PEMIMPIN YANG VISIONER – Pelayan/Gembala/Pengurus

Posted on

PEMIMPIN YANG VISIONER
 

Pemimpin Yang Visioner

Arti Visi; Visi berasal dari kata Vision atau diterjemahkan “Melihat” artinya kemampuan untuk melihat ke depan atau gambaran / lukisan masa depan yang kita inginkan dan menurut kita seperti itulah seharusnya.

Visi adalah Motivator

Tiga orang pria sedang bekerja disebuah konstruksi bangunan. Masing-masing sibuk dengan sekop, batu bata dan adukan semen. Seorang pejalan kaki menghampiri pria yang kelihatan sedang bekerja itu dgn malas-malasan dan bertanya, “apa yang sedang Anda kerjakan? Ia menjawab dengan cemberut, “Saya sedang memasang batu bata”.

Pejalan kaki itu kemudian bertanya kepada pria yang lain yang kelihatan sedikit antusias dan mengajukan pertanyaan yang sama. Ia memberi jawaban, “Saya sedang membangun tembok”. Kemudian ia bertanya ke pria yang ketiga yang tengah serius bekerja, bersemangat dan kelihatan tidak mau terganggu. Ketika ditanyakan hal yang sama, ia memberi jawaban, “Saya sedang membangun Katedral”.

Saudara ada berapa banyak saat ini Persekutuan Doa yang tengah mengalami kelesuan? Cobalah Anda renungkan, apakah itu disebabkan oleh karena kejenuhan, oleh karena yang Anda lakukan adalah “memasang batu bata”. Tidak sedikit Koordinator Persekutuan Doa yang tidak mengetahui apa tujuan Persekutuan Doa, mereka  hanya melakukan suatu rutinitas, yang penting ada pemusik, ada WL dan singer, kolekte bisa surplus, Puji Tuhan!  Kalau demikian halnya, maka Anda perlu berhati-hati, karena itu sama saja Anda sedang “memasang batu bata”. PKK mempunyai suatu Visi yang besar, Anda sudah membaca buku Visi & Misi PKK di Indonesia?

Membangun Visi Anda

Visi memberdayakan dan mengilhami orang untuk melakukan suatu pekerjaan dan menyumbangkan gagasan atau tindakan yang melampaui diri mereka sendiri.

 

Visi juga berfokus pada masa depan, tetapi berakar pada kenyataan saat ini. Maka untuk membangun Visi, kita membutuhkan data-data yang ada pada saat ini. BPN setiap kali meminta data-data perkembangan umat, kegiatan-kegiatan pembinaan yang diadakan disetiap PD, BPK atau BPPG. Semua itu bukan untuk hebat-hebatan, tetapi terlebih untuk melihat kedepan, apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dalam setiap Konvenas, selalu disertai dengan Rapat Pleno Besar BPN, dimana semua anggota Pleno Besar BPN menyusun suatu Visi bersama. Contoh dalam Konvenas terakhir di Surabaya, kita semua sepakat, Visi BPN untuk 3 tahun kedepan adalah “Memberdayakan BPK-BPK dalam pelayanan guna mewujudkan habitus baru”.

Visi juga menjadi kerangka bagi apa yang ingin kita ciptakan, lewat Visi bersama itu BPN dengan dibantu oleh Seksi-Seksi yang ada merencanakan / melakukan pencetakan / kaderisasi pengajar-pengajar Pembinaan, Evangelisasi dsb. BPN juga sudah menyiapkan suatu jenjang pembinaan yang berkesinambungan untuk Tim dan juga umat. Tapi berapa banyak BPK yang menanggapi Visi BPN, Visi kita bersama tersebut?

Visi perlu di Komunikasikan

Saudara kalau banyak BPK-BPK atau PD-PD yang tidak melakukan jenjang pembinaan / kaderisasi, jangan-jangan mereka baru pertama kali mendengar Visi BPN tersebut. Padahal seluruh Koordinator BPPG dan BPK hadir dalam penyusunan Visi bersama tersebut. Masalahnya apakah Visi tersebut juga di komunikasikan sampai kebawah?

Visi harus diartikulasikan dan Anda bukan meniup terompet yang tidak menentu.

Dari laporan yang masuk ke BPN di sinyalir ada juga BPK-BPK yang melakukan pelbagai kegiatan namun kegiatan tersebut tidak mengikuti jenjang pembinaan yang ada di BPN. Ada yang melakukan pelbagai macam kegiatan, pelatihan yang tinggi-2, tetapi SHDR, Pertumbuhan, BCM tidak dilakukan. Padahal, ketiga hal tersebut adalah basic untuk masuk dalam PKK.

