<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Thomas Trika&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://thomastrika.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thomastrika.wordpress.com</link>
	<description>Ut Omnes Unum Sint - &#039;That They All May Be One&#039;</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Dec 2011 09:06:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='thomastrika.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/116694b797f9a449c748403986b0fdcf?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Thomas Trika&#039;s Blog</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://thomastrika.wordpress.com/osd.xml" title="Thomas Trika&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://thomastrika.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>St. Agustinus dari Hippo</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/12/07/st-agustinus-dari-hippo/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/12/07/st-agustinus-dari-hippo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 08:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[St. Agustinus   Berontak tetapi Dicengkeram Tuhan     Pernahkah kamu merasa telah melakukan sesuatu yang jahat sehingga kamu berpikir bahwa Tuhan tidak mau mengampunimu? Baiklah, kalau saja kamu tahu kehidupan St. Agustinus kamu akan menyadari bahwa tidak peduli seberapa jauh kamu berontak dan menyimpang dari Tuhan, Ia pasti akan membawamu kembali.   Agustinus dilahirkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=473&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:gray;font-family:Tahoma;font-size:24pt;"><strong>St. Agustinus</strong></span><span style="color:#080000;font-family:Times New Roman;font-size:13pt;"><br />
		</span></p>
<p>
 </p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:13pt;"><span style="color:gray;font-family:Tahoma;"><strong><em>Berontak tetapi Dicengkeram Tuhan</em></strong></span><span style="color:#080000;font-family:Times New Roman;"><br />
			</span></span></p>
<p>
 </p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/12/120711_0817_stagustinus1.png?w=590" alt="" /><span style="color:#080000;font-family:Times New Roman;font-size:13pt;"><br />
		</span></p>
<p>
 </p>
<p style="text-align:center;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><em>Pernahkah kamu merasa telah melakukan sesuatu yang jahat sehingga kamu berpikir bahwa Tuhan tidak mau mengampunimu? Baiklah, kalau saja kamu tahu kehidupan St. Agustinus kamu akan menyadari bahwa tidak peduli seberapa jauh kamu berontak dan menyimpang dari Tuhan, Ia pasti akan membawamu kembali.<br />
</em></span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Agustinus dilahirkan pada tanggal 13 November 354 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara. Ayahnya bernama Patrisius, seorang kafir. Ibunya ialah <a href="http://yesaya.indocell.net/id105.htm">St. Monika</a>, seorang Kristen yang saleh. St. Monika mendidik ketiga putera-puterinya dalam iman Kristen. Namun demikian, menginjak dewasa Agustinus mulai berontak dan hidup liar. Pernah suatu ketika ia dan teman-temannya yang tergabung dalam kelompok &#8220;7 Penantang Tagaste&#8221; mencuri buah-buah pir yang siap dipanen milik Pak Tallus, seorang petani miskin, untuk dilemparkan kepada babi-babi.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Pada umur 29 tahun Agustinus dan Alypius, sahabatnya, pergi ke Italia. Agustinus menjadi mahaguru terkenal di Milan. Sementara itu, hatinya merasa gelisah. Sama seperti kebanyakan dari kita di jaman sekarang, ia mencari-cari sesuatu dalam berbagai aliran kepercayaan untuk mengisi kekosongan jiwanya. Sembilan tahun lamanya Agustinus menganut aliran Manikisme, yaitu bidaah yang menolak Allah dan mengutamakan rasionalisme. Tetapi tanpa kehadiran Tuhan dalam hidupnya, jiwanya itu tetap kosong. Semua buku-buku ilmu pengetahuan telah dibacanya, tapi ia tidak menemukan kebenaran dan ketentraman jiwa.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Sejak awal tak bosan-bosannya ibunya menyarankan kepada Agustinus untuk membaca Kitab Suci di mana dapat ditemukan lebih banyak kebijaksanaan dan kebenaran daripada dalam ilmu pengetahuan. Tetapi, Agustinus meremehkan nasehat ibunya. Kitab Suci dianggapnya terlalu sederhana dan tidak akan menambah pengetahuannya sedikit pun.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Pada usia 31 tahun Agustinus mulai tergerak hatinya untuk kembali kepada Tuhan berkat doa-doa ibunya serta berkat ajaran <a href="http://yesaya.indocell.net/id256_s__ambrosius.htm">St. Ambrosius</a>, Uskup kota Milan. Namun demikian ia belum bersedia dibaptis karena belum siap untuk mengubah sikap hidupnya. Suatu hari, ia mendengar tentang dua orang yang serta-merta bertobat setelah membaca riwayat hidup <a href="http://yesaya.indocell.net/id266_st__antonius_dari_mesir.htm">St. Antonius Pertapa</a>. Agustinus merasa malu. &#8220;Apa ini yang kita lakukan?&#8221; teriaknya kepada Alypius. &#8220;Orang-orang yang tak terpelajar memilih surga dengan berani. Tetapi kita, dengan segala ilmu pengetahuan kita, demikian pengecut sehingga terus hidup bergelimang dosa!&#8221; Dengan hati yang sedih, Agustinus pergi ke taman dan berdoa, &#8220;Berapa lama lagi, ya Tuhan? Mengapa aku tidak mengakhiri perbuatan dosaku sekarang?&#8221; Sekonyong-konyong ia mendengar seorang anak menyanyi, &#8220;Ambillah dan bacalah!&#8221; Agustinus mengambil Kitab Suci dan membukanya tepat pada ayat, &#8220;Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari… kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.&#8221; (Roma 13:13-14). Ini dia! Sejak saat itu, Agustinus memulai hidup baru.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Pada tanggal 24 April 387 Agustinus dipermandikan oleh Uskup Ambrosius. Ia memutuskan untuk mengabdikan diri pada Tuhan dan dengan beberapa teman dan saudara hidup bersama dalam doa dan meditasi. Pada tahun 388, setelah ibunya wafat, Agustinus tiba kembali di Afrika. Ia menjual segala harta miliknya dan membagi-bagikannya kepada mereka yang miskin papa. Ia sendiri mendirikan sebuah komunitas religius. Atas desakan Uskup Valerius dan umat, maka Agustinus bersedia menjadi imam. Empat tahun kemudian Agutinus diangkat menjadi Uskup kota Hippo.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Semasa hidupnya Agustinus adalah seorang pengkhotbah yang ulung. Banyak orang tak percaya kembali ke gereja Katolik sementara orang-orang Katolik semakin diperteguh imannya. Agustinus menulis surat-surat, khotbah-khotbah serta buku-buku dan mendirikan biara di Hippo untuk mendidik biarawan-biarawan agar dapat mewartakan injil ke daerah-daerah lain, bahkan ke luar negeri. Gereja Katolik di Afrika mulai tumbuh dan berkembang pesat.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Di dinding kamarnya, terdapat kalimat berikut yang ditulis dengan huruf-huruf yang besar: &#8220;<strong>Di sini kami tidak membicarakan yang buruk tentang siapa pun</strong>.&#8221; &#8220;<strong>Terlambat aku mencintai-Mu, Tuhan</strong>,&#8221; serunya kepada Tuhan suatu ketika. Agustinus menghabiskan sisa hidupnya untuk mencintai Tuhan dan membawa orang-orang lain untuk juga mencintai-Nya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Agustinus wafat pada tanggal 28 Agustus 430 di Hippo dalam usia 76 tahun. Makamnya terletak di Basilik Santo Petrus. Kumpulan surat, khotbah serta tulisan-tulisannya adalah warisan Gereja yang amat berharga. Di antara ratusan buku karangannya, yang paling terkenal ialah   &#8221;Pengakuan-Pengakuan&#8221; (di Indonesia diterbitkan bersama oleh Penerbit Kanisius dan BPK Gunung Mulia) dan &#8220;Kota Tuhan&#8221;. Santo Agustinus dikenang sebagai Uskup dan Pujangga Gereja serta dijadikan Santo pelindung para seminaris. Pestanya dirayakan setiap tanggal 28 Agustus.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Jadi tidak peduli berapa jauh kamu menyimpang dari Tuhan, Ia selalu siap untuk membawamu kembali. Sama seperti Agustinus, seorang kafir yang dipanggil menjadi seorang Uskup, kamu pun juga dapat bertumbuh dalam kasih dan kuasa Tuhan.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;">
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Iman sejati sungguh sangat indah.<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<p>
 </p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:13pt;"><span style="color:gray;font-family:Comic Sans MS;"><strong><em>&#8220;Engkau telah menciptakan kami bagi Diri-Mu, ya Allahku, dan hati kami tiada tenang sebelum beristirahat di dalam Dikau.&#8221;  </em></strong></span><span style="color:#080000;font-family:Times New Roman;"><br />
			</span></span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="color:gray;font-family:Comic Sans MS;font-size:12pt;"><em>catatan St. Agustinus &#8220;Pengakuan-Pengakuan&#8221;</em></span><span style="color:#080000;font-family:Times New Roman;font-size:13pt;"><br />
		</span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:12pt;"><em><span style="color:black;">Sumber: 1. Saints For The Teenage Soul; <a href="www.angelfire.com/ar/tjhsaint" /></span><span style="color:blue;text-decoration:underline;">www.angelfire.com/ar/tjhsaint</span><span style="color:black;">; 2. &#8221;Augustinus: Pengakuan-Pengakuan&#8221;; Penerbit Kanisius dan BPK Gunung Mulia</span></em></span><span style="color:#080000;font-size:13pt;"><br />
			</span></span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:12pt;"><span style="color:black;"><em>Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan</em>: <strong><em>&#8220;disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: <a href="www.indocell.net/yesaya" /></em></strong></span><strong><em><span style="color:blue;text-decoration:underline;">www.indocell.net/yesaya</span><span style="color:black;">&#8220;</span></em></strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=473&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/12/07/st-agustinus-dari-hippo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/12/120711_0817_stagustinus1.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>HIDUP ROHANI KRISTIANI:BUAH PERGAULAN DENGAN YESUS KRISTUS</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/12/07/hidup-rohani-kristianibuah-pergaulan-dengan-yesus-kristus/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/12/07/hidup-rohani-kristianibuah-pergaulan-dengan-yesus-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 07:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[HIDUP ROHANI KRISTIANI: BUAH PERGAULAN DENGAN YESUS KRISTUS     Antonius Sad Budianto CM         1. PENGANTAR Kita percaya bahwa hidup rohani adalah buah dari Roh Kudus yang telah dicurahkan Kristus ke dalam hati kita. Namun tentu percaya pada Roh Kudus itu bukan berarti dari pihak kita pasif atau diam saja. Kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=456&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:18pt;"><strong>HIDUP ROHANI KRISTIANI:</strong></span><span style="font-size:12pt;"><br />
			</span></span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:18pt;">BUAH PERGAULAN DENGAN YESUS KRISTUS</span><span style="font-size:12pt;"><br />
			</span></span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Antonius Sad Budianto CM<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">1. PENGANTAR<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kita percaya bahwa hidup rohani adalah buah dari Roh Kudus yang telah dicurahkan Kristus ke dalam hati kita. Namun tentu percaya pada Roh Kudus itu bukan berarti dari pihak kita pasif atau diam saja. Kita perlu menanggapi dan mewujudkannya dalam hidup kita.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Bagaimana kita menanggapi dan mewujudkannya? Bagi banyak orang kristiani itu berarti<em>melaksanakan apa yang diajarkan oleh Gereja dan Kitab Suci</em>. Sayangnya pemahaman seperti ini kurang menarik, terasa membebani, sehingga banyak yang kurang sungguh peduli untuk mengetahui (apalagi memahami) ajaran Gereja dan Kitab Suci. Dengan kata lain ajaran itu kurang sekali berpengaruh dalam hidup orang kristiani sehari hari. Sebagian kecil berusaha keras melaksanakan, tapi seperti anak sulung itu (Luk 15: 29-30) dengan rasa berat, sehingga kepada sesama yang kurang saleh hidupnya mereka sering marah dan meremehkan (Luk 18: 11-12). Dan lebih lebih kepada orang pendosa mereka cenderung menghukum dengan keras (Yoh 8: 4-5). Dibalik sikap keras ini sebenarnya ada rasa iri hati(dengan kata lain pengin juga): &#8220;enak aja kamu menikmati semua itu, saya susah payah berusaha menghindari&#8221;  Inilah dasar sikap fanatisme dan kekerasan dalam semua agama juga, baik terhadap sesama maupun terhadap umat beragama lain.<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[1]</span></a><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Di sini saya ingin menawarkan cara menghayati, menanggapi dan mewujudkan <strong><em>buah Roh Kudus</em></strong> secara lebih menarik dan sangat biblis dan injili: <strong><em>menjadi sahabat dan saudara Yesus Kristus, sering bergaul dan akrab dengan Dia dan dengan Allah Bapa.</em></strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Saya punya keyakinan bahwa untuk menjadi manusia baik dan bermoral yang dibutuhkan bukan pertama-tama aturan, tapi kasih. Pertama-tama kasihlah yang membuat orang bermoral. Anak yang dididik dengan banyak aturan yang bagus tanpa merasakan kasih akan mengembangkan gambaran diri yang buruk. Aturan dari orang tuanya tetap dirasa sebagai suatu yang asing (heteronom) yang menindas, tidak terintegrasi dalam dirinya. Dia akan jadi orang munafik, dan bila ada kesempatan dia akan berbuat semaunya tanpa pertimbangan moral (yang dia rasa menindas dirinya). Sebaliknya seorang anak yang sungguh merasakan kasih orang tuanya akan mengembangkan gambaran diri positif yang sehat. Aturan dari orang tuanya akan terintegrasi dalam dirinya membangun otonomi yang sehat. Ada bersama orang tuanya atau tidak, dia akan bijaksana memilih mana pengaruh yang baik atau buruk bagi hidupnya. Dia akan setia pada ajaran orang tuanya yang telah terintegrasi dalam dirinya. Begitulah kalau kita bergaul dengan Yesus sebagai saudara dan sahabat, dan menjalin relasi dengan Allah Bapa sebagai anakNya yang terkasih berangsur-angsur kita akan berubah menuju kedewasaan Kristus (Ef 4:13-16).<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">2. INILAH ANAKKU YANG KUKASIHI<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Setiap orang kristiani, lebih-lebih yang telah dibaptis, berarti ambil bagian dalam hidup Yesus. Kepada setiap orang kristiani yang dibaptis dan <strong><em>dicurahi Roh Kudus</em></strong> dengan penuh kasih Allah mengatakan kata-kata yang sama seperti Dia mengatakannya kepada Yesus: <em>&#8220;Engkaulah anak yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan</em>&#8220;  (Luk 3:22 par.). Berkat Roh Kudus yang paling utama dan pertama adalah kita <strong><em>dijadikan anak Allah yang terkasih.</em></strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>2.1. Bukan beban, namun kerinduan untuk mendengarkan dan didengarkan</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Oleh karena itu kita tidak seharusnya mendoakan Bapa kami secara serampangan, karena dengan doa yang diajarkan Putra Allah itu keputraan kita juga diteguhkan, bahwa kita juga putra-putri Allah. Dalam doa itu oleh Roh kita dapat menyapa Allah bukan sebagai budak kepada tuannya, namun sebagai anak kepada bapanya dengan mesra : <em>&#8220;Abba, ya Bapa&#8221;</em> (Rom 8:15). Oleh karena itu pula saat doa bagi kita bukan saat wajib yang membebani sehingga kita lakukan secara minimal<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[2]</span></a>, namun saat yang kita rindukan untuk dikasihi dan mengasihi Bapa.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kita sering merasa bahwa doa adalah saat kita untuk menunjukkan kasih dan hormat kita kepada Tuhan. Padahal yang benar <strong><em>doa pertama-tama adalah saat kita merasakan kasih Bapa</em></strong>, mendengarkan sabda kasihNya. Seperti dikatakan rasul Cinta Kasih: <em>&#8220;Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita &#8230;&#8221;</em> (1Yoh 4:10). Karena itu kasih sejati diawali dengan mendengarkan sabda Tuhan dan meyakini kasihNya bagi kita<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[3]</span></a>. Menyadari hal ini maka doa pertama-tama bukan saat kita berbicara, tapi saat kita mendengarkan sabda kasih Tuhan, Bapa kita.  Saat doa sebaiknya diawali dengan membaca (mendengarkan) sabda Tuhan dalam Kitab Suci.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>2.2. Meneguhkan citra diri sebagai anak Allah dan setia pada panggilanNya</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Dari pemahaman tersebut kita lantas bisa mengerti mengapa Yesus, betapapun sibuknya selalu mencari saat hening sendiri dengan BapaNya, entah di pagi hari waktu hari masih gelap, sebelum mulai kegiatannya(Mrk 1:35), atau siang hari saat jeda istirahat (Luk 4:42), ataupun di malam hari, lebih-lebih saat mau mengambil keputusan penting (Luk 6: 12). Bagi Yesus saat itu adalah saat yang <strong><em>meneguhkan hakikatNya yang sejati sebagai Anak Allah di hadapan Bapanya</em></strong>.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Pengalaman sukses gagal, ditolak atau diterima sesama sering kali mengombang-ambingkan kita. Entah menyeret kita untuk hanyut mengikuti pujian mereka, atau tenggelam dalam duka dan putus asa karena kegagalan atau penolakan mereka. Yesus sebaliknya, Dia tetap berteguh pada misinya, misi yang diberikan Bapa kepadanya, yang merupakan makna kehadirannya di dunia. Karena itu walaupun dipuji dan dicari orang Dia tidak goyah untuk meninggalkan mereka pergi ke tempat lain memberitakan Injil (Mrk 1:38). Ketika orang mau menjadikan Dia raja, dia malah menyingkir ke tempat yang sepi (Yoh 6:15). Bagi Yesus yang dicari bukan kesaksian penerimaan atau penolakan manusia, tetapi kesaksian Bapa lewat karya yang Dia lakukan sebagaimana dipercayakan Bapa kepadanya (Yoh 5: 19-47).<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kesetiaan Bapa bagi kita manusia yang lemah secara luar-biasa dinyatakan oleh Yesus lewat perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32). Bapa itu tetap menerima anaknya yang kembali dengan menyesal setelah dengan kurang ajar meminta warisan bagiannya dan menghambur-hamburkannya dengan hidup berfoya-foya.  Bahkan ketika anak itu merasa tak pantas lagi menjadi anaknya dan minta diterima sebagai hambanya, bapa itu tetap merangkul dia sebagai anaknya dan mengadakan pesta untuk anaknya yang kembali itu. Sering kali kejatuhan pada dosa membuat kita juga merasa tak pantas mendekati Tuhan, tapi dengan semakin menjauhiNya kita akan semakin menderita. Sebaliknya bila kita berani bertobat dan kembali padanya Dia akan merangkul kita dan mengatakan yang sama: &#8220;Engkaulah anak yang Kukasihi&#8221; <a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[4]</span></a><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Jika kita rajin bertemu dengan Bapa seperti Yesus, maka setiap kali kita akan mendengarkan sabda peneguhan Bapa <em>&#8220;Inilah anakKu yang Ku kasihi, kepadamulah Aku berkenan&#8221;</em>. Dengan demikian kita juga akan teguh melaksanakan misi panggilan kita, <strong><em>misi yang memberi makna hidup saya</em></strong>, sesuai maksud Bapa menghadirkan saya di dunia ini. Kita sadar perasaan kita mudah terombang-ambing, maka kita perlu jangkar yang teguh seperti Yesus, yakni DOA dalam makna yang demikian itu.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<div>
<table style="border-collapse:collapse;background:white;" border="0">
<col style="width:602px;" />
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="border-top:outset .75pt;border-left:outset .75pt;border-bottom:outset .75pt;border-right:outset .75pt;">
<ol>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Sejujurnya bagaimana gambaran diri anda? Cenderung positif atau negatif? Keras atau penuh kasih?<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Siapa yang paling membentuk gambaran diri anda selama ini? Sesama, diri sendiri, atau Allah? Dengan cara bagaimana?<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Apakah hidup yang anda jalani sampai saat ini membuat anda bahagia?<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Apa tujuan/misi hidup anda? Siapa/apa yang paling menentukan tujuan hidup anda selama ini? Sesama, diri sendiri, harta, atau Allah?</span></li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">3. KANTONG ANGGUR YANG BARU<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Yesus sendiri menginginkan penghayatan iman sebagai relasi kasih daripada ketaatan buta. Ia melihat laku puasa dalam relasi dengan Dia (Tuhan), bukan melulu sebagai kewajiban beragama (Mrk 2:18-22). Dan Ia sangat menekankan hal ini dengan perumpamaan kantong anggur. Jika orang masih menggunakan kantong anggur yang lama (cara beragama lama) akan sulit untuk menerima anggur yang baru (Yesus dan ajaranNya). Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>3.1. Bersahabat dengan Allah</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Cara beragama sebagai relasi kasih sebenarnya menjadi semangat seluruh Alkitab kita sejak Perjanjian Lama. Abraham, Ishak, dan Yakub adalah sahabat-sahabat Tuhan, tak jarang lewat pergulatan juga. Salah satu perikop yang menakjubkan saya tentang keakraban Abraham dengan Tuhan adalah ketika dia tawar menawar dengan Tuhan yang mau menjatuhkan hukuman atas Sodom (Kej 18:16-33), hal ini hanya mungkin terjadi dalam relasi yang akrab. Kebesaran Musa ada pada kedekatannya dengan Tuhan, dia berbicara berhadapan muka dengan Tuhan (Bil 12:7-8). Karena itu Musa juga beberapa kali berani menahan murka Tuhan yang akan membinasakan umatnya karena ketegaran hati mereka (Kel 32:7-14; Bil 14: 11-20)<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[5]</span></a>. Ia juga berani berkeluh kesah menyalahkan Tuhan dan minta mati saja (Bil 11:11-15). Para nabi juga karena kedekatannya dengan Tuhan berani memprotes keadilan Tuhan (Yer 12:1-13; Hab 1:12-17), dan kejengkelan terhadap perlakuan Tuhan (Yer 15:10-18). Mazmurpun penuh ungkapan perasaan marah dan jengkel justru karena kedekatan pemazmur dengan Tuhan. Tapi perlu diperhatikan mereka <strong><em>tidak berhenti dalam pergolakan perasaannya, namun terbuka pada jawaban Tuhan.</em></strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>3.2. Sehati sejiwa dengan Allah</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Jadi Yesus sebenarnya tidak meniadakan hukum Taurat, namun menggenapinya (Mat 5:17). Yesus menegaskan pemahaman Taurat yang benar dengan landasan relasi kasih dengan Allah dan sesama. (Mat 5-7; 2:40). Hanya kalau kita memupuk relasi kasih dengan Allah, maka kita tidak akan puas hanya tahu sedikit rumusan hukumnya. Sebaliknya kita akan rindu untuk semakin mengenal &#8220;hati&#8221; Allah, semakin meneladan sikap Nya seperti anak meneladan orang tuanya, sesuai dengan harapan Yesus: <em>Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu</em> (Luk 6:36), bahkan <em>&#8220;sempurna seperti Bapamu&#8221;</em> (Mat 5:48)<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Mengenal Allah sebagai Bapa, dan semakin menjadi <strong><em>sehati seperasaan</em></strong> dengan Dia, juga perlahan-lahan akan mengubah sikap kita terhadap sesama dan alam semesta yang diciptakan dan dikasihi Bapa kita itu. Kita akan meninggalkan kesempitan cita diri kita, dan lebih peduli dengan keselamatan mereka. Harus diakui sumber perusakan hubungan dengan sesama dan alam adalah egoisme dan keserakahan kita manusia. Padahal kemanusiaan kita hanya mungkin berkembang seutuhnya bila kita mengasihi saudara saudari seciptaan yakni alam dan sesama kita manusia.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kemajuan teknologi, termasuk teknologi komunikasi, di satu pihak mempermudah hidup manusia, di lain pihak justru membelenggu manusia dalam kepalsuan hidup dan kedangkalan komunikasi. Keasyikan menikmati teknologi ciptaannya sendiri sering membuat manusia jadi autis, hidup dalam dunianya sendiri, <strong><em>tak peduli</em></strong> dengan lingkungan alam dan lingkungan sosialnya. Ini semua tak mungkin diatasi dengan menegakkan hukum moral, namun dengan kasih. Penegakan hukum tanpa kasih malah sering berujung pada pembengkokan hukum demi kepentingan penegak hukum dan kemenangan pihak yang dapat memberi keuntungan bagi para penegak hukum itu. Hanya kasih sejati yang membebaskan manusia dari belenggu egoismenya, melihat kemanusiaan dan kebenaran yang sejati dengan mata hati yang jernih. Dan kasih sejati akan tumbuh bila kita menjalin kasih dengan sang Kasih yakni Allah sendiri.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">4. DIAJAK MASUK DALAM KEHIDUPANNYA<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Banyak orang katolik masih enggan membaca Kitab Suci, karena mereka masih melihatnya sebagai kumpulan hukum dan ajaran. Akan lain halnya kalau kita membaca Kitab Suci, khususnya Injil sebagai tanggapan kita atas undangan Tuhan untuk masuk dalam kehidupanNya: <em>&#8220;Marilah dan kamu akan melihatnya&#8221;</em> (Yoh 1:39), demikian ajakan Yesus kepada dua murid pertamanya. Undangan itu begitu mengesankan mereka sehingga mereka masih mengingatnya dengan baik puluhan tahun kemudian<em>:&#8221;waktu itu kira-kira pukul empat&#8221;</em>. Mereka ingat dengan baik karena saat itu merupakan titik balik dalam kehidupan mereka untuk mengikuti Yesus, mereka krasan tinggal bersama Yesus. Dan karena kebahagiaannya mereka juga mengajak orang lain.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>4.1. Kasih mesra Yesus bagi kita</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kekuatan Yesus dalam hubungan personal dengan muridnya sungguh luar biasa. Inilah yang membuat mereka merasa berharga dan krasan bersamanya. Bahkan Natanael yang tadinya meremehkan Dia sebagai orang Nazaret, langsung tak kuasa untuk menolak tarikan kasih Yesus (Yoh 1:46-50). Kita sulit membayangkan betapa besar kasih Yesus bagi kita muridNya sampai kita sungguh merenungkan doaNya sebelum sengsara dan wafatNya: <em>&#8220;Ya Bapa , Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku &#8230;&#8221;</em>(Yoh 17:24), bahkan tinggal dalam Dia seperti ranting tinggal pada pokoknya (Yoh 15:1-8). Kesediaan kita untuk serius memasuki hidup rohani, serta memasuki pergulatan hidup bersama Tuhan dan kehendakNya akan sulit terjadi bila kita belum terbuka pada pengalaman untuk dikasihiNya<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[6]</span></a>.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Bersama Yesus mereka merasa berharga, karena Yesus sendiri memperlakukan mereka sebagai sahabat, bukan hamba, dan meminta mereka saling mengasihi sebagaimana Dia sudah mengasihi mereka (Yoh 15: 9-17). Dalam diri Yesus mereka melihat Allah adalah kasih itu sendiri (1 Yoh 4). Oleh kasih itulah mereka menemukan kepenuhan hidupnya, sumber hidupnya. Tanpa kasih itu mereka tidak akan berbuah dan kering, sebaliknya menerima ajakannya untuk tinggal dalam Dia, hidup kita akan benar-benar penuh dan berbuah banyak (Yoh 15:1-8)<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>4.2. Memperjuangkan keselamatan sesama seutuhnya</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Ditarik oleh kasih Yesus itu para murid berani meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus seutuhnya (Mat 4:18-22 par). Mereka masuk dalam kehidupan Yesus, dikasihi olehNya, dan diajar untuk mengasihi sebagaimana Dia sudah mengasihi manusia secara nyata bukan hanya dengan berkhotbah, namun dengan berbuat baik: <em>&#8220;orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.&#8221;</em> (Mat 11: 5; Luk 7:22). Mereka mengalami sendiri Yesus memanggil mereka dengan penuh kasih, mereka yang hanya orang kecil, bahkan yang dianggap pendosa (Mat 9:9-13). Mereka menyaksikan sendiri belas kasih Yesus kepada orang banyak dan mendidik mereka untuk tahu mengasihi secara nyata dengan memberi mereka makan, sekaligus percaya pada Penyelenggara ilahi dengan penggandaan makanan (Mat 15:32-39; bdk 6:25-34)<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[7]</span></a>. Mereka menyaksikan bahwa demi kasih pada orang yang menderita Yesus berani melanggar hukum dan tradisi Yahudi.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kita murid-muridNya dewasa ini juga diajak untuk masuk dalam hidupNya dengan membaca dan merenungkan Injil. Bila kita membaca dengan keyakinan bahwa Yesus sungguh senantiasa hidup, maka kita juga percaya bahwa peristiwa hidup dan karya Yesus dalam Injil itu juga akan dapat kita hadiri, sebagaimana kita percaya bahwa kita hadir dalam perjamuan Tuhan sendiri dalam ekaristi.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<div>
