KATEKESE UMAT

Posted on Updated on

KATEKESE UMAT

 

KATEKESE

Kata katekese ditemukan dalam :

  • Luk 1:4 (diajarkan),

    supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

  • Kis 18:25 (pengajaran dalam jalan Tuhan),

    Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes.

  • Kis 21:21 (mengajar),

    Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita.

  • Rm 2:18 (diajar);

    dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak.

  • 1 Kor 14;19 (mengajar)

    Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

  • Gal 5:6 (pengajaran) katekese

    Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. 

Katekese 

ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistemastis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (Cathechesi Tradendae 18)

Dalam konteks ini dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman, tetapi dewasa ini katekese juga dimengerti sebagai pengajaran sekaligus latihan-latihan bagi para calon baptis, atau kita kenal dengan istilah katekese baptis dan katekese mistagogi

Dengan kata lain katekese adalah usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaannya terdapat unsur pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan pengukuhan serta pendewasaan

Beberapa istilah

  • Katekese
    • Pembinaan iman praktis atau kegiatan bina iman, atau dalam sejumlah tulisan katekese juga dimengerti sebagai ilmu yang disejajarkan dengan ilmu pastoral atau teologi
  • Katekismus
  1. Buku ajaran iman yang dikeluarkan resmi oleh pimpinan Gereja. Ada yg bersifat universal, ada juga yang nasional dan lokal
  2. Katekismus (bahasa Yunani:κατηχητικός) adalah ringkasan atau uraian dari doktrin, yang biasanya digunakan dalam pengajaran agama Kristen sejak masa Perjanjian Baru hingga sekarang.[1] Katekismus adalah manual doktrin dalam bentuk tanya-jawab untuk dihafalkan. Sebuah format yang telah digunakan pula dalam konteks non-keagamaan atau sekular
  • Katekis
    • Pembina iman/pengajar katekumen
  • Katekumen
    • Calon Baptis, orang-orang yang belajar percaya
  • Katekumenat 
  1. Masa persiapan calon baptis (umumnya 1 tahun)
  2. Katekumenat diadakan guna mempersiapkan iman katekumen (calon baptis) untuk menerima Sakramen Baptis. Iman tidak dapat diperoleh hanya melalui pengetahuan saja, melainkan juga melalui pengenalan / hubungan pribadi dengan pribadi yang diimani, yaitu Yesus Kristus. Itu sebabnya Gereja memberikan pendampingan khusus yang dibutuhkan para katekumen dalam membangun serta membina hubungan pribadi dengan Kristus.
  3. Dengan menerima Sakramen Baptis, seseorang secara otomatis masuk dan diterima sebagai anggota Gereja, yaitu persekutuan orang beriman. Oleh karena Gereja adalah persekutuan / kumpulan orang beriman, maka perlu adanya komunikasi antar sesama anggotanya. Melalui katekumenat, Gereja memberikan pendampingan bagi para katekumen untuk mengenal, menjalin komunikasi, bersekutu, membangun dan membina kebersamaan dengan warga Gereja lainnya, serta bertumbuh dan berkembang dalam kebersamaan itu. Sebagai contoh: dalam katekumenat para katekumen diajak mengenal imam paroki sebagai gembala Gerejanya dan juga mengenal sesama warga Gereja di lingkungan, wilayah, paroki di mana ia tinggal.**p.gregoriuskh
  • Kateketik
  1. Ilmu pendidikan agama atau ilmu bina iman, yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan denngan pembinaan iman.
  2. Katekisasi adalah bentuk dasar pelajaran agama, biasanya disampaikan secara lisan dan di bawah bimbingan seorang orangtua, pendeta atau pastor, guru agama, atau orang-orang lain yang memegang jabatan tertentu di gereja (termasuk diakon, biarawan atau biarawati yang mengajukan serangkaian pertanyaan dan memberikan petunjuk kepada para siswanya untuk memahami jawaban-jawaban yang diberikan. Jadi, Kateketik adalah praktik pengajaran ini, atau pembelajarannya, termasuk latihan dalam memberikan pengajaran ini.
  • Kateketat
    • Sebutan untuk para pakar bidang ilmu kateketik


 

Apa itu Katekis?

Kehidupan dan jati diri seorang Katekis tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, lingkungan maupun sebagai anggota Gereja dan Masyarakat. Mengingat keberadaan katekis di kalangan masyarakat dan umat beriman Katolik lainnya, sudah sepantasnya seorang katekis harus memenuhi beberapa kriteria atau persyaratan, dimana kriteria atau persyaratan tersebut bertujuan untuk menjamin kualitas hidup dan tugas perutusannya dengan baik dan penuh tanggung jawab, serta diharapkan dapat tampil sebagai sosok pribadi yang bermutu, baik menyangkut hidup rohani maupun pribadinya sehingga ia mampu membawa orang lain sungguh mengenal dan mengimani Yesus Kristus.

Berikut aneka Kriteria atau persyaratan yang diperlukan untuk menjadi seorang katekis :

  • Memiliki Hidup rohani yang mendalam (doa, membaca kitab suci, devosi)
  • Memiliki nama baik sebagai pribadi dan keluarga (dalam hidup iman dan moral)
  • Diterima oleh umat (dapat diterima oleh umat di mana ia tinggal)
  • Mempunyai komitmen yang tinggi untuk mewartakan kabar gembira (dedikasi).
  • Mempunyai pengetahuan yang memadai (kitabsuci, moral, teologi, liturgy, dsb)
  • Mempunyai keterampilan yang cukup (yang diperlukan dalam proses pewartaannya)

Dalam upaya menghayati dan menyadari jati diri sebagai katekis, seorang katekis mampu mengembangkan semangat hidup yang dapat dijadikam tolak ukur tugas perutusannya, antara lain :

  • Katekis adalah orang beriman (dapat menjadi contoh orang beriman lainnya).
  • Katekis mempunyai intimitas dengan yang ilahi (dengan memiliki hidup rohani yang mendalam).
  • Katekis terbuka pada karya Roh Kudus (menyadari sepenuhnya bahwa dasar pertama dan utama kegiatan ini adalah Roh Kudus.
  • Menyadari panggilan dan dan perutusannya (bersyukur karena merupakan panggilan dari Allah).
  • Katekis adalah anggota keluarga (relasi dengan keluarga).
  • Katekis adalah anggota umat (relasi yang baik dengan umat).
  • Katekis adalah pribadi yang sederhana dan rendah hati (tidak sombong dan arogan).
  • Katekis bersemnagat melayani (memiliki sikap dan semangat melayani seperti Yesus Kristus).
  • Katekis rela berkorban (berkorban waktu, tenaga, kepentingan pribadi, keluarga, harta).
  • Katekis tetaplah awam (tetaplah seorang awam dan bukan hierarki).
  • Katekis mau belajar terus menerus (belajar terus menerus agar dirinya berkembang dan karyanya dapat dipertanggunjawabkan).
  • Katekis dapat bekerja sama (dapat bekerjasama baik dengan pastor paroki, pengurus dewan paroki, lingkunan dan pihak-pihak lainnya, karena keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan reksa pastoral).

Metode pengajaran yang effektif dan effisien dewasa dalam mewartakan kabar gembira haruslah berciri diagoanal, yang menekankan pentingnya hubungan pribadi antara katekis dan para pendengarnya. Bilamana hubungan pribadi antara keduanya sudah terbangun dengan baik, proses pewartaan ini sungguh menarik karena keduanya dapa merasakan perkembangan bersama dalam iman dan hidup rohani.

Katekis juga diharapkan mau dan mampu mengusahakan dan menggunakan media komunikasi yang sesuai dan memadai.
Kan. 779 Hendaknya pengajaran kateketik diberikan dengan mempergunakan segala bantuan, sarana didaktis dan alat-alat komunikasi sosial yang dipandang lebih efektif, agar kaum beriman, mengingat sifat, kemampuan, umur dan keadaan hidupnya, dapat mempelajari ajaran katolik dengan lebih lengkap dan dapat mempraktekkannya dengan lebih tepat.

Katekis disamping secara pribadi terus menerus belajar untuk meningkatkan pengetahuannya, maka hendaknya katekis juga mengikuti pembinaan-pembinaan yang dilakukan oleh Ordinaris Wilayah, dimana sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik sebagai berikut : Kan. 780 “Hendaknya para Ordinaris wilayah berusaha agar para katekis disiapkan dengan semestinya untuk dapat melaksanakan tugas mereka dengan sebaik-baiknya, yakni supaya dengan diberikan pembinaan yang terus-menerus mereka memahami dengan baik ajaran Gereja dan mempelajari secara teoretis dan praktis norma-norma yang khas untuk ilmu-ilmu pendidikan.

Pembinaan-pembinaan yang hendaknya di ikuti oleh katekis adalah :Meningkatkan kualitas katekis, baik hidup pribadi maupun tugas perutusannya, Meningkatkan kerjasama antar katekis, mewujudkan regenerasi dan kaderisasi katekis dengan cara membuka diri dan hati terhadap keterlibatan katekis yang masih muda dan belum berpengalaman. Dimana pembinaan tersebut bisa terjadi bilamana katekis mempunyai kesetaraan, keterbukaan dan tanggungjawab.

Apakah anda terpangil menjadi katekis “berdoalah dan mohon terang Roh Kudus” untuk menjawab perutusan yang Allah berikan kepada diri kita.

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Mat 9:37) 

 

Tugas dan peran Katekese

  • Katekese memberitakan sabda Allah, mewartakan Kristus
  1. Katekese, suatu wujud pelayanan sabda Allah menghadapi kesulitan dalam memanfaatkan ajaran teolog tentang sabda Allah
  2. Maksud terdalam katekese adalah agar iman dan hidup manusia berpadu secara integral
  3. Katekese berfungsi menggali pengalaman dengan maksud memasang saluran komunikasi iman.

Beberapa dimensi fundamental dari misteri sabda Allah untuk mengenal hakikat katekese :

Mewartakan Yesus Kristus

  • Pertama-tama kita menelaah element penting dalam perencanaan pewahyuan diri Allah kepada manusia, (gaudium et Spes 22)

“Sesungguhnya hanya dalam misteri Sabda yang menjelmalah misteri manusia benar-benar menjadi jelas…Kristus, adam yang baru, dalam pewahyuan misteri Bapa serta cinta kasihNYA sendiri, sepenuhnya menampilkan manusia bagi manusia, dan membeberkan kepadanya panggilannya yang amat luhur.”

  • Dimensi kristosentris dan persinalistis dari wahyu Allah harus sepenuhnya mewarnai dan menyatakan perbedaan dari setiap bentuk pelayanan sabda.

Hakikat dan tujuan katekese di Indoneisa dirumuskan oleh para Uskup sebagai berikut:

Katekese ialah usaha saling menolong terus menerus dari setiap orang untuk mengartikan dan mendalami hidup pribadi maupun bersama menurut pola Kristus menuju hidup kristiani yang dewasa penuh (naskah kerja MAWI 1976)

Mewartakan kabar Gembira

Katekese memberi keterangan dan tafsiran atas kehidupan manusia. Dimensi fundamental lain dari sabda Allah dalam manifestasi historisnya adalah dimensi penyelematan dan sifat antropologisnya.

Sabda Allah menafsirkan dan menerangi eksistensi manusia. Wahyu mewujudkan diri dalam bentuk kata dan perbuatan, warta dan kejadian. Begitulah wahyu bersifat menerangi dan memberi arti atas peristiwa hidup, problem eksistensial dan histories manusia seraya menghalau kekaburan dan kekelaman.

Sabda Allah berdaya mengubah dan membebaskan. Sabda Allah mengandung  kekuatan bukan saja untuk mentafsirkan sejarah tetapi juga untuk menciptakan sejarah. Wahyu adalah suatu sabda yang mengerjakan apa yang diwartakan dan yang dijanjikan, seperti keselamatan, pembebasan, persekutuan, dan damai. Sabda menyatakan pembebasan integral umat manusia seluruhnya (EN 31)

Katekese adalah pelayan sabda Allah, ia mesti sadar akan hakikat dan tugasnya. (katekese menolong manusia dengan memberitakan sabda pembebasan dan penyelamatan Allah.

Katekese mendidik umat beriman (Messaggio sinodo 77 no 5)

Pewartaan kabar keselamatan seyogianya menimbulkan jawaban silang pendengar, Jawaban itu disebut iman. Iman dan katekese jadinya kita mengkait dan saling membutuhkan.