Pernyataan Visi harus jelas, sederhana dan mudah di komunikasikan

Alm. Presiden Suharto adalah salah satu contoh Pemimpin yang visioner, Visinya “Indonesia harus bisa swasembada beras”. Dan hal itu selalu dikomunikasikan kepada Para Menteri, Gubernur, Bupati dan juga ia turun langsung ke para petani.

Pernyataan Visi juga menggugah, dan kuat sehingga mengilhami, memotivasi ……..

Contoh lain Pemimpin yang visioner adalah Bunda Teresa dari Calcuta. Visinya adalah Komunitas yang memiliki kekuatan Cinta, belas Akasih dan pelayanan yang bersahaja. Beliau membaktikan diri tanpa pamrih  melayani kaum papa miskin yang tersingkir dan tertindas.

Kekuatan Visi:

  1. Memberikan kita pengertian dari tujuan dan arah.
  2. Memberikan kita keberanian, pengharapan & semangat utk hidup pada masa kini.
  3. Menempatkan penekanan pada hasil akhir dan bukan pada aktivitas.
  4. Mendorong kita untuk melihat kemasa depan dan bukan fokus pada masa kini.
  5. Menuntun kita dalam mengambil keputusan.
  6. Membantu kita untuk mengevaluasi progress kerja kita.

 

Yesus Kristus adalah Model Pemimpin yang Visioner.

Yesus berbagi visi-Nya dengan para murid dan orang banyak yang mengikuti Dia. Visi-Nya yang sangat di kenal adalah “Khotbah di Bukit”. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

 

Gaya Kepemimpinan Yesus

Yesus bukanlah sosok Pemimpin yang diharapkan oleh bangsanya, yang memerintah dengan tangan besi, tetapi ia memimpin dengan menjadi pelayan.

Gambaran Kepemimpinan menurut Injil

Injil memberikan tiga gambaran kepemimpinan yang menarik yang ketiga-tiganya dimulai dengan huruf  S : Servant, Sheperd, Steward. Masing-masing merupakan gambaran yang kaya dengan berbagai pengertian serta perlu dipelajari dan diterapkan secara cermat.

 

Pemimpin Kristiani sebagai Pelayan.

Yesus memberikan teladan yang sungguh menggugah pada malam sebelum wafat-Nya dengan membasuh kaki para murid-Nya. Setelah peristiwa itu Yesus bertanya kepada mereka : “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”. “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu supaya kamu perbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu … maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yoh 13 : 12 – 17)  

 

Ciri penting dari pemimpin pelayan adalah memberi teladan. Berbeda dengan pemimpin otoriter yang memaksakan perilaku yang dikehendaki. Dengan pendekatan otoriter, perilaku yang dipaksakan mungkin akan dituruti untuk sementara waktu, tetapi juga akan diikuti oleh sikap benci. Orang-orang akan akan mentaati perintah karena mereka “harus” demikian dan mencari-cari cara untuk mengelak dari perintah yang dipaksakan itu.

Ciri-Ciri Kepemimpinan sebagai Pelayan

1.      Mendengarkan : Pemimpin pada umumnya dihargai karena kemampuannya dalam berkomunikasi dan mengambil keputusan. Namun, dalam berkomunikasi Pemimpin pelayan juga berkomunikasi dengan mendengarkan dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan. Selain mendengarkan anggota-anggotanya, Pemimpin pelayan juga mendengarkan bimbingan Tuhan dengan penuh perhatian memberikan arah kepadanya.

2.      Empati : Para Pemimpin pelayan berusaha berempati pada orang lain – mengenali keistimewaan dan talenta mereka yang unik.

3.      Menyembuhkan : Salah satu kekuatan Pemimpin pelayan adalah kemampuannya untuk menyembuhkan diri mereka sendiri dan orang lain. Banyak orang yang merasa patah semangat dan menderita akibat luka emosional.

4.      Persuasi : Para pemimpin pelayan mengandalkan persuasi daripada otoritas jabatan mereka. Mereka berusaha meyakinkan orang lain dan bukan memaksakan penyesuaian.

5.      Komitmen untuk melayani : Mereka memiliki komitmen untuk melayani kebutuhan orang lain.

6.      Komitmen pada pertumbuhan semua orang : Para pemimpin pelayan mempunyai komitmen yang mendalam pada pertumbuhan semua individu. Hal ini mencakup pendanaan untuk pengembangan pribadi dan talenta anggotanya. 