<table style="border-collapse:collapse;background:white;" border="0">
<col style="width:590px;" />
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="border-top:outset .75pt;border-left:outset .75pt;border-bottom:outset .75pt;border-right:outset .75pt;">
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><em>Semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jika kamu saling mengasihi (Yoh 13:35)</em><br />
							</span></p>
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><em>Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu (Yoh 15:15)</em><br />
							</span></p>
<p style="margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Menjadi sahabat berarti mau terlibat, mau masuk dalam kehidupan sahabat kita, dan terbuka untuk dimasuki kehidupan kita.<br />
</span></p>
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kita masuk dalam kehidupan Yesus bila kita rajin merenungkan injil, bukan sekedar membaca, tapi masuk dalam &#8220;peristiwa Yesus&#8221; itu.<br />
</span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Ambillah suatu perikop injil, misalnya: Lewi pemungut cukai mengikut Yesus (Luk 5:27-32).<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Bacalah dengan teliti, siapa saja yang terlibat dalam kisah itu, bagaimana sikap mereka masing-masing?<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Gunakan imajinasimu untuk hadir dalam peristiwa itu. Atau identikkan dirimu pada salah seorang yang terlibat dalam peristiwa itu.<br />
</span></li>
</ol>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Bagaimana kamu memahami Yesus dan sikapnya?</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">5. MENGAJAK DIA MASUK DALAM HIDUP KITA<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Masuk dalam hidup Yesus baru sepihak. Bersahabat berarti timbal balik, kita juga mau mengajak Yesus masuk dalam kehidupan kita sehari-hari.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>5.1. Masih kurang percaya pada Yesus</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kalau mau jujur sebenarnya masih banyak bidang dalam hidup saya yang saya lebih suka bila Yesus tidak masuk. Kita menunjukkan keengganan kita mengundang Dia masuk dengan tidak melibatkan Dia. Entah itu dalam bisnis kita, tatkala kita ingin curang, tatkala kita ingin menikmati suatu yang tidak halal, tatkala kita berpikir kotor atau jahat. Kita juga enggan melibatkan Yesus dalam pergaulan kita, tatkala kita ingin selingkuh, tatkala kita mendendam, tatkala kita membicarakan keburukan orang atau memfitnah. Kita enggan mengundang Yesus masuk dalam hidup kita dengan membatasi kehadiranNya hanya dalam ibadat. Di luar ibadat dunia milik kita sendiri. Inilah sebabnya hidup kita nyaris tak berubah walaupun kita mengenal Dia dan menjadi pengikutNya. Karena kita belum benar-benar mempercayai Dia untuk masuk dalam kehidupan dan hati kita. Kita belum benar-benar menjadikan Dia sebagai sahabat yang kita percayai.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>5.2. Kesungguhan untuk semakin akrab dan terbuka</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Memang saling memasuki kehidupan ini membutuhkan proses, seperti halnya persahabatan juga butuh proses agar semakin lama semakin saling percaya. Namun proses ini perlu dimulai dengan pergaulan sesering mungkin. Tanpa sering bergaul denganNya proses ini akan sangat lambat tanpa kemajuan apapun, bahkan mungkin malah mengalami kemunduran. Di lain pihak perjumpaan formal saja juga sering membatasi proses saling memasuki kehidupan ini. Kita kadang puas kalau kita sudah melaporkan kerajinan dan kesuksesan kita kepada Tuhan, seperti hamba melapor pada majikannya. Kita kadang puas kalau kita sudah mengungkapkan kebutuhan kita akan bantuannya, sementara tanpa sadar dengan itu kita membatasi gerak Yesus dalam hidup kita pada apa yang kita inginkan saja. Padahal mungkin Dia ingin membantu kita lebih mendalam pada hal hal yang kita sembunyikan. Konon dalam suatu reuni, seorang guru yang dihormati dikelilingi oleh murid-muridnya yang sukses. Mereka menceritakan sukses mereka sebagai pengusaha, yang lain sebagai anggota DPR, yang lain sebagai dokter spesialis yang ternama&#8230;. Guru itu kemudian mengatakan kepada mereka: &#8220;Saya senang kalian semua sudah sukses, namun saya juga ingin mendengar kehidupan pribadi dan keluarga kalian.&#8221; Semua terdiam karena ada yang sering memukuli istrinya, yang lain di ambang perceraian, yang lain lagi suka korupsi &#8230;.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<div>
<table style="border-collapse:collapse;background:white;" border="0">
<col style="width:590px;" />
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="border-top:outset .75pt;border-left:outset .75pt;border-bottom:outset .75pt;border-right:outset .75pt;">
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Yesus masuk dalam kehidupan kita, bila kita sering membuka hidup (pengalaman suka-duka) dan isi hati kita kepadaNya(perasaan positif-negatif)<br />
</span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Ungkapkanlah pengalamanmu pada Yesus dalam keheningan/santai ataupun di sela kesibukan, sebagaimana bila kita bersahabat dengan sesama manusia.<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Sebelum mengambil keputusan, biasakanlah bertanya kepada Yesus : &#8220;Bila Engkau di tempatku, Yesus, apa sikapMu, apa yang akan Kauperbuat?&#8221;<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Berdialoglah dengan Dia secukupnya, dan buatlah komitmen bersama Dia</span></li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">6. PERGULATAN<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Persahabatan yang sehat tentu disertai konflik dan pergulatan juga, karena masing-masing punya pandangan yang berbeda, apalagi kalau itu menyangkut pengorbanan diri yang besar. Di taman zaitun Yesus juga bergulat dengan BapaNya. Konflik dan pergulatan bukan tanda kurang akrab, justru sebaliknya karena akrab orang berani terbuka termasuk mengatakan ketidak setujuan. Lewat konflik dan pergulatan kedua pihak bisa lebih saling memahami, melihat kekayaan dan kekurangan masing-masing, dan belajar saling menerima apa adanya.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>6.1. Pergulatan adalah tanda keakraban</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Pergaulan orang kudus dengan Allah juga diwarnai pergulatan, Yakub bergumul dengan Allah sehingga diberkati menjadi Israel (Kej 32: 22-32). Yeremia juga menganggap Allah curang<em>:&#8221;Sungguh Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai&#8221;</em>dan bergumul denganNya (Yer 15: 10-21).<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kalau kita belum pernah bergumul dengan Allah hampir pasti itu karena kita kurang akrab dengan Dia. Kita enggan melibatkan Allah dalam persoalan hidup kita. Keengganan yang menjengkelkan dan melelahkan Allah karena sebenarnya Dia ingin campurtangan untuk menyelamatkan kita. (Yes 7:10-14)<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Kedekatan dengan Allah memang tidak selalu enak, karena <em>&#8220;Barang siapa kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar&#8221;</em>(Why 3:19). Tak jarang Dia membiarkan kita diuji seperti Ayub sampai kehilangan segala-galanya. Atau kita diminta mengorbankan apa yang paling kita sayangi seperti Abraham (Kej 22). Semakin kita mendekati Dia dan melakukan pekerjaanNya, kadang semakin gelap hidup kita, dan tak jarang malam gelap ini berlangsung puluhan tahun<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[8]</span></a>. Pada akhirnya kita tahu Yesus sendiri bergulat untuk menyerahkan nyawaNya, dan merasa ditinggalkan Bapa.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>6.2. Mulai saja!</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Pergulatan dan konflik merupakan suatu yang wajar dalam hidup rohani, seperti juga dalam pergaulan kita sehari-hari. Konflik itu terjadi antara kehendakku atau kehendakMu. Seperti dalam pergaulan antar manusia kadang kehendak kita yang terjadi, lain kali kehendak sahabat kita yang terjadi. Namun tentu berbeda dari pergaulan dengan sesama yang kehendaknya belum tentu benar, kehendak Tuhan senantiasa benar. Bila kadang dalam konflik antara kehendak kita dengan Tuhan, yang terjadi adalah kehendak kita, itu bukan karena kehendak kita yang benar. Namun Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk lain kali lebih sadar<em>:&#8221;Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.&#8221;</em> (Mat 19:8). Dari sini kita tahu bahwa kita tak perlu berkecil hati untuk memasuki hidup rohani, untuk bergaul dengan Tuhan, walaupun belum bisa sepenuhnya tunduk pada kehendakNya.  Banyak orang enggan menjadi katolik karena merasa belum bisa mengikuti jalan Tuhan sepenuhnya. Kepada mereka kita bisa mengatakan jangan takut untuk  mulai bergaul dengan Tuhan, nanti dalam perjalanan waktu rahmat kasih Tuhan juga akan bekerja mengubah kita.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>6.3. Memahami dan mentaati kehendak Allah</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Sebenarnya masih ada yang perlu dibahas disini yakni soal mengetahui kehendak Tuhan. Pembahasan yang mendetil tentu tak dapat cukup dibahas di sini.<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[9]</span></a> Sementara cukuplah diyakini bahwa Tuhan berbicara dalam hati nurani kita (Gaudium et Spes 16). Karena itu kita perlu lebih sering mendengarkan suara hati kita. Untuk itu kita harus benar-benar tulus membersihkan hati dari emosi dan egoisme kita, agar dengan jernih kita dapat mendengarkan suara Tuhan dalam hati kita. Ukuran moral yang jelas tentu saja adalah cinta kasih. Hasil disermen (memahami kehendak Tuhan) itu harus sejalan dengan cinta kasih. Tapi jangan berpuas diri dengan pengertian anda akan cinta kasih, karena Tuhan mungkin mengharapkan yang lebih dari itu seperti yang terjadi pada Yusuf. Ia berpikir bahwa menceraikan secara diam-diam Maria yang hamil bukan dari hubungan dengan Dia itu sudah sangat baik. Ternyata Tuhan menginginkan dia tetap menikahi Maria, maka Yusuf yang biasa mendengarkan Tuhanpun taat. Oleh ketaatannya kelahiran dan hidup Yesuspun terselamatkan. (Mat 1:18-24; 2: 13-15). Karena itu hati nurani kita perlu dipupuk dan dikembangkan dengan sabda Tuhan (Kitab Suci), dan bergaul dengan sabda yang telah menjadi manusia dalam diri Yesus yang kita kenal dalam injil dan dengan sahabat-sahabat seiman yang adalah sahabat Tuhan Yesus juga.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<div>
<table style="border-collapse:collapse;background:white;" border="0">
<col style="width:602px;" />
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="border-top:outset .75pt;border-left:outset .75pt;border-bottom:outset .75pt;border-right:outset .75pt;">
<ol>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Apakah anda cukup akrab dengan Allah? Apa tandanya?<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Pernahkah anda bergulat dengan Allah? Dalam hal apa?<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Siapakah tuan yang paling menentukan hidup anda? Sesama, diri sendiri atau Tuhan?<br />
</span></li>
<li><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;">Apakah anda peduli untuk bertanya kepada Allah sebelum anda bertindak/ memutuskan? Dalam hal apa?</span></li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">7. KOMUNITAS PERGAULAN<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><em>&#8220;Katakan siapa sahabat anda, maka saya bisa mengatakan siapakah anda.&#8221;</em><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><em>&#8221; Kita akan menjadi seperti sahabat kita&#8221;</em><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>7.1. Persahabatan adalah proses yang mengubah hidup kita</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Jika kita terus menerus setia bergaul dengan Tuhan perlahan-lahan kita akan benar-benar menjadi sahabatNya. Bila kita menjadi sahabatNya kita juga akan menjadi semakin mirip Dia, sebagaimana kita memang diciptakan sebagai citraNya (Kej 1:27). Kita juga mengalami hal ini dari hidup kita sehari hari. Pergaulan sangat besar pengaruhnya dalam mengubah hidup kita, bahkan kepribadian kita. Karena itu kita perlu memilih benar-benar sahabat kita. Kita memang tak bisa menjadi sahabat Tuhan yang begitu mulia dari kemauan kita sendiri, namun Tuhan Yesus sudah mengulurkan tangan untuk menjadi sahabat kita dengan menjadi sesama kita. Dan Yesus mau menjadi sahabat bukan hanya bagi para pertapa, rohaniwan, biarawan-wati tapi bagi siapa saja, juga bagi kaum awam yang sehari hari bergulat di dunia. Karena itu pergaulan dan persahabatan kita dengan Yesus juga tak hanya pada waktu doa, namun juga di tengah kesibukan kita sehari-hari. Dengan demikian persahabatan kita dengan Dia akan sungguh mengubah hidup dan karya kita di dunia.<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[10]</span></a><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>7.2. Pentingnya komunitas seiman dan sepanggilan</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Bila kita ingin semakin akrab dengan Tuhan Yesus, selain lewat Kitab Suci, kita juga perlu bergaul <strong><em>di tempat Dia berada</em></strong>, yakni di kalangan sahabat-sahabatNya, sesama umat beriman yang mendengarkan sabda Tuhan dan melakukannya, yang disebut Yesus bukan hanya sahabat, namun ibu dan saudara-saudariNya (Luk 8:21). Kita memang harus bergaul dengan siapa saja, namun kita perlu menjalin persahabatan dengan saudara-saudari seiman. Pembentukan karakter dan nilai-nilai kita sangat dipengaruhi oleh sahabat dekat kita, seperti ditulis seorang istri: <em>&#8220;Setelah kesadaran saya akan Yesus bertumbuh dan cinta(umat)Nya mulai memberi hidup saya, maka terjadi perubahan yang paling besar dalam hubungan saya dengan suami saya. Saya jatuh cinta  lagi padanya, setelah 15 tahun kehidupan perkawinan! Dan terjadilah apa yang saya sangat rindukan dan cita-citakan selama ini.&#8221;<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;"><strong>[11]</strong></span></a></em><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Dalam dunia dewasa ini dengan begitu banyak tawaran yang tak seluruhnya baik dan sesuai dengan iman dan panggilan kita, kita butuh komunitas seiman dan sepanggilan yang saling meneguhkan. Bukan komunitas yang eksklusif, tapi komunitas yang menjadi dasar kita untuk menjalani hidup ini sesuai dengan iman dan misi kita. Seperti sinyalemen Timothy Radcliffe ini:<em>&#8220;Mungkin salah satu alasan mengapa Keristenan sering dipandang tidak menarik adalah karena kita hidup di dalam masyarakat yang kurang menghargai kebenaran&#8221;</em> <a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[12]</span></a> Dalam hidup kita sehari hari, kita sendiri merasakan kebenaran sinyalemen itu dalam hidup kita sehari-hari. Yesus bahkan sudah mengatakannya<em>:&#8221;Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.&#8221;</em> (Yoh 15:19)<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>7.3. Bukan karena cocok atau sempurna, tapi karena sepanggilan</strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Komunitas kristiani tidak dibangun oleh orang-orang yang cocok satu sama lain, namun dibangun oleh orang-orang yang merasakan panggilan Yesus, dan mau bersama-sama tinggal dalam Yesus (Yoh 15:1-8). Komunitas kristiani bukan terdiri dari orang-orang yang sempurna, namun orang yang terus berjuang untuk mendengarkan sabda Allah dan melakukannya. Komunitas kristiani tidak lepas dari konflik dan intrik yang sering digunakan iblis untuk memecah-belah. Hanya bila orang sadar akan panggilan kasih Tuhan, dan memaklumi kelemahan masing-masing, serta mau saling mengampuni, kita tak akan terseret oleh bujukan iblis itu, dan akan tetap saling mendukung untuk setia pada Allah dan panggilan kasihnya, untuk tetap saling mengasihi sebagaimana Yesus sudah mengasihi kita (Yoh 15:9-17)<a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="text-decoration:underline;">[13]</span></a>   <br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<div>
<table style="border-collapse:collapse;background:white;" border="0">
<col style="width:590px;" />
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="border-top:outset .75pt;border-left:outset .75pt;border-bottom:outset .75pt;border-right:outset .75pt;">
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><em>IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya</em> (Luk 8:21)<br />
</span></p>
<p style="margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Menjadi sahabat Yesus berarti bergaul pula dengan sahabat dan muridnya, memasuki kehidupan mereka, dan membiarkan mereka masuk dalam kehidupan kita. Bersahabat bukan sekedar untuk mendukung imamatku, tapi juga sebagai kesaksian mulai hadirnya Kerajaan Allah lewat hidup persaudaraan para imam, seperti hidup persaudaraan Yesus dengan para rasulNya.<br />
</span></p>
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">-          Siapakah sahabat Yesus yang juga menjadi sahabatku? Apa saja yang menjadi bahan perbincanganku dengannya/mereka?<br />
</span></p>
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">-          Apakah aku cukup leluasa untuk masuk dalam kehidupan sahabatku, dan leluasa membiarkan mereka masuk dalam kehidupanku?<br />
</span></p>
<p style="margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">-          Apa usahaku/kita agar umat katolik se lingkungan/wilayah/se kampus dapat semakin akrab dan bersahabat?</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">8. KESIMPULAN<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Apa sebenarnya yang paling didambakan manusia? Banyak orang akan menjawab: kebahagiaan. Tapi kalau direnungkan lagi kebahagiaan itu hanya akan terpenuhi bila orang merasa dikasihi dan mengasihi. Jadi yang paling didambakan manusia sebenarnya adalah kasih (sejati). Rasul Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih (1Yoh 4: 8). Jika demikian sebenarnya yang paling didambakan manusia pada dasarnya adalah Allah sendiri, yang maha pengasih dan penyayang. Seperti dikatakan Agustinus<strong><em>:&#8221;Kami ini tercipta bagimu, dan hati kami tak akan tenang sebelum beristirahat dalam Dikau&#8221;</em></strong> Ini bukan berarti saat kita meninggal, namun juga tatkala kita masih di dunia ini hati kita akan damai asal kita selalu tinggal dalam Dia.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">Jika orang tidak sungguh tinggal dalam Allah, dia akan terombang-ambing ke sana kemari. Namun jika hidup rohani didasarkan pada hubungan kasih kita dengan Allah, maka kita akan mampu menghadapi tantangan atau godaan apa saja, termasuk yang kita alami dalam dunia dewasa ini yang menyajikan begitu banyak tawaran. Beberapa langkah ini perlu sungguh kita sadari dan laksanakan.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">8.1. Untuk bergaul dengan Yesus hal yang paling mendasar adalah percaya akan karunia Roh Kudus dan menyadari bahwa dalam Dia kita ini juga adalah sesama anak Allah. Doa kita pertama-tama untuk senantiasa mendengarkan peneguhan sabda Allah Bapa ini<strong><em>:&#8221;Engkaulah anak yang Kukasihi, kepadamu Aku berkenan.&#8221;</em></strong>. Kebiasaan inilah yang akan membangun citra diri positif kita, menerangi tujuan dan jalan hidup kita sebagaimana misi yang diberikan Bapa itu kepada kita.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">8.2. Kita juga harus waspada untuk tidak terpengaruh saudara-i seiman, maupun dari agama lain dengan cara beriman lama yang menekankan hukum. Cara beragama ini akan cenderung bersikap keras terhadap orang yang hidup tak sesuai dengan hukum itu, bahkan termasuk terhadap mereka yang beragama lain. Hidup rohani yang diajarkan Yesus sungguh berbeda, Dia menekankan hidup rohani (beragama) sebagai relasi dengan Allah. Dan kemudian bersama Allah menyikapi dunia dan sesama, melihat dunia dan sesama dengan mata kasih Allah. Hidup beragama seperti ini cenderung inklusif, merangkul siapa saja dengan penuh kasih sebagaimana dia sudah dirangkul Allah dengan penuh kasih juga. Hidup beragama seperti ini juga akan menumbuhkan kepekaan ekologis karena sadar bahwa alam semesta ini diciptakan Bapa dan diserahkan kepada kita untuk kita pelihara.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">8.3. Untuk itu kita harus menanggapi undanganNya untuk masuk dalam kehidupanNya dengan rajin membaca Kitab Suci, khususnya Injil. Lewat Injil kita diundang masuk dalam peristiwa-peristiwa Yesus, menyaksikan bagaimana Dia hidup dan berkarya, agar kemudian juga meneladan sikap-sikap hidupnya. Secara khusus kita perlu meneladan sikap Yesus terhadap mereka yang lemah dan miskin. Ia menyadari bahwa diurapi Roh Kudus berarti diutus untuk mewartakan kabar gembira kepada orang miskin (Luk 4:18). Seperti Yesus kita juga mau mewartakan keselamatan manusia seutuhnya, bukan hanya jiwa, namun jiwa-raganya. Memasuki kehidupan Yesus berarti juga mau bersamanya bergaul dan mewartakan kabar gembira kepada orang miskin dengan tindakan nyata.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">8.4. Sebaliknya kita juga mau mengajak Yesus masuk dalam kehidupan kita, sehingga tak ada suatu pun dari hidup kita yang kita sembunyikan dari Dia. Percaya akan kebijaksanaanNya kita senantiasa minta pendapatnya: <strong><em>&#8220;Yesus bila Engkau ada dalam situasiku sekarang, apa yang akan Kau perbuat?&#8221;</em></strong><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">8.5. Relasi yang jujur dan mendalam tentu tidak luput dari konflik dan pergulatan. Demikian juga dalam relasi kita dengan Yesus dan Bapa. Namun kita tak perlu takut untuk segera mulai, karena justru lewat pergulatan itu kita perlahan-lahan akan diubah menjadi sehati dan sejiwa dengan Yesus.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">8.6. Kita bergaul dengan Yesus bukan hanya dalam doa dan membaca Kitab Suci, tapi dengan bergaul bersama saudara- saudari, dan ibu Nya, yakni orang-orang seiman yang berusaha mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Kita membutuhkan komunitas kristiani untuk saling meneguhkan hidup panggilan dan misi kristiani kita. <br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"><strong>Griya Samadi Vinsensius</strong>, Minggu Kerahiman Ilahi 2010<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"> <br />