Tugas konkret katekese

  • Menyuburkan dan membangkitkan pertobatan

    Pertobatan sebagai momen fundamental dan pemersatu dinamisme iman termasuk bidang katekese sekalipun pertobatan itu pada dirinya adalah sasaran evangelisasi dalam arti sempit. Akan tetapi kenyataan menunjukan-terutama dalam gereja yang telah bertradisi kristiani-bahwa penyerahan diri secara menyeluruh pada awal satu katekese tidak mungkin terjadi. Hal ini sebagian disebabkan oleh kebiasaan pembatisan pada usia kanak-kanak dan sebagian lagi oleh kekurangan pelayanan pastoral. Yang berakibat terhambatnya perkembangan iman secara teratur dan tidak tercapainya pertobatan (bdk CT 19)

  • Membimbing umat beriman untuk memahami misteri Kristus.

    Katekese yang berfungsi sebagai media pendidikan iman tidak boleh melupakan aspek pengetahuan iman dan juga sikap iman. Tugasnya adalah mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan lengkap perihal Misteri Kristus sebagai obyek sentral iman.

  • Mendorong umat beriman bertindak aktif dalam Gereja dan masyarakat.

    Dalam proses pendidikan iman yang terarah pada kedewasaan harus dikembangkan pula komponen operatif, yakni berbuat sesuatu bagi Gereja dan masyarakat sesuai dengan situasi dan pola hidup.Dalam Konteks ini dapat dikatakan bahwa katekese berupa inisiasi ke dalam suatu proses yang mengubah manusia secara intern. Dasar teologis perubahan ini adalah kebersamaan dalam kematian dan kebangkitan Kristus

Secara singkat  tugas-tugas katekese dapat dipadukan dalam fungsi dan aktivitas gereja

  • Katekese berupa inisiasi untuk tugas diakonia

    Bentuknya :Memberi kesaksian di dunia, Mendidik melakukan karya kasih dan melayani kaum tersingkir dari masyarakat, Berjuang demi keadilan dan kedamaian.

  • Katekese berupa inisiasi untuk tugas Koinonia

    Katkesese berkaitan dengan persekutuan gerejawi hendakanya diusahakan semangat persaudaraan dan setia kawan, kemampuan berkomunikasi, berdialog, dan berpartisipasi dalam hidup menggereja, Sikap taat yang wajar dan dewasa terhadap pemerintah

  • Katekese berupa inisiasi untuk mendengar dan mewartakan sabda (kerygma)

    Katekese bertugas membangkitakan semangat umat untuk ikut aktif dalam fungsi profetis Gereja termasuk mengusahakan : Pembacaan kitab suci, Pendidikan dalam mendengar sabda Allah, Penyiapan orang-orang untuk merasul dan aktif dalam karya missioner

  • Katekese berupa inisiasi kedalam liturgi

    Katekese mempersiapkan umat untuk menerima sakramen-sakramen dengan layak dan bermanfaat, untuk mencintai doa dan meditasi, untuk menghayati  kebaktian-kebaktian litugi lainnya

  • Katekese berupa inisiasi untuk panggilan hidup menggereja

    Termasuk dalam kegiatan ini menggunkapkan pelayanan dan peranan pribadi-pribadi dalam hidup menggereja, memberitakan pengarahan dan pembinaan panggilan imamat dan hidup membiara

  • Menumbuhkan dan mendewasakan sikap

    Pendidikan sikap harus juga menjadi sasaran katekese, bahkan tugas ini jauh lebih menentukan. Pengetahuan agama dan perilaku kristiani tidak menjamin pertumbuhan iman, jika tidak padau dengan pendewasaan sikap iman. Sehingga pendewasaan sikap iman dijadikan tujuan sentral dari kegiatan katekese. Untuk memahami tujuan sentral perlu dipahami konsep bibles dan tradisi yang menempatkan pada pusat hidup seorang Kristen sikap dasariah ini, iman, pengharapan dan cinta kasih, dalam proses pendidikan iman ketiganya tidak terpisahkan, sebab pada dasaranya pengharapan dan cinta adalah dimensi yang tidak terpisahkan dari sikap iman.

Peranan Konkret katekese

  • Mematangkan sikap iman
  • Mematangkan pengharapan
  • Mematangkan cinta kasih

Pemahaman katekese umat adalah sebagai komunikasi iman umat, katekese dari umat dan untuk umat, katekese yang menjemaat, yang berdsarkan pada situasi konkret setempat, dan berpola pada Yesus Kristus.

Dimana batasan Kateksese, yaitu usaha saling menolong terus menerus dari setiap orang untuk mengartikan dan mendalami hidup pribadi meupun bersama menurut pola Yesus Kristus menuju kepada hidup kristiani yang penuh.

Rumusan Katekese umat  hasil rangkuman dari segala sumbangan pikiran dan kelompok-kelompok Regio Gerejawi terdiri dari 6 poin

  • Katekese umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman)( antar anggota jemaat/kelompok.
  • Melalui kesaksian, peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dalam katekese umat, tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese umat mengandaikan ada perencanaan
  • Dalam katekese umat, kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan pengantara kita menanggapi sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam kitab suci, khususnya dalam Perjanjian baru, yang mendasari penghayatan iman Gereja sepanjang tradisinya.
  • Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman yang secara pribadi memilih Kristus secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus; Kristus menjadi pola hidup pribadi, pun pola hidup kelompok, jadi yang berkatekese adalah seluruh umat yang baik yang berkumpul dalam kelompok-kelompok basis. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan salah satu unsur yang memberi arah pada katekese sekrang.
  • Dalam katekese umat, pimpinan katekese bertindak terutama sebagai pengarah dan fasilitator. Ia adalah pelayan yang menciptakan suasana komunikatif. Ia berupa membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka
  • Katekese umat merupakan komunikasi iman peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka.

Tujuan dari komunikasi iman adalah

  • Supaya dalam terang injil, kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari
  • Kita bertibat kepada allah dan semakin menyadari kehadiranNYA dalam kenyataan hidup kristiani sehari-hari
  • Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan hidup kristiani kita makin dikukuhkan
  • Sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.

 

Katekese dan Tantangan Multitask

Sebuah catatan singkat penggunaan media komunikasi populer untuk kepentingan proses katekese

A. Melihat Kembali Ciri Khas dan perkembangan Katekese dewasa ini

Pertama, katekese merupakan salah satu metode dan bentuk pemberitaan Injil yang khas. Kekhasan tersebut terletak bahwa katekese menjadi karya ampuh yang memuat segi pemahaman dan pengetahuan iman. Kekhasan tersebut tampak melalui rumusan, bentuk dan metode katekese, serta isi pemahaman dan pengetahuan iman itu sendiri dalam upaya membentuk pola-pola hidup kristen yang sejati.1) Katekese mempunyai tujuan sebagai tahap pengajaran dan pendewasaan. Tujuan ini memungkinkan seseorang dimekarkan menuju kepenuhan Kristen. Melalui taraf pengetahuan ini seseorang diajak sampai kepada penghayatan dan pengertian tentang misteri Kristus yang sejati.2)

Kedua, Dalam proses katekese dibutuhkan jembatan antara tradisi iman dengan visi atau nilai kristianitas dalam situasi yang baru saat ini. Hal itu membutuhkan hubungan yang bersifat timbal balik dan selaras antara apa yang menjadi visi dengan kenyataan faktual yang dihadapi. 

Dalam hubungan tersebut, pengalaman-pengalaman faktual berhadapan dengan berbagai nilai, makna dan pengalaman manusiawi itu menjadi muara bagaimana Gereja harus berbuat mengupayakan perjuangan visi Injil sebagai sebuah warta sejati mengenai Kerajaan Allah di kancah hidup masyarakat saat ini. Warta tersebut diharapkan mampu menjadi bentuk penyadaran atau konsientisasi yang berdampak spiritual baik secara perorangan maupun bersama.

Maka, agar warta Injil sungguh menyentuh dan berdampak pada segi spiritual orang-orang di zaman sekarang, katekese harus senantiasa mampu membuat jembatan antara nilai kristianitas dan pengalaman hidup itu. Untuk itu, ketika orang-orang zaman sekarang telah dipengaruhi dengan gaya hidup dan berbagai perkembangan tehnologi modern, katekese hendaknya juga memanfaatkan sarana-sarana dan metode-metode modern itu, agar secara efektif mampu menyapa hidup orang di zaman sekarang.

B. Membangun Isi dan Suasana Katekese yang menarik dan menyentuh.

Dalam proses katekese, ada dua unsur penting yang harus diperhatikan, yaitu isi dan suasana. Isi memuat proses edukatif dan konsientisasi menyangkut visi dan pengetahuan iman, nilai dan pesan moral bagi peserta katekese. Isi katekese tidak dapat dilepaskan dari pengaruh suasana, baik faktor perkembangan psikologis peserta katekese itu sendiri dan aspek-aspek eksternalnya, yaitu lingkungan, sarana, pendekatan dan metodenya. Maka diperlukan suasana akomodatif yang mampu menghantar isi kepada peserta katekese. Suasana tanpa isi akan membuat proses katekese hanya sekedar ruang hiburan, tetapi isi tanpa suasana akan membuat proses katekese bagaikan ruang ceramah yang membosankan dan sama sekali tidak edukatif bagi segi afektifitas peserta katekese. Untuk itu segi isi dan suasana menjadi bagian yang tak terpisahkan. Isi haruslah berjalan dengan suasana, begitupun suasana haruslah memuat isi yang membangun iman peserta katekese.

Untuk membangun isi dan suasana katekese yang lebih menyapa orang dewasa ini, pertama, proses katekese harus mempertimbangkan segi himbauan pesan yang bersifat himbauan emosional melalui berbagai media yang tepat dan mampu menyentuh cita rasa. Kedua, proses katekese harus menjadi proses komunikatif, dimana berbagai metode pendekatan komunikasi digunakan. Katekese tidak hanya bersifat intruksional saja, tetapi juga mempergunakan prinsip symbolic way,3) dimana pengertian-pengertian didapat dari proses yang bersifat simbolis, baik dari gambar, film, cerita, dan lain sebagainnya.

Salah satu media yang dapat digunakan agar katekese itu menarik adalah media komunikasi populer. Media komunikasi populer adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses komunikasi yang metodologinya bersifat “dekat” dengan kehidupan dewasa ini, misalnya film, foto digital, poster, hasil download internet, tampilan-tampilan presentasi dengan powerpoint dan flash player, musik, potongan artikel, potongan cergam-komik, dan lain-lain. Media komunikasi populer ini dapat menjadi salah satu bantuan, agar jembatan untuk menghubungkan pengalaman hidup orang zaman sekarang dengan visi kristianitas mampu terjadi. Media komunikasi populer ini menjadi sarana supaya terjadi proses sintesa antara media dan katekese yang sesuai dengan perkembangan budaya serta tehnologi yang mempengaruhi umat berkaitan dengan gaya hidup (life style) dan pandangan-pandangan hidup umat dewasa ini.

Media komunikasi populer itu hendaknya ditempatkan dalam rancangan katekese yang menarik dan kreatif. Hal itu sangat beralasan, karena pengaruh media informasi yang sudah menjadi tiang penyangga kehidupan dan sekaligus menjadi ciri khas setiap orang bersosialisasi dengan sesamanya dewasa ini. Bahasa yang dulunya cenderung mengajar, kemudian berubah menjadi bahasa media yang bersifat membujuk, menggetarkan hati, dan penuh dengan resonansi, irama, cerita, dan gambar yang tervisualisasikan. Bahasa media tersebut lebih berpusat pada getaran hatiSelain itu, bahasa itu menjadi simbol untuk mengangkat dan memberi tekanan pada aneka kekayaan cita rasa. Segalanya seakan diciptakan kembali menjadi sesuatu yang kreatif 4).

Media komunikasi populer dapat digunakan dalam proses katekese, baik sebagai apersepsi (pemusatan perhatian), narasi apresiatif dan refleksi, peneguhan, rangkuman atau pengiring doa. Untuk itu proses katekese hendaknya terbuka kepada pola-pola gagasan yang apresiatif. Apresiasi ini merupakan kegiatan yang memuat tiga unsur penting. Unsur yang pertama adalah pemahaman. Unsur yang kedua adalah memberikan pendapat dan tanggapan atau yang umum disebut sebagai intrepetasi dan unsur yang ketiga adalah ungkapan/ekspresi yang representatif dan kaya akan makna (reflektif).

