EKLESIOLOGI: Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda

Posted on

Dasar Gereja sebagai Pewarta Sabda

Semua bentuk baru yang muncul sesudahnya, pada hakikatnya berbeda dengan Sabda asli tetapi berasal darinya dan mengandung dayanya. Sabda-sabda itu merupakan gema Sabda Yesus Kristus.

Sama seperti sebelum penjelmaan, begitu juga sesudahnya Sabda Allah tampak sebagai tanda manusiawi. Kendati begitu, Sabda sesudah penjelmaan lain daripada Sabda sebelumnya. Sebelum Kristus, Sabda Allah terutama diwarnai oleh janji, sedangkan sesudah penjelmaan ada juga sifat janji namun yang lebih menonjol adalah sifat kesaksian. Janji yang telah terpenuhi oleh Yesus Kristus harus disaksikan sampai pemenuhannya dalam Kerajaan Bapa. Dalam kesaksian itu, Kristus, Sabda sejati hadir di dalam sejarah manusia sebagai sarana penyelamatan.

Bentuk baru Sabda itu adalah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan Gereja. Lewat Gereja Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak lain, Gereja pada hakikatnya tidak lain daripada jawaban atas panggilan Yesus Kristus, Sabda Allah. Seluruh hidup dan keberadaannya merupakan jawaban. Maka sesungguhnya bisa dikatakan Gereja seluruhnya merupakan Sabda. Di dalamnya Sabda Allah yang abadi bergema. Karena itu dapat dikatakan bahwa Gereja seluruhnya merupakan pewartaan dan kesaksian tentang Yesus Kristus, Sabda, dan Wahyu Allah.

Jadi, Gereja adalah Sabda. Dalam pengertian ini semua eklesiologi yang menggambarkan Gereja sebagai “pewarta” mempunyai dasar yang wajar, kalau pewartaan dimengerti dalam arti luas yang menyangkut seluruh hidup Gereja.

diambil dari:

http://pendalamanimankatolik.com/tag/eklesiologi/?subscribe=success#blog_subscription-2

Sejak Kapan Gereja disebut Gereja Katolik?

Posted on Updated on

Istilah ‘katolik‘ merupakan istilah yang sudah ada sejak abad awal, yaitu sejak zaman Santo Polycarpus (murid Rasul Yohanes) untuk menggambarkan iman Kristiani,[1] bahkan pada jaman para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Kis 9:31 menuliskan asal mula kata Gereja Katolik (katholikos) yang berasal dari kata “Ekklesia Katha Holos“. Ayatnya berbunyi, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kis 9:31). Di sini kata “Katha holos atau katholikos; dalam bahasa Indonesia adalah jemaat/ umat Seluruh/ Universal atau Gereja Katolik, sehingga kalau ingin diterjemahkan secara konsisten, maka Kis 9:31, bunyinya adalah, “Selama beberapa waktu Gereja Katolik di Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

Namun nama ‘Gereja Katolik’ baru resmi digunakan pada awal abad ke-2 (tahun 107), ketika Santo Ignatius dari Antiokhia menjelaskan dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna 8, untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja satu-satunya yang didirikan Yesus Kristus, untuk membedakannya dari para heretik pada saat itu -yang juga mengaku sebagai jemaat Kristen- yang menolak bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh menjelma menjadi manusia. Ajaran sesat itu adalah heresi/ bidaah Docetisme dan Gnosticisme. Dengan surat tersebut, St. Ignatius mengajarkan tentang hirarki Gereja, imam, dan Ekaristi yang bertujuan untuk menunjukkan kesatuan Gereja dan kesetiaan Gereja kepada ajaran yang diajarkan oleh Kristus. Demikian penggalan kalimatnya, “…Di mana uskup berada, maka di sana pula umat berada, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, maka di sana juga ada Gereja Katolik….”[2]. Sejak saat itu Gereja Katolik memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang kita ketahui sekarang, bahwa Gereja Katolik adalah Gereja universal di bawah pimpinan para uskup yang mengajarkan doktrin yang lengkap, sesuai dengan yang diajarkan Kristus.

Kata ‘Katolik’ sendiri berasal dari bahasa Yunani, katholikos, yang artinya “keseluruhan/ universal“; atau “lengkap“. Jadi dalam hal ini kata katolik mempunyai dua arti, yaitu bahwa: 1) Gereja yang didirikan Yesus ini bukan hanya milik suku tertentu atau kelompok eksklusif yang terbatas; melainkan mencakup ‘keseluruhan‘ keluarga Tuhan yang ada di ‘seluruh dunia’, yang merangkul semua, dari setiap suku, bangsa, kaum dan bahasa (Why 7:9). 2) Kata ‘katolik’ juga berarti bahwa Gereja tidak dapat memilih-milih doktrin yang tertentu asal cocok sesuai dengan selera/ pendapat pribadi, tetapi harus doktrin yang setia kepada ‘seluruh‘ kebenaran. Rasul Paulus mengatakan bahwa hakekatnya seorang rasul adalah untuk menjadi pengajar yang ‘katolik’ artinya yang “meneruskan firman-Nya (Allah) dengansepenuhnya…. tiap-tiap orang kami nasihati  dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:25, 28)

Maka, Gereja Kristus disebut sebagai katolik (= universal) sebab ia dikurniakan kepada segala bangsa, oleh karena Allah Bapa adalah Pencipta segala bangsa. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan amanat agung agar para rasulNya pergi ke seluruh dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-muridNya (Mat 28: 19-20). Sepanjang sejarah Gereja Katolik menjalankan misi tersebut, yaitu menyebarkan Kabar Gembira pada semua bangsa, sebab Kristus menginginkan semua orang menjadi anggota keluarga-Nya yang universal (Gal 3:28). Kini Gereja Katolik ditemukan di semua negara di dunia dan masih terus mengirimkan para missionaris untuk mengabarkan Injil. Gereja Katolik yang beranggotakan bermacam bangsa dari berbagai budaya menggambarkan keluarga Kerajaan Allah yang tidak terbatas hanya pada negara atau suku bangsa yang tertentu.

Namun demikian, nama “Gereja Katolik” tidak untuk dipertentangkan dengan istilah “Kristen” yang juga sudah dikenal sejak zaman para rasul (lih. Kis 11:26). Sebab ‘Kristen’ artinya adalah pengikut/murid Kristus, maka istilah ‘Kristen’ mau menunjukkan bahwa umat yang menamakan diri Kristen menjadi murid Tuhan bukan karena sebab manusiawi belaka, tetapi karena mengikuti Kristus yang adalah Sang Mesias, Putera Allah yang hidup. Umat Katolik juga adalah umat Kristen, yang justru menghidupi makna ‘Kristen’ itu dengan sepenuhnya, sebab Gereja Katolik menerima dan meneruskan seluruh ajaran Kristus, sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul, yang dilestarikan oleh para penerus mereka.


CATATAN KAKI:

  1. Disarikan dari New Catholic Encyclopedia, Buku ke-3 (The Catholic University of America, Washington, DC, copyright 1967, reprinted 1981), hal. 261 [↩]
  2. St. Ignatius of Antioch, Letter to the Smyrnaeans, 8 [↩]

http://www.katolisitas.org/faqs/sejak-kapan-gereja-disebut-gereja-katolik

Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2)

Posted on

Yesus tidak menulis Kitab Suci

Pernahkah anda bertanya dalam hati: “Mengapa Yesus sendiri tidak menulis Kitab Suci?” Bukankah hal ini lebih baik, sehingga tidak ada pertanyaan tentang asal usul Kitab Suci di kemudian hari? Demikianlah, mungkin hingga saat ini banyak orang mempertanyakannya, bahkan sampai pada titik menolak untuk percaya kepada Kitab Suci dan kepada pesan Keselamatan yang tertulis di dalamnya; bahwa Yesus, Sang Putera Allah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Mari merenungkan hal ini: Yesus adalah Sang Sabda Allah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Pribadi-Nya sendiri adalah Sabda Allah: Dia-lah “Kitab Suci” yang hidup. Maka dapat dimengerti jika Yesus tidak menulis Kitab Suci, karena Ia tidak ingin membatasi Diri-Nya hanya pada ajaran dan peraturan yang tertulis oleh huruf-huruf. Ia tidak menulis Kitab Suci karena Ia menghendaki semua orang untuk melihat dan membaca Pribadi-Nya yang tak terbatas. Di sanalah tertulis segala kesempurnaan ajaran, teladan, dan gambaran Allah sendiri. Bukankah bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mengetahui bahwa seorang pemimpin, seniman ataupun guru yang terbesar adalah ia yang berhasil membentuk murid-muridnya untuk menjadi pemimpin, seniman, ataupun guru yang besar juga? Demikianlah, dalam kebijaksanaan-Nya, Allah membentuk manusia, untuk mengikuti teladan-Nya untuk mencapai kehidupan kekal seperti yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Untuk mewujudkan rencana-Nya, Allah memilih orang-orang beriman tertentu yang dibimbing secara khusus oleh Roh Kudus-Nya, untuk menuliskan rencana Keselamatan-Nya ini.

Asal usul Kitab Suci

Maka umat Kristiani percaya bahwa Kitab Suci bukan merupakan kitab yang ‘jatuh’ dari surga, ataupun kitab yang dituliskan oleh Kristus, melainkan Kitab yang terdiri dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang pilihan Allah yang diilhami Roh Kudus. Nah, pertanyaannya, dari mana kita tahu bahwa kitab-kitab tertentu diilhami oleh Roh Kudus, sedangkan ada banyak kitab lainnya ‘hanya’ merupakan karya manusia? Sejarah menunjukkan bahwa yang menentukan apakah suatu kitab tertentu diilhami Roh Kudus atau tidak adalah Gereja Katolik. Hal ini mungkin karena kita percaya bahwa Gereja Katolik dipimpin oleh para rasul dan para penerusnya yang dibimbing oleh Roh Kudus. Karena Roh Kudus ini adalah Roh yang sama dengan Roh yang mengilhami penulisan kitab-kitab itu, maka peneguhan yang ditetapkan oleh Gereja tentang kitab-kitab tersebut tidak mungkin keliru, karena Roh Kudus tidak mungkin mempertentangkan Diri-Nya sendiri.

Jika kita tidak mempercayai hal ini, kita sama saja dengan mempertanyakan janji Kristus yang mengatakan akan menyertai para rasul-Nya sampai akhir zaman (lih. Mat 28:19-20). Kita tahu, bahwa para rasul semuanya telah wafat, sehingga janji penyertaan-Nya sampai akhir zaman hanya mungkin diartikan bahwa Yesus akan menyertai para pengganti rasul- rasul tersebut, dan menjaga mereka dari kesesatan dalam kapasitasnya memimpin Gereja dan melestarikan ajaran Kristus. Maka, dengan mengimani janji Kristus itu, kita percaya bahwa para pengganti rasul diilhami oleh Roh Kudus untuk meneguhkan kitab-kitab mana yang diilhami Roh Kudus, yang kemudian membentuk Kitab Suci.

Wahyu Ilahi diberikan kepada beberapa orang pilihan-Nya untuk dituliskan

Allah memberikan wahyu Ilahi kepada banyak orang pilihan-Nya, tidak hanya kepada satu orang saja, untuk dituliskan. Justru karena penulisan Alkitab melibatkan banyak orang selama jangka waktu ribuan tahun, maka secara objektif kita melihat campur tangan Allah dalam hal ini. Wahyu Ilahi ini diberikan dalam sejarah manusia, yaitu kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan selanjutnya diteruskan oleh para rasul dan para muridnya untuk menyampaikan penggenapan Perjanjian Lama dalam diri Kristus dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja, namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang bisa saja tidak saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya menunjuk dan membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat kita tertunduk kagum. Betapa indahnya rencana keselamatan Allah yang melibatkan umat-Nya. Keikutsertaan manusia dalam rencana keselamatan Allah ini tidak mengurangi kemuliaan-Nya, namun semakin melipat-gandakannya. Ia membuktikan DiriNya Mahakuasa, karena Ia memampukan manusia yang lemah untuk mengambil bagian dalam rencana Keselamatan-Nya; baik dalam menuliskan, menyebarluaskan dan melestarikan Kitab Suci, dan tentu saja, dalam melaksanakannya, jika manusia mau bekerjasama dengan Dia.