 </p>
<p><img src="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/12/120711_0756_hiduprohani1.png?w=590" alt="" /><span style="font-family:Times New Roman;font-size:12pt;"><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[1]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Dalam sebuah media pernah diberitakan dalam komputer lap-top teroris ternyata penuh pornografi, padahal dia getol menyerang pelaku pornoaksi dan membakar pornografi, <br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[2]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Masih banyak orang katolik yang  misa terlambat merasa tidak masalah, yang penting sudah misa.  Banyak umat juga yang lebih suka duduk di belakang atau bahkan di luar, walau sebenarnya masih ada tempat di depan. Bukankah ini semua menunjukkan keengganan untuk berjumpa dengan Bapanya? Kadang mereka membenarkan diri dengan mengutip Injil untuk duduk di belakang sampai tuan rumah menyilakan. Tapi jelas itu hanya alasan, karena dipersilakan ke depan pun mereka tidak mau.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[3]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Lihat Robert P. Maloney, <strong>Turn Everything To Love</strong>, Editorial La Milagrosa, Madrid, 2007, hlm 20.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[4]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Refleksi mendalam dapat dibaca dalam Henri JM Nouwen, <strong>Kembalinya Si Anak Hilang</strong>, Kanisius 1995<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[5]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Saya teringat peranan seorang ibu yang karena cintanya kepada anak dan kedekatannya dengan ayah sering berusaha meredakan kemarahan suaminya terhadap anaknya.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[6]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Charles J. Healey SJ, &#8220;Seeking God&#8217;s Will&#8221; dalam David L. Fleming SJ, The <strong>Christian Ministry of Spiritual Direction</strong>, The Best of Review – 3, Review for Religious, St Louis, 1996 (1988) p. 327-328<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[7]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Kalau kita benar-benar membaca Injil dan Kisah Para Rasul nyata sekali bahwa Yesus dan Gereja awali peduli bukan hanya dengan keselamatan &#8220;rohani&#8221;, tetapi keselamatan manusia seutuhnya lih. Carlos H.Abesamis, <strong>A Third Look at Jesus</strong>, 3rd edition, Claretian Publications,  Philippines, 2000.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[8]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Ibu Teresa lebih sering mengalami malam gelap justru mulai saat dia menyerahkan diri untuk melakukan pekerjaaan Tuhan, lih. Brian Kolodiejchuk, MC (penyunting), <strong>Come be my Light</strong>, tjmh. Gramedia, 2008 <br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[9]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Bagi yang ingin serius mendalami disermen silakan membaca Thomas H. Green SJ, <strong>Weeds among The Wheat</strong>, Ave Maria Press, 1984.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[10]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;">  Lih Jess.S. Brena, <strong>Spiritualitas Awam Zaman Sekarang, </strong>tjmhn Komisi Kerawam KWI 1990 di sini ditegaskan Yesus juga &#8220;awam&#8221; yang sehari hari hidup di dunia hlm 50<em>: &#8220;Sebagai seorang awam, Yesus dekat dengan rakyat jelata&#8230;. Ia dekat dengan orang miskin, tetapi Dia juga bergerak dengan kelas sosial yang lebih tinggi &#8230; Ia menyadari penderitaan orang lain, penindasan orang Romawi, sistem perpajakan yang sewenang-wenang, ketidakberdayaan rakyat &#8230;&#8221;</em><br />
		</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[11]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> <strong>Ibid.</strong> hlm 15 dan 60.<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[12]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Timothy Radcliffe OP, <strong>What is the Point of Being a Christian?</strong>, (tjmhn), Dioma 2008(2005), khususnya  tentang komunitas kristiani hlm 154-226<br />
</span></p>
<p style="background:white;margin-left:10pt;"><a href="http://www.stftws.org/news2.php?op=70"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;text-decoration:underline;">[13]</span></a><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:12pt;"> Jean Vanier<strong>, Community and Growth</strong>, revised edition, Darton, Longman and Todd Ltd, 1989 (1979)  hlm 44-47. Buku yang sangat realistis, indah dan mendalam tentang hidup komunitas ditulis oleh pendiri komunitas orang cacat L&#8217;Arche yang kini tersebar di berbagai Negara.<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/456/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=456&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/12/07/hidup-rohani-kristianibuah-pergaulan-dengan-yesus-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/12/120711_0756_hiduprohani1.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Selamat jalan Juli !</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/18/selamat-jalan-juli/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/18/selamat-jalan-juli/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 12:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini kami kehilangan saudari kami Juli yang setelah berjuang selama setahun ini melawan penyakit kanker-nya.  Jujur kami kaget mendengarnya karena ternyata hal ini tidak pernah diberitahukan kepada kami keluarga besarnya.  Kenapa? Tidak tahu juga.  Tapi satu hal yang pasti saat-saat kehilangan seperti ini mengingatkan kita betapa hidup ini begitu rapuhnya.  &#8221;Life is but a [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=451&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#993300;">Hari ini kami kehilangan saudari kami Juli yang setelah berjuang selama setahun ini melawan penyakit kanker-nya.  Jujur kami kaget mendengarnya karena ternyata hal ini tidak pernah diberitahukan kepada kami keluarga besarnya.  Kenapa? Tidak tahu juga.  Tapi satu hal yang pasti saat-saat kehilangan seperti ini mengingatkan kita betapa hidup ini begitu rapuhnya.  &#8221;<em>Life is but a fleeting moment</em>&#8221; they say..</span></p>
<p><span style="color:#993300;">Selamat jalan saudariku Juli !  Renungan ini untuk kami yang kamu dahului..</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Ayub 1: 21b</span><br />
<span style="color:#333333;">Kehilangan adalah peristiwa yang sebenarnya kita alami selalu. Sejak kecil hingga tua kehilangan itu akan senantiasa ada dalam kehidupan kita. Mungkin kehilangan pertama kalinya dalam kehidupan ini terjadi pada saat kita lahir di dunia ini. Sebelumnya kita merasa aman, nyaman, dan bertumbuh dalam rahim Ibu. Setelah tiba waktunya, kita lahir dan harus kehilangan kenyamanan rahim Ibu. Kita menangis.</span><br />
<span style="color:#333333;">Beberapa tahun kemudian, kita memasuki sekolah yang pertama kalinya dalam kehidupan. Saat itu kita kembali mengalami dan merasa kehilangan orangtua untuk sesaat. Sekian jam harus berada di sekolah, terpisah dengan orangtua dan suasana rumah. Itulah sebabnya waktu kecil tidak jarang anak-anak menangis ingin pulang dari sekolah. Bukankah itu juga merupakan pengalaman kehilangan?</span><br />
<span style="color:#333333;">Setelah dewasa kita kembali mengalami kehilangan yaitu ketika anak-anak menikah. Selama ini mereka selalu bersama dengan kita, makan bersama, tidur bersama, menonton tv bersama setiap hari. Tapi setelah menikah, tentu mereka memiliki kehidupannya sendiri bersama dengan pasangannya. Mereka tidak bisa lagi memiliki waktu bersama-sama selama 7 hari berturut-turut. Tentu, sebagai orangtua, ini merupakan suatu kehilangan. Tidak heran apabila ada sebagian orangtua dan anak yang sama-sama menangis dalam upacara pernikahan. Mereka sama-sama merasa kehilangan.</span><br />
<span style="color:#333333;">Ada begitu banyak kehilangan yang senantiasa kita alami. Tapi tentunya ada satu kehilangan yang seringkali menimbulkan rasa duka yang dalam, yaitu kehilangan seseorang. Mengapa perasaan duka ini begitu dalam? Karena, kalau kehilangan barang atau uang, kita masih bisa menebusnya. Kalau kehilangan anak karena menikah, kita masih dapat sering-sering bermain ke rumahnya. Tapi kalau kehilangan orang yang dikasihi karena meninggal, tentu kita sudah tidak mungkin lagi menengoknya. Dunia kehidupannya sudah berbeda.</span><br />
<span style="color:#333333;">Di sinilah kita mengalami perasaan berduka. Apalagi bila orang yang meninggal itu sering melakukan kebajikan atau meninggalkan teladan bagi anggota keluarganya, maka hal itu akan semakin menambah perasaan berduka. Para anggota keluarga mungkin akan merasa eman-eman bila ia meninggal.</span><br />
<span style="color:#333333;">Di tengah perasaan berduka saat ini apa yang dapat kita lakukan sebagai orang Kristen? Berangkat dari Ayub 1: 21b, maka ada dua hal yang dapat kita lakukan: Pertama, kita menyadari bahwa orang yang kita kasihi adalah titipan dari Tuhan. Tatkala Ayub mengatakan, “<em>Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil</em>,” maka Ayub menyadari bahwa seluruh hartanya, pegawainya, dan bahkan anak-anaknya yang hilang itu adalah titipan Tuhan. Apa yang Ayub genggam selama ini bukanlah miliknya.</span><br />
<span style="color:#333333;">Pemikiran ini sangat penting untuk kita tanamkan, khususnya di saat kita berduka. Bila kita berpikir bahwa orang yang dikasihi itu adalah milik kita, maka tentu kita akan sangat sulit melepaskan almarhum/ah dengan rela. Tapi bila kita berpikir bahwa ia adalah titipan Tuhan yang pernah hidup bersama dalam satu keluarga, maka kita akan lebih rela melepaskannya. Memang kita merasa kehilangan karena bagaimanapun juga kita pernah saling berbagi hidup, tapi kita masih lebih rela untuk menyerahkannya pada Tuhan. Mari kita sama-sama menyadari bahwa orang yang dikasihi telah berada di tangan Sang Pemiliknya. Terpujilah nama Tuhan!</span><br />
<span style="color:#333333;">Hal kedua, kita menyadari bahwa orang yang kita kasihi berada di dalam kendali Tuhan. Renungkan kembali perkataan Ayub, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil.” Kalimatnya bukan berbunyi, “Tuhan yang memberi, Iblis yang mengambil. Atau, Tuhan yang memberi, orang lain yang mengambil.” Tapi dengan sangat jelas, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil.” Ini satu keyakinan bahwa dari awal hingga akhir kehidupan Tuhanlah yang memegang kendali kehidupan dan kematian umat-Nya.</span><br />
<span style="color:#333333;">Keyakinan seperti demikian perlu kita pegang erat-erat sampai selamanya. Di dalam Yohanes 14:2-3 Yesus sendiri yang berkata &#8220;<span style="color:#666699;"><em>Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.</em></span>&#8220; Kita meyakini bahwa almarhumah pergi bukan ke satu tempat yang tidak jelas. Ia pergi bukan dituntun oleh sesuatu yang tidak jelas atau sesuatu yang menakutkan. Ia justru pergi ke satu tempat yang jelas karena dituntun oleh tangan Tuhan yang jelas-jelas memegang kehidupan dan kematiannya. Selama almarhumah hidup tangan Tuhan selalu memegang kehidupannya, dan sewaktu ia mati rohnya tetap berada dalam genggaman tangan Tuhan. Ia berada dalam tangan yang tepat, tangan yang memegang kendali umat-Nya. Mari kita sama-sama menyadari bahwa orang yang dikasihi hingga saat ini masih berada di dalam kendali Tuhan. Ia akan aman bersama Tuhan. Terpujilah nama Tuhan!</span><br />
<span style="color:#666699;">POSTED BY METAMORPHOSIS CENTER AT 1:43 AM</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/451/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/451/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/451/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=451&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/18/selamat-jalan-juli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tujuh Karunia Roh Kudus oleh Pastor William P. Saunders</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/09/tujuh-karunia-roh-kudus-oleh-pastor-william-p-saunders/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/09/tujuh-karunia-roh-kudus-oleh-pastor-william-p-saunders/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 14:41:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[“Baru-baru ini saya menerima Sakramen Krisma. Saya tahu bahwa saya menerima ketujuh karunia Roh Kudus dan tahu karunia apa saja itu, namun demikian saya tidak terlalu paham tentang karunia-karunia tersebut. Dapatkan anda menjelaskannya? ~ seorang pembaca di Crystal City” Pewahyuan karunia-karunia Roh Kudus berakar pada nubuat nabi Yesaya mengenai kedatangan Mesias: “Suatu tunas akan keluar dari tunggul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=432&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>“<em>Baru-baru ini saya menerima Sakramen Krisma. Saya tahu bahwa saya menerima ketujuh karunia Roh Kudus dan tahu karunia apa saja itu, namun demikian saya tidak terlalu paham tentang karunia-karunia tersebut. Dapatkan anda menjelaskannya</em>?</p>
<p>~ seorang pembaca di Crystal City”</p>
<p>Pewahyuan karunia-karunia Roh Kudus berakar pada nubuat nabi Yesaya mengenai kedatangan Mesias: “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN.” (Yes 11:1-3). Sementara nubuat Yesaya ditujukan secara khusus bagi Mesias, Tradisi Gereja menyatakan bahwa karunia-karunia ini diberikan juga kepada semua orang beriman melalui Sakramen Baptis dan teristimewa Sakramen Krisma (Katekismus Gereja Katolik no. 1303). St Paulus mengajarkan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya…” (Rm 8:29), menyatakan bahwa melalui rahmat sakramen-sakramen, orang mengenakan identitas Kristus dan beroleh bagian dalam karunia-karunia tersebut yang sesuai dengan peran-Nya sebagai Mesias (setidak-tidaknya yang dapat diberikan kepada kita).</p>
<p>Menegaskan keyakinan ini, <a title="Desember" href="http://yesaya.indocell.net/id256.htm#s__ambrosius" target="_top">St. Ambrosius</a> dalam De mysteriis mengajarkan, “Karena itu, engkau harus ingat bahwa engkau telah menerima pemeteraian oleh Roh: roh kebijaksanaan dan pengetahuan, roh nasihat dan kekuatan, roh pengertian dan kesalehan, roh takut akan Allah; dan peliharalah apa yang telah engkau terima. Allah Bapa telah memeteraikan engkau, Kristus Tuhan telah menguatkan engkau dan memberikan jaminan Roh ke dalam hatimu” (7,42).</p>
<p>Kaum beriman diingatkan akan penganugerahan karunia-karunia ini dalam liturgi. Dalam Misa Pentakosta, ketika umat beriman mengenangkan turunnya Roh Kudus atas para rasul, mereka akan mendaraskan doa ini, “Pada umat beriman, yang mengagungkan serta mengaku Engkau terlebih lagi dengan turunnya tujuh karunia-Mu.”</p>
<p>Dalam pelayanan Sakramen Krisma, bapa uskup berdoa, sambil mengulurkan tangannya atas kelompok penerima Penguatan, “<em>Allah yang Mahakuasa, Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, Engkau telah melahirkan kembali para hamba-Mu ini dari air dan Roh Kudus, dan membebaskan mereka dari dosa. Sudilah kiranya mencurahkan Roh Kudus penghibur kepada mereka. Semoga mereka Kauanugerahkan roh kebijaksanaan dan pengertian, roh penasihat dan kekuatan, roh pengetahuan dan ibadat; dan semoga mereka Kaupenuhi dengan roh takwa kepada-Mu. Demi Kristus, Pengantara kami. Amin.</em>” Kemudian bapa uskup meneguhkan masing-masing calon, membuat tanda salib dengan minyak krisma suci di dahi calon sambil mengatakan, “<em>Semoga dimeterai oleh karunia Allah, Roh Kudus.</em>”</p>
<p>Atas dasar ini, menurut Tradisi Gereja ketujuh karunia Roh Kudus adalah: <strong>Kebijaksanaan</strong>, <strong>Pengertian</strong>, <strong>Nasihat</strong>, <strong>Keperkasaan</strong>, <strong>Pengenalan</strong>, <strong>Kesalehan</strong> dan <strong>Rasa</strong> <strong>takut</strong> <strong>kepada</strong> <strong>Allah</strong>. (Catatan, teks kitab Nabi Yesaya dalam bahasa Ibrani mencatat hanya enam karunia dengan karunia takut akan Tuhan disebutkan dua kali, terjemahan Septuaginta bahasa Yunani dan Vulgata bahasa Latin mencatat tujuh karunia, dengan menambahkan “kesalehan” dan menghilangkan pengulangan “takut akan Allah. Lagipula, dalam Perjanjian Lama, tujuh merupakan angka sempurna, kelimpahan dan perjanjian).</p>
<p>Pertama-tama, istilah “karunia” perlu dijelaskan. Dengan sangat tepat mereka disebut “karunia Roh Kudus” karena Roh Kudus yang mengaruniakannya. Sebab itu, mereka merupakan karunia-karunia rohani yang bekerja dengan cara rohani. Karunia-karunia ini bukanlah karunia yang diberikan pada saat orang berseru dalam saat-saat genting; tetapi karunia ini diberikan kepada orang selama ia tetap berada dalam keadaan rahmat. Dengan demikian, karunia-karunia ini membantu orang untuk mencapai kekudusan dan menghantarnya pada kesempurnaan kebajikan, baik kebajikan ilahi (iman, harapan dan kasih) maupun kebajikan pokok (kebijaksanaan, keadilan, keberanian dan penguasaan diri). Gagasannya di sini ialah bahwa karunia Roh Kudus membantu orang untuk ambil bagian dalam hidup Allah yang paling intim, baik sekarang dalam kehidupan ini maupun kelak dalam kehidupan kekal. Dalam hal ini, seperti yang ditegaskan oleh<a title="Januari" href="http://yesaya.indocell.net/id266.htm#s__thomas_aquinas_" target="_top">St. Thomas Aquinas,</a> karunia-karunia tersebut merupakan kepenuhan dari “habitus” (bahasa Latin, artinya cara hidup) yang menandakan kehadiran dan karya mereka yang tetap. Katekismus menggarisbawahi poin ini: “Kehidupan moral orang-orang Kristen ditopang oleh karunia-karunia Roh Kudus. Karunia ini merupakan sikap yang tetap, yang mencondongkan manusia, supaya mengikuti dorongan Roh kudus…. Mereka melengkapkan dan menyempurnakan kebajikan dari mereka yang menerimanya. Mereka membuat umat beriman siap mematuhi ilham ilahi dengan sukarela” (No. 1830-31).</p>
<p>Definisi dasar berikut dikutip dari karya klasik Rm Aumann, “Spiritual Theology”. Di samping itu, urut-urutannya disusun oleh <a title="September" href="http://yesaya.indocell.net/id239.htm#st__gregorius_agung" target="_top">Paus St. Gregorius Agung</a>, yang berusaha menangkap dinamika spiritual yang dianugerahkan Roh Kudus kepada jiwa melalui karunia-karunia-Nya: “Dengan takut akan Allah, kita dihantar pada kesalehan, dari kesalehan kepada pengenalan, dari pengenalan kita menimba kekuatan, dari kekuatan kepada nasihat, dengan nasihat kita bergerak menuju pengertian, dan dengan pengertian menuju kebijaksanaan, dengan demikian, dengan ketujuh karunia Roh Kudus, terbukalah bagi kita di akhir pendakian, pintu masuk ke dalam kehidupan Surga” (Homiliae in Hiezechihelem Prophetam, II 7,7).</p>
<p><strong>KARUNIA TAKUT AKAN ALLAH</strong> memampukan orang “untuk menghindari dosa dan menghindari cinta / kelekatan pada barang-barang duniawi lebih dari rasa cinta dan hormat kepada Tuhan.” Teristimewa, karunia ini membangkitkan rasa hormat mendalam kepada Allah segala kuasa yang Mahatinggi. Di sini, orang menyadari “keterbatasannya sebagai ciptaan” dan ketergantungannya kepada Tuhan, serta tidak akan pernah mau dipisahkan dari Tuhan yang penuh belas kasihan. Karunia takut akan Allah ini membangkitkan dalam jiwa semangat sembah sujud dan takwa kepada Allah yang Mahakuasa serta rasa ngeri serta sesal atas dosa.</p>
<p>Karunia ini kadangkala disalahtafsirkan karena kata &#8216;takut&#8217;. Takut yang dimaksudkan di sini bukanlah rasa takut seorang budak, di mana orang melayani Tuhan hanya karena ia takut akan penghukuman, baik hukuman yang sifatnya sementara di dunia ini ataupun hukuman abadi di neraka. Hubungan sejati dengan Tuhan didasarkan atas kasih, bukan takut. Sebab itu, “takut akan Allah” ini lebih merupakan takut anak kepada bapa atau takut karena hormat yang menggerakkan orang untuk melakukan kehendak Tuhan dan menghindari dosa karena kasih kepada Tuhan, yang sepenuhnya baik dan patut mendapatkan kasih kita seutuhnya. Demikian juga halnya, seorang anak hendaknya tidak dimotivasi untuk taat pada bimbingan moral orangtuanya ataupun perintah orangtuanya hanya karena takut akan hukuman, melainkan karena kasih dan hormat kepada mereka. Orang haruslah lebih takut menyakiti orang yang dikasihinya dan merusak kepercayaan orang yang dikasihinya itu, daripada takut akan hukuman. (Namun demikian, orang haruslah memiliki rasa takut yang sehat pada hukuman karena dosa, meskipun hal ini bukan menjadi faktor yang memotivasi orang untuk mengasihi Tuhan.)</p>
<p>Karunia takut akan Allah menghantar orang pada kesempurnaan terutama kebajikan akan pengharapan: manusia menghormati Tuhan sebagai Tuhan, percaya pada kehendak-Nya dan mempercayakan hidupnya dalam tangan-Nya. Di samping itu, ia rindu untuk bersatu dengan Tuhan selamanya di surga. Karunia ini juga merupakan landasan bagi karunia-karunia yang lain. Seperti ditegaskan dalam Kitab Suci, “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.” (Mzm 112:1) dan “Awal kebijaksanaan ialah ketakutan akan Tuhan.” (Sir 1:14).</p>
<p>Kedua, karunia ini juga menyempurnakan kebajikan akan penguasaan diri, yang rindu untuk mempergunakan segala sesuatu dengan bijaksana, dan sepantasnya, serta tidak berlebihan, khususnya yang mendatangkan kesenangan-kesenangan duniawi. Dengan akal sehat dalam terang  iman, penguasaan diri mengendalikan hasrat. Penguasaan diri berhubungan dengan karunia takut akan Allah karena kesadaran dan rasa hormat orang akan kekudusan Tuhan mendorongnya sebagai ciptaan untuk memuliakan Tuhan dengan menguasai diri dalam segala tindakan dan keinginan. Sebagai contoh, kemurnian merupakan suatu kebajikan akan penguasaan diri yang menghormati kebaikan seksualitas diri sendiri, kekudusan perkawinan, dan kekudusan cinta kasih dalam perkawinan; orang yang digerakkan oleh karunia takut akan Allah berjuang untuk hidup murni karena Tuhan adalah pencipta dari segala kebajikan itu dan dengan hidup demikian ia mendatangkan kemuliaan serta puji-pujian bagi-Nya.</p>
<p>Dengan karunia takut akan Allah, orang dihantar pada <strong>KARUNIA KESALEHAN</strong>: “guna menghaturkan sembah sujud kepada Tuhan terutama sebagai Bapa kita dan berhubungan dengan semua orang sebagai anak-anak dari Bapa yang sama.” Di sini, orang menyatakan rasa hormat pada Tuhan sebagai Bapa yang penuh belas kasihan, serta menghormati sesama sebagai anak-anak Tuhan terutama karena memang begitu mereka adanya. Dengan demikian, karunia kesalehan menyempurnakan kebajikan akan keadilan, memampukan orang untuk memenuhi segala kewajibannya kepada Tuhan dan sesama; ia tidak hanya dimotivasi oleh keadilan yang harus ditegakkan, tetapi juga oleh hubungan cinta kasih yang dialaminya bersama sesama. Sebagai contoh, kita mentaati sepuluh perintah Allah bukan hanya karena perintah-perintah itu sendiri, melainkan karena kasih kita kepada Bapa Surgawi dan kasih kita kepada saudara serta saudari dalam Tuhan.</p>
<p><strong>KARUNIA PENGENALAN</strong> adalah karunia yang memampukan orang “untuk menilai dengan benar dalam hal kebenaran iman sesuai dengan dasar dan prinsip-prinsip dari kebenaran yang telah dinyatakan.” Di bawah bimbingan Roh Kudus, akal budi manusia membuat penilaian yang benar atas barang-barang duniawi dan hubungan antara benda-benda tersebut dengan kehidupan kekal dan kesempurnaan Kristiani. Dengan demikian, karunia ini merupakan suatu pencerahan khusus, yang memampukan orang untuk menyadari kesia-siaan barang duniawi bagi diri mereka sendiri sehingga barang-barang tersebut tidak menjadi penghalang bagi persatuannya dengan Tuhan. Pada saat yang sama, karunia pengenalan memampukan orang untuk melihat melalui karya ciptaan, Tuhan yang menjadikan semuanya. Karenanya, daripada menganggap karya ciptaan sebagai penghalang persatuan dengan Tuhan, jiwa memandangnya sebagai sarana persatuan dengan Tuhan. Dengan demikian, orang melihat bagaimana memanfaatkan karya ciptaan dengan benar dan bahkan dengan cara yang kudus.  Lagipula, karunia ini menimbulkan dalam diri orang rasa iman, <em>sensus fidei</em>, artinya orang memiliki insting ilahi tentang ya atau tidaknya sesuatu. Misalnya tentang suatu devosi, apakah sesuai dengan iman atau tidak, meskipun ia tidak pernah mengenyam pendidikan teologi secara formal. Karunia ini menimbulkan beberapa efek yang sungguh bermanfaat bagi pengudusan jiwa: introspeksi diri, memampukan orang melihat keadaan jiwanya; lepas dari kelekatan terhadap hal-hal materi; dan rasa sesal atas penyalahgunaan barang-barang materi atau apabila barang-barang tersebut telah menjadi penghalang hubungannya dengan Tuhan.  St. Thomas mengajarkan bahwa karunia pengenalan menghantar orang pada kesempurnaan kebajikan akan iman, tetapi berhubungan juga dengan kesempurnaan kebajikan akan kebijaksanaan, keadilan dan penguasaan diri.</p>