C. Membangun Isi dan Suasana Katekese yang menarik dan menyentuh melalui bahasa media komunikasi.

Media komunikasi populer dan performance art dapat digunakan dalam proses katekese, misalnya dengan beberapa pendekatan metodologi sebagai berikut:

1. Metode apresiasi film

Metode ini mempergunakan sarana film sebagai obyek-media yang dapat menjadi bahan analisa, diskusi dan refleksi. Namun juga dapat dipergunakan sebagai pengantar atau peneguh kesimpulan, maupun sebagai ilustrasi di dalam proses katekese. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah:

Pertama, setiap film, mempunyai nilai-nilai yang perlu diperhatikan 5), agar apresiasi menjadi lebih mempunyai nilai yang reflektif, nilai-nilainya yaitu:

a. Pernyataan moral. Pernyataan moral biasanya muncul melalui dialog-dialog tokoh atau visualisasi kisah, baik secara langsung maupun yang bersifat hanya tersurat. Peryantaan moral ini biasanya terlihat dari alur plot film, misalnya dari orang yang jahat yang berubah menjadi orang baik (pertobatan), orang yang mengurbankan dirinya untuk menolong sahabat-sahabatnya (pengurbanan).

b. Cermin atau potret kehidupan manusia. Dalam film termuat kisah kehidupan manusia, kisah yang dituturkan kembali sebagai cermin kehidupan. Untuk itu tutur kisah dalam film dapat dijadikan sebagai media batin betapa kehidupan memuat makna yang kaya. Biasanya, film-film yang memuat potret kehidupan manusia adalah film yang berjenis biografi seseorang, atau film yang diangkat dari kisah nyata. Kisah film yang disajikan dalam hal ini dapat menjadi sebuah pernyataan tentang kehidupan, pernyataan tentang kebenaran kehidupan manusia, bagaimana manusia mencari dan menjalani kehidupannya. Misalnya, bagaimana ketegaran hati seorang ibu, perjuangan di kamp pengungsian, dan lain sebagainya.

c. Cermin atau potret sifat manusia. Penokohan dalam film biasanya tergambarkan di dalam penokohan antara yang baik dan yang jahat atau protagonis dan antagonis. Tetapi kadang kali film tidak begitu sekedar menyuguhkan tentang protagonis dan antagonis, melainkan sebuah potret kelam manusia, atau potret biografi kehidupan tertentu. Dari potret tentang sifat manusia melalui penokohan film itu dapat ditangkap tentang kebenaran-kebenaran umum bagaimana sifat manusia menghadapi zaman dan kehidupannya. Dari tutur kisah dalam film biasanya ditampakkan bagaimana sang tokoh menghadapi masalah dan kemudian menyelesaikannya, dari sanalah terlihat sifat-sifat manusia yang terwakili oleh sang tokoh, sebagai gambaran umum sifat manusia.

d. Kritik sosial. Film mempunyai nuansa kritik sosial dan ideologis. Melalui kisah, tokoh, setting tempat dan alur dapatlah sebuah kritik sosial tercipta. Kritik sosial ini biasanya tergambar melalui tampilan-tampilan visual baik langsung (dalam film) maupun tidak langsung ataupun di dalam dialog-dialog tokoh. Kritik kadang dapat bersifat sangat lugas dan transparan, namun kadang begitu halus dengan mempergunakan banyak lambang intrepetasi yang beragam. Biasanya di dalam mengangkat masalah-masalah sosial, film lebih memberikan segi reflektif secara umum dan jarang sekali mengangkat akar permasalahan. Film lebih mengatakan dan menggambarkan bagaimana pentingnya upaya pembaharuan dan perubahan sosial, tetapi jarang mengangkat cara-cara perubahan sosial tersebut.

e. Pertanyaan-pertanyaan filsafati. Tokoh dengan dialog dan alur kisahnya biasanya juga mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan filsafati kehidupan, yang akhirnya tidak dijawab oleh tokoh cerita melainkan dijawab oleh para penikmatnya sendiri. Dalam hal ini, film sungguh bersifat reflektif, mengantar penikmat untuk bertanya tentang kehidupannya. Pertanyaan-pertanyaan filsafati yang muncul kadang kali bukan muncul dari alur cerita atau dialog tokoh, semata saja, namun muncul dari dialektika antara kisah film dengan penikmatnya melalui apa yang disebut intrepetasi.

Kedua, di dalam metode apresiasi film ini, ada beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk mengolah proses diskusi dan refleksi agar film sungguh-sungguh bisa menjadi media atau sarana katekese yang bermakna, yaitu:

a. SOTARAE. (Situasi, Obyektif, Tema, Analisa-Ajaran, Rangkuman-Ajaran dan Evaluasi)6)

Secara praktis, langkahnya adalah sebagai berikut:

1). Mengantar tema dan pokok apa yang akan dibicarakan, beserta proses serta film apa yang akan didalami.

2). Menayangkan film; film hendaknya berdurasi pendek (antara 15-20 menit) agar proses pendalaman dapat berjalan maksimal. Namun jika film berdurasi panjang dan diputar utuh, maka pendalaman dapat dilakukan pada pertemuan berikutnya.

3). Menggali kesan spontan dari apa yang sudah dilihat.

4). Menggali secara obyektif tentang apa yang sudah dilihat. Dalam hal ini menggali secara lahir/eksplisit, misalnya plot filmnya, setting filmnya, tokohnya, dan lain sebagainya. Maka dalam rangka ini, pendamping sebelumnya sudah mempunyai referensi cukup yang melatar belakangi film yang sedang didiskusikan.

5). Menggali tema atau inti dari apa yang telah dilihat. Dalam hal ini mencoba menangkap dari apa yang implisit tersaji.

6). MengAnalisa dari apa yang dilihat. Alternatif analisa dapat sebagai berikut ; yaitu memberikan pertanyaan pancingan untuk didiskusikan. Pertanyaan untuk diskusi tidak terbatas pada pertanyaan praktis saja melainkan sampai kepada pertanyaanrefleksi kritis. Kemudian analisa ini dikembangkan dan dihubungkan atau disentesakan dengan visi Kristiani.

7). Merangkum segala apa yang ditemukan dalam pertemuan dan baik juga dibuat dalam bentuk rekomendasi point-point penting yang dapat digunakan sebagai tindak lanjut secara kongkrit. Dalam rangkuman ini dapat juga ditambahkan beberapa hal yang menyangkut visi Kristiani.

8). Merencanakan sebuah aksi bersama yang bertujuan sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini dan dari hasil pendalaman suatu dokumen.

b. ORID (Obyektif, Reflektif, Intepretatif dan Dicecion7)

Secara praktis, langkahnya adalah sebagai berikut:

1). Mengantar tema dan pokok apa yang akan dibicarakan, beserta proses serta film apa yang akan didalami.

2). Menayangkan film; film hendaknya berdurasi pendek (antara 15-20 menit) agar proses pendalaman dapat berjalan maksimal. Namun jika film berdurasi panjang dan diputar utuh, maka pendalaman dapat dilakukan pada pertemuan berikutnya.

3). Menggali secara obyektif tentang apa yang sudah dilihat. Mengeksplorasi fakta, data, atas film, misalnya, peristiwa apa yang terjadi, apa yang dilakukan tokohnya dll. Pertanyaan yang diajukan pada tahap ini, yaitu pertanyaan APA ; apa yang dialami, apa yang dilihat dll.

4). Menggali secara reflektif dari apa yang telah dilihat. Mengeksplorasi respon dari peserta atas fakta, data dari film. Pertanyaan yang diajukan pada tahap ini, MENGAPA, bagaimana perasaan/kesan mengenai film yang telah diamati.

5). Menggali secara intepretatif. Menggali pemikiran kritis peserta atas fakta atau topik yang dibahas. Pertanyaan yang diajukan kepada peserta pada tahap ini, BAGAIMANA, terkait dengan pemikiran kritis atas topik yang dibahas.

6). Merangkum segala apa yang ditemukan dalam pertemuan dan baik juga dibuat dalam bentuk point-point penting yang dapat digunakan sebagai tindak lanjut secara kongkrit. Dalam rangkuman ini dapat juga ditambahkan beberapa hal yang menyangkut visi Kristiani.

7). Merencanakan sebuah aksi bersama. Mengajak – menawarkan kepada peserta untuk mengambil peran dalam pengambilan kesimpulan atas topik yang dibahas dan bagaimana merumuskan bentuk kegiatan yang terkait dengan tidak lanjut atas proses yang telah dilakukan. Pertanyaan yang diajukan kepada peserta pada tahap ini, apa yang dapat DILAKUKAN..

Dengan kelebihan dan kekurangannya, metode ORID lebih sederhana daripada SOTARAE. Kedua metode diatas dapat digunakan untuk saling melengkapi dan memperkaya temuan proses refleksi. Intinya, kedua metode diatas mempunyai tujuan yang sama, yaitu menggali lebih dalam dokumen film sebagai sarana katekese. Metode diatas dapat juga diproses untuk model apresiasi terhadap dokumen lain, misalnya cergam, poster, foto, artikel dan lain sebagainya. Baik juga, jika proses diskusi dapat divariasi dengan beberapa model-model sebagai berikut8):

  1. Diskusi kelompok dadakan (buzz group), yaitu sejenis diskusi kelompok kecil yang beranggotakan 3 – 4 orang dan langsung dibentuk untuk memperdalam materi.
  2. Diskusi kelompok sindikat (syndicate group), yaitu sejenis diskusi kelompok 3 – 7 orang di mana setiap kelompok mengerjakan suatu penggalian materi, kemudian hasil penggalian materi didiskusikan secara pleno.
  3. Sumbang pendapat (brainstorming), yaitu sering disebut sebagai inventarisasi gagasan. Kegiatan ini merupakan kegiatan curah gagasan secara spontan berhubungan dengan bidang minat atau kebutuhan kelompok untuk mencapai suatu kesimpulan.
  4. Diskusi terarah, yaitu suatu pola kegiatan diskusi dimana setiap peserta diberi waktu untuk mengemukakan pendapatnya.
  5. Diskusi meja bundar, yaitu diskusi saling mengemukakan pendapat secara berurutan melingkar.
  6. Dialog berganda, yaitu peserta diberi waktu untuk bertukar pikiran secara berpasangan. Setelah itu, mereka diminta untuk berkumpul lagi dalam kelompok umum.
  7. Diskusi parlementer, yaitu diskusi dimana terdapat dua kelompok besar yang sudah mempunyai pendapat yang saling bertentangan yaitu kelompok yang mendukung dan kelompok yang menentang, dalam hal ini pendapat-pendapat pribadi dikesampingkan. Diskusi ini memerlukan moderator untuk mengatur jalannya proses. Diskusi ini juga dibentuk kelompok ketiga untuk membuat rangkuman.
  8. Diskusi akuarium, yaitu diskusi yang terbagi atas dua kelompok, dimana masing-masing kelompok mempunyai peran sebagai kelompok diskusi dan kelompok pengamat, dan kemudian dua kelompok ini akan bertukar peran.

2. Metode bahasa foto

Foto merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk penyadaran (konsientisasi). Melalui foto, ada kisah dan peristiwa yang terajut utuh bagi setiap pikiran dan setiap keprihatinan. Foto menghadirkan kembali kenangan akan peristiwa, yang tentu saja mempunyai nilai jika didiskusikan dan direfleksikan. Upaya yang bersifat teknis dan pemilihan obyek, dengan kuatnya telah dirajut oleh kesadaran seorang fotografer untuk membidik sebuah peristiwa agar hadir di ruang-ruang setiap orang yang melihatnya .

Foto mempunyai bahasa yang luas dan kuat untuk menyentuh perasaan, misalnya bagaimana menghadirkan sebuah pemaknaa akan kesadaran ekologis melalui foto. Hal itu seperti apa yang telah terjadi di tahun 1970-an, seorang fotografer W. Eugene Smith mampu menunjukan kepada publik mengenai upaya perjuangan lingkungan hidup melalui foto kasus pencemaran lingkungan, yang dikenal dengan Minamata. Melalui karya itu, dipaparkan betapa ruang foto, mampu menjadi medan dialog reflektif bagaimana realisasi gamblang dari rusaknya hubungan antara manusia dan kemajuan yang diinginkannya9). Foto mampu berdampak provokatif mengurai batas-batas kesadaran kritis.