Peran Gereja Katolik

Dari bukti sejarah kita melihat adanya banyak kitab yang menceritakan tentang Allah. Tentu orang berhak bertanya, mana kitab yang benar, mana yang tidak. Semua orang tentu dapat mempunyai penilaian sendiri-sendiri, namun berbahagialah kita yang percaya bahwa Allah menyertai Gereja-Nya dengan Roh Kudus-Nya, sehingga Gereja yang bertindak atas nama Kristus itulah yang paling berwewenang untuk menentukan kitab mana yang otentik diilhami Roh Kudus, dan kitab mana yang tidak. Karena bimbingan Roh Kudus pada Gereja Katolik inilah, maka kita percaya bahwa kitab-kitab yang ditetapkan oleh Gereja adalah sungguh yang ditetapkan oleh Allah sendiri.

Bukti sejarah ini sungguh membuka mata kita bahwa sesungguhnya Kitab Suci yang kita kenal sekarang ada karena Gereja Katolik, yang menetapkan kanon Kitab Suci. Kata ‘kanon’ sendiri berarti ‘batang pengukur’ atau ‘standar’. Jadi kanon Kitab Suci adalah daftar kitab-kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus yang membentuk Kitab Suci, yang ditentukan oleh tradisi apostolik Gereja Katolik.[1]

Kitab Suci saja (‘Bible alone’) tidak cukup

Ada kelompok orang-orang yang mengatakan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi sumber satu-satunya iman Kristen. Namun, pendapat ini tidak dapat menjelaskan bagaimana kita dapat tahu dengan pasti bahwa kitab-kitab tertentu termasuk dalam Kitab suci sedangkan kitab yang lainnya tidak. Sebab, kanon Kitab Suci tidak diketahui dari Kitab Suci itu sendiri. Di dalam Kitab Suci (dari Kejadian sampai Wahyu) tidak disebutkan bahwa kitab ini dan itu termasuk Kitab Suci, sedang kitab yang lain tidak. Maka, secara objektif sesungguhnya dapat kita lihat, bahwa berpegang pada Kitab Suci saja tidaklah cukup. Peran Gereja menjadi sangat penting, karena Gereja lahir terlebih dahulu dari Kitab Suci. Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus-lah yang menjadi saksi otoritatif yang dapat menentukan apakah kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus atau tidak. Peran Gereja Katolik ini diakui juga oleh pendiri gereja Protestan, Martin Luther, yang mengatakan, “Kita diwajibkan untuk bersandar pada Gereja Katolik- bahwa mereka memiliki Sabda Tuhan yang kita terima dari mereka, jika tidak, kita tidak dapat mengetahui apapun tentang itu.”[2]

Kanon Kitab Suci menurut Gereja Katolik

Kanon Kitab Suci yang ditetapkan menurut tradisi apostolik Gereja adalah Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.[3] Mungkin kita pernah mendengar bahwa Gereja Katolik dikatakan ‘menambahkan’ 7 kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yudit, Barukh, Tobit, 1 dan 2 Makabe (beserta tambahan Kitab Daniel dan Esther), yang dikenal dengan Kitab Deuterokanonika.[4] Tetapi sesungguhnya, ketujuh kitab tersebut sudah ada sejak jemaat awal. Baru sekitar 1500 tahun kemudian, Martin Luther memisahkan ketujuh kitab ini dari kanon Perjanjian Lama. Kitab-kitab ini digabungkan dengan kitab-kitab lain yang umum disebut sebagai kitab Apokrif/ “Apocrypha” oleh Gereja Protestan.

Berikut ini adalah daftar kanon Kitab Suci sejak pertama kali ditetapkan oleh Paus Damasus I (382), yang sudah memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika:

Keseluruhan teks dekrit Paus Damasus I itu adalah [kitab-kitab PL dicetak tebal]:

“It is likewise decreed: Now, indeed, we must treat of the divine Scriptures: what the universal Catholic Church accepts and what she must shun. The list of the Old Testament begins: Genesis, one book; Exodus, one book: Leviticus, one book; Numbers, one book; Deuteronomy, one book; Jesus Nave [Joshua], one book; of Judges, one book; Ruth, one book; of Kings, four books [1&2 Samuel; 1&2 Kings] Paralipomenon [1&2 Chronicles], two books; One Hundred and Fifty Psalms, one book; of Solomon, three books: Proverbs, one book;Ecclesiastes, one book; Canticle of Canticles, one book; likewise, Wisdom, one book; Ecclesiasticus (Sirach), one book;
Likewise, the list of the Prophets: Isaiah, one book; Jeremias, one book [Barukh considered part of Jeremiah]; along with Cinoth, that is, his Lamentations; Ezechiel, one book; Daniel, one book; Osee, one book; Amos, one book; Micheas, one book; Joel, one book; Abdias, one book; Jonas, one book; Nahum, one book; Habacuc, one book; Sophonias, one book; Aggeus, one book; Zacharias, one book; Malachias, one book.
Likewise, the list of histories: Job, one book; Tobias, one book; Esdras, two books [Ezra & Nehemiah]; Esther, one book; Judith, one book; of Maccabees, two books [1&2 Maccabees].

Likewise, the list of the Scriptures of the New and Eternal Testament, which the holy and Catholic Church receives: of the Gospels, one book according to Matthew, one book according to Mark, one book according to Luke, one book according to John. The Epistles of the Apostle Paul, fourteen in number: one to the Romans, one to the Corinthians [2 Corinthians is not mentioned], one to the Ephesians, two to the Thessalonians, one to the Galatians, one to the Philippians, one to the Colossians, two to Timothy, one to Titus one to Philemon, one to the Hebrews.
Likewise, one book of the Apocalypse of John. And the Acts of the Apostles, one book.
Likewise, the canonical Epistles, seven in number: of the Apostle Peter, two Epistles; of the Apostle James, one Epistle; of the Apostle John, one Epistle; of the other John, a Presbyter, two Epistles; of the Apostle Jude the Zealot, one Epistle. Thus concludes the canon of the New Testament.

Likewise it is decreed: After the announcement of all of these prophetic and evangelic or as well as apostolic writings which we have listed above as Scriptures, on which, by the grace of God, the Catholic Church is founded, we have considered that it ought to be announced that although all the Catholic Churches spread abroad through the world comprise but one bridal chamber of Christ, nevertheless, the holy Roman Church has been placed at the forefront not by the conciliar decisions of other Churches, but has received the primacy by the evangelic voice of our Lord and Savior, who says: “You are Peter, and upon this rock I will build My Church, and the gates of hell will not prevail against it; and I will give to you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you shall have bound on earth will be bound in heaven, and whatever you shall have loosed on earth shall be loosed in heaven.”

Dengan demikian, tidak benar jika dikatakan bahwa Gereja Katolik menambah-nambahi Kitab Suci. Sebaliknya, kitab-kitab selengkapnya, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, itu sudah ditetapkan sejak awalnya di tahun 382.

Kanon Perjanjian Lama (PL)[5]

Kanon Perjanjian Lama gereja Protestan diambil berdasarkan kanon kaum Yahudi yang berbahasa Ibrani di Palestina. Sedangkan kanon Perjanjian Lama Gereja Katolik berdasarkan atas kanon kaum Yahudi yang berbahasa Yunani (Alexandria) di seluruh Mediterania, termasuk di Palestina. Alexandria adalah kota di Mesir yang mempunyai perpustakaan terbesar pada jaman itu, di bawah kepemimpinan Raja Ptolemy II Philadelphus (285-246 BC). Maka keseluruhan Kitab Suci Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh 70 atau 72 orang ahli kitab Yahudi. Terjemahan ini selesai pada tahun 250-125 BC, dan dari sanalah kita mengenal kata “Septuagint” yaitu kata Latin dari 70 (LXX), sesuai dengan jumlah para penerjemah itu.

Pada jaman Yesus hidup, bahasa Ibrani adalah bahasa yang mati/ tidak digunakan. Orang-orang Yahudi di Palestina pada saat itu umumnya bicara dengan bahasa Aramaic. Sedangkan pada waktu itu, bahasa Yunani merupakan bahasa yang umum dipergunakan di seluruh dunia Mediteranian. Maka tak mengherankan bahwa yangAlkitab yang dipergunakan oleh Yesus adalah terjemahan Septuagint/ Yunani, dan terjemahan Septuagint ini pula yang dipergunakan oleh para penulis kitab Perjanjian Baru.

Pengarang Protestan yang bernama Gleason Archer dan G.C. Chirichigno membuat daftar yang menyatakan bahwa Perjanjian Baru mengutip Septuagint sebanyak 340 kali, dan hanya mengutip kanon Ibrani sebanyak 33 kali.[6] Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam Perjanjian Baru, terjemahan Septuagint dikutip sebanyak lebih dari 90%. Jangan lupa, seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.

Mengapa PL menurut Septuagint berisi 46 kitab sedangkan kanon Ibrani 39 kitab

Kanon Ibrani ditetapkan oleh para rabi Yahudi di Javneh/Jamnia, Palestina, pada sekitar tahun 100, yang kemungkinan disebabkan oleh reaksi mereka terhadap Gereja yang menggunakan kanon Yunani (Alexandria). Alasan mereka tidak memasukkan seluruh kitab ini ke dalam kanon mereka adalah karena mereka tidak dapat menemukan ke-7 kitab Deuterokanonika tersebut dalam versi Ibrani. Namun Gereja Katolik tidak mengakui keputusan para rabi Yahudi tersebut. Jangan kita lupa, bahwa mereka (para rabi Yahudi) tidak pernah menerima Kristus, ajaran Kristiani maupun Perjanjian Baru yang sudah ada sebelum kanon Ibrani ditetapkan. Bagaimana kita dapat mempercayai keputusan para rabi Yahudi untuk menentukan kanon Kitab Suci? Atau mengakui bahwa mereka dipimpin oleh Roh Kudus, padahal mereka malah telah menolak Kristus?

Memang harus diakui bahwa karena wahyu ilahi diberikan pertama-tama melalui bangsa Yahudi, maka tak mengherankan jika Alkitab kita mengandung kitab-kitab suci yang diakui juga oleh kaum agama Yahudi. Menurut The Pontifical Biblical Commision, on The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible, (I, E, 3.Formation of the Christian Canon), disebutkan:

“Di Gereja- gereja Timur pada jaman Origen (185-253) ada usaha untuk menyesuaikan dengan kanon Ibrani…. [Namun] usaha untuk menyesuaikan teks Ibrani dalam kanon Ibrani tidak menghalangi para pengarang Kristen di gereja-gereja Timur untuk menggunakan kitab-kitab yang tidak termasuk dalam kanon Ibrani, atau yang mengikuti teks Septuagint. Maka pendapat bahwa – kanon Ibrani yang seharusnya dipilih oleh umat Kristiani- tidak dipilih oleh gereja-gereja Timur, atau setidak-tidaknya tidak ada kesan yang mendukung ke arah itu. Di gereja-gereja Barat, penggunaan Septuagint adalah umum dan dipertahankan oleh St. Agustinus (354-430). Ia melandaskan pandangannya pada praktek yang telah berlangsung lama dalam Gereja.”

