SAKRAMEN INISIASI

SAKRAMEN INISIASI: Dilantik Menjadi Bentara Kristus

Oleh: Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr – Para pembaca yang terkasih, dalam rubrik pastoralia edisi ini kita akan memperdalam pemahaman tentang sakramen iniasi. Topik ini dipilih karena dalam bulan ini anak-anak paroki kita menerima komuni pertama dan beberapa diantara kita mulai mempersiapkan diri untuk menerima sakramen krisma. Kita bisa lebih memahami makna tentang sakramen inisiasi bisa membantu kita semua untuk menghayati .

Apa itu sebenarnya sakramen inisiasi? Guna memahaminya kita bertolak dari pengertian kata inisiasi. Kata inisiasi berasal dari kata in-ire, initiare: memasuki, masuk atau bergabung ke dalam suatu kelompok, atau memasukkan atau menerima seseorang ke dalam suatu kelompok. Inisiasi merupakan gejala yang sangat biasa di kalangan masyarakat. Setiap orang yang akan masuk ke kelompok tertentu selalu harus melalui tahap inisiasi. Kita bisa temui proses inisiasi pada diri seorang siswa yang masuk ke sekolah baru dia harus menjalani Opspek, seorang karyawan baru dia harus melewati masa training dan percobaan serta orang-orang yang mau masuk organisasi tertentu. Lalu bagaimana halnya dengan orang yang ingin menjadi warga Gereja Katolik?

Gereja memiliki inisiasi yang diwujudkan dalam penerimaan sakramen inisiasi. Seseorang yang ingin menjadi warga Gereja harus menerima sakramen tersebut yang terdiri dari sakramen baptis, krisma dan ekaristi I (pertama). Sakramen-sakramen inisiasi ini membawa, membuat atau melantik seseorang menjadi orang katolik dengan segala hak dan kewajibannya. Ada unsur yang berbeda dengan inisiasi pada umumnya. Pada inisiasi kristen unsur ilahi menyertainya. Hal ini dipahami bahwa orang yang menerima sakramen inisiasi menjadi milik Kristus sepenuhnya.

Baptis merupakan sakramen inisiasi pertama yang diterimakan. Baptis mempunyai dua makna. Pertama, diikutsertakan dalam kebangkitan Kristus dan diangkat menjadi putra-putri Allah. Kedua, menjadi anggota Gereja, keluarga Allah yang nampak di dunia. Baptis yang diterimakan kepada orang yang sudah dewasa langsung disertai dengan menerima ekaristi (komuni) pertama. Baptisan dewasa mengandaikan iman yang personal. Maksudnya ialah iman yang tumbuh merupakan iman dirinya sendiri. Atas kesadaran akal budinya seseorang menerima dan mengakui imannya terhadap Kristus. Iman personal inilah yang menjadi dasar dirinya layak dan pantas menerima Tubuh dan Darah Kristus.

Berbeda dengan baptis bayi yang tidak langsung disertai dengan penerimaan ekaristi. Hal ini disebabkan bayi/anak-anak belum mempunyai iman personal. Iman yang ada pada bayi adalah iman Gereja, yang diwakili oleh orangtua dan wali baptisnya. Argumen teologis yang bisa dikatakan adalah bahwa Allah berkehendak menyelamatkan semua orang dengan perantaraan Yesus. Maka tidak ada yang dikecualikan, baik anak maupun orang dewasa yang tidak bisa menggunakan kehendak dan akal budinya secara normal. Keselamatan itu diyakini oleh Gereja akan diterima mereka lewat baptisan. Iman personal kiranya diharapkan akan menyusul kemudian. Setelah dianggap tumbuh iman personalnya maka anak diperkenankan menerima ekaristi. Hal ini dilaksanakan dalam penerimaan komuni pertama.

Sakramen Krisma diterimakan kepada mereka yang sudah dianggap dewasa dalam iman. Kedewasaan ini secara sederhana dinampakkan pada kemampuan orang untuk terlibat dalam kehidupan Gereja. Seseorang menerima krisma berarti diteguhkan untuk menunaikan tugasnya yaitu mengaktualkan keselamatan di dalam jemaat dengan terlibat aktif membina diri serta mewartakan Injil Tuhan. Seperti halnya dalam baptis, Roh Kudus yang sama juga hadir, namun berbeda dalam peran dan fungsinya. Kehadiran Roh Kudus dalam krisma lebih memampukan seseorang untuk menjadi saunisi Kristus serta secara penuh ber¬partisipasi dalam imamat Kristus. Dengan menerima sakramen krisma seseorang secara penuh dipersatukan dengan Kristus dan menjadi bagian yang utuh dari Gereja beserta segala hak dan kewajibannya.

Demikian para pembaca sekilas pemahaman tentang sakramen inisiasi. Berdasarkan pemahaman tersebut, seseorang diterima secara penuh sebagai anggota Gereja Katolik setelah ia menerima ketiga sakramen tersebut yakni baptis, ekaristi dan krisma. Pertanyaan reflektif: Sudahkah saya menerima ketiganya? Jika sudah, apakah saya sudah mewujudkan kedewasaan iman dengan terlibat aktif dalam kehidupan dan tugas perutusan Gereja?***

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s