Agar proses katekese dengan mempergunakan bahasa foto ini menjadi menarik dan mempunyai makna yang mendalam, ada salah satu metode yang dapat dipergunakan, yaitu dengan metode Mass Room Project (Proyek Ruang Publik).10) Mass Room Project lebih dikenal dikalangan komunitas seni media. Biasanya, Mass Room Project digunakan untuk mengamati ruang publik yang “ditangkap” melalui sarana media seperti photo-camera dan camera shooting, yang dipadu dengan sebuah kajian sosial, baik bersifat antropologis maupun sosiologis yang kemudian diberi sentuhan seni. Kajian yang dilakukan, biasanya berkisar pada ruang-ruang publik perkotaan, dari pasar, jalan raya,mall, halte bis, perkampungan urban, tempat nongkrong, rambu-rambu lalu lintas, terminal dan lain sebagainya, yang terpenting ada segi ruang publik yang dihadirkan. Metode yang dilakukan, biasanya sangat variatif dan kreatif, mengingat adanya unsur seni media didalamnya. Biasanya suatu obyek ruang publik diamati dan dibidik dengan peralatan media baik photo-camera dancamera shooting, dengan suatu ketentuan tertentu. Pertama, dapat bersifat bergerak, baik linear, maupun spiral, ataupun bersifat sentrifugal maupun sentripetal, Kedua, dapat bersifat stagnan (diam), dengan suatu durasi waktu yang digunakan, baik detik, menit, jam, hari maupun sampai bulan, bahkan tahunan, ataupun obyektifikasi yang bersifat masif.

Untuk kepentingan katekese, Mass Room Project dapat diproses sebagai berikut11):

  1. Sebelum melakukan hunting ke obyek yang dipilih, peserta perlu diajak diskusi untuk menentukan tema dan cara pengambilan fotonya. Tema dan cara pengambilan foto yang dipilih akan mempengaruhi jenis dan tempat obyeknya, dan bagaimana proses yang akan dilakukan, baik yang bergerak maupun yang stagnan ataupun yang bersifat obyektifikasi.
  2. Setelah tema ditentukan, begitu juga tempat dan dinamikanya, barulahhunting ke obyek yang dikehendaki.
  3. Berdasarkan obyek yang dipilih, obyek dapat “direkam” mempergunakan foto-digital sesuai dengan yang telah ditentukan menurut pola yang telah disiapkan.
  4. Setelah foto obyek didapatkan, foto tersebut dapat diolah hasilnya berdasarkan selera dan tema yang sudah ditetapkan.
  5. Hasil data tersebut dapat dikemas, baik dalam bentuk pameran foto, esai foto, perfomance art, ataupun pem-visualan yang lainnya. Hasil yang sudah dikemas itu bisa digunakan untuk media awal analisa.
  6. Foto yang telah dihasilkan itu, dapat direfleksikan dan didiskusikan dengan metode SOTARAE atau ORID.

3. Metode bahasa gambar 

Media gambar mempunyai daya pikat tersendiri ketika dijadikan sarana katekese. Sebab, melalui gambar, baik dalam bentuk poster, cergam, karikatur, ataupun lukisan, ada sentuhan yang dapat mengajak peserta semakin memperdalam maksud gambar yang disajikan, baik maksud untuk memperkuat isi-memberi peneguhan, merefleksikan, ataupun sampai memperbandingkan.

Misalnya, gambar karikatur, kata karikatur berasal dari bahasa Latin dan Italiacaricare yang berarti “memuat beban atau bobot (makna)”. Kata tersebut memberi makna lebih kepada kata caricatura, yang berarti gambar yang membawa parodi mengenai kehidupan, sehingga gambar itu dapat ditertawakan. Gambar karikatur jika diperdalam dapat bersifat mengguggah, lucu, menyindir dan cerdas (lateral thingking)12). Sifatnya yang menyindir dan cerdas itu dapat digunakan sebagai media katekese.

Media gambar ini dalam proses katekese dapat dilakukan dengan:

1). Divisualisasikan, artinya gambar (poster, lukisan, karikatur, dll), digunakan untuk memvisualkan tema atau gagasan yang ingin didalami atau dipelajari, sarana atau media bantu penjelasan bagi fasilitator/pendamping atau media yang digunakan untuk diskusi, diamati, dan didalami-direfleksi bersama (apresiasiatif).

2). Dinarasikan, artinya gambar (poster, lukisan, karikatur dll) sebagai media untuk bercerita (storytelling). Gambar yang disajikan, membantu memberikan “suasana” dan pusat perhatian bagi peserta .

3)Mempergunakan bahasa gambar melalui papan tulis. Fasilitator / pendamping membuat gambar-gambar sederhana untuk memperkuat suasana cerita. Bahasa gambar dengan papan tulis ini memang membutuhkan ketrampilan tersendiri, karena fasilitator/pendamping harus mampu membuat bahasa gambar itu dengan disajikan kepada peserta dengan cepat namun menarik.

4). Media gambar ini dapat juga direfleksikan dan didiskusikan dengan metode SOTARAE atau ORID.

D. Catatan Akhir

Berbagai metode diatas merupakan pelengkap atau pendukung bagi proses katekese. Jangan sampai, metode-metode dengan media komunikasi populer tersebut menjadi dominan daripada gagasan serta materi pemahaman iman dalam proses katekese. Jangan sampai karena berbagai pengembangan kreatifitas melalui media komunikasi populer tersebut, peserta katekese kurang menemukan makna imannya. Seharusnya peserta semakin dikembangkan pemahaman imannya dengan dukungan atau bantuan media-media komunikasi tersebut.

Untuk itu, fasilitator/pendamping harus senatiasa mengelola proses katekese tersebut dengan sungguh-sungguh. Artinya, fasilitator/pendamping mampu menempatkan segi alokasi waktu, porsi, dan kesesuaian antara metode-pendekatan dan media komunikasi populer yang digunakan bagi proses katekese. 

Jika media komunikasi populer ini dipergunakan untuk proses katekese, fasilitator/pendamping hendaknya mempersiapkannya dengan sebaiknya. Film, foto, gambar dan lain sebagainya membutuhkan alat pendukung seperti TV, VCD-DVD player, dan tempat yang memadai. Begitu juga, media komunikasi populer ini perlu dipilih dan diseleksi sehingga mampu mendukung isi pemahaman iman yang akan diproses, baik ditujukkan untuk peneguhan atau diperdalam atau sebagai pengantar-ilustrasi.

*) Sumber pustaka, dapat dilihat dari sumber-sumber yang dituliskan pada catatan kaki makalah singkat ini
1)Bdk. EN 44
2)Bdk. CT 20
3)Bdk. Y.I. Iswarahadi, SJ,. 2006. Kekuatan Audio Visual dalam Pewartaan. Makalah Pertemuan Komkat Regio Jawa th. 2007, Wisma Micericordia Malang, 23-26 Januari 2007, hlm 4.
4)Bdk.________________ . 2003. Beriman dengan Bermedia, Yogyakarta: Kanisius, hlm 30-31.
5)Bdk. Joseph M. Boggs.1986.Cara Menilai Sebuah Film (terjemahan dari The Art of Watching Film oleh Asrul Sani). Jakarta: Yayasan Citra, 
6)Lih. Manuel Olivera.1989. Group Media, Yogyakarta : Kanisius. 
dan lih. contoh ketika diproses dalam katekese, Komkat KWI. 1997. Model-model Katekese Umat dengan Metode Analisis Sosial. Yogyakarta: Kanisius, hlm 56-72.
7)Bdk. Ilham Cendekia. 2002. Tehnologi Partisipasi. Jakarta : Pattiro.
8)Lih. Manuel Olivera.1989. Group Media, Yogyakarta : Kanisius.
9)Lih. Alex Supartono. Minamata, tentang Sebuah Foto. Kompas, Minggu, 1 Agustus 2004, hlm 17.
10)Dikembangkan dari bahan workshop singkat mengenai seni video (video art) dan ruang publik di Kedai Kebun Forum, Tirtodipuran Yogyakarta
11)Penggunaan metode Mass Room Project ini lebih tepat dan efektif untuk kepentingan katekese Analisis sosial dan katekese kontekstual
12)Bdk. Mudji Sutrisno, SJ. Mentertawakan Kehidupan. Kompas, Minggu, 1 Agustus 2004, hlm 19.

Purwono Nugroho Adhi

Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang

 

BINA IMAN REMAJA

 Bina Iman Remaja (BIR) berada dibawah Komisi Kateketik. Komisi Kateketik adalah perangkat keuskupan yang membantu Uskup dalam karya katekese di KAJ, dengan cara memfasilitasi dan mendampingi katekis paroki, guru agama di sekolah negeri, sekolah swasta umum maupun sekolah swasta Katolik, serta pembina bina iman anak dan remaja. 

dimana Mekanisme Pelayanan nya meliputi divisi Bina Iman Remaja (disamping Bina Iman Anak) yang mana pelayannya :Memfasilitasi, mendampingi, melaksanakan kegiatan  pen dampingan pembina dan pengembangan bakat serta potensi remaja di dekenat atau paroki (pelatihan, sosialisasi BIR, retret, lomba cipta lagu atau gambar atau mengarang). Ikut ambil bagian dan tanggungjawab dalam pertemuan remaja misioner nasional, pertemuan para Dirdios Sekami (Serikat Karya Kepausan anak dan remaja Misioner)

 

 

Menyiapkan dan Memotivasi Pengurus Lingkungan

Oleh:

F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr

     Salah satu kekhasan Gereja Katolik Indonesia adalah adanya sistem lingkungan/ kring/stasi dalam pelayanan pastoral parokial-teritorial yang memungkinkan semakin banyak kaum beriman awam terlibat dalam pengembangan Gereja seperti yang diharapkan oleh Konsili Vatikan II (lih. AA 10, AA 24, AG 21). Dan yang menarik, cikal-bakal lingkungan ini ternyata sudah ada jauh sebelum Konsili Vatikan II, bahkan sebelum Perang Dunia II. Pada masa itu para imam Jawa, yakni Rm. Hardjosuwondo SJ dan Rm. Sugiyopranoto,SJ, merintis sistem kring di paroki-paroki Wedi-Klaten, Ganjuran, dan Bintaran (lih. JWM Huub Boelaars, OFM Cap dalam Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia, Kanisius, 2005, hlm. 353). Bahkan para pamong kring ini berperan sebagai gembala bagi umat kringnya, dimana mereka dipercaya untuk memimpin ibadat-ibadat, mengajar calon baptis, juga membimbing umat yang mengalami kesulitan.

Dalam perkembangan waktu, sistem “bapak pamong kring” ini kemudian berkembang menjadi sistem lingkungan yang kemudian juga dimasukkan dalam struktur dewan pastoral paroki. Dalam semangat kepemimpinan partisipatoris, “salib pelayanan” umat di lingkungan tidak lagi “dibebankan” pada pundak ketua lingkungan  saja, tetapi menjadi tanggung jawab para pengurus lingkungan. Keterlibatan para pengurus lingkungan sungguh membantu dan melipatgandakan tenaga dan perhatian pastoral Pastor Paroki. Dan menarik untuk dicermati, “sekolah pelayanan dan kerjasama” para pengurus lingkungan ini sekaligus merupakan salah satu wahana dan peluang untuk mempersiapkan kader-kader pengurus Dewan pastoral paroki.

Menjaring Kader Pengurus Lingkungan

Namun, yang menjadi kendala di lapangan, ternyata tidaklah mudah mencari kader pengurus lingkungan. Ada kecenderungan di antara umat untuk “mengabadikan” para pengurus lingkungan. Kesulitan mencari pengurus lingkungan semakin nyata tatkala lingkungan hendak dimekarkan. Menurut saya, kesulitannya bukan lantaran tidak adanya orang yang mau dan mampu, melainkan karena belum adanya sistem yang mempersiapkan para kader pengurus lingkungan. Selama ini pembekalan dan penyegaran (ketua) pengurus lingkungan ditujukan kepada mereka yang baru atau sudah ditunjuk menjadi pengurus. Maka bila bermaksud menjaring “wajah baru” dalam kepengurusan lingkungan, terlebih demi regenerasi pelayanan umat di lingkungan, kesulitan yang sama terulang: mereka yang akan dipilih dan ditunjuk merasa belum siap lantaran pelbagai dalih dan alasan. Di lain pihak wacana dan literature pelayanan untuk para pengurus lingkungan juga belum tersedia. Selama ini yang ada baru buku panduan untuk misdinar, lektor, prodiakon, dewan paroki, dsb.

Menanggapi keprihatinan pastoral ini, pada liburan musim panas 2008 lalu saya menyempatkan dan memberanikan diri menulis buku “Siap Menjadi Pengurus Lingkungan” yang saya akui sebenarnya hanyalah “tiada rotan akar pun jadi”. Saya berharap, setidaknya wacana dalam buku ini bisa menjadi titik tolak untuk mempersiapkan dan memotivasi (kader) pengurus lingkungan secara lebih serius. Maka dalam tulisan singkat ini, perkenankan saya menyampaikan beberapa hal yang saya bahas dalam buku kecil itu.

