Bedakah Allah PL dan PB, hukum Taurat dibatalkan Yesus?

Ditulis oleh Ingrid Listiati on Aug 2nd, 2009 di kategori: TJ: Kitab Suci, Tanya-Jawab. Ikuti yang terbaru dari tulisan dan komentar ini lewat RSS 2.0. Silakan meninggalkan pesan/pertanyaan.

Pertanyaan:

Pa Stef, Bu Ingrid dan Romo

Shalom.
Terimakasih atas pelayanannya melalui web ini, karena melalu web ini, Yesus sang Sabda yang hidup benar bersabda dan menjawab beberapa pertanyaan di pikiran saya.

Saya ada 2 pertanyaan terkait Kitab suci.

1. Dalam perjanjian lama terkesan Allah sebagai Allah penghukum terhadap kesalahan umaNya (walaupun dalam beberapa perikop juga ditemukan Allah yang penuh Kasih), yang sangat kontras dengan perjanjian baru, dimana Yesus memperkenalkan Allah yang penuh kasih, yang mengampuni dan menyebutNya sebagai Bapa.

2.Paulus berkali kali menekankan tentang kesia – siaan hukum Taurat, dan mengkontraskan dengan ajarannya i.e ttg sunat (walaupun saya sendiri setuju dengan ajaran Paulus, bahwa yang menyelamatkan bukan sunat jasmani, namun sunat hati, seperti yang tertulis dalam Efesus), namun Yesus sendiri pun mengatakan Ia tidak membatalkan HK Taurat namun menggenapinya, dan kalau tdk salah Yesus mengatakan celakalah orang yang menghapus satu titik saja dari HK Taurat. tolong penjelasannya

Terimakasih, Stephanus

Jawaban:

Shalom Stephanus,

Terima kasih atas kunjungan anda ke website Katolisitas. Mengenai pertanyaan anda:

1. Pertama-tama, kita tidak boleh lupa, bahwa Allah adalah Maha Adil namun juga Maha Kasih. Memang jika kita membaca PL, terkesan bahwa Allah sangat tegas dalam menghukum kesalahan, entah yang dilakukan oleh umat pilihan-Nya ataupun bangsa- bangsa lain. Ini adalah aspek keadilan Allah. Namun demikian, dalam PL juga menceritakan belas kasihan Allah dan pengampunan-Nya, jika umat-Nya bertobat. Kedua hal ini (keadilan dan belas kasihan Allah) tidak dapat dipisahkan.

Sebagaimana halnya orang tua yang demi kasih mendisiplinkan anak-anak mereka. Pada usia muda/ anak-anak, memang seringkali disiplin diberikan dengan lebih keras, namun pada usia lebih dewasa saat nilai-nilai dasar kebajikan itu telah terbentuk di dalam diri mereka, orang tua tidak lagi mendisiplinkan dengan cara seperti ketika anak-anak masih kecil. Demikian juga halnya sikap Allah terhadap umat manusia. Maka di sini yang berubah bukan Allah-nya, tetapi manusia-nya. Allah memberikan rahmat dan pengajaran-Nya sesuai dengan kemampuan umat manusia untuk menerimanya. Oleh karena itu, memang kita tidak dapat mengenal Allah dengan baik, jika kita hanya membaca PL saja atau PB saja. Gereja Katolik mengajarkan agar kita membaca PL dalam terang PB, dan PB sebagai penggenapan PL. Saya dan Stef pernah menuliskannya di sini, silakan klik dan di sini, silakan klik. Silakan membaca di sana, dan jika ada yang kurang jelas, silakan bertanya di bawah tulisan itu.

2. Yesus membatalkan hukum Taurat Musa?

Untuk menjawab hal ini, mari melihat kepada pengajaran St. Thomas Aquinas.

St. Thomas Aquinas (ST, I-II, q. 98-108) mengatakan bahwa ada 3 macam hukum di dalam Perjanjian Lama, yaitu:

  1. Moral Law atau hukum moral: Hukum moral adalah bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom 2:15). Contoh dari hukum ini adalah yang tertulis di 10 perintah Allah, dimana terdiri dari dua loh batu, yang mencerminkan kasih kepada Allah (perintah 1-3) dan juga kasih kepada sesama (perintah 4-10). Hukum kodrati ini adalah hukum yang tetap mengikat (bahkan sampai sekarang) dan digenapi dengan kedatangan Kristus, karena hukum kodrati ini adalah merupakan partisipasi di dalam hukum Tuhan.

