Menyusun Bahan Kotbah

MENYUSUN BAHAN KOTBAH

HAL HAL MENDASAR DALAM
MENYUSUN BAHAN KOTBAH
(Sebagai bahan pembekalan Majelis & Pengkotbah di GKJ BOYOLALI )

I. Pemahaman arti
Menurut kamus Poerwadarminta, kotbah adalah pidato. Dalam tanda kurung diterangkan pidato dalam arti khotbah; terutama menguraikan suatu ajaran agama. Sebagai pembanding dapat diambil pendapat seorang profesor bahasa dari Malaysia bernama Teuku Iskandar menerangkan bahwa khutbah adalah pidato yang “biasanya mengandung ajaran atau nasihat keagamaan. Sebagai prasarat adanya khotbah atau pidato, pasti melibatkan dua pihak; pihak “penyampai khotbah” dan pihak “penerima khotbah” pihak pertama terdiri dari satu orang sedang pihak kedua terdiri dari banyak orang.

Mengenai perbedaannya Van Dale seorang ahli bahasa dari Nederland mengatakan bahwa pidato adalah ungkapan pikiran yang teratur tentang suatu pokok, ditujukan kepada orang banyak. Sedangkan khotbah lebih khusus/spesifik yaitu pidato yang diucapkan dari mimbar religius dengan maksud untuk secara agamawi mengajar, memperingatkan dan menghibur.

Dalam bidang theologia dibedakan sebagai berikut:
– Pidato lebih banyak merupakan hasil rekaan, penalaran berdasar pada pengetahuan dan pengalaman. Tegasnya yang menjadi pusat perhatian adalah karya manusia.
– Khotbah yang ditonjolkan bukan karya manusia, tetapi karya besar Allah (band. 1 Ptr. 2:9). Yang hakiki dalam khotbah ialah panggilan TUHAN kepada seseorang untuk membawakan firman-Nya (Yer.1:4-10). Jadi pengkotbah adalah penerus berita yang berasal dari Allah.

Oleh karena pemahaman tersebut diatas maka Ilmu Khotbah (Homilitika) memandang perlu seorang pengkotbah secara umum mempelajari tehnik penyampaian pidato. Dan secara khusus menghayati panggilan sebagai penyampai Firman, artinya berupaya semaksimal mungkin mempersiapkan khotbah yang bersumber dari Kitab Suci.

II. Tehnik Menyusun Khotbah
1. Cara Memilih bahan Alkitab.
Hal utama yang harus dilakukan oleh pengkhotbah adalah memilih bahan Alkitab yang akan disampaikan sebagai dasar khotbah.
a. Perhatikan Tahun Gerejawi yang sedang ada
Untuk gampangnya, usahakan bahan alkitab yang dipilih sesuai dengan kalender gerejawi. Paling tidak sesuaikan dengan Tahun Gerejawi Utama GKJ Yaitu:
– Tahun Baru
– PraPaskah
– Jumat Agung
– Paskah
– Kenaikan Tuhan Yesus
– Pentakosta
– MPHB
– Minggu Advent 1-4
– Natal
b. Pilihlah bacaan Alkitab yang mengandung cerita lengkap, ajaran lengkap atau satu nasehat. Kalau terpaksa harus hanya menggunakan satu ayat, haruslah ayat yang mempunyai makna sendiri (atau dengan alasan khusus). Artinya dalam pembahasan jangan meninggalkan konteks ayat.
c. Pilihlah bacaan Alkitab yang membangun kehidupan sehari-hari dalam memperkuat iman. Hindari ayat-ayat yang memerlukan penafsiran dengan keahlian khusus; contohnya pikiran teman-teman Ayub.
d. Pakai buku bantu, renungan harian atau ayat yang tepat.