7.      Membangun Komunitas : Pemimpin pelayan percaya bahwa  komunitas sejati dapat diciptakan dianatara mereka yang bekerja di dunia bisnis (market place) dan lembaga lain. 

 

Pemimpin Kristiani sebagai Gembala

Seperti tertulis dalam mazmur 23 : “Tuhanlah Gembalaku, takkan kekurangan aku”.

Gambaran ini menimbulkan perasaan intim dan rasa aman, karena Tuhan memperhatikan, terlibat dan mengendalikan hidup kita. Bagi pemimpin Gembala, produknya adalah para pengikut, bukan keuntungan, bukan pangsa pasar.

 

7  Karakteristik Pemimpin Gembala :

 

1. Gembala mengenal domba-dombanya.

Gembala mengetahui nama nama setiap dombanya dan secara pribadi memanggil masing-masing dengan namanya. Bagi Yesus kepemimpinan juga bersifat pribadi : mengenal dan dikenal dombanya (Yoh 10 : 3).

Sebagai pemimpin Gembala kita diminta untuk memperhatikan anggota-anggota kita dan dengan tulus berusaha memberikan sentuhan pribadi kepada setiap anggota.

2. Kehadiran dan Kesiap-sediaan Gembala

Gembala selalu bersama domba-dombanya dan senantiasa siap apabila mereka membutuhkan dirinya. Pemimpin Kristiani perlu siap sedia dan mudah ditemui untuk mendampingi anggota-anggotanya jika ia memang mengenal dan melayani mereka.

Mazmur 23 membicarakan pentingnya kehadiran pemimpin dalam membangun kepercayaan : “sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab engkau besertaku”.

3. Gembala memimpin dari depan

Gembala berjalan di depan domba-dombanya dan menuntun mereka ke padang rumput dan sumber air yang segar.

Para pemimpin Gembala tidak semata-mata bereaksi terhadap kejadian yang gawat, melainkan berinisiatif untuk menuntun dan memimpin mereka dari depan.

4. Gembala itu Berani.

Tugas Gembala membutuhkan banyak perhatian dan seringkali merupakan pekerjaan yang penuh resiko, terutama dalam melindungi domba-dombanya. Demikian juga ketika ada dombanya yang terjatuh kedalam jurang ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya keluar dari jurang itu.

5. Gembala itu menuntun dan membimbing

Selain membawa cambuk atau gada, Gembala juga memperlengkapi dirinya dengan galah atau tongkat. Tongkat adalah alat untuk menuntun dan membimbing domba-dombanya, atau untuk mengkaitkan di tubuh domba yang jatuh. Tongkat sampai saat ini merupakan simbol otoritas Gembala. Tujuan utamanya adalah mengawasi, menuntun dan membimbing domba-dombanya.

Dalam organisasi, para anggota juga mengharapkan pemimpin mereka menggunakan otoritas dengan cara baik-baik untuk membentuk perilaku sebagaimana mestinya. Yang satu mungkin perlu disentuh kekiri, yang lain ke kanan.

6. Gembala peduli pada Domba yang hilang atau tersesat

Pemimpin kristiani yang tidak memiliki hati seorang Gembala akan berkata, “Apa artinya segelintir domba yang hilang? Atau segelintir orang katolik yang nyeberang? Untuk apa buang-buang waktu mengurusi mereka. Biarkan saja mereka meyadari kebodohan mereka sendiri”. Namun, Yesus memberi teladan dengan bergaul dengan pemungut cukai, pelacur, para pendosa dan menjadi sahabat mereka semua.

7. Gembala memiliki Semangat Pengorbanan Diri

Pengorbanan diri tidak berarti seseorang tidak lagi hidup sebagai individu atau bahwa individualitasnya tidak penting. Semangat pengorbanan diri lebih merupakan sikap dan fokus – mengupayakan kebaikan untuk orang lain, terutama mereka yang percaya pada pemeliharaan Anda. Mengutamakan kebutuhan orang lain daripada Anda sendiri.

 

Pemimpin Kristiani sebagai Pengurus

Dalam Injil kita tidak menemukan Yesus mengidentifikasikan diriNya sebagai pengurus, namun Ia banyak membuat perumpamaan yang Ia sampaikan mengenai hal ini.

Pengurus berkaitan dengan sifat kesetiaan, loyalitas, kecerdasan dalam berusaha, dan kemampuan dalam memelihara mereka yang menjadi tanggung-jawabnya.