Maka berdasarkan penggunaan kitab-kitab yang telah lama berakar di Gereja, Gereja Katolik menetapkan kanon Kitab Suci pada Konsili di Hippo 393 dan Carthage 397 (meneguhkan kembali apa yang telah ditentukan oleh Paus Damasus I dalam dekritnya di tahun 382), yaitu 46 kitab dari kanon Yunani (Septuagint) sebagai kanon Perjanjian Lama/PL dan 27 kitab Perjanjian Baru/ PB termasuk di sini adalah ketujuh kitab di PL yang kemudian disebut sebagai kitab-kitab Deuterokanonika. Para Bapa Gereja, baik sejak jaman Kristen abad pertama, Polycarpus, Irenaeus, Clement dan Cyprian mengutip kitab-kitab Deuterokononika tersebut dalam pengajaran mereka[7], sebab mereka menganggap kitab-kitab tersebut diilhami oleh Roh Kudus, sama dengan kitab-kitab PL lainnya. Sejak saat diresmikannya kanon Kitab Suci pada abad ke-4, Septuagint ini diterima oleh umat Kristiani, kecuali oleh mereka yang kemudian menolaknya pada sekitar tahun 1529 bersamaan dengan pemisahan diri mereka dari kesatuan dengan Gereja Katolik. Jadi tidak benar bahwa Kitab Deuterokanonika baru ditambahkan pada tahun 1546 pada Konsili Trente; ini adalah mitos yang sangat keliru!

PL menurut Martin Luther dan gereja Protestan

Dengan berpegang pada kanon Ibrani berdasarkan Konsili Jamnia dan pendapat St. Jerome, gereja Protestan menganggap ke- 39 kitab sebagai kanon Perjanjian Lama. Namun demikian sebenarnya alasan ini tidak cukup kuat, karena walaupun St. Jerome pernah menyatakan pendapatnya yang menolak status kanonik kitab Yudit, Tobit, Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan, ia pada akhirnya dengan rendah hati tunduk pada keputusan Gereja, dengan memasukkan kitab-kitab tersebut ke dalam terjemahan Kitab Suci berbahasa Latin, “the Vulgate”. Juga penelitian terakhir dari the Dead Sea Scrolldi Qumran menunjukkan ditemukannya copy naskah berbahasa Ibrani dari beberapa kitab yang dipermasalahkan (Sirakh, Yudit dan 1 Makabe- yang tadinya dianggap tidak termasuk kanon Ibrani).[8] Penemuan naskah Ibrani pada sebagian besar kitab Sirakh/ Ecclesiaticus di Mesir memperkuat anggapan para ahli kitab suci bahwa kitab Sirakh tersebut diterjemahkan ke bahasa Yunani dari bahasa Ibrani.[9]

Bukti-bukti ini sesungguhnya memperkuat bahwa Septuagint adalah terjemahan awal yang lengkap dan otentik, hanya saja dengan berselangnya waktu, naskah Ibrani dari beberapa kitab ini tidak dapat ditemukan seluruhnya. Jika suatu saat nanti ditemukan semua naskah Ibraninya, barangkali semua menjadi lebih jelas. Namun dengan ditemukannya sebagian saja dari naskah Ibrani kitab tersebut, itu sudah menunjukkan bahwa alasan mencoret keberadaan kitab Deuterokanonika dari kanon hanya karena tidak dapat ditemukan naskah Ibrani-nya, sesungguhnya bukan merupakan alasan yang kuat. Sebab, jika suatu saat dapat ditemukan semua naskah Ibrani-nya, bagaimana mempertanggungjawabkan pendapat ini?

Juga perlu direnungkan, mengapa gereja Protestan mengambil dasar konsili Jamnia sebagai dasar penentuan kanon PL, sebab konsili itu tidak umum diketahui oleh kaum Yahudi dan hasil konsili tersebut tidak diterima oleh segenap kaum Yahudi. Kaum Saduki dan Samaria tidak menerimanya, bahkan kaum Yahudi di Ethiophia sampai sekarang mempunyai kitab PL yang sama dengan yang kanon PL Gereja Katolik.

Sekarang mari kita melihat fakta sejarah.[10] Walaupun Luther mempertanyakan penetapan 46 kitab dalam kanon Perjanjian Lama (PL), namun ia sendiri tetap menyertakan kitab-kitab Deuterokanonika tersebut dalam terjemahan Kitab Suci pertamanya dalam bahasa Jerman pada tahun 1534, di bagian akhir PL, dengan menyebutnya sebagai Apokrifa. Kitab-kitab Deuterokanonika juga ditemukan dalam edisi pertama King James Version pada tahun 1611, yang diletakkan di antara PL dan PB. Maka kitab-kitab Deuterokanonika memang sudah termasuk dalam semua Alkitab (setidak-tidaknya sebagai appendix dalam Alkitab Protestan) sampai pada tahun 1827, yaitu ketika the British Foreign Bible Society benar-benar ‘memotongnya’. Maka terlihat bahwa bukan Gereja Katolik yang menambahkan Kitab Deuterokanonika, melainkan gereja Protestan yang menguranginya dari keseluruhan Kitab Suci.

Perlu juga diketahui bahwa Luther mempertanyakan keaslian kitab 2 Makabe, dari segi historis dan karena di kitab tersebut juga berisi dasar doktrin Api Penyucian, yang bertentangan dengan prinsip-nya “Salvation by faith alone”. Pandangan inilah yang sering dianggap sebagai alasan mengapa Luther memisahkan kitab Deuterokanonika sebagai “Apokrif ‘Apocrypha’, yaitu kitab-kitab yang tidak dianggap sama seperti Kitab Suci lainnya namun sebagai kitab yang berguna dan baik untuk dibaca.”[11] Sayangnya, setelah jaman Reformasi, arti ‘apocrypha’ –yang terjemahan bebasnya adalah ‘tersebunyi’ ini memperoleh konotasi negatif, sehingga diartikan sebagai ‘salah/ sesat’.

Kanon PL mana yang kita pilih?

Jika kita memilih untuk berpegang pada Kitab Suci yang mengandung ketujuh kitab tersebut, artinya, kita mengikuti tradisi para rasul, para penulis kitab Perjanjian Baru dan para jemaat awal. Namun jika kita berpegang pada Kitab Suci yang tidak mencantumkan ketujuh kitab itu, artinya kita mengikuti tradisi para rabi Yahudi non-Kristen yang kemudian diikuti oleh gereja Protestan.

Kanon Perjanjian Baru (PB)

Mengenai hal kanon PB, baik Gereja Katolik maupun Protestan setuju, bahwa terdapat 27 kitab di dalam kitab Perjanjian Baru. Kitab pertama PB dituliskan sekitar tahun 50, yaitu Injil Matius dan Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika (1 Tesalonika), dan yang terakhir, Wahyu, pada tahun 90-100. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sampai diperoleh Kitab Perjanjian Baru tersebut, jika pada waktu yang sama dituliskan kitab-kitab lain, yang mengundang perbedaan pendapat dalam kelompok jemaat mengenai hal ke-otentikan kitab sebagai yang diilhami Roh Kudus. Misalnya ada yang berpendapat bahwa kitab Ibrani, Yudas, Wahyu dan 2 Petrus itu tidak diilhami Roh Kudus, sedangkan sebaliknya ada yang berpendapat bahwa kitab Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat Barnabas dan Klemens adalah tulisan yang diilhami Roh Kudus. Gereja memahami situasi ‘kebingungan’ ini maka pada akhir abad ke- 4 dimulailah suatu konsili dan dekrit yang memutuskan Kanon seluruh Kitab Suci, sebagai berikut:

  1. Tahun 382, Paus Damasus I, didorong oleh Konsili Roma, menulis dekrit yang menentukan ke 73 kitab, PL dan PB.
  2. Tahun 393, Konsili Hippo di Afrika Utara menyetujui adanya ke-73 kitab tersebut dalam kanon Kitab Suci, PL dan PB.
  3. Tahun 397, Konsili Carthage/ Carthago, Afrika Utara, kembali menyetujui kanon PL dan PB tersebut. Banyak gereja Protestan yang menganggap konsili ini sebagai yang menentukan secara otoritatif kanon Perjanjian Baru.
  4. Tahun 405, Paus St. Innocentius I (401-417) menulis surat kepada Uskup Exsuperius dari Toulouse, menetapkan ke 73 kitab seperti yang disetujui oleh Konsili Hippo dan Carthage.
  5. Tahun 419, Konsili ekumenikal di Florence secara resmi mendefinisikan daftar ke-73 kitab yang sama tersebut dalam kanon Kitab Suci.
  6. Tahun 1546, Konsili ekumenikal di Trente meneguhkan lagi kanon Kitab Suci yang terdiri dari ke-73 kitab tersebut.
  7. Tahun 1869, Konsili ekumenikal Vatikan I kembali meneguhkan daftar kitab yang disebutkan dalam Konsili Trente.

Maka kita ketahui dalam waktu 40 tahun dari tahun 382 sampai 419 diadakan beberapa konsili dan keputusan Bapa Paus tentang Kanon Kitab Suci sampai akhirnya ke-73 kitab tersebut diterima secara umum oleh Gereja pada sekitar tahun 450.

Gereja Katolik menggunakan wewenang mengajarnya untuk meneguhkan kanon Kitab Suci tersebut, dan kita patut bersyukur atas campur tangan Roh Kudus yang memimpin Gereja Katolik dalam hal ini. St. Agustinus berkata, “Saya tidak akan percaya pada Injil seandainya otoritas Gereja Katolik tidak mengarahkan saya untuk itu”.[12] Maka St. Agustinus mengakui bahwa kepastian akan keaslian kitab tertentu sebagai yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus adalah dengan menerima ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja Katolik, dan dengan demikian mengakui juga otoritas Gereja Katolik. Suatu permenungan adalah: jika kita meragukan otoritas Gereja Katolik, maka kita sesungguhnya juga menentang Para Bapa Gereja, seperti St. Agustinus. Adakah kita lebih pandai dan lebih diilhami Roh Kudus daripada mereka?

Kesimpulan

Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa Kitab Suci berkaitan erat dengan Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Lama ditetapkan berdasarkan terjemahan yang diakui oleh Gereja Katolik. Kitab Perjanjian Baru ditulis, diperbanyak, dikumpulkan dan dilestarikan oleh Gereja Katolik. Dari kanon yang ditetapkan oleh Gereja Katolik inilah semua gereja yang lain memperoleh Kitab Suci. Namun bukan berarti bahwa otoritas Gereja Katolik-lah yang menciptakan Kitab Suci, sebab Roh Kuduslah yang memberi inspirasi kepada para penulis Kitab Suci. Yang benar adalah, Gereja Katolik diberi kuasa ilahi oleh Yesus Kristus sendiri untuk secara resmi meneguhkan dan menentukan secara dogmatis daftar kitab-kitab tertentu sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Penentuan ini tidak mungkin salah, sebab Gereja dipimpin oleh Roh Kudus yang tidak mungkin salah. Mari bersama, kita dengan rendah hati mensyukuri rahmat bimbingan Roh Kudus terhadap Gereja Katolik yang olehnya kita memperoleh Kitab Suci. Mari kita tunjukkan ketaatan iman kita kepada Kristus dengan mempercayai ketentuan yang ditetapkan oleh Gereja yang didirikan-Nya. Dan akhirnya, mari bersama-sama kita belajar lebih tekun membaca dan merenungkan Kitab Suci, yang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja Katolik.


[1]Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK) 120: Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci.

[2] Martin Luther, Commentary on St. John, chapter 16, “We are obliged to yield many things to the Papists [Catholics]- that they possess the Word of God which we received from them, otherwise we should have known nothing at all about it.”

[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik (KGK) 120: Dalam tradisi apostolik Gereja menentukan, kitab-kitab mana yang harus dicantumkan dalam daftar kitab-kitab suci. Daftar yang lengkap ini dinamakan “Kanon” Kitab Suci. Sesuai dengan itu Perjanjian Lama terdiri dari 46 (45, kalau Yeremia dan Ratapan digabungkan) dan Perjanjian Baru terdiri atas 27 kitab.

Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, dua buku Samuel, dua buku Raja-Raja, dua buku Tawarikh, Esra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, dua buku Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan, Yesus Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yeheskiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi.

Perjanjian Baru: Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Kisah para Rasul, surat-surat Paulus: kepada umat di Roma, surat pertama dan kedua kepada umat Korintus, kepada umat di Galatia, kepada umat di Efesus, kepada umat di Filipi, kepada umat di Kolose, surat pertama dan kedua kepada umat di Tesalonika, surat pertama dan kedua kepada Timotius, surat kepada Titus, surat kepada Filemon, surat kepada orang Ibrani, surat. Yakobus, surat pertama dan kedua Petrus, surat pertama, kedua, dan ketiga Yohanes, surat Yudas, dan Wahyu kepada Yohanes.

[4] Daniel 3:24-90 dan 13, 14; Ester 10:4- 16:24 (atau A-F)

[5] Disarikan dari tulisan Fr. Frank Chacon dan Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, How to Read the Bible, (Farmington, NM, San Juan Catholic Seminars, 2003), p.11- 15.

[6] Gleason Archer dan G. C. Chirichigno, Old Testament Quotations in the New Testament: A Complete Survey (Chicago, IL: Moody Press, 1983), xxv-xxxii.

[7] Kitab Kebijaksanaan dikutip dalam 1 Clement dan Barnabas …. Polycarpus mengutip Tobit, Didache mengutip Sirakh. Irenaeus mengutip Kebijaksanaan, Sejarah Susanna, Bel dan Naga (dalam Tambahan Kitab Daniel) dan Barukh. Bahkan Tertullian, Hippolytus, Cyprian dan Clement dari Alexandria sangat sering mengutip kitab Deuterokanonika tersebut, sehingga tidak perlu dicantumkan di sini (Early Christian Doctrines, 53-54).

[8] New Catholic Commentary on Holy Scripture, (Nashville, Tenn.: Thomas Nelson, 1975), p.22.

[9] Menurut NewAdvent Catholic Encyclopedia,http://www.newadvent.org/cathen/09627a.htm “Here mention should be made of the non-Massoretic Hebrew manuscripts of the Book of Ecclesiasticus. These fragments, obtained from a Cairo genizah (a box for wornout or cast-off manuscripts), belong to the tenth or eleventh century of our era. They provide us with more than a half of Ecclesiasticus and duplicate certain portions of the book. Many scholars deem that the Cairo fragments prove Hebrew to have been the original language of Ecclesiasticus (see “Facsimiles of the Fragments hitherto recovered of the Book of Ecclesiasticus in Hebrew”, Oxford and Cambridge, 1901).

[10]Lih. The New Catholic University of America, The New Catholic Encyclopedia, vol.II, 1967, p. 391, dan  di http://www.catholic.com/thisrock/2000/0009sbs.asp

[11] Hartmann Grisar, Martin Luther: His Life and Work (Maryland: Newman Press, 1950),p. 264.

[12] St. Augustine, Against the Epistle of Manichaeus Called Fundamental, 5,6, “I would put no faith in the Gospels unless the authority of the Catholic Church directed me to do so.”

http://www.katolisitas.org/737/perkenalan-dengan-kitab-suci-bagian-ke-2

Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian 1)

Posted on Updated on

Perkenalan

Orang berkata, “Tak kenal maka tak sayang”; maka jika kita ingin “menyayangi” Kitab Suci yang adalah Sabda Allah, maka kita perlu terlebih dahulu “mengenal” Kitab Suci tersebut, yaitu dengan rajin membaca dan merenungkannya. Namun untuk mengenal Kitab Suci itu, kita perlu terlebih dahulu mengetahui hal-hal berikut ini: 1) Apa sih Kitab Suci itu? 2) Mengapa kita harus membaca Kitab Suci? 3) Bagaimana sebaiknya kita membaca Kitab Suci?

Lebih lanjut tentang ulasan mengenai Kitab Suci yang ditetapkan secara kanonik oleh Gereja Katolik yaitu yang terdiri dari 73 kitab, akan dibahas pada artikel berikutnya (bagian ke-2). Berikut ini mari kita lihat ketiga point di atas.

1. Apakah Kitab Suci itu?

Kita sering mendengar bahwa Kitab Suci adalah “Wahyu Allah”. Karena itu mari kita lihat pengertian “wahyu” atau “revelation” dalam bahasa Inggris. Wahyu atau pernyataan Allah tentang diri-Nya ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1: 26). Artinya kita adalah mahluk rohani yang diciptakan dengan citra Allah, yang dilengkapi oleh akal budi dan kehendak bebas, sehingga kita dapat mengetahui, memilih dan mengasihi. Dengan demikian, kita manusia dapat menyimpulkan bahwa Tuhan Sang Pencipta itu ada, dengan melihat segala ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita (lihat artikel Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada, silakan klik). Keberadaan Tuhan juga diketahui dengan memperhatikan suara hati nurani, di mana Tuhan menuliskan hukum-hukum-Nya untuk menyatakan yang benar dan yang salah; inilah wahyu yang universal. Selanjutnya, Tuhan juga secara khusus memberikan wahyu yang merupakan pernyataan akan diri-Nya dan kehendak-Nya bagi manusia untuk mencapai tujuan akhir yang direncanakan-Nya. Wahyu khusus ini disampaikan kepada manusia sejak awal sejarah manusia sampai sekarang. Jadi kita ketahui bahwa Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia dengan 3 cara:

  1. melalui segala ciptaan-Nya.
  2. melalui hukum yang tertulis dalam hati manusia.
  3. melalui wahyu umum yang khusus menyatakan akan diri-Nya dan rencana-Nya.

Tuhan menyatakan diri-Nya melalui segala ciptaan-Nya.

Segala keteraturan, keindahan, kekuatan yang terkandung dalam alam semesta mengarahkan kita untuk mengambil kesimpulan bahwa ada “Sesuatu” yaitu “Sang Pencipta” yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Segala ciptaan memberikan kesaksian akan keberadaan Allah kepada manusia, dan manusia sesungguhnya tidak dapat berdalih mengenai hal ini (lih. Rom 1:20).[1] Alkitab mengatakan bahwa mereka yang tidak mengenali Allah sesungguhnya sangat “bodoh”, sebab mereka mengenal pekerjaan tangan-Nya tetapi tidak mengenal Senimannya… Padahal dengan membandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-Nya kita sesungguhnya dapat sampai kepada pengenalan akan Pencipta-Nya yaitu Allah (lih. Keb 13:1-15). Jadi sama seperti kalau kita melihat lukisan yang indah kita tahu bahwa lukisan itu adalah hasil karya seorang pelukis yang hebat, maka jika kita melihat alam ciptaan yang indah, seharusnya kita menyimpulkan hal serupa: bahwa ada Sang Pencipta yang Maha Indah dan Hebat yang menciptakannya.

Hukum yang tertulis dalam hati nurani manusia

Hukum yang ada di dalam hati manusia (lih. Rom 2:15) ini merupakan pengakuan manusia akan adanya suatu hukum Ilahi yang berada di luar diri manusia, yang mengatur kita meskipun hal itu dapat bertentangan dengan keinginan kita. Contohnya, seandainya kita mengambil sesuatu yang bukan hak milik kita, maka hati nurani kita akan menuduh kita; karena kita menyadari bahwa itu adalah perbuatan salah. Adanya hukum yang tertulis dalam hati ini menjadikan kita mengetahui kebenaran yang bersifat umum dan berlaku di mana saja. Contohnya, hal kejujuran, menghormati orang tua, menepati janji, dst. Pengakuan akan nilai-nilai yang bersifat universal semacam ini disebut sebagai hukum kodrat. Hukum kodrat mencerminkan adanya hukum Ilahi yang berasal dari Allah; dan karena Allah tidak berubah, maka hukum kodrat juga tidak berubah.

Allah menyatakan diri-Nya secara khusus melalui wahyu publik/ umum

Secara khusus, Allah menyatakan diri-Nya melalui para nabi, yang mencapai puncaknya di dalam pernyataan Yesus Kristus Putera-Nya, dan yang kemudian dilanjutkan oleh para rasul Kristus. Wahyu publik/umum ini adalah wahyu Allah yang khusus diberikan kepada manusia agar manusia dapat mengenal siapa diri-Nya dan rencana-Nya untuk menyelamatkan manusia. Pada Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri-Nya kepada Nabi Musa sebagai “Aku adalah Aku” (Kel 3:14) untuk menyatakan bahwa keberadaan-Nya tidak tergantung oleh siapapun. Allah-lah yang menciptakan hukum moral dalam kesepuluh perintah Allah, yang kemudian tertulis dalam hati manusia sebagai hukum kodrat.

Wahyu umum ini[2] bermula dari wahyu yang diberikan kepada para nabi, dan berakhir dengan wafatnya rasul Kristus yang terakhir.[3] Wahyu umum ini terdiri dari dua jenis, yang tergantung dari cara penyampaiannya; yaitu Kitab Suci (tertulis) danTradisi Suci (lisan).[4] Maka kita ketahui ketiga hal ini:

  1. Kitab Suci adalah Wahyu ilahi yang disampaikan secara tertulis di bawah inspirasi Roh Kudus.[5] Inilah definisi dari Kitab Suci.
  2. Tradisi Suci adalah Wahyu ilahi yang tidak tertulis, namun yang diturunkan oleh para rasul sejak awal oleh inspirasi Roh Kudus, sesuai dengan yang mereka terima dari Yesus dan yang kemudian diturunkan kepada para penerus mereka.[6]
  3. Baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci berasal dari sumber yang sama, sehingga harus dihormati dengan penghormatan yang sama.[7]

Maka kita ketahui sekarang bahwa untuk menerima wahyu Allah secara lengkap, kita tidak hanya perlu Kitab Suci, namun juga Tradisi Suci, dan pihak wewenang mengajar Gereja (Magisterium) yang dapat secara benar mengartikan wahyu ilahi tersebut. Ketiga hal ini disebut sebagai pilar iman, yang ditujukan untuk menjaga dan mengartikan wahyu publik dari Allah ini di dalam kemurniannya.

2. Mengapa kita harus membaca Kitab suci?

Rasul Paulus memberikan alasan kepada kita untuk mempelajari Kitab Suci yaitu, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untukmenyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3:16) agar kita yang menjadi umat-Nya diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Pengajaran

Kitab Suci kita kenal sebagai Sabda Allah, maka melalui Kitab Suci kita percaya Allah berbicara dan mengajar kita. Oleh karena itu, kita melihat dokumen pengajaran Gereja dipenuhi oleh kutipan ayat Kitab Suci sebagai sumbernya, sebab memang Gereja menyadari bahwa melalui Kitab Suci, Allah Bapa menjumpai anak-anak-Nya, untuk memberi pengajaran bahwa Sabda-Nya merupakan sumber kekuatan iman.[8]

Khusus dalam hal pengajaran ini maka Konsili Vatikan II mengingatkan agar para kaum beriman, terutama para rohaniwan dan pengajar, entah itu imam, diakon atau para katekis, termasuk juga para pembawa firman, agar pertama-tamamerenungkan Kitab Suci, sebagai bagian dari hidup mereka.[9] Jangan sampai yang diwartakan itu hanya pewartaan lahiriah yang “kosong” karena pewartanya sendiri tidak merenungkan Sabda Allah dalam batin. Peringatan ini tentu merupakan ajakan bagi semua umat yang ingin mengenal Kristus secara lebih dalam karena, seperti kata St. Jerome, kalau kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita tidak mengenal Kristus.[10]

Menyatakan kesalahan

Selain untuk pengajaran, Kitab Suci juga berguna untuk menyatakan kesalahan kita. Bukankah sering kita mengalami, bahwa dengan membaca Kitab Suci dan mendengarkan pengajaran Sabda Tuhan, kita disadarkan dari perbuatan kita yang salah? Selain untuk menyatakan kesalahan perbuatan kita, Kitab Suci juga dapatmenyatakan kesalahpahaman kita akan suatu pengajaran tertentu. Dalam hal ini termasuk kesalahpahaman mereka yang berpikir bahwa Gereja Katolik mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Kitab Suci. Sebab, jika kita kembali mempelajari Kitab Suci dalam kaitannya dengan Tradisi Suci, maka kita akan dapat mencapai pengertian yang menyeluruh tentang maksud pengajaran dari Kitab Suci.