2. Kerangka Khotbah
Yang dimaksud dengan kerangka ialah unsur-unsur utama yang berurutan dalam khotbah.Dengan kerangka itu penyampai khotbah dapat mengisi dan mengembangkan tiap unsur secara teratur dan terarah. Demikian pula penerima khotbah dapat mengikutinya dengan jelas dan dan mudah sesuai urutan dan arah jalan pikiran yang tersusun dalam khotbah. Kerangka itu terdiri dari:
a. Pengantar
b. Batang Tubuh
c. Penutup
a. Pengantar merupakan unsur yang membuka khotbah, bertujuan untuk mengajak penerima khotbah mengarahkan perhatian pada batang tubuh khotbah. Pengantar tidak mengandung pokok pikiran secara rinci, hanya penjelasan singkat dan baiknya disajikan untuk menarik perhatian penerima khotbah agar mendengar, ringkasnya menjadi pembangkit minat/perhatian ke inti khotbah. Karena pengantar bukan inti khotbah, ada baiknya tidak terlalu lama tetapi menarik (secara teori 3 menit sudah cukup). Supaya tidak terjadi pengantar berubah menjadi init;, disarankan pada waktu proses penyusunan bahan khotbah, pengantar dibuat setelah batang tubuh yang menjadi inti khotbah jadi. Adapun dalam proses penyusunan pengantar khotbah, alat bantu yang dapat dipakai:
– konteks Nas
– Kebutuhan-kebutuhan jemaat
– Peristiwa/hari khusus
– Cerita yang menarik
– Pengalaman sendiri atau orang lain yang menarik
– Kata-kata mutiara yang bisa dikaitkan dengan isi khotbah
– Ilustrasi yang cocok dengan isi khotbah
– Teori tertentu dari seorang ahli
– Dll

b. Batang Tubuh
Inti khotbah ada pada batang tubuh. Disitu uraian dan olahan nas sebagai landasan khotbah disajikan. Pengkotbah diharapkan tidak keluar dari Firman TUHAN, karena firman itu adalah penuntun sekaligus andalan penyanpai dan penerima.

Apa yang disajikan dalam Batang Tubuh tergantung dari pola khotbah yang hendak dipakai. Dalam ilmu Homilitika dikenal tiga pola khotbah:
– Pola uraian Nas/perikop yang bersifat penjelasan atas pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam nas dan jalinan pokok-pokok tersebut.
– Pola ayat tunggal yang bersifat mengungkapkan pokok-pokok ayat yang bersangkutan, yang menjadi unsur-unsur bahasan khotbah
– Pola judul dimana suatu pokok diangkat dari suatu nas, kemudian diuraikan menurut pengetahuan dan jalan pikiran pengkotbah.

c. Penutup
Ciri khas penutup hampir sama dengan pengantar yakni harus singkat, padat dan jelas. Penutup merupakan rangkuman/ kesimpulan yang menggugah penerima khotbah untuk melakukan firman yang baru didapatkan.

3. Penggunaan Ilustrasi dan Aplikasi
a. Ilustrasi
Khotbah biasanya disertai dengan ilustrasi, bahkan jemaat sering mengandaikan khotbah tanpa ilustrasi ibarat nasi tanpa lauk atau rumah tanpa hiasan. Oleh karena itu pengkotbah perlu mengetahui pemakaian ilustrasi dalam khotbah. Pada prinsipnya ilustrasi digunakan untuk membantu menjelaskan suatu pokok dalam bahasa jemaat. Sebab ada kalanya suatu pokok theologis sangat sulit diterima oleh jemaat (terlalu tinggi atau terlalu filsafati), dan jemaat baru jelas apa isi dari pokok theologis itu apabila mendengar ilustrasi. Hanya saja harus disadari bahwa ilustrasi adalah alat menjelaskan, dan bukan dari isi penjelasan. Untuk itu pengkotbah harus bijaksana dalam memakai ilustrasi. Jangan terlalu melenceng dari pokok yang disampaikan.
Ilustrasi dapat diambil dari kehidupan sehari-hari atau peristiwa yang hangat. Dapat berupa cerita yang benar-benar terjadi atau dikarang begitu saja (asal pengkotbah jujur untuk mengatakan bahwa itu adalah cerita). Tuhan Yesus sering mengambil situasi nyata, benda yang akrab dengan para pengikutnya. Contohnya ketika hendak menjelaskan keterikatan Allah Bapa & Allah Putra dengan para pengikut, Dia mengunakan peumpamaan tentang Kebun anggur (Yoh 15). Kebun anggur adalah kebun yang sering dilihat oleh orang Yahudi pada waktu itu.
b. Aplikasi
Aplikasi khotbah adalah bagaimana berita Alkitab/Firman Allah menjadi relevan bagi penerima khotbah. Dalam Aplikasi, khotbah dibuat kena mengena dengan kehidupan nyata si penerima khotbah. Tentu sangat baik apabila pengkhotbah harus mengenal keadaan yang dialami dan digumuli penerima, baik apabila pengkotbah terlibat dalam pergumulan yang sama (setidak-tidaknya dapat memahami) sehingga dapat merasakan apa yang dibutuhkan penerima/jemaat.

Mengingat bahwa khotbah adalah pedang bermata dua. Pengkotbah tidak perlu menjauhi permasalahan yang kebetulan juga sedang dialaminya. Bahkan hal tersebut dapat menjadi penguat bagi jemaat untuk melihat fungsi firman bagi kehidupan konkret.