    Dalam pengertian inilah maka memang Tuhan Yesus tidak mengubah satu titikpun, sebab segala yang tertulis dalam hukum moral ini (sepuluh perintah Allah) masih berlaku sampai sekarang. Dengan prinsip ini kita melihat bahwa menguduskan hari Sabat dan memberikan persembahan perpuluhan, sesungguhnya adalah bagian dari hukum moral/ kodrat, di mana umat mempersembahkan waktu khusus (Sabat) dan hasil jerih payah (perpuluhan) kepada Allah.

  2. Ceremonial law atau hukum seremonial: sebagai suatu ekpresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip hukum kodrat, seperti: hukum persembahan termasuk sunat (Kel 17:10, Im 12:3), perpuluhan (Mal 3:6-12), tentang kesakralan, proses penyucian untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dll. Hukum ini tidak lagi berlaku lagi dengan kedatangan Kristus, karena Kristus sendiri adalah persembahan yang sempurna, Kristus menjadi Anak Domba yang dikurbankan. Maka persembahan yang paling berkenan kepada Allah adalah kurban kita yang dipersatukan dengan korban Kristus dalam Ekaristi kudus.

    Itulah sebabnya di Gereja Katolik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dan juga para rasul (Petrus dan Paulus) juga tidak mempermasalahkan makanan-makanan persembahan, karena bukan yang masuk yang najis, namun yang keluar. Ulasan ini dapat melihat di jawaban ini (silakan klik ini, dan juga klik ini). Kalau kita mau terus menjalankan hukum seremonial secara konsisten, maka kita harus juga menjalankan peraturan tentang makanan yang lain, seperti larangan untuk makan babi hutan, jenis binatang di air yang tidak bersisik (ikan pari), katak, dll. (Lih Im 11).

  3. Judicial law atau hukum yudisial: Ini adalah merupakan suatu peraturan yang menetapkan hukuman/ sangsi sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana memperlakukan orang asing, dll. Contoh dari hukum yudisial: kalau mencuri domba harus dikembalikan empat kali lipat (Kel 22:1); hukum cambuk tidak boleh lebih dari empat puluh kali (Ul 25:3); mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel 21:24, Im 24:20, Ul 19:21); sangsi jika hukum perpuluhan dilanggar (lih. Bil 18:26,32). Setelah kedatangan Kristus, maka judicial law ini tidak berlaku lagi. Kalau kita mau konsisten, kita juga harus menjalankan hukuman rajam, hukum cambuk, dll. Di masa sekarang, hukum yudisial ditetapkan oleh penguasa/ pemerintah sebagai perwakilan dari Tuhan, sehingga hukum dapat ditegakkan untuk kepentingan bersama. Menarik bahwa Yesus tidak mengajarkan hukum yudisial, karena hal itu telah diserahkan kepada kewenangan otoritas pada saat itu. Dan kewenangan disiplin di dalam kawanan Kristus diserahkan kepada Gereja, di mana disiplin ini dapat berubah sejalan dengan perkembangan waktu dan keadaan. Ini juga yang mendasari perubahan Kitab Hukum Gereja 1917 ke 1983.