<p>Dengan <strong>KARUNIA KEPERKASAAN</strong>, orang dapat “mengatasi persoalan-persoalan atau menanggung derita dan sengsara dengan kekuatan dan keperkasaan yang dianugerahkan Tuhan.” Sama seperti karunia-karunia yang lain, karunia keperkasaan bekerja atas dorongan Roh Kudus, dan memberikan kekuatan kepada orang untuk melawan yang jahat serta bertekun demi kehidupan kekal. Karunia ini menghantar keutamaan keperkasaan pada kesempurnaan, mengisinya dengan energi, ketekunan dan ketangkasan. Lagipula, karunia ini mendatangkan kepercayaan akan keberhasilan dalam kebajikan. Sebagai contoh,<a title="Agustus" href="http://yesaya.indocell.net/id234.htm#st__maximilianus_maria_kolbe" target="_top"> St. Maximilianus Kolbe</a> tidak hanya memiliki keperkasaan yang mengagumkan dalam bersegera menawarkan nyawanya sebagai ganti nyawa orang lain dan menanggung kematian yang mengerikan, tetapi juga kepercayaan bahwa ia akan berhasil mengatasi kekuasaan si jahat dan memperoleh kehidupan kekal. Terakhir, karunia keperkasaan memampukan orang untuk mengamalkan kebajikan-kebajikan lain dengan gagah berani, untuk menderita dengan tabah dan penuh sukacita, untuk mengatasi segala suam-suam kuku dalam melayani Tuhan.</p>
<p><strong>KARUNIA NASIHAT</strong> adalah karunia “untuk membangkitkan ketaatan dan pasrah diri orang pada nasihat Tuhan dalam segala tindakannya demi mencapai kekudusan dan keselamatan.” Terutama, karunia nasihat memampukan orang untuk menilai tindakan pribadi sebagai baik dan harus dilakukan, atau sebagai jahat dan harus dihindari. Nasihat dibuat sesuai pandangan pribadi akan kekudusan dan tujuan akhir rohaninya. Oleh karenanya, karunia ini mendorong orang untuk bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah tindakan ini menghantar pada kekudusan? Apakah tindakan ini menghantar ke neraka?”</p>
<p>Jelaslah, karunia nasihat berhubungan dengan kebajikan akan kebijaksanaan; namun demikian, jika kebajikan akan kebijaksanaan bekerja sesuai dengan akal budi dalam terang iman, karunia nasihat bekerja di bawah bimbingan Roh Kudus. Sebagai konsekuensinya, nasihat yang diberikan mungkin tidak akan dapat dijelaskan dengan akal sehat. Sebagai contoh, teladan St. Maximilianus Kolbe, suatu tindakan pengorbanan diri yang sedemikian itu bagi orang lain merupakan tindakan yang benar dilakukan, tetapi tidak sesuai dengan jalan pikiran akal sehat yang normal yang menggerakkan orang untuk mempertahankan diri dan bukannya mengorbankan diri.</p>
<p>Juga, karunia nasihat membantu orang menghadapi situasi genting. Sebagai contoh, melalui karunia nasihat, Roh Kudus membantu orang yang sedang menghadapi dilema akan perlunya menjaga rahasia dengan kewajiban mengatakan kebenaran. Karunia nasihat membantu kebajikan akan kebijaksanaan, dan mengarahkannya pada kesempurnaan. Karunia ini juga mendatangkan banyak manfaat: memelihara suara hati yang baik, menyediakan solusi dalam menghadapi situasi-situasi sulit dan tak terduga, serta membantu memberikan nasihat kepada orang-orang lain, terutama dalam hal kekudusan dan keselamatan pribadi.</p>
<p><strong>KARUNIA PENGERTIAN</strong> adalah karunia “untuk memberikan pengertian dan pemahaman mendalam akan kebenaran ilahi dalam iman, bukan sebagai pencerahan sementara, melainkan sebagai intuisi tetap.” Dengan pencerahan akal budi terhadap kebenaran, Roh Kudus membantu orang untuk mengerti kebenaran iman dengan mudah dan mendalam, serta memahami kedalaman kebenaran-kebenaran tersebut. Karunia pengertian tidak hanya membantu dalam memahami kebenaran-kebenaran yang telah dinyatakan, tetapi juga kebenaran-kebenaran alamiah sejauh mereka berhubungan dengan akhir hidup rohani. Kualitas terpenting dari karunia ini adalah “memahami intuisi” &#8211; dalam beberapa hal menjangkau yang tak nampak. Karunia ini, yang memberikan pemahaman akan kebenaran-kebenaran iman, bekerja dalam beberapa cara: menyingkapkan makna tersembunyi dalam Kitab Suci; mengungkapkan makna simbol-simbol dan bilangan (seperti St. Paulus memandang Kristus sebagai pemenuhan akan batu karang dalam kisah Keluaran yang memancarkan air untuk melegakan dahaga bangsa Israel (1Kor 10:4); menunjukkan tangan Tuhan yang berkarya dalam hidup manusia, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang paling misterius atau penuh persoalan hidup (misalnya penderitaan); dan mengungkapkan kebenaran rohani yang tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa (misalnya pemahaman akan misteri kurban Kristus dalam ritual Misa). Karunia ini menghantar kebajikan akan iman pada kesempurnaan. Karenanya, St. Thomas mengatakan, “Dalam hidup ini, apabila mata rohani dimurnikan oleh karunia pengertian, orang dapat dengan suatu cara tertentu melihat Tuhan” (Summa theologiae II-II, q. 69, a. 2, ad. 3).</p>
<p>Yang terakhir dari ketujuh karunia adalah <strong>KARUNIA KEBIJAKSANAAN</strong> yaitu “untuk menilai dan mengatur segala sesuatu sesuai dengan norma-norma ilahi dan dengan kewajaran yang memancar dari persatuan kasihnya dengan Tuhan.” Roh Kudus membantu mengkontemplasikan perkara-perkara ilahi, memampukan orang untuk bertumbuh dalam persatuan mesra dengan Tuhan. Dengan karunia kebijaksanaan, bahkan suatu “jiwa yang tak berpendidikan” dapat memiliki pengetahuan ilahi yang sangat mendalam. Sebagai contoh, <a title="St. Theresia Lisieux" href="http://yesaya.indocell.net/id53.htm" target="_top">St. Theresia dari Liseux</a> tidak memiliki pendidikan formal dalam teologi, namun demikian ia memiliki kebijaksanaan dalam mengenal jalan-jalan Tuhan; oleh karena alasan ini, ia digelari Pujangga Gereja.</p>
<p>Sementara karunia kebijaksanaan membantu mengkontemplasikan perkara-perkara ilahi, karunia ini juga mendukung praktek kebijaksanaan praktis. Karunia kebijaksanaan menerapkan ilham-ilham Tuhan untuk menilai baik perkara-perkara duniawi maupun ilahi. Karenanya, karunia ini mengarahkan tindakan-tindakan manusia agar sesuai dengan yang ilahi.</p>
<p>Karunia kebijaksanaan mendatangkan banyak manfaat: dengan karunia ini orang akan melihat serta mengevaluasi segala hal &#8211; baik sukacita ataupun dukacita, kegembiraan ataupun penderitaan, keberhasilan ataupun kegagalan &#8211; dari sudut pandang Tuhan, serta menerima semuanya dengan ketabahan. Dengan kebijaksanaan, segala hal, bahkan yang terburuk sekalipun, dipandang sebagai memiliki nilai rohani. Misalnya, karunia kebijaksanaan memberikan penghargaan kepada kemartiran. Di sini, orang diangkat melampaui kebijaksanaan dunia ini, dan tinggal dalam kasih Allah. Sebab itu, karunia kebijaksanaan mendatangkan kesempurnaan cinta kasih.</p>
<p>Karunia-karunia Roh Kudus tak diragukan lagi merupakan karunia-karunia yang teramat penting bagi kekudusan dan keselamatan kita. Setiap umat Kristiani yang dibaptis dan dikuatkan dalam Krisma sepatutnya memohon dengan sangat kepada Roh Kudus untuk mengobarkan karunia-karunia ini dalam jiwanya. Bapa Suci kita, Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Dengan karunia-karunia dan kualitas seperti ini, kita siap sedia menghadapi segala macam tugas dan cakap mengatasi segala macam kesulitan.”</p>
<p><a title="Doa Mohon Ketujuh Karunia Roh Kudus" href="http://yesaya.indocell.net/id178.htm" target="_top">Doa Mohon Ketujuh Karunia Roh Kudus</a></p>
<p><strong>* </strong><em>Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.</p>
<p></em></p>
<p><em>sumber : “Straight Answers: Gifts of the Holy Spirit” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; <a href="http://www.catholicherald.com">www.catholicherald.com</a></em></p>
<p><em>Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan</em>: <strong>“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/432/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=432&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/09/tujuh-karunia-roh-kudus-oleh-pastor-william-p-saunders/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paroki gereja Episkopal St Luke di Maryland, USA, bergabung dalam kesatuan dengan Gereja Katolik melalui Ordinariat</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/09/paroki-gereja-episkopal-st-luke-di-maryland-usa-bergabung-dalam-kesatuan-dengan-gereja-katolik-melalui-ordinariat/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/09/paroki-gereja-episkopal-st-luke-di-maryland-usa-bergabung-dalam-kesatuan-dengan-gereja-katolik-melalui-ordinariat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 13:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Satu peristiwa yang bersejarah dan sungguh patut kita syukuri di mana Tuhan berkarya bagi persatuan Gereja, telah terjadi di bulan Oktober 2011 ini. Gereja St. Luke, sebuah paroki Episkopal kecil di kota Bladensburg, Maryland, USA, menjadi gereja Episkopal pertama di Amerika (gereja Episkopal adalah gereja Anglikan yang didirikan di Amerika Serikat), yang bergabung menjadi Gereja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=435&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><img style="font-size:13px;font-weight:normal;" title="anglikan ke Katolik" src="http://katolisitas.org/wp-content/uploads/2011/10/anglikan-ke-Katolik-400x300.jpg" alt="" width="400" height="300" /></h1>
<p><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;color:#000000;">Satu peristiwa yang bersejarah dan sungguh patut kita syukuri di mana Tuhan berkarya bagi persatuan Gereja, telah terjadi di bulan Oktober 2011 ini. Gereja St. Luke, sebuah paroki Episkopal kecil di kota Bladensburg, Maryland, USA, menjadi gereja Episkopal pertama di Amerika (gereja Episkopal adalah gereja Anglikan yang didirikan di Amerika Serikat), yang bergabung menjadi Gereja Katolik di bawah peraturan Vatikan yang baru, yaitu peraturan yang dimaksudkan untuk merangkul saudara-saudara Kristen non- Katolik yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Peraturan itu adalah dibentuknya sebuah struktur yang disebut dengan Ordinariat Anglikan. Ordinariat adalah suatu badan yang memfasilitasi kemungkinan pengorganisasian komunitas Anglikan yang ingin bergabung dengan Gereja Katolik. Ordinariat dibentuk sesuai dengan ketentuan Konstitusi Apostolik dari Paus Benediktus XVI yang dibuat pada 4 November 2009, yang berjudul <em>Anglicanorum coetibus</em>, yang ringkasannya sudah pernah dimuat di Katolisitas, di sini, <a href="http://katolisitas.org/2009/12/16/bergabungnya-umat-anglikan-sesuai-anglicanorum-coetibus/"><span style="color:#000000;">silakan klik </span></a>, atau selengkapnya di link Vatikan, <a href="http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/apost_constitutions/documents/hf_ben-xvi_apc_20091104_anglicanorum-coetibus_en.html"><span style="color:#000000;">silakan klik</span></a></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ordinariat yang dirancang itu membuka jalan kepada penyatuan gereja, sebuah sarana yang mengakui dan memahami kepercayaan akan dasar iman yang sama sambil tetap menghormati warisan liturgis yang dijalankan oleh gereja Anglikan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendeta Mark Lewis, pemimpin jemaat St. Luke sejak tahun 2006, pada hari Minggu 9 Oktober 2011 itu, menanggalkan pakaian kebesarannya sebagai seorang imam Anglikan yang telah dijalaninya seluruh hidupnya, dan menggantinya dengan setelan jas dan dasi seorang awam. Ia duduk bersama umat gereja St. Luke di dalam<em> Crypt Church</em> di Basilika <em>National Shine of the Immaculate Conception, Washington.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kardinal Donald W. Wuerl, Uskup Agung Keuskupan Agung Washington, yang memimpin Misa penyatuan gereja St. Luke ke dalam Gereja Katolik di hari Minggu itu menyebut momen yang historis ini sebagai “suatu momen penyatuan yang penuh sukacita.” Kardinal mengatakan bahwa Keuskupan Agung Washington menghargai keterbukaan komunitas gereja St Luke terhadap bimbingan Roh Kudus di dalam perjalanan iman mereka.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kardinal Wuerl telah terus mendukung proses transisi gereja ini yang telah dilakukan secara intensif sejak bulan Juni tahun ini, sebagaimana juga Uskup Episkopal, John Bryson Chane dari Washington.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Saya sungguh merasa bersyukur secara mendalam kepada Kardinal dan kepada Uskup Chane atas dukungan mereka sepanjang proses permenungan untuk bergabung ini,” kata Pdt Lewis. “Kami juga mengharapkan untuk melanjutkan liturgi kami dalam tradisi Anglikan, sementara pada saat yang bersamaan menjadi satu kesatuan yang penuh dengan Tahta Suci Santo Petrus.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Uskup Chane mengatakan bahwa proses transisi telah dicapai ‘di dalam semangat kepekaan pastoral dan saling menghormati.’ “Umat Kristiani berpindah dari satu gereja ke gereja lain dalam frekuensi yang jauh lebih tinggi daripada di masa lalu, kadang sebagai individu, kadang dalam kelompok. Saya gembira telah dapat memenuhi kebutuhan spiritual umat dan iman gereja St. Luke dalam suatu jalan yang menghormati tradisi dan kebijakan kedua belah pihak gereja”, Uskup Chane mengatakannya dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Keuskupan Agung Washington.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hal-hal berkaitan dengan moral dan teologi telah memecah kesatuan komunitas Anglikan khususnya mengenai otoritas Injil, pentahbisan kaum homseksual dan wanita sebagai imam dan uskup, serta hal-hal yang berkaitan dengan moralitas seksual.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendeta Lewis, dalam sebuah suratnya kepada rekan-rekannya yang dimuat dalam <em>website</em>paroki, menjelaskan bahwa keputusannya untuk bergabung dengan Ordinariat bukan karena semata-mata keinginan untuk meninggalkan Anglikanisme, tetapi lebih karena kerinduannya untuk memasuki persatuan yang penuh dengan Tahta Suci Vatikan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Debat dalam tubuh gereja Episkopal dan komunitas Anglikan mengarah kepada lemahnya otoritas apostolik Anglikan dalam mempertahankan iman, menjaga persatuan, dan menyelesaikan aneka persoalan,” kata Pendeta Lewis lebih lanjut. Ia dan istrinya, Vickey, telah selalu berdoa dan mempelajari semua permasalahan ini dan mengatakan bahwa “hati kami semakin bergerak mendekat kepada Roma.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Patrick Delaney, seorang pemimpin awam paroki tersebut yang berasal dari Mitchellville, juga menyebut permasalahan seputar otoritas gereja. “Di dalam gereja Episkopal, uskup-uskup di suatu tempat mengatakan satu hal dan di tempat lain mengatakan hal yang lain,” katanya kepada <em>Washington Post</em>. “ Itulah simpul permasalahannya. Setiap uskup mempunyai kerajaannya sendiri-sendiri.” Umat telah lama merindukan suatu otoritas religius tunggal yang jelas. Dia dan umat lainnya di St Luke mengatakan bahwa mereka sangat antusias untuk mendukung penyatuan kembali gereja Anglikan ke dalam Gereja Katolik, di mana Anglikanisme memisahkan diri di tahun 1500-an. “Saya merasa semua ini mengagumkan,” kata Delaney. “Rasanya seperti memperbaiki sejarah yang telah berumur 500 tahun,” ia berharap semakin banyak usaha untuk menjembatani perpecahan yang terjadi dalam Gereja yang telah diawali dengan Reformasi Protestan di abad ke-16. Lebih lanjut ia mengatakan, “Saya merasa seperti terbang di awan,” katanya. Bagaimana perbedaan menjadi seorang Katolik? “Saya tidak tahu apakah ada suatu perasaan yang dapat dinyatakan dengan jelas,” katanya, “selain dari rasa sukacita dan perasaan bersemangat serta tanggung jawab yang serius dari semua ini. Tetapi saya tahu bahwa saya telah menjadi orang yang berbeda sekarang.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pdt. Lewis mengatakan bahwa parokinya telah lama menjalankan berbagai praktek iman Katolik, namun kini ia telah memesan patung Bunda Maria yang lebih besar. Mereka merencanakan memberikan lebih banyak pengajaran mengenai berdoa Rosario dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa, karena cukup banyak umat St. Luke yang masih perlu dibantu untuk membiasakan diri dengan hal-hal tersebut.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pendeta Lewis memohon dukungan dan doa saat dia dan umat St. Luke berupaya untuk mempertahankan warisan Anglikan dengan kesatuan dalam <em>Personal Ordinariate</em> dari Gereja Katolik Roma.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kurang lebih seratus umat dari paroki gereja St Luke, Maryland – paroki yang telah berumur 58 tahun – mendapat pengesahan untuk masuk menjadi anggota Gereja Katolik. Satu per satu, tua dan muda, orang kulit putih maupun kulit hitam, diberkati oleh Kardinal Wuerl, di dalam Misa yang dipenuhi oleh tepuk tangan sukacita.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Osita Okafor, seorang pria imigran Nigeria yang berusia 56 tahun, mendapati dirinya berada di barisan paling depan di hadapan Kardinal Wuerl untuk upacara pemberkatan. Reaksinya? “Oh, Tuhanku, pastilah aku sangat diberkati.” Seperti juga kebanyakan umat gereja St. Luke, Okafor adalah imigran dari Afrika, yaitu Nigeria. Juga banyak umat yang berasal dari Karibia.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Lewis, sang pendeta, diberkati terakhir sebagai suatu makna simbolis. “Seorang gembala yang baik harus memastikan bahwa semua kawanannya sudah selamat melewati pintu,” ujar Lewis.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kemudian, sebagaimana dilakukan umat Katolik pada hari Minggu, mereka menyatakan di hadapan seluruh umat bahwa mereka “percaya dan mengakui bahwa segala sesuatu yang diimani, diajarkan, dan dinyatakan oleh Gereja Katolik adalah hikmat yang dinyatakan oleh Allah”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“Selama ini kami telah menempatkan diri kami lebih dekat dengan teologi Katolik daripada teologi Protestan”, kata Lewis. “Jika Anda bukan seorang pelajar dari sebuah pendidikan teologi, Anda akan melihat bahwa sebenarnya tidak ada yang benar-benar berubah. Kejadian yang sebenarnya terjadi di dalam batin. Menjadi seorang Katolik Roma adalah sebuah perkembangan alamiah dari iman kami.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Suatu perubahan yang cukup tampak terjadi di bulan Juni, yaitu penambahan kata-kata “untuk Benediktus, Paus kami,” di dalam doa-doa gereja St. Luke.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Umat paroki St. Luke ini akan kembali ke Bladensburg untuk merayakan Misa mereka sendiri hari Minggu depan; di mana Misa itu akan dipersembahkan oleh Mgr. Keith Newton, seorang imam Katolik yang dulu adalah seorang uskup Anglikan, yang kini mengepalai <em>Personal Ordinariate</em> dari Inggris dan Wales – ordinariat pertama yang didirikan setelah diterbitkannya konstitusi apostolik oleh Paus Benediktus XVI.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Lewis – yang Kardinal Wuerl memanggilnya “Pendeta Mark Lewis” di awal Misa pemberkatan itu, dan kemudian menjadi hanya “Mark Lewis” di akhir Misa, sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang imam Katolik. Namun bahkan dengan proses yang dipercepat, proses itu akan memakan waktu berbulan-bulan sebelum ia dapat ditahbiskan. Atas ijin Paus memang pendeta Anglikan seperti Pdt. Lewis yang menikah dan yang sudah menjadi pendeta Anglikan sebelum penggabungan, dapat ditahbiskan menjadi imam Katolik. Namun selanjutnya, para seminarian (calon imam) berikutnya dari tradisi Anglikan ini akan mengikuti tradisi Katolik, yaitu hidup selibat sebagai imam (tidak menikah) bagi Kerajaan Allah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kardinal Wuerl akan mengumumkan dalam pertemuan para uskup seberapa besar minat yang telah ia temukan terhadap dibentuknya Ordinariat Amerika. Para otoritas berpikir bahwa minat itu sudah cukup tinggi untuk mereka membuat sebuah Ordinariat Amerika untuk para Anglikan yang akan berpindah ke Katolik, demikian <em>Washington Post</em> melaporkan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sampai sebuah Ordinariat resmi dibentuk untuk Amerika, umat St. Luke akan berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Washington.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pastor R. Scott Hurd, seorang Anglikan yang telah berpindah menjadi Katolik dan adalah asisten Kardinal Wuerl untuk melayani paroki-paroki Anglikan yang ingin bergabung dengan Gereja Katolik, akan memimpin St. Luke sampai Lewis siap. Ia juga mengkoordinasi pelaksanaan kelas-kelas pengajaran bagi komunitas St. Luke untuk menerangkan berbagai terminologi dasar dari iman Katolik.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Papan nama di depan gereja St. Luke yang semula bertuliskan “Paroki Anglikan St. Luke” telah dihapus dan sementara dibiarkan kosong, menantikan nama baru untuknya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Mari kita bersyukur memanjatkan pujian kepada Allah Bapa di Surga atas peristiwa ini. Semoga semangat persatuan, perdamaian, dan persaudaraan sejati terus berkumandang di seluruh bumi dan menyatukan anak-anak-Nya dalam kesatuan kasih-Nya yang kekal, di dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Dan mudah-mudahan kita sendiri sebagai umat Katolik makin bersemangat untuk mendalami dan mencintai iman kita kepada Tuhan dalam Gereja-Nya yang kudus, serta terus berjuang mempraktekkan iman dan kasih itu secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sumber:</span><br />
<span style="color:#000000;"> Catholic News Agency, <a href="http://www.catholicnewsagency.com/news/md.-episcopal-parish-to-join-catholic-church-through-ordinariate/"><span style="color:#000000;">klik di link ini</span></a></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Washington Post, <a href="http://www.washingtonpost.com/local/episcopal-parish-in-bladensburg-converts-to-roman-catholic-church/2011/10/09/gIQACMAfYL_story.html"><span style="color:#000000;">klik di link ini</span></a></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Diterjemahkan dan disarikan oleh:</span><br />
<span style="color:#000000;"> Triastuti- katolisitas.org</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/435/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=435&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/11/09/paroki-gereja-episkopal-st-luke-di-maryland-usa-bergabung-dalam-kesatuan-dengan-gereja-katolik-melalui-ordinariat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://katolisitas.org/wp-content/uploads/2011/10/anglikan-ke-Katolik-400x300.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">anglikan ke Katolik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aggiornamento dan Konsili Vatikan II</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/10/31/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/10/31/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 17:27:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[on Catholicism]]></category>
		<category><![CDATA[on Religions]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[VATICANUM SECUNDUM “It is not that the Gospel has changed; It is that we have begun to understand it better. Those who lived as long as I have… Were enabled to compare different cultures and traditions, And know that the moment has come To discern the signs of the times, To seize the opportunity, And [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=427&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><em>VATICANUM SECUNDUM</em></strong></h2>
<div>
<p>“<em>It is not that the Gospel has changed; </em><br />
<em>It is that we have begun to understand it better.</em><br />
<em>Those who lived as long as I have…</em><br />
<em>Were enabled to compare different cultures and traditions,</em><br />
<em>And know that the moment has come</em><br />
<em>To discern the signs of the times,</em><br />
<em>To seize the opportunity,</em><br />
<em>And to look far ahead.</em>”</p>
<p><strong><em>John XXIII</em></strong></p>
<p><strong><em>On his dying…</em></strong></p>
<p><strong>BAB I</strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>LATAR BELAKANG KONSILI VATIKAN II</strong></p>
<ul>
<li>Hubungan antar Gereja Kristen, sejak Skisma Timur, yang tidak bersahabat.</li>
</ul>
<p>Sejak terjadinya Skisma Timur, hubungan antara Gereja-Gereja Kristen menjadi renggang. Tidak tampak lagi adanya persaudaraan dan kekerabatan yang kuat. Keadaan ini menimbulkan adanya relasi yang semu di antara Gereja-Gereja Kristen. Oleh karena itu, paus terdorong untuk melakukan sesuatu demi mengatasi keadaan ini.</p>
<ul>
<li>Masalah-masalah sosial</li>
</ul>
<p>Masa pra-Konsili Vatikan II diwarnai oleh berbagai macam situasi sosial. Situasi-situasi sosial yang terjadi diantaranya ialah perubahan dari Masyarakat Agraris ke Masyarakat Industri, terpecahnya masyarakat industri di abad XIX, pertentangan antara kaum yang berpaham liberalis-kapitalis dan sosialis-komunis. Situasi-situasi yang demikian ini menjadi latarbelakang diadakannya Konsili Vatikan II yang juga membahas mengenai hubungan antara majikan dan kaum buruh.</p>
<ul>
<li>Masalah-masalah spiritual yang menjadi efek dari masalah-masalah sosial tersebut</li>
</ul>
<p>Masalah-masalah sosial yang terjadi pada masa pra-Konsili Vatikan II menimbulkan berbagai masalah spiritual. Masalah-masalah spiritual yang terjadi antara lain merosotnya iman umat, dan juga retaknya hubungan baik yang telah terjalin di antara Gereja-Gereja Kristen. Dengan kata lain di sini terjadi suatu relasi yang semu antar umat beriman Kristen satu dan yang lainnya.</p>
<ul>
<li>Pola pikir kaum klerus dalam melihat masalah-masalah sosial itu.</li>
</ul>
<p>Dalam melihat masalah-masalah sosial yang marak terjadi pada zaman itu, dalam diri para klerus muncul dua aliran. Pandangan-pandangan kaum klerus ini banyak diprakarsai oleh para uskup. Ada kaum klerus yang memandang masalah-masalah sosial itu secara konservatif. Artinya, mereka berpegang pada sikap Gereja purba yang cenderung diam terhadap masalah-masalah sosial karena trauma akan <em>Aufklarung </em>dan Revolusi Prancis. Sebaliknya, ada kaum klerus yang memandang bahwa masalah-masalah sosial yang terjadi (berupa kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin; antara pemilik modal dan kaum buruh) merupakan hal yang tidak bisa didiamkan. Bahkan mereka membela para pemilik modal yang dianggap dapat mendatangkan keuntungan (<em>benefit</em>) bagi Gereja.</p>
