya masih belum bersatu di dalam Iman melalui Roh Kudus Dan saling mengasihi.
    Supaya jelas tolong kita lihat firman ALLAH :
    1 Korintus 12 : 1- 31 ( Banyak Anggota tetapi satu Tubuh )
    25. supaya jgn terjadi perpecahan dalam tubuh supaya anggota2 yang berbeda saling meperhatikan
    27.Kamu semua adalah tubuh kristus dan kamu masing-masing anggota nya.

    Dan terdapat pada 1 efesus 1 : 9 – 10
    9. sebab ia telah menyatakn rahasia kehendaknya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan nya yaitu rencana kerelaannya yang dari semula telah di tetapkan nya dalam KRISTUS.
    10. sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempesatukan di dalam KRISTUS sebagai KEPALA segala sesuatu baik yang di Sorga maupun yang di bumi.

    Dan yang paling terpenting kita Hidup saling mengasihi satu sama lain dan kasih kepada Tuhan allah kita.. krn semuanya akan lenyap tinggal tiga hal yaitu IMAN, Pengaharapan dan Kasih..( 1korintus 13 : 13)

    Demikian saudara ku ini yang dapat saya berikan kepada mu kurang lebih seperti itu…dan apa yang saya sampaikan bukan dari saya tetapi dari Dia yang ada di dlm saya…. saya berdoa kepada Tuhan yesus kiranya dapat meberikan kita roh kebenaran supaya rahasia kerajaan Allah di nyatakan kepada kami dengan jelas….

    TUHAN YESUS MEMBERKATI ENGKAU….SAUDARA KU.

      thomastrika responded:
      March 13, 2013 at 2:17 am

      Shalom, sdr-ku.

      GBU too

    davidmethodius said:
    January 30, 2013 at 12:20 am

    Negara Terluas Mayoritas 1Kristen PROTESTAN PENDETA Amerika Serikat/USA.2KATOLIK Ortodoks Timur PATRIAKH Rusia.3KATOLIK Roma PAUS Vatican&Kanada.Alkitab & God Yesus Kristus Bless U.

    The Garden said:
    May 15, 2013 at 3:21 am

    Kitab yesus bin sirakh juga bnyak mengajarkan tentang tzedakah, sedekah, berderma….sangat sangat bagus!!
    Teman2 Jangan lupa perpuluhan kepada orang miskin, anak yatim, janda2 tua, org yg membutuhkan.. itu Kehendak Tuhan

      thomastrika responded:
      May 16, 2013 at 12:43 am

      Sdr. Iman, terimakasih komen-nya.

      Sedikit sharing Ajaran Gereja Katolik mengenai ‘perpuluhan/tithe’

      Dalam Perjanjian Baru:Rasul Paulus mengatakan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7)
      Rasul Paulus tidak mengatakan sepuluh persen, namun menekankan kerelaan hati dan sukacita.
      Yesus mengatakan “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23)
      Yesus menekankan akan hakekat dari pemberian, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Yesus tidak menekankan akan persepuluhan, namun apa yang menjadi dasar perpuluhan.

      Kitab Hukum Gereja: Kan. 222 – § 1. Kaum beriman kristiani terikat kewajiban untuk membantu memenuhi kebutuhan Gereja, agar tersedia baginya yang perlu untuk ibadat ilahi, karya kerasulan dan amal-kasih serta sustentasi yang wajar para pelayan.
      § 2. Mereka juga terikat kewajiban untuk memajukan keadilan sosial dan juga, mengingat perintah Tuhan, membantu orang-orang miskin dengan penghasilannya sendiri.
      Kan. 1262 – Umat beriman hendaknya mendukung Gereja dengan bantuan-bantuan yang diminta dan menurut norma-norma yang dikeluarkan oleh Konferensi para Uskup.
      Kan. 1263 – Adalah hak Uskup diosesan, sesudah mendengarkan dewan keuangan dan dewan imam, mewajibkan untuk membayar pajak yang tak berlebihan bagi kepentingan-kepentingan keuskupan, badan-badan hukum publik yang dibawahkan olehnya, sepadan dengan penghasilan mereka; bagi orang-perorangan dan badan-badan hukum lain ia dapat mewajibkan pungutan luar biasa dan tak berlebihan hanya dalam kebutuhan
      Jadi tidak ada yang mengatakan spesifik sepersepuluh bagian.