Dengan adanya penjelasan dari St. Thomas ini, maka, kita mengetahui bahwa memang Kristus merupakan penggenapan Hukum Taurat Musa. Dan dengan peranNya sebagai penggenapan, maka Kristus tidak mengubah hukum moral, namun hukum seremonial dan yudisial yang dulu tidak berlaku lagi, karena hukum- hukum tersebut hanya merupakan ‘persiapan’ yang disyaratkan Allah agar umat-Nya dapat menerima dan menghargai kesempurnaan yang diberikan oleh Kristus. Maka dalam PB, sunat, tidak lagi sunat jasmani, tetapi sunat rohani (Rom 2:29). Penekanan kerohanian ini juga nampak dalam pengaturan persembahan; sebab persembahan perpuluhan PL disempurnakan oleh perintah untuk memberi persembahan kepada Allah dengan suka cita sesuai dengan kerelaan hati (lih. 2 Kor 9:7). Dengan demikian, maka Allah tidak lagi memberikan patokan tertentu; dan pada orang-orang tertentu, “kerelaan hati dan sukacita” ini malah melebihi dari sepuluh persen. Kita ketahui dari kisah hidup para kudus, dan juga pada para imam dan biarawan dan biarawati, yang sungguh mempersembahkan segala yang mereka miliki untuk Tuhan.  Dengan demikian mereka mengikuti teladan hidup Kristus yang memberikan Diri-Nya secara total kepada Allah Bapa dan manusia. Di sinilah arti bagaimana penggenapan Hukum Taurat memberikan kepada kita hukum kasih yang baru. Yesus tidak membatalkan hukum Taurat, sebab dengan mengenal hukum Taurat, kita akan dapat lebih memahami Hukum Kasih yang diberikan oleh Kristus.

Demikian juga dalam hal hukum yudisial/ judicial law. Penggenapan PL oleh Kristus mengakibatkan dikenalnya nilai-nilai Injil secara universal di seluruh dunia. Maka prinsip martabat hak-hak azasi manusia ditegakkan secara umum di negara manapun, oleh pihak otoritas pemerintahan setempat. Atau, di dalam kalangan umat Allah, penetapan hukum yudisial ini diberikan Yesus kepada Gereja, seperti yang tertera dalam Kitab Hukum Kanonik. Gereja yang menjadi umat pilihan Allah yang baru mendapat kuasa untuk mengatur anggota-anggota-nya (lih. Mat 18:18) dan segala ketentuan hukum yudisial ini adalah berdasarkan ajaran Kristus. Dengan Kristus sebagai penggenapan Hukum Taurat, maka tidak lagi dikenal prinsip denda, ‘mata ganti mata dan gigi ganti gigi’ (Kel 21:24, Mat 5:58) namun kembali ke pengajaran asal mula ‘kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri’ (Mat 22:39), yang disempurnakan Kristus menjadi, ‘kasihilah musuhmu’ (Mat 5:44). Pemahaman kita akan perintah kasih yang diajarkan oleh Yesus ini akan dapat lebih kita hayati setelah pertama- tama mengetahui bahwa kita harus melakukan prinsip keadilan seperti yang sangat ditekankan di dalam PL. Baru setelah kita menerapkan prinsip keadilan, kita mengetahui bahwa ajaran Kasih Kristus di PB  ternyata jauh melampaui prinsip keadilan itu.

Demikian yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda. Mari kita bersama membaca Kitab Suci dengan selalu memperhatikan kesatuan antara Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Jangan lupa, sekitar 2/3 Kitab Suci terdiri dari Perjanjian Lama; maka terdapat pengajaran-pengajaran di PL yang memang masih sangat relevan bagi kita untuk dikaitkan dengan PB, sehingga kita dapat semakin lebih menghargai dan menghayati penggenapannya di dalam diri Kristus Yesus Tuhan kita. Dengan pengertian ini maka Yesus memang tidak menginginkan seorangpun untuk menghilangkan satu titikpun dari hukum Taurat (lih. Mat 5:17-19), sebab Ia ingin agar kita dapat melihat secara utuh penggenapan dan penyempurnaan hukum Taurat itu dalam diri-Nya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

 

Allah terlihat kejam di Perjanjian Lama?

Ditulis oleh Ingrid Listiati on Feb 9th, 2009 di kategori: TJ: Kitab Suci, Tanya-Jawab. Ikuti yang terbaru dari tulisan dan komentar ini lewat RSS 2.0. Silakan meninggalkan pesan/pertanyaan.

Pertanyaan:

Salam damai Kristus,

Terkadang saya bingung cara menjelaskan perbedaan PL dan PB. Orang2 yang membaca PL selalu mengira kalau “Tuhannya orang Kristen itu jahat karena menyetujui peperangan”. Memang di PL itu terjadi banyak peperangan. Jadi saya bingung cara menjelaskan tentang kasih Tuhan kalau ada banyak peperangan yang dilakukan oleh utusan2 Tuhan. – Jesus Lover.