Menghidupi Pancatugas Gereja dalam dan bersama Lingkungan

            Setelah membahas keterlibatan kaum beriman awam dalam Gereja (bab 1) dan reksa pastoral Gereja melalui Lingkungan (bab 2), saya mengajak pembaca untuk menghidupi panca tugas Gereja bersama dan dalam lingkungan (bab 3). Mengapa kita perlu mewujudkan panca tugas ini? Sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberi perintah kepada kita, para pengikut-Nya, untuk saling mengasihi (Yoh 13:34) dan saling melayani (lih. Yoh 13:14-15). Amanat Kristus ini secara konkret dan terus-menerus perlu kita wujud-nyatakan bersama orang-orang terdekat, yakni keluarga kita dan umat lingkungan terdekat. Dengan jumlah umat paroki yang sedemikian besar, bahkan tidak jarang kita selisih jalan saat merayakan Misa hari Minggu, mewujudkan semangat kasih dan pelayanan dalam lingkup keluarga dan lingkungan terdekat adalah pilihan yang paling realistis. 

Memang ada sebagian umat yang merasa masih “belum butuh lingkungan”, termasuk mereka yang sudah menjadi aktivis di aneka kelompok kategorial. Namun, menurut saya bergabung dalam persekutuan umat di lingkungan-teritorial ini patut diupayakan karena lingkungan merupakan salah satu wahana mewujudkan amanat Kristus tadi. Selain itu, persekutuan umat di lingkungan lebih menampilkan “wajah Katolik”, dimana umat dari pelbagai latar belakang etnis, budaya, sosial-ekonomi, juga selera dan tingkat rohani, berhimpun dan bersekutu berdasarkan iman akan Kristus (dan tentu saja juga berdasarkan pembagian administrarif-teritorial paroki). Memang pelayanan rohani “umum-teritorial” di lingkungan ini masih perlu dilengkapi dengan pelayanan aneka kelompok kategorial yang lebih menjawabi kebutuhan dan selera rohani masing-masing pribadi yang berbeda. Demikian pula, dalih betapa sibuknya anggota keluarga sampai tidak ada waktu untuk kegiatan lingkungan, bisa disiasati dengan keterlibatan “wakil keluarga” sedemikian sehingga komunikasi antara keluarga dan umat lingkungan tidak terputus.

Untuk memahami lebih baik bagaimana mewujudkan panca-tugas gereja dalam dan bersama lingkungan, pembaca diajak merenungkan cara hidup Gereja Perdana dalam Kis 2:41-47. Dari sini selanjutnya pembaca diajak menggagas lebih lanjut bagaimana secara konkret panca tugas tersebut dapat diwujudkan dalam dan bersama lingkungannya.

Belajar dari ide Gereja Diaspora Romo Mangun

            Untuk mendiskusikan penggembalaan dan pengembangan Gereja Katolik Indonesia, kita juga mesti belajar dari wacanaGereja Diaspora yang dilontarkan oleh Romo Mangun. Maka pada bab 4, saya menyajikan poin-poin gagasan Romo Mangunwijaya yang relevan untuk pengembangan Gereja di lingkungan. Seperti diingatkan oleh Romo Mangun, kita perlu menyadari bahwa saat ini umat Katolik Indonesia dihadapkan pada situasi diaspora, maka pelayanan teritorial-tradisional perlulah dilengkapi dengan pelayanan khusus bagi umat yang terdiaspora. Karena itu, para pengurus lingkungan hendaknya juga memahami dan memaklumi, seandainya ada umat yang tidak bisa aktif dalam aneka kegiatan lingkungan lantaran “kediasporaan”-nya. Di lain pihak, para pengurus lingkungan sebagai pribadi kiranya juga perlu mempersiapkan diri menjadi “gembala diaspora” bagi sahabat-kenalan dari lain lingkungan dan paroki. Namun, Romo Mangun berkeyakinan bahwa pelayanan teritorial-tradisional (termasuk lingkungan) ini tetaplah perlu karena hal ini justru menggambarkan kesatuan umat yang beragam dan juga memang ada beberapa sektor yang tetap membutuhkan pelayanan teritorial, seperti anak-anak dan remaja, dunia sekolah, mereka yang sakit, cacat, dan jompo.

            Dalam buku Gereja Diaspora Romo Mangun ‘menggugat’ komitmen dan perhatian Gereja pada kaum miskin dan papa-menderita. Beliau berharap “Mudah-mudahan kejuaraan kita dalam 1001 acara doa, novena, lomba kor gereja, kolasi, rekoleksi, retret, membangun gedung-gedung gereja raksasa maupun kapel molek, dan yang terpenting, membanjiri tempat ziarah sambil berpiknik dan berekspresi kesalehan lain yang indah itu seimbang dengan karya-karya nyata yang meringankan pahit-pedih manusia lain yang menderita dalam segala bentuk. Sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Yesus dan Gereja di zaman para rasul” (Gereja Diaspora, Kanisius, hlm. 175). Maka pertanyaannya, bagaimana secara konkret hal ini bisa diwujudnyatakan dalam hidup menggereja di lingkungan.  Demikian pula penekanan beliau akan pentingnya keluarga sebagai “benteng Gereja Diaspora”, hendaknya menjadi catatan dalam pengaturan aneka kegiatan lingkungan. Dan tidak kalah menariknya adalah menyimak “anjuran Romo Mangun” tentang kriteria pengurus lingkungan dan dewan paroki yang sebaiknya kita pilih dan tunjuk.

Menjadikan Lingkungan Sebagai KBG

            Dalam SAGKI 2000, Gereja Katolik Indonesia mencanangkan Komunitas Basis Gerejani (KBG) sebagai cara baru hidup menggereja agar kehadiran Gereja sungguh memberi arti dan sumbangan bagi masyarakat sekitar (termasuk di kala masyarakat kita menderita akibat aneka bencana alam, “bencana lapindo”, kenaikan BBM, dsb). Memang masih ada perdebatan, apakah lingkungan itu sudah merupakan komunitas basis gerejawi? Daripada mempersoalkan “istilah”, akan lebih baik bila kita mengupayakan agar lingkungan/kring/stasi kita menjadi suatu komunitas basis gerejani. Maka sebagai suatu komunitas basis gerejani, kiranya pembicaraan bersama dengan diterangi Kitab Suci perlu dikembangkan agar umat lingkungan senantiasa menemukan bentuk-bentuk diakonia dan martiria yang relevan untuk situasi-kondisi setempat.

Motivasi dan Spiritualitas Pengurus Lingkungan

            Pada bab-bab selanjutnya, saya memfokuskan perhatian pada pengurus lingkungan secara konkret, mulai dari peran dan kinerjanya, motivasi dan spiritualitas yang perlu dihidupi, sampai aneka “panduan praktis” mewujudkan pelayanan murah hati (termasuk pada umat yang jarang muncul di lingkungan). 

Apa yang menjadi motivasi seseorang mau dipilih dan ditunjuk menjadi pengurus lingkungan? Saya memaparkan empat motivasi menerima tanggung jawab pelayanan di lingkungan ini (tentu dengan menimba inspirasi dari Kitab Suci dan Ajaran Gereja):

  1. Merealisasikan tugas perutusan yang telah diemban sejak menerima Sakramen Krisma, khususnya tugas sebagai gembala.
  2. Sebagai perwujudan cinta kepada Tuhan Yesus dan Gereja,
  3. Mempersembahkan talenta untuk “pembangunan jemaat”
  4. Ajakan untuk terus memurnikan motivasi pelayanan

Sementara berkaitan dengan Spiritualitas yang patut dihidupi oleh para pengurus lingkungan, saya paparkan tiga hal:

  1. Mengemban pelayanan murah hati seperti diilustrasikan dalam cover buku (saling membasuh kaki).
  2. Semangat misioner, yakni siap sedia diutus, tidak harus pergi ke luar negeri, tetapi berani keluar dari kepentingan diri dan mulai terarah pada orang lain. Maka bagaimana secara konkret semangat 2D2K: Doa-Derma-Korban-Kesaksian, dapat diwujudnyatakan oleh para pengurus lingkungan.
  3. Makna bekerjasama sebagai satu tim, seperti halnya Kristus mengutus para murid-Nya pergi berdua-dua.

Menanggapi Dalih Tidak Mau Melayani

            Ada banyak dalih dan alasan bisa disebut yang membuat para kader pengurus lingkungan merasa diri belum siap, seperti tidak layak dan tidak pantas, tidak mampu, tidak ada waktu, dst. Saya mencoba menanggapi aneka dalih tersebut untuk memotivasi para pengurus lingkungan. Asalkan ada kemauan, kemampuan dan ketrampilan bisa diupayakan dan ditingkatkan. Asalkan ada kemauan, akan berusaha menyempatkan waktu. Namun, untuk para “aktivis Gereja” yang sudah sibuk dengan aneka pelayanan dan tanggung jawab, sebaiknya membatasi diri menerima “jabatan” pelayanan ini agar tidak mengecewakan umat ataupun menelantarkan keluarga. Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan para pengurus lingkungan, saya berikan daftar buku yang bermanfaat untuk pelayanan umat di lingkungan.

            Selanjutnya, saya uraikan pula soal doa lingkungan dan bagaimana secara praktis memandu doa lingkungan dan menyusun renungan untuk ibadat syukur/permohonan di lingkungan. Dan tentunya saya bahas pula “Seputar Ketua Lingkungan” dan “Pengurus Lingkungan dan Keluarganya”.

Persoalan Klasik di Lingkungan

Berangkat dari pengamatan dan pengalaman mendampingi para pengurus lingkungan di paroki, saya mendapati setidaknya ada selusin persoalan klasik di lingkungan. Maka dalam buku ini saya juga mengangkat dan mendiskusikan aneka persoalan klasik itu agar bisa menjadi pembelajaran bersama bagi (kader) pengurus lingkungan, yakni:

  1. “Jemput bola” gembala proaktif kepada: warga pindahan baru, katekumen, calon penerima sakramen, yang terbaring sakit, yang kurang aktif, dan yang miskin dan berkekurangan.
  2. Pelayanan bagi yang berduka: penerimaan Sakramen Perminyakan, pelayanan bagi warga yang meninggal, dukungan bagi keluarga yang berkabung, dan pelayanan doa-misa arwah.
  3. Pemberdayaan potensi umat
  4. Transparansi keuangan lingkungan
  5. Managemen Konflik dan Perbedaan
  6. Guyon Berlebihan
  7. Managemen Gossip
  8. Alokasi Waktu dan Jam Karet
  9. Koq Sedikit yang ikut Pendalaman Iman?
  10. Melibatkan Generasi Muda
  11. Lingkungan Vs Ekumene
  12. Penyakit: Post Power Sindrom.

Tiada Rotan Akar Pun Jadi

Sebagaimana saya singgung di awal tulisan ini, buku Siap Menjadi Pengurus Lingkungan sungguh saya sadari dan akui sekedar “tiada rotan akar pun jadi” mengingat keterbatasan pengalaman pastoral parokial saya dan saya tidak studi khusus bidang ini. Namun, saya menyadari akan “bagian saya” (bdk. 1 Kor 12:18)) untuk merumuskan aneka pengalaman pendampingan para rekan pastor paroki (tentu sejauh yang saya amati dan alami) kepada para pengurus lingkungan dengan harapan buku kecil ini bisa menjadi titik tolak pembicaraan bersama untuk mempersiapkan dan memotivasi para pengurus lingkungan. Dan tentunya saya tidak berpretensi untuk menyelesaikan semua persoalan pelayanan di lingkungan, tetapi berharap bahwa lontaran ide dan wacana ini dibicarakan lebih lanjut oleh para pengurus lingkungan dan pastor paroki agar semakin relevan dan aplikatif di lapangan. Akhirnya, selamat mempersiapkan kader pengurus lingkungan demi pengembangan Gereja Katolik Indonesia di masa mendatang.

Convitto San Tommaso – Roma, 27 Juni 2008

 

Penanaman Nilai-Nilai Kekatolikan di dalam Keluarga dengan Basis Lingkungan

RD. FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr

Catatan Pendahuluan:

1. Semangat misioner St. Fransikus Xaverius adalah kerelaannya diutus dan pergi ke tanah misi (sebagai pengganti imam lain yang diberi tugas namun menjelang berangkat tugas justru jatuh sakit). Fransiskus Xaverius muda, dengan penuh semangat mewartakan Injil tanpa mengenal batas-batas kehidupan, dia menerobos batas-batas yang ada. Kepandaiannya untuk datang kepada pemuka masyarakat (dengan membawa pelbagai upeti yang menarik, menjadi salah satu cara pewartaan Injil yang mudah diterima.

2. Kita perlu menata ulang model kesaksian yang kita buat, sekaligus perlu juga belajar dari “ngelmu dagang” dalam menawarkan dagangannya …. Dan ternyata laku.