<ul>
<li>Perang Dunia I&amp;II serta akibatnya dan Perang Dingin</li>
</ul>
<p>Di sini akan diberikan sedikit uraian mengenai akibat-akibat yang ditimbulkan oleh Perang Dunia I dan II serta Perang Dingin yang pada ujung-ujungnya menjadi latar belakang Konsili Vatikan II.</p>
<p><strong>AKIBAT PERANG DUNIA I</strong></p>
<p>Perang Dunia I membawa dampak/akibat dalam berbagai kehidupan antara lain adanya perubahan teritorial dan munculnya paham-paham baru (bidang politik), kesengsaraan dan kemiskinan karena kehancuran perang dan munculnya gerakan emansipasi wanita (bidang sosial), adanya egoisme ekonomi yang merajalela melalui penetapan perjanjian oleh negara-negara yang menang perang terhadap negara yang kalah dan sebagai reaksinya (bidang ekonomi), dan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh peperangan menumbuhkan keinginan untuk melenyapkan peperangan dan menciptakan perdamaian yang kekal bagi umat manusia.</p>
<p><strong>AKIBAT PERANG DUNIA II</strong></p>
<p>Dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh Perang Dunia II antara lain yaitu adanya dua blok yang masing-masing dikuasai oleh dua negara <em>super power </em>yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet (bidang politik), rusaknya perekonomian dunia (bidang ekonomi) dan adanya kesengsaraan dan kemiskinan (bidang sosial).</p>
<p><strong>AKIBAT PERANG DINGIN</strong></p>
<p><strong>Dampak Positif</strong></p>
<p>Selama Perang Dingin berlangsung perkembangan IPTEK maju pesat. Selain itu, isu-isu HAM mulai sedikit demi sedikit menjadi isu yang mengglobal. Dengan adanya isu HAM ini, masyarakat semakin percaya dan mendukung adanya sistem demokrasi dan tidak ada lagi penindasan bagi kaum lemah.</p>
<p><strong>Dampak Negatif</strong></p>
<p>Perang Dingin juga membawa dampak negatif. Dengan adanya Perang Dingin, masyarakat mengalami ketakutan atau <em>trauma</em>. Dampak lainnya adalah terbaginya Jerman menjadi dua bagian yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur yang dipisahkan oleh Tembok Berlin.  Tembok ini kemudian sangat dikenal orang sebagai simbol bagi perang dingin.</p>
<ul>
<li>Gerakan aksi kaum awam yang diprakarsai oleh Leo XIII serta perkembangannya.</li>
</ul>
<p>Gerakan kaum awam ini menjadi cikal bakal terbentukanya POSPA (Pontifical Official St.Peter’s Apostle). Gerakan ini bertujuan untuk menyadarkan kaum awam bahwa misi Gereja menjadi tanggung jawab bersama. Dengan demikian, tugas perutusan Gereja bukan hanya dibebankan kepada para klerus ataupun para religius, tetapi juga kepada awam. Sebagai imbasnya, muncullah berbagai kongregasi awam, misalnya SEKAMI (Serikat Kepausan Anak Misioner). Konsili Vatikan kedua memberikan dukungan terhadap hal ini dengan mengeluarkan Apostolicam Actuositatem (AA), suatu dekrit tentang “Kerasulan Awam”.</p>
<p>Konsili ini lebih bersifat pastoral, di mana bermaksud untuk menyadari aneka masalah zaman, lalu kemudian mencari petunjuk-petunjuk konkret, bagaimana iman kristiani dapat diamalkan sebagaimana mestinya.</p>
<p>Ada tiga sasaran yang mau dicapai melalui konsili ini, yakni, pembaharuan rohani dalam terang Injil, penyesuaian dengan masa sekarang untuk menanggapi tantangan-tantangan zaman modern, dan pemulihan persekutuan penuh antara segenap umat Kristen. Dengan demikian Konsili Vatikan II mengajak Gereja untuk membuka dan membaharui diri terhadap dunia modern dan memperkenalkan cara menggereja baru yang lebih bersahabat dan mementingkan dialog.</p>
<p>Jika kita perhatikan dengan lebih jelas lagi tentang isi dari Konsili Trente dan Konsili Vatikan I dengan Konsili Vatikan II disusun dalam bahasa yang lebih preskriptif. Maksudnya adalah untuk membangun pagar atau batasan-batasan dari Gereja itu sendiri di mana terdapat hukuman-hukuman dan sanksi-sanksi bagi yang melanggarnya. Namun, tidaklah demikian dengan Konsili Vatikan II. Konsili ini hanya lebih bersifat sebagai sebuah undangan yang tidak dikenakan sanksi dan hukuman bagi pelanggarnya. Konsili ini ingin agar pesan-pesan Injil yang dikumandangkan menarik hati banyak orang justru karena pesan-pesan itu indah dan bukannya mengancam.</p>
<p>Dalam suatu suatu wawancara, mengapa konsili ini perlu diadakan, Paus Yohanes XXIII bahwa beliau ingin membuka jendela dari Gereja sehingga bisa melihat keluar, dan mereka yang ada di luar bisa melihat ke dalam. Prinsip inilah yang lebih dikenal dengan istilah “<em>Aggiornamento<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em>”</p>
<p><strong>BAB II</strong></p>
<p><strong>ISI</strong></p>
<p><strong>PAUS YOHANES XXIII, PENGGAGAS KONSILI VATIKAN II<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></strong></p>
<p>Dalam konklave tanggal 28 Oktober 1958, para kardinal memilih Kardinal Roncalli, patriark Venezia, sebagai pengganti Pius XII, paus pembela perdamaian<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn3">[3]</a>. Johanes XXIII dilahirkan di Soto il Monte pada tanggal 25 November 1881, dari keluarga petani biasa. Oleh bakatnya dan pembawaannya, beliau telah ditempatkan di dunia diplomatik. Ketika menjadi paus, beliau menggemparkan dunia dengan kerinduan hangat untuk mengadakan konsili ekumenis, di mana akan turut hadir segala wakil dari umat Kristen. Beliau mencoba mempersatukan kembali seluruh umat Kristen.</p>
<p>Paus Yohanes XXIII membuka Konsili pada 11 Oktober 1962 dalam sebuah Sidang Umum yang dihadiri oleh para Bapa Konsili dan wakil-wakil dari 86 negara dan badan-badan internasional. Setelah misa, Paus memberikan amanatnya kepada para Uskup yang berkumpul di situ. Amanat itu berjudul <em>Gaudet Mater Ecclesia</em>. Dalam pidatonya, ia menolak pemikiran mengenai para “nabi akhir zaman yang selalu meramalkan akan bencana” di dunia dan pada masa depan Gereja tersebut. Paus juga menekankan bahwa sifat Konsili adalah Pastoral (Penggembalaan), bukan Doktrinal. Ia juga memperingatkan bahwa Gereja tidak perlu mengulang maupun merumuskan kembali doktrin-doktrin dan dogmata yang telah ada, tetapi Gereja harus mengajarkan pesan-pesan Kristus dalam tren dunia modern yang cepat berubah. Ia mendesak para Bapa Gereja untuk “menunjukkan belas kasih, bukan kecaman” dalam dokumen-dokumen yang akan mereka buat.</p>
<p>Dalam lokakarya pertama mereka, dalam waktu kurang dari 15 menit, para Uskup telah mengadakan pemungutan suara atas permintaan Para Uskup Rhine mengenai agenda sidang, apakah akan mengikuti agenda yang telah dipersiapkan oleh Komisi Persiapan ataukah akan membuat sebuah agenda yang baru yang akan dibicarakan di antara para anggota Sidang terlebih dahulu, baik dalam kelompok-kelompok nasional dan regional, maupun dalam pertemuan informal. Usulan ini nampaknya cukup wajar, namun mayoritas delegasi tidak menyadari bahwa para Uskup Rhine telah mempersiapkan suatu rencana mengenai bagaimana mereka menginginkan jalannya Konsili. Dalam struktur Komisi yang baru kemudian atas usulan para Uskup Rhine, prioritas dari isu-isu yang akan dibicarakan menjadi berubah.</p>
<p><strong>KONSILI VATIKAN II<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></strong></p>
<p>Persiapan Konsili yang memakan waktu lebih dari dua tahun, dilaksanakan oleh 10 Komisi Khusus, dibantu oleh orang-orang dari media massa dan<em>Christian Unit</em>, serta sebuah Komisi Sentral sebagai koordinator keseluruhan. Komisi ini menghasilkan 987 proposal konstitusi dan dekrit (dikenal sebagai <em>schemata </em>atau <em>skema</em>) yang ditujukan untuk dimintakan persetujuan Konsili.</p>
<p>Siding-sidang umum konsili dilaksanakan pada musim gugur selama empat tahun kemudian (dalam 4 sidang) pada 1962-1965. Sidang dilaksanakan dalam Bahasa Latin di Basilika Santo Petrus, dimana diskusi dan pendapat dinyatakan sebagai “rahasia”.</p>
<p>Sebanyak 2.098 pria (dianggap para Bapa Konsili) tercatat memiliki hak suara dalam Konsili tersebut. Mereka ini termasuk seluruh Uskup dan para Superior dari ordo-ordo Religius pria. Sebanyak 2.540 orang mengambil bagian dalam Sidang Pembukaan, sehingga menjadikannya sebagai pertemuan terbesar Konsili di sepanjang sejarah Gereja.</p>
<p><strong>SIDANG-SIDANG SELAMA KONSILI<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></strong></p>
<ol>
<li>Sidang Pertama (Musim Gugur 1962)</li>
</ol>
<p>Paus Yohanes XXIII membuka Konsili pada 11 Oktober 1962 dalam sebuah Sidang Umum yang dihadiri oleh para Bapa Konsili dan wakil-wakil dari 86 negara dan badan-badan internasional. Setelah misa, Paus memberikan amanatnya kepada para uskup yang berkumpul dengan judul <em>Gaudet Mater Ecclesia</em>. Dalam pidatonya itu, ia menolak pemikiran mengenai para nabi akhir zaman yang selalu meramalkan akan bencana di dunia pada masa depan Gereja tersebut. Paus juga menekankan bahwa sifat konsili adalah pastoral, bukan doktrinal. Ia juga memperingatkan bahwa Gereja tidak perlu mengulang maupun merumuskan kembali doktrin-doktrin dan dogmata yang telah ada, tetapi Gereja harus mengajarkan pesan-pesan Kristus dalam trend dunia modern yang cepat berubah. Ia mendesak para Bapa Gereja untuk menunjukkan belas kasih, bukan kecaman dalam dokumen-dokumen yang akan mereka buat.</p>
<p>Isu-isu yang dibicarakan selama sesi-sesi sidang adalah termasuk mengenai liturgi, komunikasi misa, Gereja-gereja ritus timur, serta sumber-sumber wahyu ilahi. Skema mengenai wahyu ilahi kemudian ditolak oleh sebagian besar uskup, dan Paus Yohanes XXIII pada tanggal 3 Juni 1963. Paus Paulus VI yang dipilih pada 21 Juni 1963 segera mengumumkan bahwa konsili harus berlanjut dalam haluan yang telah ditetapkan pada sidang sebelumnya oleh Paus Yohanes XXIII.</p>
<ol>
<li>Sidang Kedua (Musim Gugur 1963)</li>
</ol>
<p>Dalam bulan-bulan sebelum sidang umum kedua, Paus Paulus melakukan sejumlah perbaikan untuk memecahkan masalah organsisasi dan prosedur yang telah ditemukan selama periode pertama. Hal ini termasuk mengundang pengamat tambahan dari kaum awam katolik dan non katolik, serta mengurangi jumlah skema yang diusulkan menjadi 17 saja. Dengan demikian keseluruhan skema menjadi lebih umum, sehingga dapat mempertahankan sifat pastoral konsili.</p>
<p>Selama sidang ini, para uskup menyetujui konstitusi tentang liturgi suci (<em>Sacrosanctum Concilium</em>) dan dekrit tentang upaya-upaya komunikasi sosial (<em>Inter Merifica</em>). Sidang dilanjutkan dengan skema mengenai Gereja, uskup dan keuskupan, serta Ekumenisme. Pada tanggal 8 November 1963, Joseph Kardinal Frings mengkritik konggregasi untuk doktrin iman dan segera dibalas dengan pembelaan diri yang berapi-api dari sekertaris badan tersebut, Alfredo Kardinal Ottaviani. Silang pendapat ini dianggap sebagai kejadian paling dramatis selama konsili.</p>
<ol>
<li>Sidang Ketiga (Musim Gugur 1964)</li>
</ol>
<p>Diantara periode sidang kedua dan ketiga, proposal skema direvisi kembali  berdasarkan komentar-komentar dari Bapa Konsili. Sejumlah topik dikurangi menjadi usulan pernyataan fundamental untuk disetujui dalam sidang ketiga, dengan komisi pasca konsili yang akan menangani implementasi peraturan-peraturan tersebut. Delapan pengamat religius wanita dan tujuh wanita awam diundang dalam sidang ketiga bersama-sama dengan undangan tambahan pria awam. Keputusan konsili untuk mengundang awam didasari oleh alasan yang berkenaan dengan tujuan konsili yaitu untuk membuat Gereja membuka diri bagi dunia, termasuk bagi peran kaum awam. Selain itu, kaum awam diundang pada sidang ketiga ini dengan satu alasan praktis yaitu bahwa dekrit Apostolicam Actuositatem (Dekrit tentang Kerasulan Awam) akan dibicarakan dalam sidang ini.</p>
<p>Selama sidang yang dimulai pada tanggal 14 September 1964 ini, para Bapa Konsili mengerjakan sejumlah besar proposal. Skema mengenai ekumenisme (<em>Unitatis Redintegratio</em>), Gereja-gereja katolik ritus timur (<em>Orientalium Ecclesiarum</em>), serta Konstitusi tentang Gereja (<em>Lumen Gentium</em>), disetujui dan diumumkan secara resmi oleh paus.</p>
<p>Paus Paulus menutup sidang ketiga pada tanggal 21 November 1964 dengan mengumumkan tata cara ekaristi dan secara resmi mengumumkan Maria sebagai Bunda Gereja, seperti yang telah sering diajarkan.</p>
<ol>
<li>Sidang Keempat (Musim Gugur 1965)</li>
</ol>
<p>Paus Paulus membuka sidang terakhir ini pada tanggal 14 September 1965 dengan mengadakan sebuah konferensi para uskup. Struktur yang lebih permanen ini ditujukan untuk mempertahankan kerja sama yang erat antara para uskup dengan paus setelah konsili berakhir. Urusan pratama dalam sidang keempat ialah, pertimbangan mengenai dekrit kebebasan beragama yang merupakan dekrit paling kontroversial diantara semua dokumen konsili. Pekerjaan utama selama sisa periode sidang adalah untuk tiga buah dokumen yang seluruhnya disetujui oleh Bapa Konsili. Dokumen konstitusi Gereja di dunia dewasa ini (<em>Gaudium et Spes</em>) dengan revisi-revisi pastoral dan menghasilkan dokumen yang lebih meluas, diikuti oleh dekrit tentang kegiatan missioner Gereja (<em>Ad Gentes</em>) dan dekrit tentang pelayanan dan kehidupan para imam (<em>Presbyterorum Ordinis</em>).</p>
<p>Konsili juga menyetujui dokumen-dokumen yang telah dibicarakan dalam sidang-sidang sebelumnya; termasuk dekrit tentang tugas pastoral para uskup dalam gereja (<em>Christus Dominus</em>), dekrit tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup religius (<em>Perfectae Caritatis</em>), dekrit tentang pembinaan imam (<em>Optatam Totius</em>), pernyataan pendidikan Kristen (<em>Gravissimum Educationis</em>), serta dekrit kerasulan awam (<em>Apostolicam Actuositatem</em>).</p>
<p><strong>DOKUMEN-DOKUMEN KONSILI VATIKAN II<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="35">No.</td>
<td valign="top" width="131">Nama Dokumen</td>
<td valign="top" width="107">Jenis</td>
<td valign="top" width="166">Mengenai</td>
<td valign="top" width="129">Diumumkan Pada</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">1.</td>
<td valign="top" width="131">Sacrosanctum Concilium</td>
<td valign="top" width="107">Konstitusi</td>
<td valign="top" width="166">Liturgi Suci</td>
<td valign="top" width="129">Sidang II (4 Desember 1963)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">2.</td>
<td valign="top" width="131">Inter Mirifica</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Upaya-Upaya Komunikasi Sosial</td>
<td valign="top" width="129">Sidang II (4 Desember 1963)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">3.</td>
<td valign="top" width="131">Lumen Gentium</td>
<td valign="top" width="107">Konstitusi Dogmatis</td>
<td valign="top" width="166">Gereja</td>
<td valign="top" width="129">Sidang III (21 November 1964)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">4.</td>
<td valign="top" width="131">Orientalium Ecclesiarum</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur</td>
<td valign="top" width="129">Sidang III (21 November 1964)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">5.</td>
<td valign="top" width="131">Unitatis Redintegratio</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Ekumenisme</td>
<td valign="top" width="129">Sidang III (21 November 1964)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">6.</td>
<td valign="top" width="131">Christus Dominus</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Tugas Pastoral Para Uskup dalam Gereja</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (28 Oktober 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">7.</td>
<td valign="top" width="131">Perfectae Caritatis</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Pembaharuan dan Penyesuaian Hidup Religius</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (28 Oktober 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">8.</td>
<td valign="top" width="131">Optatam Totius</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Pembinaan Imam</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (28 Oktober 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">9.</td>
<td valign="top" width="131">Gravissimum Educationis</td>
<td valign="top" width="107">Pernyataan</td>
<td valign="top" width="166">Pendidikan Kristen</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (28 Oktober 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">10.</td>
<td valign="top" width="131">Nostra Aetate<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn7">[7]</a></td>
<td valign="top" width="107">Pernyataan</td>
<td valign="top" width="166">Hubungan Gereja dengan Agama-Agama bukan Kristiani</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (28 Oktober 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">11.</td>
<td valign="top" width="131">Dei Verbum</td>
<td valign="top" width="107">Konstitusi Dogmatis</td>
<td valign="top" width="166">Wahyu Ilahi</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (18 November 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">12.</td>
<td valign="top" width="131">Apostolicam Actuositatem</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Kerasulan Awam</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (18 November 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">13.</td>
<td valign="top" width="131">Dignitatis Humanae</td>
<td valign="top" width="107">Pernyataan</td>
<td valign="top" width="166">Kebebasan Beragama</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (7 Desember 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">14.</td>
<td valign="top" width="131">Ad Gentes</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Kegiatan Misioner Gereja</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (7 Desember 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">15.</td>
<td valign="top" width="131">Presbyterorum Ordinis</td>
<td valign="top" width="107">Dekrit</td>
<td valign="top" width="166">Pelayanan dan Kehidupan para Imam</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (7 Desember 1965)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="35">16.</td>
<td valign="top" width="131">Gaudium et Spes</td>
<td valign="top" width="107">Konstitusi Pastoral</td>
<td valign="top" width="166">Gereja di Dunia Dewasa ini</td>
<td valign="top" width="129">Sidang IV (7 Desember 1965)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>PEMBAHARUAN-PEMBAHARUAN OLEH KONSILI VATIKAN II</strong></p>
<p>Dengan mottonya <em>Aggiornamento</em>, Konsili Vatikan II menghasilkan berbagai pembaharuan di dalam Gereja. Pembaharuan-pembaharuan tersebut membawa gereja pada suatu keadaan berani untuk membuka diri bagi keadaan dunia dewasa ini. Pembaharuan-pembaharuan yang terjadi di dalam Gereja, senantiasa mendukung kemajuan gereja dalam dunia dewasa ini.</p>
<ol>
<li>Pembaharuan Dalam Bidang Liturgi<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
<p>Salah satu isu pertama yang dipertimbangkan dalam konsili dan masalah yang segera memiliki efek terhadap kehidupan individu katolik adalah revisi atas liturgi/tata cara ibadat. Gagasan umumnya diambil dari konstitusi tentang liturgi suci: “Bunda Gereja sangat menginginkan supaya semua orang percaya dibimbing ke arah keikutsertaan yang sepenuhnya ke dalam perayaan-perayaan liturgis. Keikutsertaan seperti ini sesungguhnya dituntut oleh liturgi sendiri. Kaum kristiani yang telah dibaptis adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Pet. 2:9;2:4-5); dan oleh karenanya keikutsertaan dalam liturgi menjadi hak dan kewajiban mereka”.</p>
<p>Impelementasi dari perintah konsili mengenai liturgi dilaksanakan melalui sebuah komisi kepausan khusus dibawah otoritas Paus Paulus VI (yang kemudian menjadi satu dalam konggregasi untuk ibadat ilahi dan ketertiban sakramen) dan oleh konfrensi nasional masing-masing keuskupan yang diharapkan untuk berkolaborasi membentuk sebuah penerjemahan bersama.</p>
<p>Warna dasar pembaharuan liturgi Konsili Vatikan II terletak pada kata kunci <em>participatio actuosa, </em>yang mencita-citakan suatu liturgi yang dipahami umat secara sadar dan yang melibatkan umat secara aktif.</p>
<p>Liturgi Gereja yang memungkinkan peran serta umat yang sadar dan aktif itu tampak dalam aneka pernyataan Konsili Vatikan II:<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn9">[9]</a></p>
<p>*         Liturgi kini mendapat tempat istimewa dalam Gereja. Liturgi merupakan puncak dan sumber kehidupan Gereja (SC 10). Liturgi juga merupakan kegiatan suci, di mana tidak ada tindakan Gereja lainnya yang dapat menandingi daya dampaknya dalam tingkatan yang sama (SC 7).</p>
<p>*         Peran serta yang sadar dan aktif dituntut dalam perayaan liturgi (SC 14).</p>
<p>*         Penghargaan tinggi terhadap ilmu liturgi dan pendidikan liturgi (SC 15-19).</p>
<p>*         Pembaharuan liturgi di berbagai bidang dan unsurnya (SC 21-40). Secara khusus tempat Kitab Suci di dalam liturgi kembali ditonjolkan (SC 24;35); ditekankan pula sifat kebersamaan liturgi (SC 26), penyederhanaan upacara-upacara liturgi (SC 34), penyesuaian liturgi dengan tabiat, perangai dan tradisi bangsa-bangsa (SC 37- 40) dan dimungkinkannya penggunaan bahasa pribumi dalam liturgi (SC 36).</p>
<p>Selain itu, Paus Paulus VI juga membentuk komisi dan kepanitiaan yang membahas buku-buku liturgi baru, sebagaimana diamanatkan dalam konsili. Hasil terpenting ialah <em>Missale Romanum </em>yang baru yang diberlakukan sejak tahun 1970, sebagai ganti <em>Missale Romanum Pius V </em>yang sudah dipakan selama 400 tahun. Di samping itu, juga diterbitkan <em>Liturgia horarum, </em>4 volume, tahun 1971-1973, dan <em>Calendarium Romanum </em>tahun 1969 serta berbagai buku liturgi aneka sakramen dan pemberkatan lain.</p>
<ol>
<li>Injil dan Wahyu Ilahi<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn10">[10]</a></li>
</ol>
<p>Konsili menghendaki pemulihan kembali peranan sentral injil dalam kehidupan keagamaan dan devosi dari gereja, yang dibangun atas dasar hasil karya para paus sebelumnya dalam usaha membentuk suatu pendekatan modern atas analisa dan interpretasi injil. Sebuah pendekatan baru untuk interpretasi injil disetujui oleh para uskup. Gereja secara berkelanjutan harus menyediakan terjemahan Kitab Suci dalam bahasa ibu para kaum percaya. Lebih jauh, kaum imam dan awam harus menjadikan studi Kitab Suci sebagai gaya hidup mereka. Hal ini menegaskan kembali pentingnya Kitab Suci seperti diperlihatkan dalam Providentisimus Deus oleh Paus Leo XIII dan tulisan-tulisan para santo, pujangga Gereja, dan para paus selama sejarah Gereja; sekaligus menyetujui interpretasi injil yang dipelajari secara histories sebagaimana ensiklik Paus Pius XII pada tahun 1943, <em>Divino Afflante Spritu</em>.</p>
<ol>
<li>Para Uskup<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn11">[11]</a></li>
</ol>
<p>Peranan para uskup dalam gereja, juga diperbaharui maknanya, khususnya sebagai kumpulan dewan yang meneruskan pengajaran para rasul dan memimpin gereja. Eksistensi dewan ini hanyalah jika berada di bawah penerus St. Petrus. Dengan demikian, konsili memberikan kepada Gereja dua sifat kepemimpinan yang terpisah yaitu dewan para uskup dan paus. Hal ini diperjelas dalam catatan penjelasan pendahuluan yang ditambahkan kepada konstitusi dogmatis tentang gereja (<em>Lumen Gentium</em>) dan dicetak pada akhir naskah tersebut. Catatan ini menerangkan: “tentang dewan (Collegium)” yang tidak dapat tanpa kepala,… dan di dalam dewan itu, kepalanya tetap menjalankan tugas seutuhnya, selaku wakil Kristus dan gembala gereja semesta. Dengan kata lain, cara pandang atas pembedaan bukanlah antara paus (di satu pihak) dan dewan para uskup (di pihak lain), melainkan antara paus (sebagai dirinya sendiri) dan paus bersama para uskup.</p>
<p>Diberbagai negara para uskup telah memiliki konferensi regular untuk mendiskusikan masalah-masalah bersama. Konsili mewajibkan penetapan konferensi episkopal dan mempercayakan kepada mereka tanggung jawab untuk melaksanakan adaptasi yang diperlukan terhadap norma-norma umum kondisi setempat.</p>
<p><strong>BAB III</strong></p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><strong>DAMPAK KONSILI VATIKAN II</strong></p>
<p>Sebagai peristiwa, konsili mempunyai pengaruh yang besar sekali. Dalam kenangan gereja, konsili merupakan pengalaman pertama pelaksanaan kolegial kewibawaan tertinggi gerejawi. Gereja yang sampai saat itu sering membanggakan sifatnya yang tetap atau tak berubah, menjalani evaluasi diri yang mendalam dan bersifat kritis terhadap dirinya. Banyak sikap-sikap dan strategi-strateginya ditinjau kembali dan ditantang dalam terang injil dan dalam konfrontasi dengan kebutuhan-kebutuhan zaman sekarang.</p>
<p>Gejala itu berkelanjutan di masa pasca konsili. Perubahan-perubahan yang paling menonjol terjadi dalam liturgi. Sebab Paus Paulus VI tidak hanya menghendaki supaya seruan konsili untuk membaharui diri dilaksanakan sepenuhnya, tapi bahkan upaya pembaharuan itu lebih jauh lagi dari apa yang diharapkan konsili. Dipelbagai bidang kehidupan gereja disetujui usaha-usaha pembaharuan: hubungan-hubungan antara klerus dan awam, antara uskup dan para imam, antara Roma dan gereja-gereja setempat, antara umat katolik dan umat beragama lain dan sebagainya. Usaha-usaha pembaharuan yang resmi direstui dan didukung dengan gerakan-gerakan yang penuh semangat di kalangan umat. Di antara gerakan-gerakan itu ada yang menanggapi seruan konsili dan serasi dengan usaha-usaha pembaharuan yang resmi. Ada pula yang bersifat lebih radikal dari apa yang digambarkan ataupun yang diperintahkan oleh konsili.</p>