Jawaban:

Shalom Jesus Lover,

Mengenai gambaran Allah pada Perjanjian Lama (PL) , yang terlihat ‘kejam’, dan kurang terlihat ‘cinta kasih’-Nya.

Gereja Katolik mengajarkan agar kita membaca PL dalam terang PB, sebab PL merupakan gambaran tersembunyi yang disingkapkan dalam PB  (lihat KGK 129). Maka kisah PL baru diperoleh makna lengkapnya jika dikaitkan dengan PB. Dalam kisah perang dalam PL, misalnya saja pada kisah bagaimana Allah memerintahkan bangsa Israel untuk berperang dengan bangsa Kanaan, sebelum mereka dapat masuk ke Tanah Perjanjian (seperti diceritakan dalam Kitab Yoshua), maka kita melihatnya demikian:

  1. Pertama-tama, perlu kita terima bahwa penentuan hidup dan mati manusia adalah hak Tuhan. Tuhan yang memberi hidup, dan Tuhan pula yang mengambilnya jika saatnya tiba. Maka jika Tuhan mengambil jiwa seseorang, itu sepenuhnya adalah hak Tuhan. Di PL, jika Allah menyuruh bangsa Israel berperang, yang akhirnya melibatkan kematian banyak orang, itu harus dilihat bahwa bukan berarti manusia boleh membunuh, namun harus dilihat bahwa kebijaksanaan/ keadilan Tuhan menentukan demikian. Manusia atas kehendak sendiri tidak boleh membunuh (baik membunuh diri sendiri atau orang lain) justru karena urusan hidup dan mati itu adalah hak Tuhan dan bukan hak manusia. Sedangkan bagi Tuhan, karena Ia yang menjadi sumber dan empunya kehidupan manusia, maka Dia berhak menentukan hidup dan mati kita sesuai dengan kebijaksanaan/ keadilan-Nya. Dalam konteks PL, maka segala kejadian peperangan maupun cobaan yang dihadapi umat Israel adalah bagian dari rencana Allah dalam rangka mempersiapkan umatNya untuk menerima nilai-nilai kebajikan yang nantinya akan digenapi dalam diri Kristus.
  2. Keadilan Tuhan dinyatakan dalam PL paling nyata dalam hukuman terhadap manusia yang menduakan Tuhan, yaitu karena manusia menyembah berhala, yang artinya mempunyai allah lain selain Allah. Maka di sepanjang PL kita melihat bagaimana langkah Tuhan men-disiplinkan bangsa pilihan-Nya,  Israel, agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa ini. Tuhan membela Israel dan mengalahkan bagi mereka para bangsa yang menyembah berhala, namun jika bangsa Israel menyembah berhala, maka Allah mengizinkan mereka kalah perang dan dikuasai oleh para bangsa lain. 
  3. Bangsa Israel diperintahkan untuk memerangi bangsa Kanaan, juga untuk mengajarkan kita bahwa Tanah Perjanjian yang melambangkan surga tidak layak untuk dihuni oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan hidupnya tidak sesuai dengan perintah Allah.

Jadi disiplin yang keras pada PL harus dilihat dalam kesatuan dengan PB, bagaikan layaknya orang tua yang mendidik anak-anak pada masa kecil, mereka diberi disiplin yang keras agar dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sedangkan jika sudah dewasa maka cara disiplin yang sedemikian tidak lagi diperlukan setelah nilai-nilai yang baik sudah tertanam dalam hati. Jangan kita lupa bahwa perintah yang terutama yaitu: kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama sudah diajarkan dalam PL (lihat Ul 6:5) sebelum kemudian dinyatakan kembali oleh Yesus (Mt 22:37-39; Mk 12: 30-31; Lk 10:27). Dan pernyataan kasih setia Tuhan sangat banyak dalam seluruh kitab Mazmur (lih. terutama Mz 85-89, 119,136) dan kasih Tuhan sebagai penebus telah dinyatakan juga dalam PL (Yes 43:1-4). Dan kasih Tuhan inilah yang digenapi oleh Kristus dalam PB: kasih yang sempurna, hingga sampai pada titik mengorbankan diri-Nya demi menebus dosa-dosa kita manusia.

Demikianlah yang dapat saya jabarkan mengenai pertanyaan anda. Semoga berguna.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

Ingrid Listiati – www,katolisitas.org

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s