3. Tugas Misioner dihayati sebagai KESAKSIAN HIDUP yang mencakup segi pribadi, lingkungan serta sosial kemasyarakatan.

4. Pengurus Lingkungan dan Dewan Paroki diharapkan menjadi motor penggerak dan penyemangat hidupnya Lingkungan dan Paroki dengan pelbagai kelompok kategorial atau paguyuban yang ada.

ooo 000 ooo

Kegiatan Rutin 1. Misa ling kungan: berjalan sesuai jadwal, dan sesuai dengan kalender liturgi

Pemikiran Terobosan 1. Misa lingkungan dengan mengusul kan tema, sesuai dengan keadaan lingkungan, misal: mem per tang gung jawab kan iman Katolik, men cermati kebudayaan dan kebiasaan masyara kat/warga kota.Tim Liturgi lingkungan mengu sul kan tema. Atau Ekaristi dengan sarasehan misalnya 10 bahan dari Komisi Pendampingan Keluarga (bahan tahun 2007)

Indikasi Keberhasilan 1. Kehadiran bapak-ibu: ….. %, Kehadiran anak-anak: ….. %, Kehadiran remaja dan mudika :……….. %, Pilihan bahan ….., tema

 
 

Kegiatan Rutin 2. Doa rutin:satu bulan sekali dengan rosario atau sesuai petun juk dari Paroki (Tim Katekese atau Tim Liturgi)

Kegiatan Rutin 2. Doa Rutin untuk Membahas dan memperdalam tema tertentu, misalnya memanfaatkan Buku BKL (Bulan Katekese Liturgi) pada bulan Mei. 2. Kesempatan untuk ‘berlatih’ membuat doa secara spontan, maka secara bergilir semua hadirin diminta merumuskan doa spontan sesuai dengan tema atau sesuai keprihatinan keluarga.

Pemikiran Terobosan 2. Kahadiran bapak-ibu :….. %, Kehadiran anak-anak :….. %, Kehadiran remaja dan mudika: ….. %, Peserta yang berani membuat doa spontan: …….orang.

 
 

Kegiatan Rutin 3. Arisan Ibu-ibu: doa pem bukaan, urusan uang dan tabungan atau simpan pinjam, makan minum dan pulang.

Kegiatan Rutin 3. Arisan Ibu-Ibu: Membahas tema secara berurutan misalnya dari buku “Menggapai Kemerdekaan Perempuan dan laki-laki”, buku-buku lain yang ditawarkan 2. Kesempatan arisan selalu di awali dengan membaca Kitab Suci sesuai dengan penang galan liturgi harian dengan re nungan singkat. Yang mem baca kan renungan bergan tian, sehing ga setiap ibu pernah bertugas. 3.Perhatian dan kepekaan pada isue-isue “Gender” dan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tang ga) yang diampu oleh Tim Kerja Mitra Perempuan.

Pemikiran Terobosan. 3.Jumlah kehadiran ibu-ibu: … %, KDRT di bawah 10 %

 
 

Kegiatan Rutin 4. Latihan koor: Pemanasan suara, latihan, selingan minum dan snack, pulang.

Kegiatan Rutin 4. Kesempatan latihan koor selalu diawali dengan memba ca Kitab Suci sesuai dengan penang galan liturgi dengan renungan singkat. Yang mem ba cakan renungan bergan tian, sehingga setiap anggota koor lingkungan pernah memba cakan renungan 2. Akhir dari latihan koor, diadakan doa spontan sehingga melatih warga kita untuk bisa merumuskan doa spontan sesuai dengan keadaan nyata, atau berdasarkan Kitab Suci yang dibacakan pada awal latihan koor.

Pemikiran Terobosan 4. Jumlah peserta yang hadir latihan koor :….. %, Jumlah peserta yang bisa doa spontan: …… %

 
 

Kegiatan Rutin 5. Pertemuan dan doa keluarga

Kegiatan Rutin 5. Keluarga Katolik menjadi tanda kehadiran Tuhan yang nyata, mewujudkan Sakramenta litas Perkawi nan di tengah-tengah masyarakat atau warga. Ada cara bertindak tertentu yang menunjukkan identitas Ke katolik an hingga keluarga-keluarga Katolik menjadi Minortitas Mistik (doa dan iman kepercayaan Katolik menjadi landasan hidup harian). 2. Membuat gerakan baru dalam keluarga-keluar ga di lingkungan untuk meluangkan waktu 10 – 30 menit untuk berdoa bersama, atau mulai ada kebiasaan misa harian. 3. Membiasakan untuk saling me nya pa dan bertanya menge nai perasaan dan pengalaman selama satu hari, saling menanggapi dengan doa bersama dan di ungkapkan dalamHISTORIA DOMUS (Catatan penting dalam keluarga disertai refleksi singkat) 4.Kesempatan 10 hingga 30 menit dalam keluarga tanpa alat elektronik, saling memper hatikan pera saan, mendoakan dan memberi perha tian 5. Gerakan Stop Nonton TV antara pukul 18.00 – 20.00 untuk men dukung semangat belajar anak dan menciptakan budaya baca dalam keluarga. 6. Setiap Keluarga Katolik dengan sadar mengupayakan keterlibatan kepedulian dengan sesama saudara yang KLMT sebagai bentuk kerelaan berbagi kasih dari kemurahan Tuhan. 7.Setiap Keluarga Katolik mempunyai pustaka rohani Katolik untuk mencerdaskan iman dan demi pewarisan nilai-nilai kekatolikan yang nyata. 8. Setiap Keluarga Katolik mempunyai keterlibatan dalam kehidupan kerohanian/ keagamaan mulai dari tingkat Kelompok, Lingkungan/ Wilayah/Dewan Paroki, atau dalam paguyuban kategoria 9. Tim Pendampingan Keluarga membentuk Tim Kun jung an Keluarga, bekerjasama dengan Tim Kerja Katekese/Guru agama mendata anak-anak yang sudah waktunya sambut komuni pertama atau krisma. Ada kunjungan keluarga diantara pengurus lingkungan

Pemikiran Terobosan 5. Jumlah keluarga yang berdoa bersama dalam keluarga satu minggu 3 kali ….. orang, Jumlah keluarga yang bisa berdoa bersama atau dengan komitmen khusus …, Misa harian …….., Jumlah keluarga yang membuat Historia Domus …….. keluarga, …….. x dlm satu minggu, Keluarga yang tidak nonton TV ….. org dalam satu bulan per tama. Ko mit men tidak nonton TV antara jam ……, Setiap bulan ada alokasi dana yang disisihkan dari ‘kenikmatan’ keluarga untuk KLMT, selain kolekte dan amplop persembahan yang sudah rutin, Setiap bulan ada satu buku rohani Katolik yang dibeli atau dipinjam dari perpustakaan untuk dibaca oleh keluarga, salah satu anggota keluarga menerangkan isi buku yang dibaca kepada keluarga, Satu minggu sekali atau sesuai mekanisme pertemuan kelompok/paguyuban mengadakan kegiatan kerohanian, Tim Kunjungan Keluarga …….,jadwal ……..

 
 

Kegiatan Rutin 6. Perhatian bagi anak-anak, remaja dan kaum muda

Kegiatan Rutin 6. Kesadaran baru bahwa keluarga menjadi basis hidup beriman yang tercermin dalam pilihan program khusus 2. Pendataan mengenai keadaan anak-anak, remaja dan kaum muda; kemudian diadakan pen dampingan serta alokasi dana sesuai dengan maksudnya, tekanan: keterlibatan anak, remaja dan kaum muda untuk pengembangan umat. 3. Terbentuknya wadah, kegiatan dan kemung kinan pengem bangan berdasarkan metode ‘teman sebaya’

Pemikiran Terobosan 6. Kegiatan PIA dihadiri oleh ….. anakKelompok PIR ….., Putra Altar ……, Mudika lingkungan ……, Mudika Wilayah ……, Mudika Paroki ….., KKMK …….

 
 

Kegiatan Rutin 7. Gerakan kerohanian masa Prapaskah dan Adven

Kegiatan Rutin 7. Memperpanjang pemaknaan masa prapaska (pantang dan puasa) dengan gerakan rohani tiap hari Jumat: mengurangi uang jajan, uang makan keluarga, sisa belanja harian dll, sebagai bentuk perhatian nyata bagi orang lain. 2. Masa Adven diisi dengan kegiatan keluarga dan KLMT yang makin menghangatkan kasih keluarga 3. Menampilkan wajah sosial Gereja melalui gerakan pemberdayaan yang nyata: misalnya pemeliharaan keutuhan ciptaan, menanam pohon di pekarangan rumah, bantaran sungai, tanah kosong, turut memelihara taman kota, kebersihan got atau saluran air secara rutin, pengobatan murah/gratis

Pemikiran Terobosan Pengumpulan dana setiap ada pertemuan lingkungan, hari ……Dana digunakan untuk membantu ……. Membuat palungan keluarga, pohon niat, Gerakan kebersihan di kampung setiap hari …….Gerakan penanaman dan pemeliharaan pohon pada hari ultah pelindung lingkungan, tiap tgl ……..

Hal lain yang perlu dikembangkan: Pengurus Lingkungan dan DP membuat Program kerja yang melibatkan dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Dasar pemikiran: Gereja hadir di tengah-tengah masyarakat dan di dalam dunia bagaikan ragi atau garam yang harus mewarnai dan memberi peran. Semangat dasar: Minoritas Kreatif. Pelbagai kegiatan lain dan model kesaksian hidup bisa diupayakan dengan lebih kreatif. Sesuai semangat hidup St. Fransiskus Xaverius, tugas misi dihayati dan diwujudkan dalam kesaksian hidup harian, dimanapun berada.

RD. FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr 
Gareja Randusari – Katedral, St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci

 

KATEKESE & AVANT GARDIST

Menggagas kreatifitas dan ruang alternatif proses katekese

Proses katekese pada intinya merupakan usaha pendampingan dan pendalaman untuk meningkatkan mutu hidup beriman. Upaya tersebut diusahakan dengan aneka metode, situasi, dan suasana yang dikembangkan agar orang merasa ditumbuhkan pengolahan yang mendalam atas imannya baik pengetahuan maupun sikap hidupnya dalam beriman. Tumbuh dan berkembangnya iman orang tidak dapat dipengaruhi secara langsung. Dengan demikian, prinsip katekese lebih sebagai usaha untuk menciptakan situasi dan suasana hidup beriman sedemikian rupa, sehingga membantu dan mendukung tumbuh-berkembangnya iman orang. Proses tumbuh-berkembangnya hidup beriman ini menyiratkan bagaimana orang berkembang secara utuh, baik secara kognitif, afektif maupun perilaku dan kehendaknya dalam menghayati apa yang diimaninya.

Situasi dunia dan cara pandang orang yang kompleks, membawa implikasi yang serius bagi proses katekese. Katekese ditantang pada kemajuan cara berpikir, cara bertindak, cara menginternalisasi makna dan berbagai perubahan yang mendasar menyangkut orientasi cara pandangnya (world view). Untuk itu diperlukan pembaruan katekese. Katekese harus merujuk kepada konsekwensi logis implikasi dan berbagai perubahan perilaku, sikap, dan tata budaya yang terjadi. Jika kita lihat, ruang hidup keagamaan dewasa ini tidak lagi bersifatsingle face (berwajah tunggal), melainkan sudah bersifat multifaces (berwajah banyak).

Begitu juga kemajuan budaya, membawa ruang-ruang hidup keagamaan kepada relevansi keilmuan (sciences) dan religiositas yang majemuk dan beragam. Relevansi keilmuan ini pun cukup membingungkan, dimana ruang agama memasuki tarik menarik antara kategori pure sciences (ilmu dasar) atauapplied science (ilmu terapan). Perkembangan berbagai itu membawa perubahan pada segi hidup cara berpikir. Sifat kehidupan agama yang multifacemembawa angin segar ruang agama yang tidak sarat hanya dengan permasalahan dogma, ajaran dan teologi semata, melainkan membawa kepada relevansinya terhadap ruang realitas hidup. Namun sering kali ruang agama yang sedemikian membawa sebuah konsekwensi applied science yang membawa agama sebagai sesuatu yang sarat dengan kepentingan, termasuk dalam ruang ilmu sosial politik. Agama bukan lagi sebuah pure science yang bergerak pada wilayah sakral dan transendenitas, melainkan sudah bercampur dalam wajahnya yang profan. Begitu juga, kekayaan religiositas semakin berkembang sangat beragam, dari yang populer-devosional sampai kepada posmo dan new age.