      Kesimpulan

      Dari dua dasar di atas, maka Gereja tidak perlu mendefinisikan seberapa besar sumbangan yang harus diberikan, namun lebih kepada pemberian sesuai dengan kemampuan dan juga dengan kerelaan hati dan sukacita. Namun itu tidak berarti bahwa bagi yang mampu untuk memberikan lebih dari sepuluh persen kemudian hanya memberikan bagian yang sedikit. Bagi yang mampu, seharusnya bukan hanya sepuluh persen, namun malah lebih pada itu, jika diperlukan. Bagi kaum miskin yang memang tidak mampu untuk memberikan sepuluh persen, mereka dapat memberikan sesuai dengan kemampuan mereka. Persembahan juga tidak hanya berupa uang, namun juga bakat dan waktu. Yang terpenting, semua persembahan harus dilakukan berdasarkan kasih kita kepada Tuhan sehingga kita dapat mengasihi sesama dengan lebih baik.

    The Garden said:
    May 15, 2013 at 3:47 am

    “Trus hal yang menambah keimanan saya adalah saat shalat, ada gerakan sujud, saat sujud tersebut tubuh kita membentuk huruf bacaan kode mim ha da yang tersmbung artinya muhammad, kepala mim, tubuh ha, kaki da, orang kristen mana ada…….”

    Pernyataan diatas adalah contoh Ego Ibadah, mementingkan hal2 yg tidak penting di mata Tuhan
    Iman tanpa perbuatan itu NOL
    Sejuta model cara berdoa, seribu kali njengking-nungging dalam berdoa BISA DIPASTIKAN tidak akan terkabul jika kita tidak disertai tindakan berderma tzedakah atau membantu sesama..silahkan dibuktikan

    Satri Any said:
    May 28, 2013 at 5:34 pm

    apapun itu semuanya satu tujuan,gak ada manusia yg gak pegen selamat,iman itu kembali pada pribadi masing-masing orang,kita manusia di ciptakan dengan mempuyai sifat yaitu berkehendak bebas.jadi mw khatolik,protestan,islam,hindu ataupun budha semuanya sama saja,karena apa? karena agama sebanrnya hanya menjadi sampul,..agar dimna seseorang dapt mengenal beretika di dalam dunia.berbicara soal IMAn itu sangatlah fatal.secara nyata kita liat bersama yg membuat dunia kasih di dunia tak terasa itu adalah AGAMA,karna perbedaan,namun kita liat bahwa karna lewat agama apapun itu semua mengajarkan baik,gk ada yg buruk,tapi iman kepada siapa itu yg menjadi tanda tanya,dan menyangkut degan iman ialah kembali pada pribadi masing-masing,jadi anda berbicara tentang iman khatolik itu yg benar. karena tak ada seseorang pun yg dapat mengukur Iman seseorang kecuali Tuhan.jagan memakai kepintaran manusia tapi mintalah semua itu pada Tuhan maka RohNya akan membukakan apa maksudNya pada mu. firman berkata Banyak rencana di hati manusia tapi Allah yg menentukan,…syalom,…gbu.

    Kebenaran said:
    April 2, 2014 at 1:37 pm

    Seandainya Yesus tahu dia diangkat menjadi Tuhan oleh seorang MANUSIA bergelar raja bernama Constantine, 325 tahun setelah kematiannya…
    Dimasa itu mayoritas bangsa romawi menyembah trinitas.. Isis Osiris n Horus, untuk meyakinkan pendeta2 gereja bahwa dgn memasukkan unsur trinitas inilah maka bangsa romawi akan memeluk kristen.. yang kemudian menjadi Tuhan Bapak, Roh kudus dan Tuhan anak.
    sebelumnya umat kristen percaya bahwa yesus hanyalah seorang nabi utusan ALLAH..

    Maka bergembiralah yahudi atas berita ini.. Kami telah memberi satu dari putera kami sebagai Tuhan dan Juru Selamat kalian. Sekarang Pergilah kalian ke Gereja pada hari minggu, kalian berlutut dan menyembah seorang Yahudi, dan kami adalah orang Yahudi.”

      thomastrika responded:
      April 4, 2014 at 1:12 am

      Salam sdr.

      Terimaskasih komentar-nya. Namun, sepertinya informasi yang anda kutip itu mungkin berdasarkan buku novel ‘Da Vinci Code’-nya Dan Brown ya ? Novel yang menarik, tapi ya novel alias fiksi. Intinya yang pasti informasi yang anda dapatkan ‘sepertinya’ benar tapi tidak benar. Kaisar Konstantin memfasilitasi konsili/pertemuan pemimpin Gereja tapi bukan sebagai pemimpin yang memutuskan hasilnya.

      Berikut adalah apa yang terjadi di Konsili Nicea (325) yg saya kutip dari http://katolisitas.org/12112/apa-yang-terjadi-di-konsili-nicea-325:

      Konsili Ekumenis pertama di Nicea yang diadakan tahun 325, diadakan sebagai tanggapan Gereja universal terhadap ajaran sesat dari Arius dari Gereja Aleksandria, di Mesir, sekitar tahun 319.