Memperbaiki kelakuan

Kitab Suci juga membantu kita untuk memperbaiki kelakuan dan sifat kita, sesuai dengan kehendak Tuhan. Kitab Suci penuh berisi teladan sikap hidup, yang dapat membantu kita untuk meninggalkan dosa dan meningkatkan kebajikan. Terutama dengan merenungkan ajaran dan teladan Yesus, maka kita dapat memperbaiki sifat dan perbuatan kita yang tidak baik dengan berusaha meniru teladan hidupNya.

Mendidik dalam kebenaran

Di atas semua itu, Kitab Suci sangat berguna untuk melatih dan mendidik kita untuk hidup di dalam kekudusan. Jadi kita harus membaca Kitab Suci dengan maksud terutama bukan untuk sekedar menghafalkan ayat-ayatnya, tetapi untuk melaksanakannya dalam hidup kita agar kita dapat hidup kudus. Karena Kitab Suci adalah Sabda Tuhan yang berbicara tentang Kasih, maka dengan bersandar pada Kitab Suci kita dapat bertumbuh secara rohani untuk lebih mengenal dan mengasihi Tuhan.

3. Bagaimana sebaiknya kita membaca Kitab Suci?

Kita sering mendengar bahwa untuk menafsirkan Kitab Suci, kita perlu bimbingan Roh Kudus. Pertanyaannya, mengapa banyak orang mengatakan “saya memperoleh pengertian dari Roh Kudus”, namun ternyata pengertian seorang terhadap ayat tertentu dalam Kitab Suci berbeda dengan pengertian orang lain yang sama-sama merasa dibimbing oleh Roh Kudus? Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kitab Suci harus dibaca dan ditafsirkan di dalam terang Roh Kudus yang sama, yang oleh-Nya kitab itu ditulis.[11]

Maka, terdapat tiga sikap utama yang dibutuhkan untuk membaca Kitab Suci, yaitu, kerendahan hati, iman dan kekudusan. Dibutuhkan sikap kerendahan hatiuntuk mempelajari Kitab Suci sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh para penulisnya pada saat kitab itu ditulis, sebagaimana diartikan oleh para Bapa Gereja. Sebab, kita percaya, mereka dipimpin oleh terang Roh Kudus yang sama dengan Roh Kudus yang memimpin para penulis kitab itu. Kita juga harus membaca Kitab Suci dengan iman, sebab hanya dengan iman kita dibawa pada pemahaman akan misteri Allah, dan pemahaman ini dapat mengubah kita menjadi manusia baru. Di atas semua itu, kita harus membaca Kitab Suci dengan niatan untuk bertumbuh dalamkekudusan, agar kita dapat lebih mengasihi Tuhan dan sesama.

Beberapa tips untuk membaca Kitab Suci secara keseluruhan secara lebih serius adalah dengan memulainya dari Kitab Injil, entah dari Matius, Markus, Lukas atau Yohanes. Tiap hari, bacalah 1 sampai 3 bab. Ada yang berpendapat bahwa Kitab Yohanes baik untuk dibaca pertama kali, karena Yohanes adalah Rasul yang paling dikasihi oleh Yesus, sehingga kita dapat lebih mengenal Kristus lewat tulisannya. Setelah Injil selesai dibaca, kita melanjutkannya dengan Kisah Para Rasul sampai kepada kitab Wahyu. Baru setelah itu kita memulai membaca Kitab Perjanjian Lama. Dengan demikian, pada saat kita membaca Perjanjian Lama, kita mempunyai gambaran umum akan pemenuhannya pada Perjanjian Baru.

Membaca seluruh Kitab Suci itu baik, namun demikian, yang lebih penting daripada hanya sekedar “membaca” saja, adalah merenungkan makna Kitab suci dalam doa dan melakukannya. Hal membaca dan merenungkan Kitab Suci ini akan dituliskan dalam artikel tersendiri.

Cara untuk menafsirkan Kitab Suci

Konsili Vatikan II mengajarkan tiga cara untuk menafsirkan Kitab Suci sesuai dengan Roh Kudus yang mengilhaminya[12]:

  1. Memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci.
  2. Membaca Kitab Suci dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja.
  3. Memperhatikan “analogi iman”.

Selanjutnya, dengan memperhatikan ketiga hal ini, kita perlu juga memahami yang disebut dengan “Tipologi”, untuk melihat kaitan antara Kitab Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.

Memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci

Kita harus mengartikan ayat tertentu dalam Kitab Suci dalam kaitannya dengan pesan Kitab Suci secara keseluruhan. Mengartikan satu paragraf atau bahkan satu kalimat saja namun tidak memperhatikan kaitannya dengan ayat yang lain, dapat berakibat fatal. Contohnya, seorang atheis mengutip Mzm 14:1, dan berkata “Tidak ada Allah”. Tetapi sebenarnya, keseluruhan kalimat itu berkata, “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah”. Maka arti yang disampaikan dalam Alkitab tentu sangat berbeda dengan pengertian orang atheis tersebut.

Contoh lain, misalnya dalam ayat Yoh 3:16 dikatakan bahwa siapa yang percaya pada Yesus akan memperoleh hidup kekal, atau “diselamatkan”; lalu pada ayat Ef 2:8 ada perkataan “diselamatkan oleh iman”, maka ada banyak orang Kristen mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman saja (saved by faith alone). Padahal ayat-ayat Alkitab yang lain memberikan pengajaran yang lebih menyeluruh, misalnya pada ayat Ef 2:8 sendiri dikatakan: “Karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman”, sehingga di sini saja kita tahu bahwa bukan hanya iman yang menyelamatkan kita. Ayat yang lain mengajarkan iman yang menyelamatkan itu “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6). Artinya kita harus melakukan perintah Tuhan agar dapat diselamatkan (Mat 19:17), dan perintah ini adalah hukum kasih kepada Tuhan dan sesama (Mat 22:37-40; Mrk 12:30-31). Alkitab juga mengajarkan bahwa Keselamatan dalam Kristus diperoleh dengan iman melalui pertobatan dan pembaptisan dalam nama-Nya, demi penebusan dosa (Kis 2:38-41). Rasul Yakobus, bahkan dengan jelas mengatakan bahwa kita dibenarkan karena perbuatan-perbuatan kita dan bukan hanyakarena iman (Yak 2:24). Dengan demikian, untuk mengetahui gambaran yang menyeluruh tentang keselamatan, maka kita harus melihat Alkitab secara keseluruhan.

Dalam terang tradisi hidup seluruh Gereja

Banyak ahli Kitab Suci di jaman modern yang tidak mengindahkan interpretasi yang berakar dari tradisi Gereja. Mereka berpikir seolah-olah baru pada saat mereka menginterpretasikan Alkitab, Roh Kudus memberikan pengertian yang paling “asli”, sedang interpretasi pada abad- abad yang lalu itu keliru. Sikap ini tentunya tidak mencerminkan kerendahan hati. Gereja mengajarkan bahwa kita harusmenginterpretasikan Kitab Suci sesuai dengan tradisi hidup seluruh Gereja, sebab “Kitab suci lebih dulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas pergamen (kertas dari kulit)”.[13] Di dalam Tradisi Suci inilah Roh Kudus menyatakan kenangan yang hidup tentang Sabda Allah dan interpretasi spiritual dari Kitab Suci. Tradisi Suci tercermin dari tulisan Para Bapa Gereja, dan ajaran- ajaran definitif yang ditetapkan oleh Magisterium, seperti yang dihasilkan dalam Konsili-konsili, Bapa Paus maupun yang dijabarkan dalam doktrin Gereja. Hal berpegang teguh pada ajaran para rasul baik yang lisan dan yang tertulis diajarkan oleh rasul Paulus dalam 2 Tes 2:15.

Memperhatikan “analogi iman”

Analogi iman maksudnya adalah bahwa wahyu Allah berisi kebenaran- kebenaran yang konsisten dan tidak bertentangan satu sama lain. Gereja Katolik percaya bahwa Roh Kudus yang meng-inspirasikan Kitab Suci adalah Roh Kudus yang sama, yang membimbing dan menjaga wewenang mengajar Gereja (Magisterium), yang juga bekerja dalam Tradisi Suci Gereja. Maka tidak mungkin ajaran Gereja Katolik bertentangan dengan Kitab Suci, karena Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Juga, karena Gereja menjaga kemurnian ajaran dalam Kitab Suci, maka untuk meng-interpretasikan Kitab Suci, kita harus melihat kaitannya dengan ajaran/ doktrin Gereja.

Analogi iman yang berdasarkan ajaran Gereja berperan sebagai “penjaga” yang membantu kita agar kita tidak sampai salah jalan dalam meng-interpretasikan Alkitab. Ibaratnya, seperti pagar yang membatasi rumah kita dengan dunia luar yang penuh dengan anjing galak. Di dalam halaman rumah, kita tetap dapat beraktifitas, anak-anak dapat bermain dengan bebas, namun aman dari bahaya. Maka dengan berpegang pada ajaran Gereja, kita tetap mempunyai kebebasan dalam menginterpretasikan ayat-ayat Kitab Suci, namun kita dapat yakin bahwa interpretasi kita tidak salah, ataupun tidak bertentangan dengan kebenaran yang diwahyukan. Keyakinan ini merupakan karunia yang diberikan kepada kita, jika kita setia berpegang pada pengajaran Gereja yang disampaikan oleh Magisterium (Wewenang mengajar Gereja). Magisterium inilah yang bertugas menginterpretasikan Sabda Allah dengan otentik, baik yang tertulis (Kitab Suci) maupun yang lisan (Tradisi Suci), dengan wewenang yang dilakukan dalam nama Tuhan Yesus.[14] Maka Magisterium tidak berada di atas Sabda Allah melainkan mengabdi kepadanya, dengan kesetiaan untuk meneruskan Sabda itu sesuai dengan yang diterima oleh para rasul.

Memahami Tipologi

Bukan menjadi kebetulan bahwa lebih dari dua per tiga bagian dari Kitab Suci adalah Perjanjian Lama (Perjanjian Baru hanya sepertiga bagian). Ini menunjukkan bahwa Perjanjian Lama mengambil bagian yang cukup penting di dalam Kitab Suci, yang akhirnya dipenuhi di dalam Perjanjian Baru. Maka, Gereja Katolik mengajarkan bahwa “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru.”[15] Maka Perjanjian Baru (PB) perlu dibaca dalam terang Perjanjian Lama (PL) dan demikian pula sebaliknya.