 Maka katekese membutuhkan avant gardist atau garda depan pemikiran yang harus berani membuka ruang-ruang alternatifRuang alternatif dan kreatifitas harus dicari pada wilayah yang melampaui sekat-sekatnya. Cara berpikir harus sampai kepada out of boxs, keluar dari jalur dan terus-menerus berusaha menemukan pembaruannya.

1. Katekese dan HybirdGeneration

1.1 Dewasa ini, perkembangan cara pandang orang menampakkan citra yang berbeda dan progresif. Progresifitas itu tampak dari munculnya generasi “hibrida” dalam berbagai bentuk, dari seni, sosial, politik, ekonomi dan budaya. Hal itu, dilatarbelakangi oleh berkembangnya gerakan Garda Depan (Avant garde) dalam segala proses cara pandang. Cirinya yang progresif dan mereduksi segala batas-batas formal dan tradisional, membawa segala sesuatu menjadi melintas batas tatanan. Berbagai perkembangan seni, sosial, politik, ekonomi dan budaya apapun bentuknya, menjadi meluas, kolaboratif, heteroistik. Bentuk perlawanan terhadap tatanan dan kolaboratif ini telah memunculkan berbagai kecenderungan yang kontemporer hingga sulit untuk digolong-golongkan kedalam formalisasi model tertentu.

1.2 Konsep “hibrida” yang muncul, lebih kepada konsep interkoneksitas danintermediasi. Maka yang terjadi, segala sesuatu saling dikombinasikan, dikolaborasikan dan dicampurkan. Semua hal menjadi lintas, kolaboratif dan berhubungan. Hal itu karena pengaruh berkembangnya pemikiran postmodernyang memandang segala sesuatu tentang sistem dan nilai tidak dikotomis atau biner, melainkan merupakan jalinan yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya dalam konstruksi yang utuh. Segala hal dilihat atau dipandang sebagai keutuhan dan holistik. Adanya penghargaan terhadap berbagai wacana yang lebih luas, bersifat lebih terbuka akan segala kemungkinan kebenaran.

1.3. Perkembangan budaya New Age, sangat berpengaruh dan kaya dalam segi “hibridasi” ini. Hibridasi tersebut terlebur antara kerinduan akan yang sakral dengan segala sesuatu kecemasan dan hiruk pikuk duniawi. Ambil contoh, bagaimana seni-seni “hibrid” ini mewarnai kancah seni populer dewasa ini, seperti; ERA, Enya, Sarah Brighman, atau pada lagu-lagu Josh Groban yang berkolaborasi dengan Black Mumbazo. Maka New Age pun menghantar berbagai musik-musik yang kaya akan dimensi spiritual dengan musik yang didominasi bernada oktaf, namun juga kecenderungan-kecenderungan absurditas pada pilihan nada-nada musiknya, seperti apa yang dipopulerkan dengan generasiBrith Pop. Tentu saja, secara analisis budaya, hal ini dipengaruhi oleh struktur naratif zaman dewasa ini yang menuturkan berbagai pergulatan penderitaan hidup, kecemasan dan kerinduan akan yang sakral.

1.4 Fenomena hibridisasi ini menjadi kesempatan yang luas bagi proses energi kreatif. Pengaruhnya juga memasuki ruang-ruang teologis, hingga politis. Ruang teologis semakin melebarkan jangkauannya kepada proses hermeneutik baru antara sosial, ekonomi, lingkungan hidup, seni, budaya dan lain sebagainya. Katekese mendapatkan tempat yang sangat berarti dalam proses hibridisasi ini. Hal itu dimungkinkan, karena katekese merupakan peleburan antara ruang teologis dengan ruang kemanusiaan yang sarat dengan kekayaan akan metodologi dan hermeneutik. Katekese menjadi ruang yang paling kaya akan hibridisasi, dari metode dan isi, yang mengkolaborasikan cara, sikap pandang, internalisasi dan refleksi.

1.5 Maka katekese perlu membuka peluang seluas-luasnya pada konsep “hibridasi” ini, tentu saja bukan untuk mengkaburkannya, tetapi untuk merevitalisasinya. Tantangan ini menjadi salah satu bagian dari pengembangan katekese, bagaimana mengaktualkan sabda Allah dengan memberinya ungkapan baru yang lebih berbicara bagi manusia zaman sekarang. Isi dan tema katekese idealnya muncul dari dialog dinamis antara situasi aktual umat sekarang dengan Injil Yesus Kristus dan kemajuan kebudayaan. Setiap situasi harus menjadi medan karya keselamatan Allah. Maka, hal itu harus mendorong karya katekese menuju kepada kebaharuan dalam mempergunakan sarana-sarana modern, yang telah dihasilkan oleh peradaban sekarang ini untuk menyampaikan Injil. Liturgi sabda, katekese, peran penggunaan media massa, peranan sakramen-sakramen, kontak pribadi haruslah diintegrasikan didalam sebuah media yang mampu memungkinkan proses komunikasi yang lebih efektif.

2. Katekese dan tantangan multitask

2.1 Dalam proses katekese, ada dua unsur penting yang harus diperhatikan, yaitu segi isi dan suasana. Isi memuat proses edukatif dan konsientisasi menyangkut visi dan pengetahuan iman, nilai dan pesan moral bagi audinceatau pesertakatekese. Isi katekese tidak dapat dilepaskan dari pengaruhnya atas suasana, baik faktor perkembangan psikologis peserta katekese itu sendiri dan aspek-aspek eksternalnya, yaitu lingkungan, sarana, pendekatan dan metodenya. Maka diperlukan suasana akomodatif yang mampu menghantar isi kepada peserta katekese. Suasana tanpa isi akan membuat proses katekese hanya sekedar ruang hiburan, tetapi isi tanpa suasana akan membuat proses katekese bagaikan ruang ceramah yang membosankan dan sama sekali tidak edukatif bagi segi afektifitas peserta katekese. Untuk itu segi isi dan suasana menjadi bagian yang tak terpisahkan. Isi haruslah berjalan dengan suasana, begitupun suasana haruslah memuat isi yang membangun iman peserta katekese.

2.2 Orang-orang di zaman sekarang ini menginternalisasim segala sesuatu dengan multitasking, yang meliputi 3 komponen pokok, yaitu visual, auditori dan kinestetik (gerak). Untuk itu pengaruh media informasi sudah menjadi tiang penyangga kehidupan dan sekaligus menjadi ciri khas setiap orang bersosialisasi dengan sesamanya dewasa ini. Bahasa yang dulunya cenderung mengajar, kemudian berubah menjadi bahasa media yang bersifat membujuk, menggetarkan hati, dan penuh dengan resonansi, irama, cerita, dan gambar yang tervisualisasikan. Bahasa media tersebut lebih berpusat pada getaran hatiSelain itu, bahasa menjadi simbol untuk mengangkat dan memberi tekanan pada aneka kekayaan cita rasa. Segalanya seakan diciptakan kembali menjadi sesuatu yang kreatif .

2.3 Metodologi katekese pada intinya adalah pengembangan hidup beriman. Metodologi tersebut terbuka pada pengetahuan yang bersifat edukatif, namun juga pada proses komunikasi itu sendiri dengan memperhitungkan berbagai keberagaman metode katekese dan berbagai pendekatan yang mendukung. Untuk itu, tantangan multitasking harus memberikan konsekwensi bagi perubahan cara untuk mencari secara kreatif mediasi paling progresif. Proses katekese harus terbuka kepada 3 komponen pokok, yaitu visual, auditori dan kinestetik (gerak). Artinya katekese harus memperhitungkan dan menyesuaikan dengan bahasa visual, bahasa auditori dan bahasa kinestetik.

2.4 Konsekwensi multitasking itu bagi katekese, maka katekese perlu mempertimbangkan segi message appeals atau himbauan pesan yang bersifat himbauan emosional yang terkait dengan motif transendental atau nilai religius. Untuk itu berbagai media yang tepat dan mampu menyentuh cita rasa perlu dikembangkan. Proses hermeneutik harus menjadi proses komunikatif, dimana citra manusiawi dikemas dengan berbagai metode pendekatan untuk sampai kepada nilai religius. Media visual-auditori-kinestetik menjadi salah satu jembatan untuk menghubungkan realitas dan cita rasa kepada inti visi Kristianitas sejati. Hal itu lebih merupakan proses sintesa media dan katekese dengan perkembangan budaya serta tehnologi yang mempengaruhi umat berkaitan dengan gaya hidup (life style) dan berbagai kemajuan cara berpikir lengkap dengan progresifitas pendekatannya.

2.5 Media visual-auditori-kinestetik menjadi jembatan paling strategis jika rancangan katekese merupakan rancangan yang imaginatif dan kreatif. Untuk itu pola pemikiran visual-auditori-kinestetik yang kaya akan cita rasa perlu menjadi bagian utama yang dikembangkan. Proses hermeneutik harus terbuka kepada pola-pola gagasan apresiatif yang kaya. Kegiatan apresiasi merupakan sebuah kegiatan yang memuat dua unsur penting. Unsur yang pertama adalah upaya pemahaman. Unsur yang kedua, bahwa di dalam kegiatan berapresiasi ada suatu upaya untuk memberikan bentuk pendapat dan tanggapan atau yang umum disebut sebagai intrepetasi. Begitu juga, katekese menjadi ruang ekspresi atau ungkapan yang representatif dan kaya akan makna(performance), apa yang menjadi perasaan dan diiternalisasi diungkap sedemikian rupa dalam bingkai visi yang teologis dan humanis namun dengan bahasa yang visualitatif.

2.6 Salah satu media yang dapat digunakan agar katekese itu mampu menyapa aspek multitasking adalah media komunikasi populer. Media komunikasi populer adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses komunikasi yang metodologinya bersifat “dekat” dengan kehidupan dewasa ini, misalnya film, foto digital, poster, hasil download internet, tampilan-tampilan presentasi dengan powerpoint dan flash player, musik, potongan artikel, potongan cergam-komik, dan lain-lain. Media komunikasi populer ini dapat menjadi salah satu bantuan, agar jembatan untuk menghubungkan pengalaman hidup orang zaman sekarang dengan visi kristianitas mampu terjadi.

3. Katekese dan kerja ruang seni

3.1 Performance art [seni pertunjukan] ; teater, film/fotografi, seni entalase, tari, paduan lintas seni antara seni rupa dan seni pertunjukan, performance sastra dan musik merupakan ruang yang mempunyai daya ikat komunikatif-apresiatif bagi penikmatnya. Ruang tersebut sangat kompleks dan kaya dengan berbagai ragam proses internalisasi. Internalisasi itu tercipta dengan sangat kuat bagi penikmatnya, ketika dirinya merasakan unsur keindahan, hiburan, nilai serta makna yang mencecap sumber-sumber komunikasi baik inderawi maupun kemampuan daya pikirnya.

3.2. Ketika orang menikmati suatu karya/kerja seni (work art) yang melebur menjadi gagasan performance, orang diajak secara bebas, untuk melihat, mendengar, merasakan, dan berpikir mengenai stimulus-stimulus yang merasuk melalui membran indera untuk diinternalisasi, dikontruksi secara baru bagi dirinya agar bermakna. Makna yang didapat pasti tidak bersifat sementara, namun mampu membuat impuls kesan yang tertanam dalam memori dengan bentuknya yang lebih kaya.

3.3. Jika internalisasi makna terjadi, maka apa yang menjadi performa telah dikontruksi secara baru oleh seseorang yang berdampak perkembangan atau edukatif. Performance art mempunyai “bahasa” yang mengungkap banyak ragam kemampuan daya manusia secara utuh. Daya itu meliputi, daya imajinasi, logika berpikir, dan kemampuan semiotik, menangkap simbol atau lambang yang tidak hanya secara verbalistis, namun bersifat lateral menjangkau ruang-ruang daya kreatifitas.

3.4. Ruang kateketis, adalah ruang yang berdampak edukatif dan spiritual. Ruang ini menjalin proses komunikasi yang bersifat religius sekaligus pengertian serta makna. Proses komunikasi tidak akan terjadi secara baik, jika salah satu unsurnya timpang. Ketimpangan dapat terjadi, jika proses katekese kehilangan sintesa antara isi dan suasana yang dibangun. Begitu juga, jika subyek katekese tidak mampu secara bebas dengan daya pikir, imaginasi, dan proses pemaknaan, menginternalisasi makna itu. Indoktrinasi yang kuat dengan bahasa yang terbatas pada verbalistis, tidak kaya makna dan terbatas pada isi yang kurang kontekstual, kurang partisipatif baik dari inderawi, makna, dan daya pikir dapat menyebabkan proses keteketis terhambat.