      1. Latar belakang diadakannya Konsili Nicea (325)

      Di semua ajaran sesat yang terjadi dalam sejarah Gereja, terdapat usaha untuk merasionalisasi ajaran iman Katolik dengan menghilangkan sejumlah misteri iman yang dianggap sulit diterima oleh akal. Paham Arianisme merupakan contoh yang sempurna tentang hal ini. (Paham Arianisme merupakan ajaran sesat yang mengguncang Gereja, yang tadinya dalam keadaan damai, setelah penganiayaan terhadap Gereja dihentikan, karena dikeluarkannya Edict Milan (313) oleh pihak penguasa Romawi). Arius berusaha menyederhanakan misteri yang terbesar dalam ajaran Kristiani yaitu tentang Trinitas -Allah yang satu dalam tiga Pribadi- karena ia menganggap ajaran itu merupakan skandal bagi pemikiran manusia.

      Selanjutnya tentang apakah yang diajarkan oleh paham Arianisme, silakan klik di sini.

      Menanggapi ajaran sesat di wilayahnya, Patriarkh Aleksandria, St. Aleksander mengadakan konsili di Aleksandria sekitar tahun 321, yang dihadiri oleh sekitar 100 uskup dari Mesir dan Lybia, dan mereka mengecam ajaran Arius tersebut. Namun Arius mempunyai kemampuan politik yang tinggi, untuk memperoleh dukungan dari mereka yang mempunyai kedudukan, baik di pemerintahan maupun pejabat Gereja. Pendukungnya yang terpenting adalah dua orang Uskup yang bernama Eusebius. Yang pertama adalah Eusebius Uskup Kaisarea, Palestina, yang juga penulis buku sejarah Gereja, History of the Church; yang kedua adalah Uskup Eusebius dari Nikomedia, yang kemudian menjadi pemimpin partai Arian dan pelindung Arius. Uskup Nikomedia ini adalah sahabat Konstantia, kakak perempuan Kaisar Konstantin.

      Setelah diekskomunikasi oleh Konsili Aleksandria, Arius pergi ke Palestina dan kemudian ke Nikomedia. Sementara itu, St. Aleksander menerbitkan surat yang berjudul, “Epistola encyclica“, yang kemudian ditanggapi oleh Arius, dan timbullah pertentangan antara kedua kubu yang mengakibatkan pergolakan dalam masyarakat. Kekacauan itu kemudian diperparah dengan pertikaian antara Kaisar Konstantin dan Licinius, di tahun 322-323. Setelah Kaisar Konstantin menang dan menjadi penguasa tunggal, ia mempunyai kepentingan untuk mengembalikan keadaan damai di daerah kekuasaannya. Untuk itulah ia menulis surat kepada St. Aleksander dan kepada Arius, dengan maksud agar keduanya membuat semacam persetujuan secepatnya. Untuk itulah ia bermaksud mengadakan Konsili Ekumenis untuk menyelesaikan masalah tersebut.

      Kaisar Konstantin kemudian menulis surat kepada para uskup di seluruh negeri untuk datang ke Nicea. Maka para Uskup itu (dari Mesir, Persia, Asia, Syria, Yunani, Thrace) datang ke Konsili di Nicea. Tidak diketahui secara historis apakah atas namanya sendiri Kaisar Konstantin memprakarsai Konsili, ataukah ia bertindak bersama dengan/ atas nama Paus saat itu. Namun demikian, mengingat banyaknya Uskup yang hadir dengan fokus utama pembahasan doktrinal sehubungan dengan tanggapan Gereja terhadap ajaran sesat Arianisme, dan ke-20 Kanon yang khusus membahas tentang ketentuan Gerejawi, menunjukkan besarnya kemungkinan bahwa Kaisar Konstantin dan Paus Sylvester I bertindak dalam persetujuan bersama untuk memprakarsai Konsili itu.

      2. Konsili Ekumenis pertama di Nicea (325)

      Akhirnya, di musim panas tahun 325 diadakanlah Konsili Nicea. Menurut catatan St. Athanasius, jumlah Uskup yang hadir dalam Konsili Nicea adalah sekitar 300 orang, (dalam suratnya, Ad Afros, ia menyebutkan jumlah 318 orang, sedangkan Eusebius menyebutkan 250 orang), mayoritas dari wilayah timur kerajaan. Pandangan Arius ditolak oleh mayoritas Uskup yang hadir. Hanya ada dua orang (yaitu Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais) bersama Arius sendiri, yang akhirnya menolak untuk menandatangani teks Syahadat Nicea yang dirumuskan oleh Konsili tersebut. Sebab teks syahadat itu merumuskan dengan jelas, bahwa Kristus “sehakekat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.”