<p>Dua puluh tahun sesudah konsili masih berlangsunglah suatu diskusi yang hangat baik tentang makna konsili maupun tentang nilai dari apa yang terjadi sejak saat itu. Pada garis besarnya terdapat tiga tafsiran. Pandangan yang progresif menganggap bahwa konsili merupakan momen yang sudah sangat terlambat bagi gereja yang terlanjur sudah tidak relevan lagi, yang akhirnya mau menatap tantangan-tantangan zaman modern. Pandangan yang tradisional menyepakati bahwa konsili mengakibatkan perubahan-perubahan yang cukup besar, tetapi apa yang oleh kelompok yang progresif tadi disambut baik oleh kelompok tradisional dianggap suatu “kapitulasi”<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn12">[12]</a> gereja yang patut disayangkan terhadap prinsip-prinsip dan gerakan-gerakan yang sebelum itu dengan tepat ditentangnya sesudah revolusi Prancis. Kedua pandangan itu sepakat melihat makna konsili yang cukup berbobot, sungguh pun keduanya sama sekali tidak setuju dalam cara mereka menilai perkembangan itu. Kelompok “Jalan Tengah” sendiri mempertahankan bahwa apa yang dimaksudkan oleh para Bapa Konsili sendiri sebagai usaha pembaharuan mempunyai dampak yang cukup revolusioner. Secara khas mereka menunjuk kepada sifat konsili yang terbuka terhadap perwujudan gereja dalam dunia modern.</p>
<p>Perdebatan itu tidak menampakkan tanda-tanda apakah sebenarnya konsili itu, betapa relevan dan berjasanya konsili bagi gereja hanya dapat ditentukan dalam rangka penerimaannya oleh gereja semesta. Agaknya dua dasawarsa masih terlampau singkat untuk mengadakan evaluasi final tentang Konsili Vatikan II. Banyak unsur ajaran konsili telah diterima dan dipraktekkan dalam kalangan gereja. Unsur-unsur lain sekarang pun masih perlu dilaksanakan. Tetapi sudah jelaslah bahwa Konsili Vatikan II merupakan titik balik dalam sejarah dunia modern Gereja Katolik, suatu momen dalam proses gereja mewujudkan diri secara nyata, proses yang baru yang mulai menampilkan kesungguhan dan kekuatannya.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<p>Konsili Vatikan II merupakan konsili yang menghasilkan banyak pembaharuan dalam Gereja Katolik. Pembaharuan-pembaharuan itu senantiasa mendukung kehidupan gereja dalam dunia dewasa ini. Banyak hal yang telah diputuskan selama konsili dan itu semua menghasilkan sesuatu yang berguna bagi perkembangan gereja di masa sekarang ini. Konsili Vatikan II dikatakan menjadi jalan pertemuan antara Gereja Barat dan Gereja Timur<a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftn13">[13]</a>.<em>Aggiornamento </em>Konsili Vatikan II tampak perwujudannya dalam berbagai bidang, misalnya liturgi suci, mengenai peranan Injil dan wahyu ilahi dan mengenai peranan para uskup. Pada intinya, Konsili Vatikan II telah memberikan banyak pembaharuan dalam Gereja Katolik, terutama menyatakan kesediaan gereja katolik untuk membuka diri bagi dunia.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Buku:</p>
<p>*         Embuiru, H., SVD. <em>GEREJA SEPANJANG MASA SEKSI III &amp; IV.</em></p>
<p>*         Helwig, W.L. <em>SEJARAH GEREJA KRISTUS. </em>Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1974.</p>
<p>*         Martasudjita, E., Pr. <em>Pengantar Liturgi. </em>Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 2006.</p>
<p>Sumber Internet:</p>
<p>*         <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konsili">http://id.wikipedia.org/wiki/Konsili</a> Vatikan II</p>
<p>*         <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paus">http://id.wikipedia.org/wiki/Paus</a> Yohanes XXIII</p>
<hr size="1" />
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref1">[1]</a> Aggiornamento artinya “membuka jendela”. Dengan arti etimologi ini, istilah <em>aggiornamento</em> yang dikeluarkan oleh Paus Paulus VI ini bermakna bagi Gereja yaitu untuk membuka diri terhadap keadaan dunia dewasa ini dan terbuka juga terhadap perkembangan-perkembangan di dalamnya.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref2">[2]</a> Bdk. <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paus">http://id.wikipedia.org/wiki/Paus</a> Yohanes XXIII</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref3">[3]</a> H.Embuiru, <em>GEREJA SEPANJANG MASA SEKSI III &amp; IV, </em>hlm.179.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref4">[4]</a> Bdk. <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konsili">http://id.wikipedia.org/wiki/Konsili</a> Vatikan II, hlm.1.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref5">[5]</a> Bdk. <em>Ibid.,</em> hlm. 2-4.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref6">[6]</a> <em>Ibid., </em>hlm.5.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref7">[7]</a> Dokumen ini merupakan dokumen yang kontroversial. Ini disebabkan oleh paham “<em>Extra Ecclesiam Nulla Salus” </em>yang telah lama ada dalam Gereja Katolik dan menjiwai seluruh umat Katolik. Namun, Konsili Vatikan II tidak bermaksud menghilangkan paham ini dalam tubuh Gereja Katolik, tetapi mempertegas penekanannya. Konsili Vatikan II mengubah pandangan itu. Bukan <em>extra ecclesiam, </em>tetapi <em>extra Christum. </em>Maka, Gereja sendiri mengakui bahwa dalam agama-agama lain, Allah juga berkarya.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref8">[8]</a> Bdk. id.wikipedia.org/wiki/Konsili-Vat-II,  hlm. 6</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref9">[9]</a> E. Martasudjita, <em>Pengantar Liturgi </em>(Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm.75-76.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref10">[10]</a> Bdk. <em>Ibid.,</em> hlm. 7.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref11">[11]</a> <em>Ibid.,</em>hlm. 7.</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref12">[12]</a> Kekalahan (dalam perang, misalnya).</p>
<p><a href="http://zeptiano.wordpress.com/about/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/#_ftnref13">[13]</a> Bdk. H. Embuiru, <em>GEREJA SEPANJANG MASA SEKSI III DAN IV, </em>hlm. 267.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=427&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/10/31/aggiornamento-dan-konsili-vatikan-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Vaya Con Dios, Om Roy” – In Memoriam Bpk Roy Setjadi</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/09/13/%e2%80%9cvaya-con-dios-om-roy%e2%80%9d-%e2%80%93-in-memoriam-bpk-roy-setjadi/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/09/13/%e2%80%9cvaya-con-dios-om-roy%e2%80%9d-%e2%80%93-in-memoriam-bpk-roy-setjadi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 18:09:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[“Vaya Con Dios, Om Roy” – In Memoriam Bpk Roy Setjadi Ketika dikabari Pak Roy Setjadi telah berpulang pada hari minggu malam 28 Agustus 2011, rasanya seperti tidak percaya.  Karena beliau dijadwalkan mengajar Evangelii Nuntiandi untuk kelas kami bulan Oktober nanti.  Masih teringat ketika beliau mengajar KEP dan SHDRK di paroki kami.  Galak. Itulah kesan pertama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=417&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>“<a title="Read Vaya Con Dios, Om Roy – In Memoriam Bpk Roy Setjadi" href="http://ratnaariani.wordpress.com/2011/09/02/vaya-con-dios-om-roy-in-memoriam-bpk-roy-setjadi/">Vaya Con Dios, Om Roy” – In Memoriam Bpk Roy Setjadi</a></strong></p>
<p><a href="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/09/roy-setjadi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-418" title="roy setjadi" src="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/09/roy-setjadi.jpg?w=590" alt=""   /></a>Ketika dikabari Pak Roy Setjadi telah berpulang pada hari minggu malam 28 Agustus 2011, rasanya seperti tidak percaya.  Karena beliau dijadwalkan mengajar Evangelii Nuntiandi untuk kelas kami bulan Oktober nanti.  Masih teringat ketika beliau mengajar KEP dan SHDRK di paroki kami.  Galak. Itulah kesan pertama saya.  Orangnya bertubuh besar dan gagah.  Suaranya keras saat memberikan renungan atau pengajaran.  Dan pengajarannya sewaktu di KEP topik-nya berat. Evangelii Nuntiandi.  Tapi pernah saya berkesempatan mengantar beliau pulang ke rumahnya di kawasan Tanah Abang dekat Cideng.  Dan disepanjang perjalanan pulang beliau menjelaskan &amp; membagikan kami beberapa hal pengajaran gereja dengan ramah.</p>
<p>Terima kasih Pak Roy untuk kesediaanmu membimbing kami.   Terimakasih untuk pelayananmu dalam keluarga Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik.  Tugas kami sekarang meneruskan semangat pewartaan Pak Roy dengan segala kesetiaan &amp; keteguhan iman.  Bapak di surga, terimalah Pak Roy dalam pelukan kasihMu.</p>
<p>Berikut ini saya bagikan sharing Bu Monica Mei Fung yang lebih dekat lagi mengenal Pak Roy.  Sharing yang sangat personal, menyentuh dan sangat meneguhkan terutama untuk kami yang masuk belakangan dalam keluarga Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik.  100% Karismatik. 100% Katolik.</p>
<p>(Merenungkan 35 Tahun PKK dalam kepergian Pak Roy)<br />
Tawar-menawar dan kesepakatan antara Romo Sugiri SJ dan Pak Roy Setjadi, sesudah mereka berdua mengikuti Seminar Hidup Baru dalam Roh di Katedral oleh Pastor O&#8217;Brian SJ dan Pastor Heribert Schneider SJ dari Manila (atas undangan Alm Mgr Leo Soekoto SJ), melahirkan PDKK pertama di Jakarta pada tahun 1976 yaitu PDKK St. Petrus &amp; Paulus, Mangga Besar. Keduanya (Romo Sugiri dan Pak Roy) nampaknya bukan sekedar &#8220;mengikuti&#8221; SHDR namun menerima pangalaman pencurahan Roh Kudus, yang mengobarkan kembali api cinta di hati mereka sehingga mereka mau bertekun membimbing umat yang hadir dalam PDKK setiap hari Rabu di Paroki Mangga Besar waktu itu.</p>
<p>Dalam pandangan banyak orang, deal antara Romo Sugiri dan Pak Roy (saya masih berat menaruh kata &#8220;Almarhum&#8221; disamping nama Pak Roy) barangkali dianggap kejadian biasa. Namun dalam perspektif sejarah PKK di KAJ itu merupakan peristiwa yang menancapkan tonggak penting yang tidak pantas untuk dilupakan.</p>
<p>Tahun 1989 ketika ada badai dan arus kuat dimana beberapa tokoh penting PKK &#8220;hijrah&#8221; dari Gereja Katolik menuju &#8220;Sungai Y……&#8221;, Pak Roy termasuk satu dari sedikit tokoh yang rela bertahan dan setia kepada Gereja, meskipun seribu satu tawaran sukses dan bujuk rayu memikat bertubi-tubi menghampirinya. Ia memilih untuk tetap menjadi orang yang setia dan sederhana. Kesetiaannya yang tuntas tercermin dalam update status bbm-nya : &#8220;SETIA SAMPAI AKHIR&#8221;. Siapa yang menyangka, bahwa spirit itulah yang rupanya ia jadikan warisan utama dalam mudiknya ke Surga yang amat mendadak.</p>
<p>Bersama Romo Sugiri dan ditemani istrinya, Ibu Winny, beliau ikut berjuang dan bekerja keras mencurahkan segala yang ia bisa berikan bagi kemajuan PKK, sampai kemudian menjadi Koordinator ke 3 PKK KAJ (tahun 1992-1998), sesudah Alm Bpk Abdisa dan Bpk Emile Masbrata.</p>
<p>Pada masa Pak Roy menjadi Koordinator, PKK mengalami perkembangan yang sangat berarti. Titik-titik yang mendapat perhatiannya secara istimewa, telah ikut memberi warna dan kekhasan tersendiri bagi PKK di KAJ waktu itu: evangelisasi, JOD, pujian dan penyembahan, konseling.</p>
<p>Kemarin pagi saya terkenang sebuah lagu pujian yang sangat ia sukai dari Mazmur 100. Terbayang bagaimana beliau menyanyikannya dengan riang, senyum gembira dan sangat hidup dalam permainan gitarnya:</p>
<p>1. Bersorak-sorai bagi Tuhan<br />
Hai seluruh bumi.<br />
Beribadahlah bagi Tuhan<br />
Dengan sukacita.</p>
<p>Refr :<br />
Datanglah padaNya<br />
Pujilah NamaNya<br />
Dia yang menjadikan kita<br />
MilikNya-lah kita</p>
<p>2. Masuk lewat pintu gerbangNya<br />
Dengan nyanyian syukur<br />
Dan ke dalam pelataranNya<br />
Dengan puji-pujian</p>
<p>Refr :<br />
Bersyukur padaNya<br />
Pujilah NamaNya<br />
Sebab kasih setia Tuhan<br />
Untuk selamanya</p>
<p>Lagu ini juga selalu ada di hati saya.<br />
Dan saya membayangkan bagaimana Pak Roy bukan hanya telah menghidupkan lagu ini sebagai sumber semangat dan sumber harapan di hati banyak orang, namun ia sendiri kini telah masuk dalam kepenuhan realitas dari seluruh kata dan keindahan yang tertuang dalam lagu pujian Mazmur 100 itu.</p>
<p>Di awal tahun 2011, saya sempat mengadakan refleksi : ini adalah tahun Lustrum PKK ke 7 di KAJ. Akan ada perayaan apa ya ? Selama 8 bulan penuh saya menunggu-nunggu. Kini pertanyaan refleksiku telah dijawab oleh Tuhan : ada sorak-sorai dan perayaan besar-besaran di Surga, untuk seorang hamba terbaik bagi perkembangan PKK di KAJ, yang diberi kehormatan untuk memasuki Rumah Bapa melalui Pintu Gerbang dan Pelataran Surga. Pak Roy telah dipilih untuk mewakili seluruh pejuang, pewarta, pengajar, konselor dan aktivis PKK di KAJ, merayakan ibadah sempurna bagi Tuhan, dengan kepenuhan sukacita Surgawi.</p>
<p>Saya pribadi tidak begitu banyak bekerjasama dengan Pak Roy, namun ada perasaan dekat dan perasaan kehilangan yang mendalam, karena saya mengenal beliau sejak kecil di usia 14 thn (sejak 1979 di PDKK Mangga Besar) dan kemudian dalam beberapa event menemani Rm Sugiri untuk pelayanan di PKK. Beberapa kali kami berteam memberi retret dan pembinaan di luar kota bersama Romo Sugiri dan Ibu Winny. Itu sudah lama sekali.</p>
<p>Selain kesetiaan dan kesederhanaannya, yang saya kagumi dari Pak Roy adalah kerendahan hatinya. Meskipun usia kami terpaut 22 tahun (seperti bapa dan anak ya) ia tidak segan untuk memperlihatkan sikap respeknya terhadap saya sebagai sesama pewarta dan pengajar di SEP.</p>
<p>Saya kehilangan seorang teman diskusi yang berani dan blak-blakan. Dengan senyum di balik kumis dan sikap sinisnya, ia pernah tanya kepada saya : &#8220;Ngapain luh pakai belajar teologi segala, emangnya bisa berbuat apa untuk memperbaiki Gereja?&#8221;. Dengan spontan saya jawab ; &#8220;Om, gue belajar teologi bukan untuk membenahi Gereja, tapi syukur2 dan minimal bisa untuk membenahi diri sendiri, memperbaiki pewartaan dan pengajaran gue, supaya gak ngawur2an dan sembarangan ngomong.&#8221; Lalu kami tertawa bersama2 dan omong2 soal Gereja Pasca Konsili Vatikan II.. Itu diskusi di meja makan di sebuah restoran ketika memenuhi undangan Bu Leny untuk merayakan SinChia tahun lalu bersama Kelasi..</p>
<p>Setia, sederhana, rendah hati, kritis, suka belajar, adalah keutamaan2 yang telah diwariskan oleh Pak Roy kepada kita semua.. Mari kita menimba warisannya, agar dalam sejumlah keutamaan itu kita dimampukan untuk mencintai dan melayani banyak orang&#8230; Tadi pagi di Oasis Lestari, putri Pak Roy (Diana) mengakui dengan jujur tentang ayahnya : &#8220;&#8230;..banyak luka batinnya, tetapi mencintai dan dicintai banyak orang&#8221;. Itulah gambaran kesempurnaan dan kepenuhan cinta Tuhan di dalam dan melalui kita manusia yang lemah dan rapuh. Terpujilah Nama Tuhan !</p>
<p>Akan tetapi, di balik kehilangan Pak Roydi tahun ke 35 PKK di KAJ ini, pada hari Pentakosta yang baru lalu, kita dianugerahi seorang Moderator baru yang bertempat-tinggal di Paroki Mangga Besar, tempat PDKK pertama kali lahir, yang dari situ kemudian membakar semangat pembaharuan ke seluruh Jakarta dan juga Indonesia. Suatu kebetulan kah ?? Semoga ada gerakan dan semangat kembali kepada cinta mula-mula melalui dan dalam bimbingan Moderator baru yang dipercayakan Tuhan kepada kita semua&#8230;</p>
<p>Vaya con Dios, Om Roy.<br />
Kuharap kamu tetap mendoakan Gereja yang dalam keprihatinanmu perlu diperbaiki terus-menerus (Ecclesia semper reformanda!).</p>
<p>Selamat menikmati Pintu Gerbang dan Pelataran Rumah Tuhan dengan puji-pujian. Doa-doa dan cinta kami menghantarmu untuk masuk penuh ke Rumah Bapa..</p>
<p>Salam dan doaku,<br />
MF.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/417/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/417/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/417/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=417&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/09/13/%e2%80%9cvaya-con-dios-om-roy%e2%80%9d-%e2%80%93-in-memoriam-bpk-roy-setjadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/09/roy-setjadi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">roy setjadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Sorga Seumpama Harta, Mutiara, dan Pukat</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/27/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/27/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 16:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/27/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Sorga Seumpama Harta, Mutiara, dan Pukat PEMBAHASAN I. Kerajaan Sorga adalah segalanya. II. Telaah Matius 13:44-52 III. Interpretasi ayat Matius 13:44-52 1. Tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga 2. Harta di ladang, harta yang terpendam (ay.44) 3. Mutiara yang indah dan tak ternilai (ay.45-46) 4. Pukat yang menangkap ikan yang baik dan yang tidak baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=416&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:16pt;">Kerajaan Sorga Seumpama Harta, Mutiara, dan Pukat<br />
</span></p>
<p style="margin-left:2pt;"><a href=";"><span style="color:#777777;font-family:Arial;font-size:10pt;text-decoration:underline;"><strong>PEMBAHASAN</strong></span></a><span style="color:#222222;font-family:Arial;font-size:8pt;"><br />
		</span></p>
<ul>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="I. Kerajaan Sorga adalah segalanya."><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;"><strong>I. Kerajaan Sorga adalah segalanya.</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong><br />
				</strong></span></li>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="II. Telaah Matius 13:44-52"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;"><strong>II. Telaah Matius 13:44-52</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong><br />
				</strong></span></li>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="III. Interpretasi ayat Matius 13:44-52"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;"><strong>III. Interpretasi ayat Matius 13:44-52</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong><br />
				</strong></span></li>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="1. Tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;">1. Tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><br />
			</span></li>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="2. Harta di ladang, harta yang terpendam (ay.44)"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;">2. Harta di ladang, harta yang terpendam (ay.44)</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><br />
			</span></li>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="3. Mutiara yang indah dan tak ternilai (ay.45-46)"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;">3. Mutiara yang indah dan tak ternilai (ay.45-46)</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><br />
			</span></li>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="4. Pukat yang menangkap ikan yang baik dan yang tidak baik (ay.47-50)"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;">4. Pukat yang menangkap ikan yang baik dan yang tidak baik (ay.47-50)</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><br />
			</span></li>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="5. Perutusan (ay.51-52)"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;">5. Perutusan (ay.51-52)</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><br />
			</span></li>
<li><a href="http://katolisitas.org/2011/07/20/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/" title="IV. Pemberian diri untuk membangun Kerajaan Sorga"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:8pt;text-decoration:underline;"><strong>IV. Pemberian diri untuk membangun Kerajaan Sorga</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong><br />
				</strong></span></li>
</ul>
<p><img src="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/07/072711_1643_kerajaansor1.jpg?w=590" alt="" /><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;font-size:10pt;"><br />
		</span></p>
<p><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;font-size:10pt;">I. Kerajaan Sorga adalah segalanya.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Pada minggu ke-17 tahun A ini, Gereja memberikan bacaan tiga perumpamaan terakhir tentang Kerajaan Sorga, yang diumpamakan seperti seorang yang menjual segala yang dia punyai demi memiliki harta dan mutiara yang berharga. Dengan demikian kita melihat bahwa Kerajaan Sorga adalah sesuatu yang sudah seharusnya menjadi fokus utama dan tujuan dari kehidupan kita. Hal-hal yang lain dianggap sebagai kurang penting, atau dengan kata lain, hal-hal yang bersifat kekal seharusnya dipandang lebih utama daripada hal-hal yang sementara.<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;font-size:10pt;"><a name="ii-telaah-matius-1344-52" />II. Telaah Matius 13:44-52<br />
</span></p>
<p style="margin-left:30pt;"><span style="color:#333333;font-family:Verdana;font-size:10pt;">44.  &#8220;Hal Kerajaan Sorga itu seumpama <strong>harta yang terpendam di ladang</strong>, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.<br />45.  Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang <strong>pedagang yang mencari mutiara yang indah</strong>.<br />46.  Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.&#8221;<br />47.  &#8220;Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama <strong>pukat yang dilabuhkan di laut</strong>, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.<br />48.  Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.<br />49.  Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,<br />50.  lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.<br />51.  Mengertikah kamu semuanya itu?&#8221; Mereka menjawab: &#8220;Ya, kami mengerti.&#8221;<br />52.  Maka berkatalah Yesus kepada mereka: &#8220;Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.&#8221;<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Dari ayat-ayat di atas, maka kita melihat bahwa di bagian pertama, Kristus memberikan dua perumpamaan tentang Kerajaan Allah, yaitu: (a) seperti harta yang terpendam di ladang (ay.44), (b) pedagang yang mencari mutiara yang indah. (ay.45-46) Di bagian kedua, Kristus memberikan perumpamaan lain, bahwa Kerajaan Sorga adalah seumpama pukat yang dilabuhkan ke laut, dan berbagai jenis ikan dikumpulkan dan ditangkap (ay.47-48), yang kemudian dijelaskan artinya sebagai akhir zaman, di mana yang baik akan mendapatkan kehidupan kekal di Sorga dan yang jahat akan mendapatkan ganjarannya di neraka (ay. 49-50). Dan di ayat 51-52 dijelaskan bahwa para murid juga menerima perutusan untuk menjaring manusia dengan mewartakan Injil.<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;font-size:10pt;"><a name="iii-interpretasi-ayat-matius-1344-52" />III. Interpretasi ayat Matius 13:44-52<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:10pt;"><strong>1. Tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Kalau kita melihat dalam konteks yang lebih luas dari ayat Matius 13:44-52, maka dalam Matius 13, kita menemukan adanya tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, yang terdiri dari: (a) perumpamaan tentang seorang penabur, (b) perumpamaan tentang lalang di antara gandum, (c) perumpamaan tentang biji sesawi, (d) perumpamaan tentang ragi, (e) perumpamaan tentang harta terpendam, (f) perumpamaan tentang mutiara yang indah, (g) perumpamaan tentang pukat. Dalam perumpamaan tentang seorang penabur yang menaburkan benih ke pinggir jalan, tanah berbatu, semak berduri dan tanah yang subur, Kristus ingin menunjukkan kondisi. Kondisi yang memungkinkan seseorang menerima Kerajaan Sorga adalah dengan menjadikan diri kita untuk menjadi tanah yang gembur, sehingga Sabda Allah dapat bertumbuh dan berbuah seratus kali, enam puluh kali atau tiga puluh kali lipat. Dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum, Kristus ingin menekankan bahwa kondisi yang baik agar Sabda Allah bertumbuh tidaklah cukup, namun diperlukan sikap yang senantiasa berjaga-jaga. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi menunjukkan kekuatan dan keefektifan Kerajaan Allah, yaitu dapat bertumbuh sangat pesat dan luar biasa mulai dari hal yang sangat kecil. Perumpamaan tentang harta dan mutiara menunjukkan harga yang harus dibayar untuk memperoleh Kerajaan Sorga. Dan akhirnya perumpamaan tentang pukat mengulangi perumpamaan tentang lalang di antara gandum, yang menceritakan akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan yang jahat dari yang  baik/benar, serta memberikan hukuman bagi orang yang jahat di neraka dan memberikan anugerah keselamatan bagi umat Allah yang setia sampai akhir. Dengan demikian, maka kita melihat bagaimana tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga memberikan gambaran akan kondisi, syarat, kekuatan dan keefektifan, harga yang harus dibayar, dan kebahagiaan yang didapat atau penderitaan kalau tidak mendapatkannya. Ke-tujuh perumpamaan ini sungguh luar biasa dan melengkapi satu sama lain, sehingga umat Allah semakin disadarkan bahwa Allah sungguh-sungguh menginginkan agar semua manusia dapat memperoleh kebahagiaan sejati di Sorga dan memperoleh pengetahuan sejati akan kebenaran. (1Tim 2:4)<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:10pt;"><strong>2. Harta di ladang, harta yang terpendam (ay.44)<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Perumpamaan pertama dalam perikop minggu ke-17 tahun A ini menceritakan bahwa Kerajaan Allah seumpama seseorang yang menemukan harta di ladang, menguburkannya kembali, dan dengan sukacita menjual seluruh harta miliknya untuk membeli ladang itu. Dalam <em>Catena Aura</em>, St. Thomas Aquinas mengutip St. Krisostomus yang mengatakan bahwa pemberitaan Injil adalah tersembunyi di dalam dunia ini. St. Hieronimus mengatakan bahwa harta yang tersimpan adalah Allah sendiri yang tersembunyi dalam kemanusiaan Kristus atau Kitab Suci yang membuka pengetahuan akan Sang Penyelamat.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Di ayat ini dikatakan bahwa seseorang &#8220;menemukan&#8221;. Menemukan mempunyai konotasi tidak sengaja atau tiba-tiba. Seseorang dapat saja menemukan harta terpendam melalui kejadian-kejadian yang tidak disangka-sangka, seperti: dalam penderitaan seseorang menemukan makna hidup dan Kristus; tiba-tiba merasa kosong dalam hidup, yang menuntun pada penemuan jati diri melalui Sabda Allah, dll. Orang tersebut tidak membayar ketika menemukan harta tersebut, namun harta tersebut mempunyai harga yang sangat mahal untuk dimiliki. Namun, karena harta tersebut sungguh sangat berharga melebihi segalanya, maka orang tersebut dengan sukacita menjual seluruh miliknya demi dapat memiliki harta tersebut. Dan memang menemukan Kristus dan menjalin hubungan yang intim dengan Kristus jauh lebih berharga dari apapun.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">St. Agustinus menjelaskan bahwa ada empat obyek kasih manusia, yaitu: sesuatu di atas kita, kita sendiri, sesuatu yang sederajat dengan kita dan sesuatu di bawah kita. Karena mencintai diri sendiri adalah merupakan kodrat manusia dan adalah cukup jelas bahwa seseorang tidak seharusnya mencintai sesuatu yang di bawahnya, maka tidak banyak perintah tentang dua hal ini. Namun, di dalam Alkitab disebutkan banyak sekali ayat-ayat untuk mengasihi sesama kita dan terutama untuk mengasihi Tuhan, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan (lih. Mat 22:37-40). Dengan demikian, kalau seseorang telah menemukan Tuhan, maka dengan segala risikonya dia harus menempatkan Tuhan di atas segalanya, karena memang hanya Tuhanlah yang berharga untuk dikasihi dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Apapun yang kita punyai prioritasnya harus di bawah Tuhan, karena Tuhan adalah segalanya dan apapun yang kita punyai adalah milik Tuhan. &#8220;<em>Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada</em>&#8221; (Mat 6:21; Luk 12:34).<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:10pt;"><strong>3. Mutiara yang indah dan tak ternilai (ay.45-46)</strong><br />