Tipologi maksudnya adalah bahwa PL merupakan tanda/ tipe yang dipenuhi maknanya di dalam PB. Tipologi menerangkan bagaimana Kristus dan Gereja-Nya telah dinyatakan secara figuratif di dalam PL. Beberapa contoh yang cukup jelas adalah:

  1. Dalam Yoh 3:14 Yesus sendiri mengajarkan bahwa “Ular [tembaga] yang ditinggikan di padang gurun” yang disebutkan dalam Bil 21:9 melambangkan penyaliban-Nya di gunung Golgota.
  2. Dalam Mat 12:40, Yesus mengajarkan bahwa masa 3 hari Nabi Yunus berada di dalam perut ikan besar, merupakan gambaran dari 3 hari Yesus berada di dalam kubur, sebelum kebangkitan-Nya.
  3. Dalam Luk 24:26-27, sewaktu Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus, Ia sendiri menghubungkan isi Kitab Suci [Perjanjian Lama] yang dipenuhi di dalam diriNya sebagai Mesias yang menderita, wafat dan bangkit dengan mulia [dalam Perjanjian Baru].
  4. Dalam 1Pet 3:19-21, Rasul Petrus menyatakan bahwa air bah pada jaman Nabi Nuh merupakan gambaran Pembaptisan.
  5. Dalam Rom 5:14, Rasul Paulus menyebutkan bahwa manusia pertama Adam adalah “gambaran” dari Kristus, [dengan Kristus sebagai manusia sempurna]; sebab dosa datang karena Adam, dan keselamatan datang karena Kristus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia.

Mari membaca Pesan Kasih Allah yang lengkap dengan benar

Setelah mengetahui apa itu Kitab Suci, mengapa dan bagaimana kita harus membacanya, mari kita berusaha membaca dan merenungkannya setiap hari. Membaca Kitab Suci dengan memperhatikan kaitan ayat yang satu dengan yang lain dalam keseluruhan Alkitab yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah sikap yang dianjurkan oleh Gereja, agar kita tidak salah menginterpretasikannya. Ibaratnya, jika kita ingin mengerti alur cerita yang lengkap dalam film, maka kita tidak dapat melihat hanya awalnya saja atau akhirnya saja. Demikian juga, jika kita ingin memahami Kitab Suci, kita harus melihatnya dalam konteks keseluruhan agar dapat memahami maksudnya. Juga kita harus melihat kaitan Kitab Suci dengan Tradisi Suci dan ajaran/doktrin Gereja, terutama untuk memahami ayat-ayat yang “sulit” kita pahami dengan pengertian sendiri.

Akhirnya, untuk membaca Alkitab, mari kita memohon bimbingan Roh Kudus, yaitu Roh yang sama yang mengilhami penulisan Wahyu Allah, dan Roh yang sama yang membimbing Gereja untuk mengiterpretasikan Wahyu Allah itu. Semoga Roh Kudus membimbing kita agar semakin memahami rahasia kasih Allah yang telah dinyatakan secara bertahap di sepanjang sejarah manusia sampai pada kepenuhannya di dalam Yesus Kristus. “Mari, Allah Roh Kudus, terangilah kami agar dapat menerima misteri kasih-Mu dan meresapkannya dalam hati kami…”


[1] Dei Verbum 3, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, Vatikan II, “Allah, yang menciptakan segala sesuatu melalui sabda-Nya (lih. Yoh 1:3), serta melestarikannya, dalam makhluk-makhluk [ciptaan-Nya] senantiasa memberikan kesaksian tentang diri-Nya kepada manusia (lih. Rom1:19-20).

Rom 1:19-20, “Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-nya, yaitu kekuatan –Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.”

[2] Dikatakan sebagai wahyu umum karena diberikan kepada umum/publik agar diterima dan berlaku untuk umum.

[3] Tradisi Gereja mengajarkan bahwa wahyu umum berakhir dengan Kristus dan para rasulNya, maka sesudah itu tidak akan ada lagi pernyataan wahyu umum. Maka Paus Pius X mengecam mereka yang berpendapat bahwa akan ada lagi wahyu yang baru “New Revelations”, ataupun pendapat bahwa wahyu tersebut tidak berakhir dengan para rasul. (H. Denzinger 2021). KGK 66 mengutip Dei Verbum 4, mengatakan, “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus.” Namun KGK 67 melanjutkan, bahwa dalam peredaran waktu, terdapat apa yang disebut sebagai “wahyu pribadi”, yang beberapa diantaranya diakui oleh Gereja, namun tidak termasuk dalam perbendaharaan iman, sebab fungsinya bukan untuk menyempurnakan wahyu Kristus, tetapi untuk membantu umat beriman untuk menghayatinya lebih dalam lagi.

[4] Wahyu umum yang tertera di Kitab Injil disampaikan dengan dua cara, seperti yang dikatakan dalam KGK 76: Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:

· Secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari.

· Secara tertulis “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rauli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga telah membukukan amanat keselamatan.”

[5] Dei Verbum 9, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, Vatikan II, “Sebab Kitab suci itu pembicaraan Allah sejauh itu termaktub dengan ilham Roh ilahi.”

[6] Dei Verbum 9, “….Oleh Tradisi Suci sabda Allah, yang oleh Kristus Tuhan dan Roh Kudus dipercayakan kepada para Rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya mereka ini dalam terang Roh kebenaran dengan pewartaan mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia.”

[7] Dei Verbum 9, “Dengan demikian gereja menimba kepastian tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui kitab suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun Kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita-rasa kesalehan dan hormat yang sama.”

[8] Dei Verbum 21, “Sebab dalam kitab-kitab suci Bapa yang ada di sorga penuh cinta kasih menjumpai para putera-Nya dan berwawancara dengan mereka. Adapun demikian besarlah daya dan kekuatan sabda Allah, sehingga bagi Gereja merupakan tumpuan serta kekuatan, dan bagi putera-puteri Gereja menjadi kekuatan iman, santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani. Oleh karena itu bagi Kitab suci berlakulah secara istimewa kata-kata: “Memang sabda Allah penuh kehidupan dan kekuatan” (Ibr4:12), “yang berkuasa membangun dan mengurniakan warisan diantara semua para kudus” (Kis 20:32; lih. 1Tes 2:13).

[9] Dei Verbum 25, Oleh sebab itu semua rohaniwan, terutama para imam Kristus serta lain-lainnya, yang sebagai diakon atau katekis secara sah menunaikan pelayanan sabda, perlu berpegang teguh pada Alkitab dengan membacanya dengan asyik dan mempelajarinya dengan saksama. Maksudnya jangan sampai ada seorang pun diantara mereka yang menjadi “pewarta lahiriah dan hampa sabda Allah, tetapi tidak mendengarkannya sendiri dalam batin”[38]. Padahal ia wajib menyampaikan kepada kaum beriman yang dipercayakan kepadanya kekayaan sabda Allah yang melimpah, khususnya dalam Liturgi suci. Begitu pula Konsili suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan sering kali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (Flp3:8).

[10] Diterjemahkan dari St. Jerome, Commentary on Isaiah, Prol. PL 24, 17, “Ignorance of Scriptures is ignorance of Christ.” Seperti dikutip dalam Dei Verbum 25

[11] KGK 111. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menjabarkan cara membaca Kitab Suci pada paragraf 101-133. Lihat juga Dei Verbum 12

[12] Lihat KGK 112-114

[13] KGK 113, Dei Verbum 16

[14] Lihat Dei Verbum 10.

[15] KGK 129

http://www.katolisitas.org/702/perkenalan-dengan-kitab-suci-bagian-1

Dari mana asalnya Kitab Suci?

Posted on

Mungkin di sepanjang segala abad, tak ada buku yang lebih unik dan paling dibicarakan orang selain dari Kitab Suci. Walau sejumlah orang meragukannya, ataupun membencinya, namun Kitab Suci tetap terbukti merupakan buku yang paling banyak dibaca orang sepanjang sejarah. Walaupun di sepanjang sejarah ada banyak orang bermaksud melenyapkan Kitab Suci – seperti sejumlah kaisar Romawi di abad-abad awal yang mengeluarkan dekrit untuk membakar semua Kitab Suci- toh kenyataannya ada saja salinan Kitab Suci yang tetap ‘survive‘ dan Kitab Suci tetap eksis sampai sekarang. Voltaire, seorang seorang tokoh Enlightenmentdari Perancis, yang dikenal karena sikap skeptiknya terhadap Gereja, konon pernah memperkirakan bahwa di abad ke -19, Kitab Suci akan menjadi buku antik yang hanya dipajang di museum. Namun faktanya, perkiraan Voltaire meleset jauh, sebab yang terjadi adalah sebaliknya. Setelah wafatnya, nama Voltaire dan tulisannya mungkin hanya dikenal dalam buku sejarah, tetapi Kitab Suci masih tetap hidup dan dibaca banyak orang setiap hari, dan menjadi pegangan bagi kehidupan banyak orang, sampai saat ini.

Bible: Kitab yang suci

Bible berasal dari kata Yunani, biblos atau biblon. Kita mengenal kata ‘bible‘ dalam artinya sekarang dari St. Hieronimus di abad ke-4, yang menyebutnya sebagai “the Holy Books“, atau “the Books“, ta biblia. Persamaan kata dari the Holy Bible adalah the Holy Scriptures, yang mengacu kepada kitab-kitab yang dikenal sebagai sabda Allah yang merupakan satu kesatuan dalam kesinambungan ilahi.

Unik dalam penulisannya, unik dalam pelestariannya

Sejak dari penulisannya sampai juga kepada pelestariannya, Kitab Suci mempunyai ciri khasnya tersendiri, yang tidak dimiliki oleh buku-buku lainnya.

Ke- 73 kitab dalam Kitab Suci ditulis dalam rentang waktu berabad-abad, sekitar 1600 tahun, yang ditulis oleh sekitar 50 orang yang berbeda dari negara ataupun tempat yang berbeda. Namun semuanya menuliskan rencana keselamatan Allah yang mengacu dan mengerucut kepada Kristus. Kitab-kitab Perjanjian Lama menjabarkannya secara samar-samar, entah melalui nubuat maupun gambaran tokoh-tokohnya, namun kitab-kitab Perjanjian Baru menyampaikan penggenapannya secara jelas dan sempurna, di dalam Kristus Sang Putera Allah yang menjelma menjadi manusia. Koherensi atau keselarasan semua bagian dari kitab-kitab ini yang ditulis oleh banyak penulis yang berbeda sepanjang rentang abad yang cukup panjang- sekitar 17 abad ini- membuktikan bahwa kitab ini bukan semata karya tulis manusia, namun Allah sendiri-lah yang menginspirasikan penulisannya.

Buku yang berasal dari perkataan Sabda

Kita hidup di zaman tulisan, entah lewat media buku atau sekarang, melalui internet. Maka sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa Kitab Suci itu asalnya adalah dari perkataan lisan. Berikut ini adalah penjelasan yang disarikan dari buku What is the Bible, karangan Henri Daniel- Rops[1]:

Kitab Suci kita yang nampaknya relatif seragam sekarang, sebenarnya berasal dari komponen-komponen yang beragam. Ada saatnya di mana sebelum kalimat-kalimat tersebut dicetak dalam buku, perkataan tersebut pertama-tama didaraskan kepada para pendengar oleh para pembawa Kabar Gembira. Maka jauh sebelum dicetak, Kitab Suci pada awalnya merupakan ajaran lisan. Bentuknya adalah kisah narasi, yang disampaikan dengan pola tertentu, yaitu dengan ritme tertentu dan puisi bersajak, rangkaian kata-kata bijak yang ringkas, ataupun dengan pengulangan kata-kata tertentu yang sama. Hal ini memungkinkan teks tersebut dapat diturunkan dari generasi ke generasi, ketika bahasa tulisan belum menjadi alat komunikasi yang umum. Ini sejalan dengan keadaan budaya, spiritualitas dan sastra dalam masyarakat di mana Kitab Suci berasal. Kitab Suci bertumbuh dalam pola masyarakat yang komunal dan tidak individual, sebagai sesuatu yang spontan dan hidup; jauh berbeda dengan budaya kertas di zaman modern, di mana bahasa tulisan menjadi sesuatu yang otomatis dan umum. Agaknya sulit bagi kita untuk membayangkan bahwa ada suatu zaman dalam sejarah, di mana masyarakat dapat hidup tanpa ketentuan baku yang tertulis.