Pengurus adalah orang yang mendapatkan kepercayaan

Pada masa Perjanjian baru, pemilik rumah yang kaya raya mempekerjakan sejumlah pengurus untuk mengawasi staf mereka dan bertanggung jawab atas semua urusan rumah tangga. Para pengurus mendapat hak dan otoritas yang sangat besar dari tuannya. Namun, ia juga dituntut untuk bertanggung jawab dan mampu mempertanggung-jawabkan kepada majikannya.

Pengurus adalah orang yang diberi tanggung-jawab

Para pemimpin Kristiani, khususnya pemimpin Gereja  tidak dapat melepaskan tanggung-jawab yang diberikan Tuhan untuk memastikan kebutuhan umat Tuhan terpenuhi dengan layak.  

Tugas pengurus bukan sebagai pekerjaan pengisi waktu atau hobi, melainkan sebagai tugas yang serius. Dakwaan terberat adalah bahwa ia telah gagal menjalankan tugas untuk mendayagunakan apa yang telah dipercayakan kepadanya.

Pengurus adalah Orang yang Mampu mempertanggung-Jawabkan.

Pemimpin Kristiani harus sadar bahwa ia sendiri yang dipilih oleh Tuannya ; “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang telah memilih kamu, dan Aku telah menetapkan kamu untuk pergi dan menghasilkan buah …. (Yoh 15 : 16)

 

Sebagai Pengurus, Tuhan juga mempercayakan kita untuk mewartakan karunia keselamatan dalam diri Yesus Kristus.

 

Kejujuran, Integritas dan transparansi

Karakteristik paling penting dari pemimpin pengurus adalah integritas. Integritas adalah satunya kata dan tindakan, Integritas mencerminkan bahwa ia jujur dan dapat dipercaya. Tidak seorang pemilik rumahpun yang akan memilih seseorang untuk menjadi pengurus kalau  ia tidak sungguh mempercayai orang itu.

Orang yang jujur dan mempunyai integritas berpegang pada kode etik yang menunjukkan keutuhan dimensi pribadi serta profesionalitas dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana membangun Kepercayaan dan Integritas

1.      Menepati janji sangat penting untuk mendapatkan kepercayaan – Melakukan apa yang Anda katakan tentang apa yang akan Anda lakukan. Pandanglah janji sebagai sesuatu yang serius. Jika Anda meremehkannya orang lain juga akan berbuat demikian.

Harus diingat – jika mengingkari janji adalah cara cepat untuk menghancurkan kepercayaan, menepati janji adalah cara cepat untuk membangun kepercayaan.

2.      Menghargai kejujuran dan transparansi – Jangan mencoba menyembunyikan kekurangan dan kelemahan Anda. Bila orang pada akhirnya mengetahuinya, ia akan merendahkan Anda karena Anda berusaha menutupinya

Ketika orang mengetahui bahwa Anda telah berdusta, hal itu akan menimbulkan keraguan terhadap segala hal yang Anda lakukan.

3.      Menunjukkan konsistensi karakter – melakukan apa yang secara moral benar sepanjang waktu, dari hari kehari, mingu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun.

Hubungan Anda dengan orang lain tidak akan pernah berkembang ke tingkat kepercayaan sampai mereka dapat mempercayai Anda sepanjang waktu.

4.      Mengikat diri Anda sendiri pada Integritas sepenuhnya. – Anda dapat saja  melenturkan tindakan Anda atau membengkokkan prinsip-prinsip Anda. Namun, jika Anda ingin menjadi pribadi yang dipercaya oleh orang lain sepanjang waktu, pilihlah untuk menjadi  pribadi yang memiliki integritas sepenuhnya, jalan lain akan membawa Anda kepada kehancuran.

5.      Mengembangkan sikap Melayani dengan rendah hati. – Orang tidak akan benar-benar percaya kepada Anda jika mereka berpikir bahwa Anda termotivasi oleh kepentingan egois, atau jika mereka berpikir bahwa Anda memandang diri Anda sendiri lebih hebat daripada mereka.

Semangat pelayanan yg rendah hati merupakan karakteristik pengurus yang sejati.

SELAMAT MELAYANI SEBAGAI PEMIMPIN KRISTIANI YANG SEJATI!!!

 

 

Konvensi Nasional Pembaharuan karismatik Katolik ke XI

Sanur, 17 Oktober 2009

 Endie Rahardja

 

 

Sumber dari : Buku Konvenas XI, Bali 15-18 Oktober 2009

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s