Biasanya aplikasi ditarik pada kehidupan bersama (masyarakat maupun gereja), kehidupan keluarga maupun kehidupan pribadi. Ada baiknya apabila pengkotbah dapat menerangkan apa aplikasi bagi hidup bersama, apa bagi keluarga dan apa bagi kehidupan pribadi. Aplikasi dapat berupa pembenaran, teguran, penghiburan ataun penugasan.

4. Literatur yang berguna bagi penyusunan bahan khotbah.
Dibawah ini adalah literatur yang dianjurkan dalam penyusunan bahan khotbah:
a. Alkitab
Pergunakan Alkitab yang diakui oleh Sinode Gereja Gereja Kristen Jawa. Yaitu Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) terjemahan bahasa Indonesia baku dan bahasa Jawa baku. Memang ada terjemahan dalam bahasa sehari-hari, akan tetapi oleh GKJ tidak dianjurkan dipakai dalam kegiatan resmi gerejawi. Terjemahan bahasa sehari hari dapat digunakan sebagai pembanding (setara dengan buku tafsir)
b. Ayat yang tepat, digunakan untuk membantu mencari ayat-ayat yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ingin diangkat.
c. Konkordansi, digunakan untuk mencari kata atau istilah tertentu dalam Alkitab
d. Buku Tafsir.
Seyogyanya memakai terbitan BPK Gunung Mulia atau TPK

Catatan.
Ada banyak pengkotbah (terutama pemula) yang sangat tergantung pada buku Khotbah Jangkep. Sebenarnya fungsi buku tersebut adalah pada situasi emergency, pengkotbah tidak hadir maka harus diganti oleh pendamping (membacakan khotbah jangkep). Nah,apabila ada yang masih tergantung sekali; pada prinsipnya tidak apa-apa asal dipersiapkan secara serius. Adapun persiapan tersebut dengan:
– Meneliti sumber Alkitab yang dibaca, ditelaah secara pribadi dahulu, dibandingkan dengan terjemahan lain.
– Membaca secara teliti bahan khotbah jadi; membetulkan pengkalimatan yang keliru atau mbulet, kalau perlu membahasakan ulang dengan bahasa yang lebih sederhana.
– Mencoba memposisikan pada jalan pikir si penyusun.

III. Beberapa contoh pola khotbah
Di bawah ini ditulis beberapa contoh berdasarkan tiga pola khotbah.
1. Pola Uraian Nas
Nas : Matius 5 : 1 – 12
Tema Jalan menuju kebahagiaan
Kerangka
a. Kebahagiaan karena pengalaman pahit
– karena berdukacita (ayat 4)
– karena dicela dan dianiaya (ayat 10-11)
– contoh pengalaman aniaya (ayat 12b)
b. Kebahagiaan karena perilaku
– karena kelemahlembutan (ayat 5)
– karena kemurahan hati (ayat 7)
– karena kesucian hati (ayat 8)
c. Kebahagiaan karena sikap iman yang tepat
– karena merasa tergantung pada Allah (ayat 3)
– karena menegakkan kebenaran (ayat 6)
– karena membawa damai (ayat 9)
d. Isi kebahagiaan
– menerima upah besar di Sorga (ayat 12a)
– menerima Kerajaan Sorga (ayat 3b & 10b)
Catatan: ayat 1 dan 2 dapat dimasukkan kedalam pengantar khotbah untuk membuka perhatian penerima/jemaat tentang siapa yang menawarkan kebahagiaan sejati itu.

2. Pola Ayat tunggal
Nas : Yohanes 3 : 16
Tema : Allah mengaruniakan hidup kekal
Kerangka:
a. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada dunia
– Sifat dari kasih Allah yang begitu besar
– Yang dikasihi adalah dunia, terutama manusia yang adalah ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah.
b. Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal
– Totalitas kasih Allah pada dunia
– Cara mengasihi dengan turun sebagai Allah Anak
c. Hidup kekal diberikan kepada yang percaya kepada Anak tunggal Allah
– prasarat hidup kekal adalah percaya kepada Anak tunggal Allah
– Hidup kekal adalah hakekat keselamatan yang dicari oleh manusia

3. Pola Judul
Nas : Matius 24 : 13
Pokok Theologis: Keselamatan
Judul : Bagaimana manusia selamat?
Kerangka:
a. Makna Keselamatan
b. Kebutuhan keselamatan
c. Cara memperoleh keselamatan
d. Sikap setelah keselamatan dialami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s