3.5. Performance art dapat menjadi salah satu ruang alternatif kateketis. Hal itu sangat beralasan, karena melalui performance art ini diusahakan proses komunikasi iman yang lebih kaya, beragam dan memuat unsur makna dan nilai. Dalam arti, penikmat performance, bukanlah sekedar “penikmat”, melainkan subyek keteketis yang dengan indera dan hatinya menginternalisasi makna edukatif, transformatif dan spiritual bagi hidup berimannya. Bagi sang kreator, performance menjadi ruang kesaksian dan proses komunikasi imannya.

3.6. Namun, performance art tidak dapat begitu saja ditempatkan dalam kerangka ruang kateketis. Ada unsur penting kateketis, yaitu kontruksi imanen, dimana di dalamnya ada isi iman dan pengalaman religius yang mendasar. Maka performance art sebagai ruang kateketis mengibaratkan ada unsur iman yang dibangun, yaitu meliputi isi utama yang menjadi pusat kontruksi religiusnya dengan proses kerja seni [work art].

4. Katekese dan ideologi masyarakat urban

4.1 Ruang katekese semakin meluas, ketika ideologi paradigmatik dewasa ini bersenyawa dengan teologi dan humanisme, apalagi dengan konsep urbanisme modern yang dewasa ini berkembang. Katekese dalam kerangka bingkai identifikasi ini, menjadikan pengalaman-pengalaman faktual berhadapan dengan berbagai nilai, makna dan repesentasi ruang sosial urban yang cenderung anonimitas, absurditas dan eksistensialitas. Tentu saja, hal ini akan semakin menarik dan mempengaruhi model katekese.

4.2 Ruang publik kota adalah ruang yang memuat begitu beragam interaksi. Interaksi itu sarat akan makna, karena proses jalinan yang menyatukan unsur ruang dan me-ruang dalam dimensi titip pijak hidup manusia. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk mengamati ruang publik kota. Daya tarik itulah yang perlu dikembangkan sedemikian rupa, agar menjadi ekspresi dan refleksi atas potret kritis kehidupan ruang publik kota. Refleksi itu perlu menjadi khasanah paling pokok dari kerja kateketis.

4.3 Katekese kaitannya denga ruang urban ini akan menjadi pengalaman dan diskusi panjang bagaimana Gereja harus berbuat untuk mengupayakan perjuangan nilai pembebasan dan warta sejati mengenai Kerajaan Allah di kancah hidup masyarakat saat ini. Pengalaman, harapan, penilaian, kekritisan yang muncul serta direfleksikan kemudian diidentifikasikan dengan sebuah visi mengenai tradisi suci yang kaya akan nilai-nilai Adikodrati. Warta tersebut diharapkan mampu menjadi subjek dan pusat komunikasi evangelisasi baru baik secara perorangan maupun bersama menggarami dan menerangi sekulerisme, hedonisme, apatisme dalam hal-hal keagamaan serta ateisme praktis yang kian menggerogoti umat manusia dewasa ini.

4.4 Gagasan yang dapat dikembangkan bagi katekese dalam gagasan urbanisme ini seperti apa yang digagas oleh Foucault dengan heterotopia.Foucault mengajak memahami “ruang” dalam gagasan yang bersiafat relasional. Ruang publik kota bukan sesuatu yang kosong tanpa arti menunggu para penafsir memberikan arti-arti dan makna-maknanya. Ruang publik kota adalah ruang yang mempunyai relasional antara historisitas dan hidup manusia kota. Dalam kehidupan modernisasi sering ditemukan apa yang disebut Foucault sebagai heterotopia. Degup jantung kehidupan kota itu sarat dengan ruang-ruang heterotopia itu. Ruang heterotopia itu mensiratkan relasi kegundahan manusia dengan ruang hidupnya. Heterotopia itu terjadi ketika tata ruang, bangunan bersinergi dengan batin-batin pencarian manusia akan disparitas, paradoks dan “ruang lain” dalam hidup mereka. Ruang-ruang heterotopia terjadi ketika manusia berdialog dengan eksistensi hidupnya, antara ada dan tiada. Maka ruang heterotopia itu menjadi ruang pencarian manusia akan maknannya, pencarian manusia dalam dimensi dramatiknya, dari penderitaan, kesakitan, absurditas, spiritualitas, hingga kegembiraan. Untuk itu, ruang heterotopia tidak hanya menyangkut alih-alih kekuasaan seperti penjara, atau ruang kesakitan dan kepedihan seperti rumah sakit dan pemakaman tetapi juga ruang-ruang publik yang disibukan dengan eforia magis pelarian manusia akan kejenuhan kehidupan, seperti tempat-tempatrave party. Membaca ruang publik kota dengan konsepsi heterotopia mengajak kepada kesadaran ultimate dan eksistensial mengenai ruang-ruang makna yang dicari oleh manusia kota.

4.5 Untuk mengembangkan proses katekese dengan konsep urbanisme ini, metode bahasa foto merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk penyadaran (konsientisasi). Melalui foto, ada kisah dan peristiwa yang terajut utuh bagi setiap pikiran dan setiap keprihatinan. Foto menghadirkan kembali kenangan akan peristiwa, yang tentu saja mempunyai nilai jika didiskusikan dan direfleksikan. Upaya yang bersifat teknis dan pemilihan obyek, dengan kuatnya telah dirajut oleh kesadaran seorang fotografer untuk membidik sebuah peristiwa agar hadir di ruang-ruang setiap orang yang melihatnya . Foto mempunyai bahasa yang luas dan kuat untuk menyentuh perasaan, misalnya bagaimana menghadirkan sebuah pemaknaa akan kesadaran ekologis melalui foto. Hal itu seperti apa yang telah terjadi di tahun 1970-an, seorang fotografer W. Eugene Smith mampu menunjukan kepada publik mengenai upaya perjuangan lingkungan hidup melalui foto kasus pencemaran lingkungan, yang dikenal dengan Minamata. Melalui karya itu, dipaparkan betapa ruang foto, mampu menjadi medan dialog reflektif bagaimana realisasi gamblang dari rusaknya hubungan antara manusia dan kemajuan yang diinginkannya. Foto mampu berdampak provokatif mengurai batas-batas kesadaran kritis.

4.6 Agar proses katekese dengan mempergunakan bahasa foto ini menjadi menarik dan mempunyai makna yang mendalam, ada salah satu metode yang dapat dipergunakan, yaitu dengan metode Mass Room Project (Proyek Ruang Publik). Mass Room Project lebih dikenal dikalangan komunitas seni media. Biasanya, Mass Room Project digunakan untuk mengamati ruang publik yang “ditangkap” melalui sarana media seperti photo-camera dan camera shooting, yang dipadu dengan sebuah kajian sosial, baik bersifat antropologis maupun sosiologis yang kemudian diberi sentuhan seni. Kajian yang dilakukan, biasanya berkisar pada ruang-ruang publik perkotaan, dari pasar, jalan raya,mall, halte bis, perkampungan urban, tempat nongkrong, rambu-rambu lalu lintas, terminal dan lain sebagainya, yang terpenting ada segi ruang publik yang dihadirkan. Metode yang dilakukan, biasanya sangat variatif dan kreatif, mengingat adanya unsur seni media didalamnya. Biasanya suatu obyek ruang publik diamati dan dibidik dengan peralatan media baik photo-camera dancamera shooting, dengan suatu ketentuan tertentu. Pertama, dapat bersifat bergerak, baik linear, maupun spiral, ataupun bersifat sentrifugal maupun sentripetal, Kedua, dapat bersifat stagnan (diam), dengan suatu durasi waktu yang digunakan, baik detik, menit, jam, hari maupun sampai bulan, bahkan tahunan, ataupun obyektifikasi yang bersifat masif.

4.7 Untuk kepentingan katekese, Mass Room Project dapat diproses sebagai berikut :

1). Sebelum melakukan hunting ke obyek yang dipilih, peserta perlu diajak diskusi untuk menentukan tema dan cara pengambilan fotonya. Tema dan cara pengambilan foto yang dipilih akan mempengaruhi jenis dan tempat obyeknya, dan bagaimana proses yang akan dilakukan, baik yang bergerak maupun yangstagnan ataupun yang bersifat obyektifikasi.

2). Setelah tema ditentukan, begitu juga tempat dan dinamikanya, barulahhunting ke obyek yang dikehendaki.

3). Berdasarkan obyek yang dipilih, obyek dapat “direkam” mempergunakan foto-digital sesuai dengan yang telah ditentukan menurut pola yang telah disiapkan.

4). Setelah foto obyek didapatkan, foto tersebut dapat diolah hasilnya berdasarkan selera dan tema yang sudah ditetapkan.

5). Hasil data tersebut dapat dikemas, baik dalam bentuk pameran foto, esai foto, perfomance art, ataupun pem-visualan yang lainnya. Hasil yang sudah dikemas itu bisa digunakan untuk media awal analisa.

6). Foto yang telah dihasilkan itu, dapat direfleksikan dan didiskusikan dengan metode

5. Ketekese dan Community Base Organization

5.1 Katekese mempunyai peran dalam fungsinya untuk mengupayakan sintesa pengalaman kolektif umat di dalam terang visi iman. Hal itu mendasar pada peran katekese dalam perencanaan (plan) pengembangan partisipasi ruang hidup umat yang sungguh-sungguh berdaya dan bergerak nyata di dalam masyarakat. Kita sadari bersama, Katekese Umat menjadi suatu ruang dimana refleksi iman sungguh disatukan dengan pengalaman sosio politis apa yang dihadapi umat di dalam masyarakat. Melalui Katekese Umat, apa yang kultis semakin direfleksikan untuk menjadi bagian dari actus yang harus diperjuangkan bersama. Perjuangan tidaklah semata-mata politis, melainkan ada aspek visi pada sebuah nilai dan pusat keluhuran budi manusia yang telah di-internalisasi kedalam spiritualitas ruang kultis umat. Perjuangan akan semakin menampakan visinya di dalam kancah sosio politis, bahwa tidak sekedar menjadi gerakan biasa melainkan menjadi gerakan yang utuh merambah kesatuan aspek etis-spiritualitas, sehingga pilihan politispun sungguh berpusat pada nilai kemanusiaan.

5.2 Katekese mempunyai fungsi mengupayakan sintesa iman dan situasi aktual umat. Jika kita lihat bersama, perantaraan iman membutuhkan jembatan antara situasi tradisi iman yang lampau dengan keberadaan Kristianitas dalam situasi yang baru saat ini. Hal ini membutuhkan dialektika antara apa yang menjadi Visi dengan kenyataan faktual yang dihadapi. Terkait dengan situasi aktual umat, akumulasi pengalaman, penilaian dan refleksi bagaimana sebuah situasi aktual umat berdampak pada ruang hidup masyarakat dicoba untuk diteguhkan dan dikonfrontasi dalam bingkai visi. Hermeneutik yang cukup representatif terkait dengan daya kritis situasi aktual umat adalah hermeneutik yang bersifat identifikasi antara pengalaman manusiawi dengan pengalaman religius. Bingkai hermeneutik ini mencoba untuk menemukan nilai bahwa di dalam kodrat dan pengalaman manusiawi ditemukan petunjuk-petunjuk ke arah adikodrati(analogia etis).

5.3 Maka dalam kerangka bingkai hermeneutik identifikasi ini, pengalaman-pengalaman faktual berhadapan dengan ketidakadilan atas berbagai situasi aktual umat menjadi pengalaman upaya bagaimana Gereja harus berbuat untuk mengupayakan perjuangan keadilan sebagai sebuah pengalaman pembebasan dan warta sejati mengenai Kerajaan Allah di kancah hidup masyarakat saat ini. Pengalaman, harapan, penilaian, kekritisan akan situasi aktual umat yang muncul serta direfleksikan dalam bingkai analisa sosial diidentifikasikan dengan sebuah visi mengenai tradisi suci yang kaya akan nilai-nilai pembebasan dari Allah. Tradisi suci-Kitab Suci mengenai kisah Yesus memberikan inspirasi, motivasi yang mendalam mengenai sebuah perjuangan sosio politis komunitas kritis. Komunitas itu adalah umat yang bersama dengan katekis untuk mencoba menggali berbagai aspirasi kritis persoalan situasi aktual umat.

5.4 Peran katekese menjadi semakin strategis dalam arti tersebut. Hal itu didasari, bagaimana proses katekese mampu mengupayakan fungsinya menjadi pusat perkembangan komunitas basis umat. Hal tersebut meliputi kemampuan ruang katekese untuk menjadi; planning, pengorganisasian, aktualita serta evaluasi dan refleksi karya yang sungguh-sungguh mendasar pada berbagai peran kritis di dalam masyarakat.

Purwono Nugroho Adhi

Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang

 

Sumber: http://imankatolik.or.id/katekeseumat.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s