		</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Perumpamaan kedua yang diberikan oleh Yesus tentang Kerajaan Sorga adalah seperti seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah (ay.45) dan setelah menemukannya, dia menjual seluruh hartanya. Di sini ditekankan bahwa Kerajaan Sorga bukan hanya merupakan harta (ay.44), namun juga sesuatu yang indah. Keindahan Kerajaan Sorga ini harus dicari, seperti seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Melalui nabi Yeremia, Tuhan mengatakan &#8220;<em>13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14 Aku akan memberi kamu menemukan Aku</em>&#8221; (Yer 29:13-14). Bagi kita yang telah menerima Sakramen Baptis, maka sesungguhnya, kita telah menemukan mutiara yang indah. Namun, belum tentu semua orang yang dibaptis menjalankan hal yang kedua, yaitu menjual seluruh harta miliknya untuk membeli maupun mempertahankan mutiara yang indah. Apakah benar-benar maksudnya menjual seluruh harta miliknya demi mendapatkan Kristus secara penuh? Banyak santa dan santo yang melakukannya, dan para pastor dan suster juga menjalankannya. Bagaimana dengan orang-orang yang berkeluarga, hidup dalam dunia bisnis? Kita dapat menjalankan satu sikap yang juga diajarkan Kristus untuk dapat juga memiliki mutiara yang indah atau Kerajaan Sorga, yaitu sikap miskin di hadapan Allah (lih. Mat 5:3). Orang yang miskin di hadapan Allah senantiasa melihat bahwa harta, kekuasaan, kedudukan dan apapun yang dimilikinya adalah merupakan karunia Tuhan. Dan semuanya ditempatkan dengan semestinya, yaitu sebagai sesuatu yang digunakan (bukan dicintai) untuk semakin memperbesar Kerajaan Allah.<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:10pt;"><strong>4. Pukat yang menangkap ikan yang baik dan yang tidak baik (ay.47-50)<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Yesus memberikan perumpamaan terakhir tentang Kerajaan Sorga seperti pukat yang dilabuhkan ke laut, yang mengumpulkan semua jenis ikan, yang baik maupun yang tidak baik. Pukat ini tidak seperti jaring biasa. Pukat yang dipakai adalah <em>dragnet</em>, yang merupakan alat penangkap ikan, dengan panjang sekitar 400m (1/4 miles) dengan ketinggian sekitar 3 meter. Pukat ini biasanya ditarik oleh dua perahu, dengan masing-masing perahu memegang kedua ujung pukat. Karena ada pemberat, maka pukat ini dapat tenggelam mencapai dasar. Karena ditarik oleh perahu yang berbeda, maka pukat ini dapat mengambil semuanya dalam jangkauannya dan kemudian para nelayan menarik kedua ujung pukat ke daratan. Setelah itu, kaum nelayan di daratan, kemudian menarik pukat itu bersama-sama. Pukat akan dipenuhi dengan berbagai macam jenis ikan, yang baik dan yang tidak baik.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Ini merupakan pararel dari perumpamaan tentang lalang dan gandum. Kalau Yesus menjelaskan bahwa ladang adalah dunia (ay.38), maka dalam perumpamaan tentang pukat, lautan adalah dunia, serta pukat adalah Gereja. Sama seperti pukat harus ditebarkan ke tempat yang dalam, maka Gereja harus juga mewartakan Kristus ke tempat yang dalam atau<em>Duc in Altum</em>. Dan setelah penuh, maka pukat tersebut diseret ke pantai dan orang-orang kemudian memilih ikan yang baik dan membuang ikan yang tidak baik. Ini menggambarkan tentang akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan manusia yang baik dari ikan yang tidak baik.  Dan bagi orang yang jahat akan mendapatkan ganjarannya di dalam neraka (ay.50).<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Perumpamaan ini juga menceritakan bahwa di dalam pukat tertangkap ikan yang baik dan yang tidak baik, sama seperti di dalam Gereja terdiri dari orang kudus dan pendosa. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 867) menuliskannya sebagai berikut:<br />
</span></p>
<p style="margin-left:30pt;"><span style="color:#333333;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Gereja adalah kudus: Roh Kudus adalah asalnya; Kristus, Mempelainya, telah menyerahkan Diri untuknya, untuk menguduskannya; Roh kekudusan menghidupkannya. Memang orang berdosa juga termasuk di dalamnya, tetapi ia [Gereja] adalah &#8220;yang tak berdosa, yang terdiri dari orang-orang berdosa&#8221;. Dalam orang-orang kudusnya terpancar kekudusannya; di dalam Maria ia sudah kudus secara sempurna.<br />
</span></p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:10pt;"><strong><a name="5-perutusan-ay-51-52" />5. Perutusan (ay.51-52)<br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Setelah Yesus mengatakan perumpamaan tersebut, maka Yesus berpaling kepada para murid dan bertanya mengertikah kamu semuanya itu? Dengan kata lain, mengertikah kamu, bahwa ketika engkau Kupanggil, Aku akan menjadikan engkau penjala manusia? (lih. Mat 4:9; Mrk 1:17). Di ayat ke 52 Yesus melanjutkan tugas perutusan ini dengan mengatakan &#8220;<em>Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.</em>&#8221; Menggunakan fungsi ahli taurat, yang bertugas mengajar, maka Yesus menerapkan tugas ini kepada para murid dan diteruskan oleh Paus dan para uskup dibantu oleh para imam. Dan sebagai pengajar, maka mereka juga harus menjaga keharmonisan antara harta yang lama dan harta yang baru, atau Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru – seperti yang diinterpretasikan oleh St. Agustinus. Namun, tugas perutusan untuk mewartakan Kerajaan Sorga bukan hanya diberikan kepada paus, para uskup dan para imam, namun juga kepada semua umat Allah yang telah dibaptis.<br />
</span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;font-size:10pt;">IV. Pemberian diri untuk membangun Kerajaan Sorga<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:10pt;">Dari uraian di atas, maka kita dapat melihat bahwa Kerajaan Sorga adalah begitu berharga dan begitu indah. Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk mendapatkan Kerajaan Sorga. Oleh karena itu, kita harus mohon rahmat Allah dan karunia keberanian, sehingga kita berani untuk mengorbankan segalanya bagi Tuhan. Kita harus bersama-sama mengatakan apa yang dituliskan oleh Rasul Paulus &#8220;<em>7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. 8  Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus</em>&#8221; (Fil 3:7-8). Kita juga ingin mengikuti St. Agustinus, yang mengatakan bahwa kita harus menukar segala yang kita punya untuk dapat menerima Kerajaan Sorga, atau menukar diri kita dengan Kerajaan Sorga. St. Agustinus melanjutkan bahwa pertukaran diri kita bukan sama berharganya dengan Kerajaan Sorga, namun karena hanya itulah yang kita punyai. Mari, kita berikan diri kita seutuhnya kepada Tuhan, sehingga Dia dapat membentuk kita dan menjadikan kita kawan sekerja Allah (1Kor 3:9), untuk membawa sesama kita kepada- Nya.<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/416/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=416&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/27/kerajaan-sorga-seumpama-harta-mutiara-dan-pukat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/07/072711_1643_kerajaansor1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 1)</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/19/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan-bagian-1/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/19/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 18:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/19/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan-bagian-1/</guid>
		<description><![CDATA[Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 1) PEMBAHASAN Rangkaian tulisan tentang Gereja Gereja yang seperti apa? Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah Empat tanda Gereja sejati Gereja yang Satu Gereja yang kudus Gereja yang katolik Gereja yang Apostolik Kesimpulan: Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran Rangkaian tulisan tentang Gereja Bagian Pertama Gereja yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=408&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:15pt;">Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 1)<br />
</span></p>
<p style="margin-left:2pt;"><a href=";"><span style="color:#777777;font-family:Arial;font-size:9pt;text-decoration:underline;"><strong>PEMBAHASAN</strong></span></a><span style="color:#222222;font-family:Arial;font-size:7pt;"><br />
</span></p>
<ul>
<li><a title="Rangkaian tulisan tentang Gereja" href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;"><strong>Rangkaian tulisan tentang Gereja</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><strong><br />
</strong></span></li>
<li><a title="Gereja yang seperti apa?" href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;"><strong>Gereja yang seperti apa?</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><strong><br />
</strong></span></li>
<li><a title="Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah" href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;"><strong>Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><strong><br />
</strong></span></li>
<li><a title="Empat tanda Gereja sejati" href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;"><strong>Empat tanda Gereja sejati</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><strong><br />
</strong></span></li>
<li><a title="Gereja yang Satu" href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;">Gereja yang Satu</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><br />
</span></li>
<li><a title="Gereja yang kudus" href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;">Gereja yang kudus</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><br />
</span></li>
<li><a title="Gereja yang katolik" href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;">Gereja yang katolik</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><br />
</span></li>
<li><a title="Gereja yang Apostolik" href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;">Gereja yang Apostolik</span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><br />
</span></li>
<li><a title="Kesimpulan: Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran " href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#777777;font-family:Verdana;font-size:7pt;text-decoration:underline;"><strong>Kesimpulan: Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran</strong></span></a><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:7pt;"><strong><br />
</strong></span></li>
</ul>
<p><img src="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/07/071811_1855_gerejatongg1.jpg?w=590" alt="" /><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;font-size:9pt;"><br />
</span></p>
<p><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Rangkaian tulisan tentang Gereja<br />
</span></p>
<div>
<table style="border-collapse:collapse;" border="0">
<col style="width:597px;" />
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="border:solid #dddddd .75pt;padding:2px 5px;"><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong>Bagian Pertama</strong><br />
</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah<br />
</span></li>
<li>
<div><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Empat tanda dari Gereja yang sejati<br />
</span></div>
<ol>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Satu<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Kudus<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Katolik<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Apostolik<br />
</span></li>
</ol>
</li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Gereja sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.<br />
</span></li>
</ol>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong>Bagian Kedua</strong><br />
</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Gereja Tanda Kasih Tuhan<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Gereja sebagai tujuan akhir kehidupan manusia<br />
</span></li>
<li>
<div><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Gereja sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir hidup manusia:<br />
</span></div>
<ul>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Kepemimpinan/ Struktur Gereja<br />
</span></li>
<li>
<div><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen- sakramen Gereja<br />
</span></div>
<ul>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen Pembaptisan<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen Ekaristi<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen Penguatan<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen Pengakuan Dosa<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen Perkawinan<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen Tahbisan suci<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen Urapan Orang Sakit<br />
</span></li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Gereja sebagai Tanda Kasih Tuhan adalah tujuan akhir dan sarana untuk mencapai tujuan akhir tersebut.<br />
</span></li>
</ul>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong>Bagian Ketiga</strong><br />
</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Gereja sebagai Tonggak Kebenaran menyampaikan kebenaran dan keutuhan rencana Keselamatan Allah.<br />
</span></li>
<li>
<div><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Kebenaran ini disampaikan oleh tiga unsur yang tak dapat dipisahkan, yaitu<br />
</span></div>
<ol>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Tradisi Suci<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Kitab Suci<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Magisterium<br />
</span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong>Bagian Ke-empat</strong><br />
</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Gereja sebagai Tanda Kasih Tuhan menjadi tanda persekutuan manusia dengan Allah dan dengan Para Kudus-Nya.<br />
</span></li>
<li>
<div><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Persekutuan ini dialami melalui tiga hal yang mengacu kepada &#8216;kekudusan&#8217; yaitu,<br />
</span></div>
<ol>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Doa<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Sakramen-sakramen Gereja<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Perbuatan- perbuatan kasih.<br />
</span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:8pt;"><strong>Bagian Ke-lima</strong><br />
</span></p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Melihat begitu indahnya dan dalamnya pengajaran iman Katolik, maka tugas kita sebagai anggota Gereja Katolik adalah:<br />
</span></p>
<ol>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Mempelajari iman Katolik<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Hidup sesuai dengan iman Katolik (=hidup kudus)<br />
</span></li>
<li><span style="color:#4c4c4c;font-family:Verdana;font-size:8pt;">Menyebarkan iman Katolik.</span></li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p><a name="gereja-yang-seperti-apa"></a><br />
<span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Gereja yang seperti apa?<strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Mungkin kita pernah mendengar orang-orang mempertanyakan apa <em>sih</em> ciri-ciri Gereja yang sejati? Apakah benar Gereja Katolik itu Gereja yang didirikan Yesus Kristus, dan yang dengan setia meneruskan serta menjaga kemurnian ajaran Kristus itu? Atau mungkin kita pernah mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti, &#8220;Apakah anda yakin anda selamat? Sudahkah anda menerima Yesus sebagai Juruselamat anda pribadi?&#8221; Ulasan berikut ini mungkin bermanfaat bagi refleksi kita semua.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Ajaran Gereja Katolik menjawab pertanyaan yang paling mendasar dalam hidup kita, seperti, &#8220;Siapa yang menciptakan aku? Mengapa aku diciptakan? Apa Tuhan sungguh ada? Apa yang harus kulakukan supaya aku bahagia? Mengapa ada banyak penderitaan di dunia ini?&#8221; Pertanyaan- pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan memuaskan jika kita punya keterbukaan hati terhadap rahmat Tuhan, menerima apa yang dinyatakan Yesus melalui Gereja yang didirikan-Nya, dan selanjutnya mengikuti rencana-Nya untuk setiap dari kita.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;"><span style="font-size:13pt;"><strong>Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah</strong></span><span style="font-size:9pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Gereja adalah terang dunia yang meneruskan Yesus Sang Terang kepada dunia.</span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">[1]</span><span style="color:#222222;"> Ini berdasarkan perkataan Yesus sendiri, &#8220;Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas di atas gunung tidak mungkin tersembunyi &#8220;(Mat 5:14). Karena itu, Gereja yang didirikan oleh Yesus dimaksudkan untuk berdiri sebagai institusi yang kelihatan. Yesus sendiri berjanji, &#8220;…di atas batu karang ini (Petrus) Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.&#8221; (Mat 16:18) Artinya, Gereja-Nya tidak akan pernah binasa, dan tidak akan pernah terlepas daripadaNya. Gereja-Nya akan bertahan terus sampai kedatanganNya kembali di akhir zaman.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Gereja Katolik adalah Gereja <strong>satu-satunya yang bertahan sejak didirikan oleh Kristus</strong>(sekitar 30 AD). Dapat dikatakan bahwa gereja yang lain adalah kelompok yang memecahkan diri dari kesatuan Gereja Katolik. Gereja Timur Orthodox memisahkan diri dari pada tahun 1054, gereja Protestan tahun 1517, dan gereja-gereja Protestan yang lain adalah pemecahan dari gereja Protestan yang awal ini.</span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">[2]</span><span style="color:#222222;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Hanya Gereja Katolik yang bertahan dari abad pertama yang dengan <strong>setia mengajarkan pengajaran yang diberikan oleh Kristus kepada para Rasul-Nya,</strong> tanpa mengurangi ataupun mengubah. Kesinambungan para Paus dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Rasul Petrus. Hal ini tidak pernah terjadi di dalam organisasi apapun di dunia. Pemerintahan negara dunia yang tertua-pun tidak dapat menandingi lamanya keberadaan Gereja Katolik. Banyak gereja yang sekarang aktif menjalankan penginjilan didirikan hanya di abad- 19 atau ke- 20, atau baru-baru ini saja di abad ke-21. Tidak ada dari mereka yang dapat berkata mereka didirikan sendiri oleh Yesus.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Gereja Katolik telah <strong>berdiri selama kira-kira 2000 tahun</strong>, walaupun dalam sejarahnya sering menghadapi pertentangan dari dunia. Ini adalah kesaksian yang nyata bahwa Gereja berasal dari Tuhan, sebagai pemenuhan dari janji Kristus. Jadi, Gereja bukan semata-mata organisasi manusia, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada masa-masa di mana dipimpin oleh mereka yang tidak bijaksana, yang mencoreng nama Gereja dengan perbuatan- perbuatan mereka. Namun, kenyataannya, mereka tidak sanggup menghancurkan Gereja. Gereja Katolik tetap berdiri sampai sekarang. Jika Gereja ini hanya organisasi manusia semata, tentulah ia sudah hancur sejak lama. Sekarang Gereja Katolik beranggotakan sekitar satu milyar anggota, sekitar seper-enam dari jumlah manusia di dunia, dan menjadi kelompok yang terbesar dibandingkan dengan gereja-gereja yang lain. Ini bukan hasil dari kepandaian para pemimpin Gereja, tetapi karena karya Roh Kudus.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;"><span style="font-size:13pt;"><strong><a name="empat-tanda-gereja-sejati"></a>Empat tanda Gereja sejati</strong></span><span style="font-size:9pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Jika kita ingin tahu apa yang menjadi ciri-ciri Gereja yang didirikan oleh Kristus, kita akan mengetahui bahwa ada empat ciri; yaitu Gereja yang <strong>satu, kudus, katolik dan apostolik</strong>(<em>Lumen Gentium</em> / LG, 8)<br />
</span></p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:12pt;"><strong><a name="gereja-yang-satu"></a>Gereja yang Satu</strong></span><span style="font-size:9pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">(Rom 12:5, 1Kor 10:17, 12:13, KGK (Katekismus Gereja Katolik 813-822), LG 4)<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Yesus mendirikan hanya satu Gereja, bukan kesatuan dari beberapa gereja yang berbeda-beda. Kita mengetahuinya dari Yesus sendiri, yang mengatakan bahwa Ia akan mendirikan Gereja-Nya (bukan gereja-gereja) di atas Petrus (Mat 16:18). Pada saat Perjamuan Terakhir sebelum wafatNya Kristus berdoa untuk kesatuan GerejaNya: &#8220;supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…&#8221; (Yoh 17:21). Kitab suci mengatakan bahwa Gereja adalah &#8216;mempelai Kristus&#8217; (Ef 5:23-32). Karenanya, tidak mungkin Ia mempunyai lebih dari satu mempelai. Mempelai-Nya yang satu adalah Gereja Katolik.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Kesatuan Gereja Katolik ini ditunjukkan dengan <strong>kesatuan dalam hal</strong> (1)<strong>iman dan pengajaran</strong>, berdasarkan ajaran Kristus (2) <strong>liturgi dan sakramen </strong>dan (3) <strong>kepemimpinan</strong>, yang awalnya dipegang oleh para rasul di bawah kepemimpinan Rasul Petrus, yang kemudian diteruskan oleh para pengganti mereka. Kepada kesatuan inilah semua para pengikut Kristus dipanggil (Fil 1:27, 2:2), sebagai &#8220;sebuah bangsa yang dipersatukan dengan kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus.&#8221; (LG 4)<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Kesatuan Gereja Katolik dalam hal pengajaran mempunyai dua dimensi, yaitu <strong>berlaku di seluruh dunia dan berlaku sepanjang sejarah</strong>. Hal ini dimungkinkan karena dalam hal iman kepemimpinan Gereja dipegang oleh seorang kepala, yaitu seorang Paus yang bertindak sebagai wakil Kristus. Sepanjang sejarah, oleh bimbingan Roh Kudus, Gereja semakin memahami akan ajaran-ajaran Kristus (Yoh 16:12-13) dan menjabarkannya, namun tidak pernah menetapkan sesuatu yang bertentangan dari apa yang sudah ditetapkan sebelumnya.<br />