Dalam kehidupan masyarakat Israel kuno, sampai zaman Kristus, keadaannya sangat berbeda dengan zaman kita. Masyarakat saat itu terbiasa untuk berbicara dengan fasih berdasarkan kemampuan mengingat akan suatu fakta/ kebenaran. Maka sistem pendidikan saat itu bertujuan mendidik para murid, agar mempunyai ingatan seperti seumpama sumur, yang tidak membiarkan setetes-pun dari ajaran gurunya menghilang ke luar. Maka ini dilihat dari seni menghafal dan menyusun suatu komposisi teks. Ada ritme ataupun pengulangan kata-kata tertentu, atau kemiripan bunyi, untuk membantu agar teks menjadi lebih mudah untuk diingat. Kita mengetahui bahwa ajaran sudah ada jauh sebelum dituliskan, seperti halnya nubuat-nubuat nabi Yeremia yang sudah diajarkan secara lisan tujuh puluh dua tahun lamanya sebelum ajaran itu dituliskan dalam kitab. Demikian juga halnya dengan kitab-kitab nubuat lainnya, kitab Mazmur dan kitab Kidung Agung.

Namun demikian, bukan berarti bahwa di zaman itu, elemen tertulis tidak ada sama sekali. Kitab Suci sendiri secara tidak langsung menyebutkan adanya suatu kitab tertentu. Di kitab Yosua, disebutkan adanya “Kitab Orang Jujur” (Yos 10:13). Dewasa ini setelah penemuan-penemuan arkeologis dari Sinai ke Ras Shamra, diketahui adanya tulisan-tulisan Kitab Suci sejak abad ke-sepuluh dan keduabelas sebelum masehi. Sejak zaman Nabi Musa di Mesir, tulisan telah menjadi penggunaan umum di daerah sungai Nil selama lima belas abad. Namun demikian, elemen-elemen tulisan ini hanya menjadi alat bantu untuk mengingat, sebelum elemen-elemen tersebut dikompilasikan menjadi kitab-kitab seperti yang kita kenal sekarang.

Proses yang sama terjadi pada kitab Perjanjian Baru, yaitu Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat Rasul dan Kitab Wahyu. Surat-surat Rasul Paulus didiktekan, dan di sini gaya lisan timbul. Juga, kitab-kitab Injil jelaslah merupakan ajaran lisan, sebelum dituliskan. Generasi pertama Gereja hidup dari ketergantungan terhadap ajaran lisan ini. Selama empat atau lima generasi Kristen mendengarkan Injil sebagai kisah yang diturunkan melalui perkataan lisan, oleh para saksi yang kredibel. Sekitar tahun 130, ketika keempat pengarang Injil telah menuliskan kitab-kitab mereka, St. Papias, Uskup Hierapolis di Phyrgia menegaskan bahwa bagaimanapun juga, ia lebih menghargai suara/ ajaran lisan dari para Rasul yang telah hidup dan berakar dalam Gereja.[2] Demikian pula, St. Irenaeus di Lyons, mengenang hari-hari ketika ia biasa mendengarkan St. Polycarpus, Uskup agung Smyrna, apapun yang didengarnya sendiri dari St. Yohanes Rasul. Namun demikian, demi kepentingan membimbing mereka yang meneruskan kitab Injil, dan keinginan untuk menghindari deviasi, kesalahan, distorsi, maka akhirnya Injil dituliskan.

Transisi menjadi ajaran yang tertulis

Transisi dari ajaran lisan menjadi tulisan juga menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Yang pertama adalah soal waktu, yaitu pada titik mana teks tersebut ditulis? Pada teks Perjanjian Lama, terdapat kemungkinan tiga kali periode penulisan yang intensif: 1) Pada zaman Hezekiah/ Ezechias (Hizkia) anak Raja Ahaz, kemungkinan ajaran lisan maupun tulisan di Kerajaan Selatan (Yehuda) disusun, untuk dibandingkan dengan ajaran- ajaran yang dikumpulkan oleh Kerajaan Utara (Israel), yang dibawa oleh para ahli Samaritan, yang melarikan diri ke Yerusalem di sekitar tahun 722 SM (lih. Ams 25:2). 2) Di zaman Yosia, ditemukan kitab Ulangan dan versi lengkap yang pertama dari kelima kitab Musa atau Pentateuch. Karya ini diselesaikan setelah orang-orang Israel kembali dari zaman pengasingan, ketika Raja Cyrus (Koresh) di tahun 538 memperbolehkan kaum sisa Israel yang dibuang di Babilon untuk kembali ke negara mereka dan mendirikan semacam negara kecil di bawah perlindungan negara Persia. 3) Seperti Nehemia di sekitar tahun 455 membangun kembali tembok Yerusalem, Esdras (Ezra) membangun tembok benteng rohani, yaitu Bible/ Kitab Suci. Dikatakan bahwa ia mendiktekan kitab-kitab suci dan membuat bangsa tersebut mengikuti ketentuan-ketentuannya. Di abad kelima sebelum Masehi ini, versi-versi kuno yang berupa fragmen dikumpulkan, ajaran lisan dituliskan dan semua elemen yang bervariasi ini disusun menjadi koheren. Terhadap susunan Kitab Suci inilah, kemudian ditambahkan sejumlah kecil teks-teks rohani yang berasal dari abad-abad sesudahnya.

Fakta tentang Kitab Perjanjian Baru, kemungkinan lebih dikenal. Sebagaimana jelas tertulis di dalamnya, Kisah para Rasul, Surat-surat dan Kitab Wahyu merupakan teks yang dituliskan atau didiktekan. Sedangkan untuk keempat Injil, transisi dari perkataan mulut menjadi kitab terjadi dalam waktu yang berbeda, untuk alasan yang berbeda dan dalam keadaan yang berbeda. Kesaksian Papias mengatakan demikian: “Matius adalah yang pertama menuliskan perkataan Tuhan dalam bahasa Ibrani.” Maka diperkirakan Rasul Matius yang dulunya adalah pemungut cukai, adalah yang pertama menuliskan Injilnya, di sekitar tahun 50-an dengan bahasa Aram. Segera setelah itu, St. Petrus, yang saat itu di Roma, diikuti oleh Markus, seorang muda Yahudi yang mengenal bahasa Yunani. Dengan mendengarkan Rasul Petrus, Markus menulis apa yang didengarnya, dan membandingkan catatannya dengan bantuan ingatan banyak orang/ saksi pada saat itu, dan di tahun 55-62 menuliskan Injilnya.  Injil Markus ini ditulis dalam bahasa Yunani popular dan ditujukan untuk umat Kristen golongan bawah di Roma. Pada saat yang bersamaan, Lukas, seorang tabib/ dokter yang terpelajar yang menjadi teman seperjalanan Rasul Paulus tiba di Roma. Ia telah belajar banyak dari Rasul Paulus dan sepanjang waktu ia tinggal di Yerusalem telah mengumpulkan informasi langsung dari para saksi, termasuk kemungkinan dari Bunda Maria sendiri. Lukas lalu menuliskan Injilnya dalam bahasa Yunani yang sempurna dan ditujukan pertama-tama kepada orang-orang yang terpelajar yang ada disekitar Rasul Paulus. Kitab Injil-injil Yunani ini kemudian mulai dikenal orang, dan Rasul Matius juga kemudian menerjemahkan Injilnya dari bahasa Aram ke bahasa Yunani, kemungkinan sekitar tahun 64-68. Sedangkan Injil yang keempat, dari Rasul Yohanes, ditulis di Efesus setelah ketiga Injil yang lain ditulis. Injil Yohanes merupakan campuran antara kenangan, dokumentasi dan permenungan spiritual dan biasanya diperkirakan ditulis pada akhir abad pertama, kemungkinan sekitar 96-98. Urutan penulisan Injil sedemikian: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, dicatat dalam kesaksian St. Irenaeus, murid St. Polycarpus yang adalah murid Rasul Yohanes.[3]

Dalam bahasa apa Kitab Suci ditulis?

Secara umum terdapat tiga bahasa asli Kitab Suci:

1. Bahasa Ibrani, digunakan dalam kitab-kitab yang berasal dari tradisi Yahudi. Penemuan Dead Sea Scroll semakin memperkuat hal itu. Komunitas Essenes masih menggunakan bahasa Ibrani dalam naskah kitab-kitab mereka.

2. Bahasa Aram, yang berkaitan dengan bahasa Semitik, yaitu dialek bahasa Ibrani sehari-hari. Kitab yang ditulis dalam bahasa Aram adalah Injil Matius yang mula-mula, beberapa kitab Esdras (Ezra), Daniel dan Yeremia.

3. Bahasa Yunani, yang telah digunakan di zaman sesaat sebelum zaman Kristus -seperti yang digunakan dalam Kitab kedua Makabe dan Kebijaksanaan Salomo- dan juga di zaman Kristus dan setelahnya, sehingga kemudian kitab-kitab Kristiani di abad-abad awal ditulis dalam bahasa Yunani.

Cara penulisan Kitab Suci juga berbeda-beda dari abad yang berbeda. Tulisan Ibrani kuno tidak sama dengan tulisan Ibrani di zaman sekarang. Dalam tulisan Ibrani kuno tidak ada tanda-tanda dan titik yang menunjukkan adanya huruf hidup. Sedangkan tulisan Yunani dalam teks-teks Kitab Suci lebih mirip dengan tulisan Yunani yang dikenal sekarang, hanya saja pada teks asli tersebut, para penyalin tidak menyisakan spasi ataupun pemenggalan, sehingga sering menimbulkan kesulitan tersendiri untuk membacanya, ataupun untuk menurunkannya ke abad-abad berikutnya.

Pada bahan apa Kitab Suci yang asli ditulis?

Terdapat dua bahan material yang digunakan untuk menuliskan teks Kitab Suci: Yang pertama adalah papyrus, yaitu semacam batang rumput ilalang Mesir, yang diratakan dan gabungkan dengan coating, menjadi asal usul pembuatan kertas. Material ini lebih murah, namun lebih tidak tahan lama. Yang kedua adalah bahan dari kulit binatang, yang sering dikenal dengan sebutan parchment/vellum. Bahan ini lebih tahan lama. Awalnya baik papyrus maupun vellum digabungkan menjadi gulungan (disebut scroll), namun kemudian berkembang penulisan pada lembaran vellum yang disatukan menjadi bentuk buku, dan ini disebut codex. Penyusunan menjadi codex ini sudah dimulai di abad kedua sebelum Masehi, namun kemudian menjadi populer di zaman umat Kristen.

Manuskrip Kitab Suci

Mengingat sifat bahan manuskrip yang relatif tidak tahan lama, tidaklah mengherankan jika manuskrip asli kitab-kitab Suci telah punah. Hal ini juga terjadi pada manuskrip kitab-kitab non-religius di zaman itu, seperti Homer dan Pindar. Yang kita ketahui tentang kitab-kitab itu hanyalah salinannya. Namun demikian ada kekhususan dari manuskrip Kitab Suci, jika dibandingkan dengan karya-karya tulis lain sezamannya. Jika kita membicarakan teks-teks kuno, kita mau tidak mau harus memahami fakta yang terjadi sebelum ditemukannya mesin pencetak. Teks-teks tersebut akan diturunkan ke generasi berikutnya dengan salinan-salinan. Karena disalin secara manual maka memang terdapat bahaya adanya masalah akurasi dalam proses penyalinan. Hal ini berlaku pada penyalinan karya-karya sastra zaman kuno secara umum. Mungkin tak banyak orang yang mengetahui bahwa dalam penulisan karya-karya sastra klasik yang besar, terdapat interval/ selang waktu yang cukup besar antara saat karya tersebut disusun oleh pengarangnya dan saat ditemukannya salinan manuskrip yang pertama. Umumnya selang waktu itu mencapai seribu-an tahun. Hal ini juga membuktikan suatu fakta bahwa karya-karya sastra tersebut merupakan suatu warisan lisan yang telah hidup dan berakar dalam masyarakat tertentu selama berabad-abad, sebelum kemudian menjadi suatu karya tulis yang diturunkan. Demikianlah yang terjadi pada karya-karya yang ditulis oleh pengarang Yunani, seperti Sophocles (abad ke-5 SM), dan juga Aeshylus, Aristophanes,Thucydides, dan Plato, di mana manuskrip pertama yang diketahui berjarak 1100-1400 tahun dari saat penyusunan karya tersebut oleh pengarang-nya.