      Sayangnya fakta ini diselewengkan. Buku Dan Brown yang terkenal itu, Da Vinci Code, mengutip pandangan yang menyatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus dianggap sebagai nabi biasa, dan baru dinobatkan sebagai ‘Putera Allah’ oleh Konsili Nicea, yang diperoleh melalui voting dengan kemenangan tipis. Ini tidak sesuai kenyataan. Ajaran tentang Trinitas itu sudah sejak awal diimani oleh Gereja. Walaupun kata “Trinitas” tidak secara eksplisit tertulis dalam Kitab Suci, namun prinsipnya jelas diajarkan dalam Kitab Suci. Para Bapa Gereja sebelum tahun 325 juga telah mengajarkan tentang Trinitas, sebagaimana pernah diulas di artikel ini, silakan klik.

      3. Tentang siapa yang memimpin Konsili

      Kaisar Konstantin sebagai tuan rumah di Nicea membuka Konsili, dan kemungkinan iapun hadir dalam sesi-sesi Konsili. Namun melihat hasil konsili yang jelas membahas hal-hal doktrinal dan disiplin Gereja yang khas, maka adalah lebih masuk akal bahwa pemimpin sesi-sesi Konsili itu adalah pihak otoritas Gereja, (dalam hal ini adalah Hosius dari Kordova dibantu perwakilan Paus, yaitu Vitus dan Vincentius, ataupun Patriarkh Aleksander dari Aleksandria atau Eustathius dari Antiokhia) dan bukan Kaisar Konstantin itu sendiri. Silakan klik di link ini, untuk membaca tentang hasil Konsili Nicea, yang mencakup pernyataan iman dari ke 318 Bapa Gereja, dan ke 20 Kanon yang ditetapkan, beserta surat kepada umat di Mesir, termasuk kecaman kepada Arius, Theonas dari Marmarica dan Secundus dari Ptolemais, yang menolak untuk menandatangani pernyataan iman para Bapa Gereja di Konsili Nicea.

      4. Pernyataan Iman Konsili Nicea

      We believe in one God the Father all powerful, maker of all things both seen and unseen. And in one Lord Jesus Christ, the Son of God, the only-begotten begotten from the Father, that is from the substance [Gr. ousias, Lat. substantia] of the Father, God from God, light from light, true God from true God, begotten [Gr. gennethenta, Lat. natum] not made [Gr. poethenta, Lat. factum], CONSUBSTANTIAL [Gr. homoousion, Lat. unius substantiae (quod Graeci dicunt homousion)] with the Father, through whom all things came to be, both those in heaven and those in earth; for us humans and for our salvation he came down and became incarnate, became human, suffered and rose up on the third day, went up into the heavens, is coming to judge the living and the dead. And in the holy Spirit.

      Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

      Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal. Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, Ia turun dari surga dan menjelma menjadi manusia, menderita dan bangkit pada hati ketiga, Ia naik ke surga, Ia akan datang kembali untuk mengadili orang hidup dan yang mati. Dan [aku percaya akan]Roh Kudus.

      Catatan: Syahadat Nicea yang kita kenal sekarang (tercatat dalam buku Puji Syukur no.2) adalah hasil Konsili Nicea (325) dan Konstantinopel (381).

      Kemudian mengenai penyembahan Isis Osiris Horus, silahkan membaca berikut yg saya ambil dari: https://uk.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090621115645AAbKHEO

      The cult of Isis was imported from Egypt by soldiers and in Rome, from the 1st century b.C., there were about one hundred temples dedicated to this goddess.The cult was celebrated in secrecy and the rites known only by his members. In the year 394 the last temple to Isis in rome was closed . most of those temples were restyled and dedicated to “Madonna Nera ” (black Lady).
      P.S. additional info for those who ignore the history of rome ;
      Testimonies of the cult of Isis are found in Sicily, in Sardinia, in Campania at Pompeii, Pozzuoli, Ercolano as well as in Gaul,in Germany, north Africa, and all the mediterranean area.

      Now, the differences:
      a.in egypt: Isis (Aseth) is a fierce goddess, divine sister-spouse , funerary deity, mother to the king; she was associated with the Sun.
      b. in Rome: she is benevolent, mother goddess or everyone, not a funerary deity, associated with the Moon.
      She was the Ten Thousand Names Goddess.

      Jadi yang anda baca juga sepertinya benar tapi sebenarnya tidak benar. Tapi sekali lagi, hanya ‘sepertinya’

      Mengenai Trinitas, silahkan klik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s