</span></p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:12pt;"><strong><a name="gereja-yang-kudus"></a>Gereja yang kudus</strong></span><span style="font-size:9pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">(Ef 5:25-27, Why 19:7-8, KGK 823-829, LG 8, 39, 41,42)<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Kekudusan Gereja disebabkan oleh <strong>kekudusan Kristus yang mendirikannya</strong>. Hal ini tidak berarti bahwa setiap anggota Gereja-Nya adalah kudus, sebab Yesus sendiri mengakui bahwa para anggotaNya terdiri dari yang baik dan yang jahat (lih. Yoh 6:70), dan karena itu tak semua dari anggotaNya masuk ke surga (Mat 7:21-23). Tetapi Gereja-Nya menjadi kudus karena ia adalah mempelai Kristus dan Tubuh-Nya sendiri, sehingga Gereja menjadi sumber kekudusan dan sebagai penjaga alat yang istimewa untuk menyampaikan rahmat Tuhan melalui sakramen- sakramen (lih. Ef 5:26).<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Jadi kekudusan Gereja dapat dilihat dari para anggotanya yang hidup di dalam rahmat pengudusan, terutama mereka yang sungguh-sungguh menerapkan kekudusan itu di dalam kaul religius seperti para rohaniwan, rohaniwati dan terutama terlihat nyata pada para martir dan Orang Kudus (lih. LG 42). Kekudusan Gereja juga terlihat dari banyaknya mukjizat yang dilakukan oleh Para Kudus sepanjang sejarah. Dalam hal kekudusan inilah, maka Gereja menggarisbawahi pentingnya pertobatan (lih. LG 8), agar para anggotanya dibawa kepada rahmat pengudusan Allah.<br />
</span></p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:12pt;"><strong><a name="gereja-yang-katolik"></a>Gereja yang katolik</strong></span><span style="font-size:9pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">(Mat 28:19-20, Why 5:9-10, KGK 830-856, LG 1)<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Kata &#8216;Katolik&#8217; berasal dari bahasa Yunani, <em>katholikos</em>, yang artinya &#8220;<strong>keseluruhan/ universal</strong>&#8221; atau &#8220;<strong>lengkap</strong><em> </em>&#8220;. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti: bahwa Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup &#8216;<strong>keseluruhan</strong>&#8216; keluarga Tuhan yang ada di &#8216;<strong>seluruh dunia</strong>&#8216;, yang merangkul <em><strong>semua</strong>, </em>dari setiap<em> </em>suku, bangsa<em>, </em>kaum dan bahasa (Why 7:9). Kata &#8216;katolik&#8217; juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat kita, tetapi harus doktrin yang setia kepada &#8216;<strong>seluruh</strong>&#8216; kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang &#8216;katolik&#8217; artinya yang &#8220;meneruskan firman-Nya (Allah) dengan <strong>sepenuhnya</strong>…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada <strong>kesempurnaan</strong> dalam Kristus.&#8221; (Kol 1:25, 28)<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia <strong>dikurniakan kepada segala bangsa</strong>, oleh karena Allah Bapa adalah pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Nama &#8216;Gereja Katolik&#8217; pertama diresmikan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Syrma 8, untuk menyatakan Gereja Katolik sebagai Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus, untuk membedakan umat Kristen dari para heretik pada saat itu yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia, yaitu heresi/ bidaah <em>Docetism</em> dan<em>Gnosticism</em>. Dengan surat ini St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan <strong>kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus</strong>. Demikian penggalan kalimatnya,<br />
&#8220;…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada <span style="text-decoration:underline;"><strong>Gereja Katolik</strong>.</span>&#8220;<br />
Di sinilah baru Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah <strong>Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap</strong>, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.<br />
</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Namun, istilah &#8216;katolik&#8217; bukan istilah baru, karena sudah dipakai sebelumnya pada zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,</span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">[3]</span><span style="color:#222222;"> bahkan pada jaman para rasul. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (<em>katholikos</em>) yang berasal dari kata &#8220;<em>Ekklesia Katha Holos</em>&#8220;. Ayatnya berbunyi, &#8220;Selama beberapa waktu <strong>jemaat di</strong> <strong>seluruh </strong>Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. <strong>Jemaat</strong> itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.&#8221; Di sini kata &#8220;<em>Katha holos</em> atau <em>katholikos</em>&#8221; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau <strong>Gereja Katolik</strong>, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, &#8220;Selama beberapa waktu<span style="text-decoration:underline;"><strong>Gereja Katolik</strong></span> di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. <span style="text-decoration:underline;"><strong>Gereja</strong></span> itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.&#8221;<br />
</span></span></p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;"><span style="font-size:12pt;"><strong><a name="gereja-yang-apostolik"></a>Gereja yang Apostolik</strong></span><span style="font-size:9pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">(Ef 2:19-20, KGK 857-865, LG 22)<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Gereja disebut apostolik karena <strong>Yesus telah memilih para rasul-Nya untuk menjadi pemimpin- pemimpin pertama Gereja-Nya</strong>, di bawah pimpinan Rasul Petrus (Mat 16:18, Yoh 21:15-18). Oleh karena Yesus sendiri menjanjikan Gereja-Nya tidak akan binasa (Mat 16:18), maka kepemimpinan Gereja tidak berhenti dengan kepemimpinan para rasul tetapi diteruskan oleh para penerus mereka. Dengan demikian janji penyertaan Yesus terus berlangsung sampai pada saat ini, di mana Ia mengatakan, &#8220;Aku akan menyertai engkau senantiasa sampai kepada akhir zaman&#8221; (Mat 28:20).<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Para rasul adalah para uskup yang pertama, dan sejak abad pertama, pengajaran para rasul di dalam Kitab suci dan Tradisi kudus diturunkan dari mulut ke mulut kepada para penerus mereka (lih. 2 Tes 2:15), misalnya tentang kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ekaristi, kurban Misa, pengampunan dosa melalui perantaraan imam, kelahiran baru dalam pembaptisan, keberadaan Api penyucian, peran khusus Maria dalam karya Keselamatan, hal kepemimpinan Paus, dan lain-lain.<br />
</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Surat pertama dari Santo Klemens (penerus ketiga setelah Rasul Petrus, tahun 96) kepada jemaat di Korintus yang menyelesaikan konflik di antara mereka membuktikan kepemimpinan Gereja di bawah penerus Rasul Petrus sebagai uskup di Roma.</span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">[4]</span><span style="color:#222222;"> Kepemimpinan di bawah Paus di Roma ini diakui oleh Gereja Katolik sampai saat ini (LG 22). Singkatnya, jika kita kembali ke abad pertama, kita akan menemukan Gereja yang memiliki banyak kemiripan dengan Gereja Katolik yang sekarang, karena memang itu adalah satu dan sama.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#002e5b;font-family:Verdana;"><span style="font-size:13pt;"><strong>Kesimpulan: Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran</strong></span><span style="font-size:9pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;"><strong>Gereja yang otentik adalah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik</strong>; dan ini terdapat di Gereja Katolik.</span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">[5]</span><span style="color:#222222;"> Dari Kitab Suci, Tradisi dan tulisan para Bapa Gereja dapat diketahui bahwa Gereja mengajar dengan kuasa Yesus. Di tengah-tengah banyaknya pendapat dan ajaran dari agama-agama yang berbeda-beda, Gereja Katolik selalu menyuarakan ajaran yang sama sepanjang segala abad, sebab ia adalah &#8220;tiang penopang dan dasar kebenaran&#8221; (1 Tim 3:15).<br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Karena Yesus sendiri mengatakan kepada para rasul, &#8220;Barangsiapa yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku dan Dia yang mengutus Aku&#8221; (Luk 10:16), maka kita percaya bahwa Yesus mempercayakan kepemimpinan Gereja kepada para rasul dan penerus mereka. Karena Yesus sendiri berjanji akan membimbing Gereja-Nya sampai kepada seluruh kebenaran oleh kuasa Roh KudusNya (Yoh 16:12-13), maka kita dapat mengimani bahwa Gereja-Nya ini, Gereja Katolik, mengajarkan kebenaran Kristus.<br />
</span></p>
<p><img src="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/07/071811_1855_gerejatongg2.png?w=590" alt="" /><span style="font-family:Arial;font-size:12pt;"><br />
</span></p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#a97147;font-family:Arial;font-size:9pt;text-decoration:underline;">[1]</span></a><span style="color:#222222;font-family:Arial;font-size:9pt;"> Lihat <em>Lumen Gentium</em> 1, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, &#8220;Terang para Bangsalah Kristus itu. Maka Konsili suci ini, yang terhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali menerangi semua orang dalam cahaya Kristus, yang bersinar pada wajah Gereja, dengan mewartakan Injil kepada semua makhluk (Lih. Mrk 16:15).&#8221;<br />
</span></p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#a97147;font-family:Verdana;font-size:9pt;text-decoration:underline;">[2]</span></a><span style="font-family:Verdana;"><span style="color:#222222;font-size:9pt;"> Beberapa gereja Protestan dan pendirinya adalah sebagai berikut: Anglican, didirikan oleh Raja Henry VIII (abad ke-16) di Inggris, Lutheran dan Calvinis oleh Luther dan Calvin (abad ke 16), Methodis didirikan oleh John Wesley (1739) di Inggris, Kristen Baptis oleh Roger Williams (1639), Anabaptis oleh Nicolas Stork (1521), Persbyterian didirikan di Scotland (1560). Beberapa aliran lain misalnya Mormon didirikan oleh Joseph Smith 1830, Saksi Yehovah oleh Charles Taze Russell (1852-1916). Atau yang baru-baru ini Unification Church didirikan oleh Rev. Sun Myung Moon di Korea.</span><span style="font-size:12pt;"><br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Sedangkan Gereja Katolik didirikan oleh Kristus di Jerusalem sekitar tahun 30 AD. Siapa dari para pendiri ini yang sudah dinubuatkan oleh para nabi di Perjanjian Lama? Hanya Yesus Kristus.<br />
</span></p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#a97147;font-family:Verdana;font-size:9pt;text-decoration:underline;">[3]</span></a><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;"> Disarikan dari <em>New Catholic Encyclopedia</em>, Buku ke-3 (The Catholic University of America, Washington, DC, copyright 1967, reprinted 1981), hal. 261.<br />
</span></p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#a97147;font-family:Verdana;font-size:9pt;text-decoration:underline;">[4]</span></a><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;"> Lihat Cyril C. Richardson, ed. <em>Early Christian Fathers</em>, A Touchstone Book, Simon &amp; Schuster, New York, 1996, p. 33<br />
</span></p>
<p><a href="http://katolisitas.org/2008/06/11/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan/comment-page-1/"><span style="color:#a97147;font-family:Verdana;font-size:9pt;text-decoration:underline;">[5]</span></a><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;"> Lihat <em>Lumen Gentium</em> 8, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, &#8220;Itulah satu-satunya Gereja Kristus yang dalam Syahadat iman kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik…. Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya…&#8221;<br />
</span></p>
<p>Diambil dari katolisitas.org</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/408/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/408/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/408/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=408&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/19/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/07/071811_1855_gerejatongg1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://thomastrika.files.wordpress.com/2011/07/071811_1855_gerejatongg2.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Gereja Orthodox dengan Gereja Katolik</title>
		<link>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/19/sejarah-gereja-orthodox-dengan-gereja-katolik/</link>
		<comments>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/19/sejarah-gereja-orthodox-dengan-gereja-katolik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 18:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>thomastrika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/19/sejarah-gereja-orthodox-dengan-gereja-katolik/</guid>
		<description><![CDATA[Shalom, Sharing sedikit ya mgn topik ini sbg pembelajaran bagi yg tertarik sejarah Gereja Katolik dan Gereja Orthodox. Pertama- tama harus dipahami terlebih dahulu hal apa yang memisahkan antara gereja yang menamakan diri sebagai gereja Katolik Orthodox Chalcedon (Kalsedon), dengan Gereja Katolik. Namun sebelumnya mari kita lihat dahulu apa sebenarnya yang disebut Gereja-gereja yang mengikuti ajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=405&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Shalom,<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Sharing sedikit ya mgn topik ini sbg pembelajaran bagi yg tertarik sejarah Gereja Katolik dan Gereja Orthodox.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Pertama- tama harus dipahami terlebih dahulu hal apa yang memisahkan antara gereja yang menamakan diri sebagai gereja Katolik Orthodox Chalcedon (Kalsedon), dengan Gereja Katolik.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Namun sebelumnya mari kita lihat dahulu apa sebenarnya yang disebut Gereja-gereja yang mengikuti ajaran Kalsedon dan mana yang tidak. Untuk itu mari melihat pada sejarah Gereja:<br />
</span></p>
<ol>
<li>
<div><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:9pt;"><a name="1-konsili-kalsedon-pada-tahun-451"></a>Konsili Kalsedon pada tahun 451<br />
</span></div>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Kita ketahui dari sejarah bahwa di abad- abad awal telah terdapat ajaran- ajaran yang berusaha untuk menyederhanakan misteri ke-Tuhanan dan kemanusiaan Yesus, pada saat Ia menjelma menjadi manusia.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Ajaran- ajaran sesat tersebut, memberikan pengajaran yang terlalu menekankan sisi ke-manusiaan Yesus, sehingga mengatakan Yesus bukan Tuhan; atau sebaliknya menekankan sisi ke-Tuhanan Yesus sampai &#8216;menelan&#8217; sisi kemanusiaan-Nya, sehingga Yesus dianggap bukan sungguh manusia. Atau, ada pula ajaran yang mencampur adukkan kedua kodrat ini.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Nah untuk meluruskan hal ini, para uskup berkumpul pada konsili Kalsedon (451), yang menetapkan bahwa pada saat penjelmaan-Nya, Yesus mempunyai dua kodrat, yaitu kodrat Allah dan kodrat manusia, yang keduanya bersatu secara hypostatik: artinya masing- masing dapat mempunyai ciri- cirinya sendiri, tidak dapat dicampuradukkan, tidak terpisahkan, dan tidak terbagi- bagi.<br />
</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Konsili Kalsedon sekaligus mengecam ajaran- ajaran sesat Nestorius (yang memisahkan kedua kodrat dalam diri Yesus), Arians (yang menolak ke-Tuhanan Yesus), Monophysites (yang mengatakan bahwa keilahian dan kemanusiaan Yesus tergabung dalam satu kodrat), dst. </span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">Silakan klik di sini</span><span style="color:#222222;"> untuk membaca lebih lanjut tentang topik ini.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Setelah Konsili Kalsedon, terdapatlah dua kelompok besar dalam Kristianitas, yaitu mereka yang menerima pengajaran Konsili Kalsedon; yang disebut Chalcedonian Christianity, yaitu gereja- gereja dalam persekutuan dengan Gereja Katolik Roma, Gereja Konstantinopel dan Gereja Orthodox Yunani (Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem). Sedangkan gereja- gereja yang menolak Konsili Kalsedon bergabung dalam gereja yang menyebut diri sebagai gereja Orthodox Oriental, termasuk di sini gereja- gereja Armenia, Syria, Koptik dan Ethiophia.<br />
</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Menarik untuk dilihat bahwa kata &#8216;Orthodox&#8217; itu sama- sama diklaim oleh gereja- gereja Timur yang menerima pengajaran Konsili Kalsedon dan juga oleh gereja-gereja yang menolak ajaran Kalsedon. Maka, sesungguhnya kita dapat bertanya, manakah yang benar- benar &#8216;orthodox&#8217;/ &#8216;lurus&#8217; di sini. (</span><span style="color:#632423;"><strong>informasi tambahan</strong></span><span style="color:#222222;">: Kata Ortho= Lurus, benar. Doxa= Aliran, doktrin, Jadi Orthodoxa = Aliran yang lurus. Benar).<br />
</span></span></li>
<li>
<div><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Gereja- gereja Orthodox Yunani = gereja- gereja Timur Orthodox.<br />
</span></div>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Gereja- gereja Timur Orthodox ini menerima hasil Konsili Kalsedon (451) namun mereka tidak menerima otoritas Bapa Paus. Oleh karena itu, walaupun gereja -gereja Timur Orthodox menyebut diri mereka sendiri sebagai Gereja Katolik Orthodox, namun mereka sesungguhnya tidak tergabung secara penuh dengan Gereja Katolik (meskipun mereka menerima ketujuh Konsili yang dilakukan dari abad ke-4 sampai ke-8).<br />
</span></p>
<p><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Menarik untuk diketahui bahwa penolakan akan otoritas Paus ini baru efektif berlangsung setelah skisma di tahun 1054, sebab sebelumnya Bapa Paus di Roma tetap diakui sebagai uskup/ penatua jemaat yang pertama di antara para uskup lainnya/ &#8220;first among equals&#8221;.<br />
</span></li>
<li>
<div><span style="color:black;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Pemisahan antara Gereja Orthodox dan Gereja Katolik di tahun 1054.<br />
</span></div>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Sebenarnya pemisahan ini bukan disebabkan oleh suatu kejadian sesaat, tetapi karena akumulasi dari banyak kejadian, yang memang telah bertubi- tubi terjadi melanda Gereja Timur (dengan pusatnya Konstantinopel) dan Barat (Roma). Harap diketahui bahwa di abad- abad awal, banyak ajaran sesat yang terjadi di Gereja- gereja Timur (Arianisme, Nestorian, Apolloniarism, Monophysites, Ebionite, Monothelistism, dst), meskipun daerah tersebut lebih &#8216;dekat&#8217; dengan tempat asal Kristus dan para rasul. Gereja Roma, yang dipimpin oleh penerus rasul Petrus selalu tampil sebagai penegak doktrin, jika terjadi semacam kesimpangsiuran pengajaran. (Ini sesungguhnya merupakan penggenapan dari Sabda Allah, bahwa Paus yang berbicara atas nama Rasul Petrus, melakukan kuasa &#8220;mengikat dan melepaskan&#8221;, dan Tuhan menjanjikan bahwa apa yang ditetapkannya tidak mungkin salah/ tidak mungkin dikuasai oleh maut Mat 16:18-19). Namun, kenyataannya, hal ini sedikit banyak memicu adanya semacam &#8216;persaingan&#8217; politis antara Gereja Timur dan Barat. Selanjutnya, Gereja Timur ingin memasukkan pengaruh bahasa/ budaya Yunani, sedangkan Gereja Barat, budaya Latin.<br />
</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Persaingan ini mencapai puncaknya pada dua hal. Pertama, tentang hal &#8216;<strong><em>Filioque</em></strong>&#8216;, yang sudah pernah dibahas di sini, </span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">silakan klik</span><span style="color:#222222;">, lihat point 3.<br />
</span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Kedua, tentang hal &#8220;<strong>roti tak beragi</strong>&#8220;. Ketika pasukan perang salib dimulai tahun 1090, para patriarkh Byzantin yang singgah di Konstantinopel menyerang gereja- gereja Latin yang sudah ada di sana sejak jaman kaisar Konstantin. Mereka mengatakan bahwa Ekaristi mereka tidak sah karena menggunakan roti tidak beragi,-sesuatu yang memang telah dilakukan oleh Gereja Barat, dan Gereja Armenia sejak awal, untuk mengikuti teladan Kristus yang menggunakan roti tak beragi pada Perjamuan Terakhir. Namun para patriarkh Byzantin itu (dipimpin Michael Cerularius) ingin memaksakan ritus Byzantin -yang menggunakan roti beragi untuk perjamuan- kepada umat Roma yang tinggal di Konstantinopel tersebut. Cerularius membuka tabernakel dan membuang Hosti yang sudah dikonsekrasikan itu ke jalan. Oleh sebab itu, Gereja Roma kemudian mengecam tindakan patriarkh Cerularius tersebut. Setelah kejadian itu, Gereja Roma mengutus delegasi yang dipimpin oleh Cardinal Humbertus untuk mengusahakan perdamaian. Namun sayangnya, karena faktor kelemahan manusia (dalam hal ini emosi yang meledak- ledak dari kedua belah pihak), perundingan diakhiri dengan ekskomunikasi dari kedua belah pihak kepada kedua belah pihak; sesuatu yang berakibat terlalu jauh dan sebenarnya tidak diinginkan oleh kedua belah pihak. Sebab ekskomunikasi itu sebenarnya hanya berlaku terhadap sang individu, dan bukan terhadap semua orang dalam komunitas. Lebih lanjut tentang apa itu ekskomunikasi, </span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">silakan klik di sini</span><span style="color:#222222;">.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Berikut ini adalah kutipan deklarasi yang disetujui bersama antara Paus Paulus VI dengan Patriarkh Konstantinopel Athenagoras I (1965):<br />
</span></p>
<p><span style="color:#333333;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Among the obstacles along the road of the development of these fraternal relations of confidence and esteem, there is the memory of the decisions, actions and painful incidents which in 1054 resulted in the sentence of excommunication leveled against the Patriarch Michael Cerularius and two other persons by the legate of the Roman See under the leadership of Cardinal Humbertus, legates who then became the object of a similar sentence pronounced by the patriarch and the Synod of Constantinople.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#333333;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Thus it is important to recognize <strong>the excesses which accompanied them and later led to consequences which, insofar as we can judge, went much further than their authors had intended and foreseen</strong>. They had directed their censures against the persons concerned and not the Churches. <strong>These censures were not intended to break ecclesiastical communion between the Sees of Rome and Constantinople</strong>. (terjemahannya: …. ekses- ekses yang mengikutinya dan sesudahnya mengarah kepada akibat- akibat yang, menurut hemat kami, pergi jauh dari apa yang dimaksud dan diduga oleh para pengarangnya [dalam hal ini Cerularius dan Kardinal Humbertus yang diutus oleh Paus]. Mereka mengarahkan sangsi kepada orang- orang yang terlibat dan bukan kepada Gereja- gereja. Sangsi ini tidak dimaksudkan untuk memecahkan persekutuan antara Tahta Suci Roma dan Konstantinopel.&#8221;<br />
</span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:9pt;"><span style="color:#222222;">Gereja &#8217;Katolik&#8217; Orthodox Kalsedon <span style="text-decoration:underline;">tidak</span> berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, dan karena itu keduanya tidak sama. Perbedaannya, gereja Orthodox tidak mengakui otoritas Bapa Paus. Gereja Orthodox ini tidak sama dengan ke-22 Gereja- gereja Timur yang ada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, yang namanya dapat anda baca di sini, </span><span style="color:#a97147;text-decoration:underline;">silakan klik</span><span style="color:#222222;">.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Namun meskipun Gereja- gereja Orthodox tersebut tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, mereka mempunyai hubungan yang erat dengan Gereja Katolik, sebab mereka juga mengakui ketujuh sakramen, dan mempunyai jalur apostolik. Dalam kondisi darurat (misalnya karena di ambang maut), seseorang dari gereja Orthodox dapat meminta imam dari Gereja Katolik agar memberikan sakramen Minyak suci (Urapan orang sakit), Ekaristi dan Pengakuan dosa.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Demikian yang dapat saya sampaikan untuk sharing kita..semoga bermanfaat.<br />
</span></p>
<p><span style="color:#222222;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Salam kasih dalam Kristus Tuhan,<br />
</span></p>
<p>*Diambil dari situs katolisitas.org*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thomastrika.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thomastrika.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thomastrika.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thomastrika.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thomastrika.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thomastrika.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thomastrika.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thomastrika.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thomastrika.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thomastrika.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thomastrika.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thomastrika.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thomastrika.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thomastrika.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thomastrika.wordpress.com&amp;blog=7394031&amp;post=405&amp;subd=thomastrika&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thomastrika.wordpress.com/2011/07/19/sejarah-gereja-orthodox-dengan-gereja-katolik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e1f8daae5d045be0c3bb4a13b2e8340?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">thomastrika</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