Demikian juga untuk kitab-kitab suci Ibrani. Teks tertua yang ditemukan, nampaknya adalah teks yang ditemukan di sinagoga di Karasubazar di Crimea, yang kurang lebih berasal dari tahun 1000-an. Di awal abad pertengahan para rabbi yang dikenal dengan sebutan Masorete memberikan perhatian terhadap tugas memperbaiki teks dan pelafalannya, dengan memberikan tambahan huruf hidup kepada teks Ibrani kuno. Teks ini kemudian dikenal dengan sebutan Massora. Konsekuensinya, memang terdapat perbedaan di sana sini antara teks Masoretik ini dengan sejumlah salinan teks lainnya, juga dari teks yang umurnya lebih tua, seperti manuskrip Septuaginta. Kitab Septuaginta adalah terjemahan Yunani (di abad ke-3-2 SM) dari kitab-kitab Perjanjian Lama Ibrani yang digunakan di Mesir dan Israel, yang kemudian kerap dikutip dalam Kitab-kitab Perjanjian Baru. Namun demikian, secara umum, penemuan the Dead Sea Scroll di sekitar 1947, menunjukkan bahwa tingkat akurasi penyalinan kitab-kitab Perjanjian Lama tersebut sangatlah baik. The Dead Sea Scroll adalah naskah-naskah kuno -yang mengandung teks-teks Kitab Suci Perjanjian Lama- yang diperkirakan disembunyikan di gua-gua Qumran sekitar tahun 66-70, sebelum Jewish War. Teks-teks itu diperkirakan sudah eksis di abad-abad sebelumnya, yaitu diperkirakan sejak abad ke-2 atau bahkan ke- 4 sebelum Masehi. Salinan lengkap kitab Yesaya dan sebagian kitab Kejadian, Ulangan dan Keluaran- menunjukkan salinan yang sangatlah mirip atau hampir identik dengan teks yang kita kenal sekarang.

Bagaimana sekarang dengan teks dalam kitab Perjanjian Baru? Fakta menunjukkan Kitab Suci Perjanjian Baru menunjukkan bukti keotentikan yang jauh melebihi karya-karya tulis sezamannya. Sebagaimana telah disinggung di atas, keotentikan suatu tulisan bersejarah, pertama-tama dilihat dari jangka waktu antara ketika karya itu dituliskan sampai ketika manuskrip pertama ditemukan. Semakin pendek jangka waktunya, maka semakin sedikit kemungkinan kesalahan dan korupsi dari kisah kejadian yang sesungguhnya oleh kesalahan penulisan. Yang kedua, kita dapat melihat tingkat otentisitas manuskrip dari berapa banyak manuskrip original yang ada. Semakin banyak manuskrip yang ada tentang kisah kejadian yang sama, terutama jika dilakukan pada waktu yang sama, tetapi pada lokasi yang berbeda, maka akan menambah nilai integritas dan keotentikan dokumen.

Sekarang mari kita lihat melihat fakta karya tulis yang penting dalam literatur sejarah, jika dibandingkan dengan teks Injil dan kitab-kitab Perjanjian Baru:

Karya tulis Kapan ditulis Copy pertama Jangka waktu Jumlah copy
Herodotus 488-428 BC 900 AD 1,300 8
Thucydides 100 AD 1100 1,000 20
Caesar’s Gallic War 58-50 BC 900 AD 950 9-10
Roman History 59 BC-17 AD 900 AD 900 20
Homer (Iliad) 900 BC 400 BC 500 643
Injil dan PB 38-100 AD 130 AD 30-50 5000 ++ Yunani,
10,000 Latin,
9,300 bhs lain

Maka kita melihat bahwa dokumen tentang sejarah Romawi ditemukan sekitar 900 tahun atau hampir 1 millenium setelah kejadian terjadi, dan hanya ada 20 copy yang masih eksis. Sedangkan, penemuan arkeologis membuktikan bahwa manuskrip Injil ditemukan sekitar 30 tahun setelah kejadian, dan bahwa terdapat lebih dari 5500 manuskrip asli[4] dalam bahasa Yunani (dan sekitar 20,000 non-Yunani) yang eksis. Kitab Injil dan Perjanjian Baru yang asli seluruhnya dituliskan dalam bahasa Yunani, karena bahasa Yunani pada saat itu merupakan bahasa yang umum dipakai, bahkan oleh kaum Yahudi. Banyaknya manuskrip Yunani yang asli tersebut dapat membantu mengidentifikasi adanya kelainan teks dan dengan demikian dapat diketahui teks aslinya. Banyaknya teks asli Perjanjian Baru juga tidak mendukung perkiraan bahwa teks tersebut dipalsukan. Sebab seseorang yang mau memalsukan harus juga mengubah beribu manuskrip yang sudah ada dan beredar di tempat-tempat yang berbeda.

Dengan melihat tabel di atas, secara obyektif kita melihat bahwa karya tulis sejarah Romawi bahkan terlihat sangat ‘minim’ jika dibandingkan dengan Injil, dari segi ke-otentikannya, akurasi dan integritasnya. Padahal orang zaman sekarang tidak mempunyai kesulitan untuk menerima sejarah Romawi tersebut sebagai kebenaran. Suatu permenungan adalah bagaimana Injil yang secara obyektif lebih ‘meyakinkan’ keasliannya dibandingkan sejarah Romawi malah mengundang perdebatan. Keaslian Injil juga kita ketahui dari tulisan Bapa Gereja, seperti St. Klemens (95) sudah mengutip ayat-ayat Injil, berarti pada saat itu Injil sudah dituliskan, demikian pula Kisah para rasul, Roma, 1 Korintus, Efesus, Titus, Ibrani dan 1 Petrus. Juga di awal abad ke-2, St. Ignatius (115) telah mengutip ayat Injil Matius, Yohanes, Roma, 1dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 & 2 Timotius dan Titus.

Dari banyaknya manuskrip asli tersebut, memang banyak orang menyangka bahwa akan terdapat banyak perbedaan-perbedaan teks. Namun ternyata, fakta menunjukkan tidak demikian. Tingkat kesesuaian manuskrip Perjanjian Baru adalah 99.5 % (dibandingkan dengan Homer/ Iliad 95%). Kebanyakan perbedaan adalah dari segi ejaan dan urutan kata. Tidak ada perbedaan yang menyangkut doktrin yang penting yang dapat mengubah doktrin Kristiani.

Memang untuk teks Perjanjian Baru, kita mengenal salinan-salinan dari zaman yang berbeda, sehingga teks dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu dengan istilahminuscule, uncials dan papyri. Minuscules adalah salinan yang diperoleh setelah abad ke-9; pada saat ini, ialah ada semacam standar penulisan teks, dan ini disebut ‘received text‘.Uncials adalah manuskrip yang ditemukan antara abad ke-4 sampai abad ke-9. Teks abad ke-4 yang terkenal adalah Codex Vaticanus (yang tersimpan di Vatikan), Codex Sinaiticus (yang ditemukan di biara Sinai, dan dibawa ke Rusia dan dijual ke British Museum). Codex Bezae di Cambrigde adalah dari abad ke-5. Codex itu sampai ke tangan seorang murid Calvin yang bernama Theodore Beza, dan diberikan kepada Universitas di Cambrigde tahun 1581. (Selanjutnya tentang banyaknya ragam codex, silakan membaca di link ini, silakan klik). Sedangkan untuk papyri, yang terkenal adalah Egerton papyrus, The Chester Beatty papyri dan papyri yang kemudian disimpan di universitas Michigan. Fragmen papyri yang terbesar, mencakup hampir keseluruhan surat-surat Rasul Paulus. Namun papyrus yang paling berharga adalah Ryland papyrus yang disimpan di Manchester, yaitu papyrus yang mengandung tulisan Injil Yohanes bab 18, yang berasal dari tahun 130, yang hampir bersamaan dengan teks aslinya yang berasal dari tahun 96-98.

Kesimpulan: Kaitan tak terpisahkan antara Tradisi Suci, Kitab Suci dan Magisterium Gereja

Pemahaman akan asal usul terbentuknya Kitab Suci harusnya semakin membantu kita untuk mengakui bahwa sesungguhnya Kitab Suci (yaitu ajaran Kristus dan para Rasul yang dituliskan), tidak terpisahkan dari Tradisi Suci (ajaran lisan dari Kristus dan para Rasul). Sebab Kitab Suci berasal dari ajaran lisan dari Kristus dan para Rasul, yang kemudian dituliskan, atas dasar kemampuan memori dari para penulisnya, dan juga pertama-tama atas dorongan Roh Kudus. Dengan kata lain, Kitab Suci mengambil sumbernya dari Tradisi Suci yang telah hidup dan berakar dalam jemaat perdana. Maka, tidak menjadi masalah, jika faktanya teks Kitab Suci yang asli/ original kemungkinan sudah punah di abad kedua, sebab ajaran yang terkandung di dalam Kitab Suci sudah ada, tetap hidup dan dilestarikan dalam kehidupan Gereja. Hal ini terlihat dari banyaknya teks Kitab Suci yang dikutip dalam tulisan para Bapa Gereja yang hidup di abad-abad awal tersebut. Inilah yang menyebabkan Kitab Suci dapat terus diturunkan dan dituliskan dengan tingkat akurasi yang tinggi, walaupun salinannya baru dapat ditemukan di abad berikutnya (sejumlah salinan teks ditemukan di tahun 130, atau mayoritas teks ditemukan dalam codices yang umumnya berasal dari abad ke-4).

Selanjutnya terbentuknya Kitab Suci juga tidak dapat dipisahkan dari proses penentuan kanonnya. Sebab tidak semua dari karya tulis di abad-abad pertama dapat dikatakan sebagai karya yang diinspirasikan oleh Roh Kudus. Magisterium Gerejalah – pertama kali oleh Paus Damasus I- yang pada tahun 382 menentukan kitab-kitab mana yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, sehingga termasuk dalam kanon Kitab Suci. Maka Kitab Suci yang kita ketahui sekarang, berasal dari Magisterium Gereja Katolik.

Tentang sejarah kanon Kitab Suci, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

Lampiran:

Tabel Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, pengarang dan perkiraan tahun penyusunannya

No  Nama Kitab  Pengarang Kitab  Perkiraan tahun penyusunan
PERJANJIAN LAMA:
A Kitab-kitab Hukum Musa
1 Kejadian Musa \  dikarang oleh Musa stl Exodus
2 Keluaran Musa  |   1600/ 1200 SM
3 Imamat Musa  | ditulis dalam beberapa tahapan
4 Bilangan Musa  |   850,750,650,450 SM
5 Ulangan Musa /
B Kitab-kitab Historis
6 Yosua NN/ Yosua sekitar 1200 SM
7 Hakim-hakim NN sekitar 1200- 970 SM
8 Ruth NN 1000-700 SM atau sebelum abad ke-6 SM
9 1 Samuel NN/ Samuel sekitar abad ke-6 SM
10 2 Samuel NN/ Samuel sekitar abad ke-6 SM
11 1 Raja-raja Yeremia 587 s/d sebelum 538 SM
12 2 Raja-raja Yeremia 587 s/d sebelum 538 SM
13 1 Tawarikh Ezra setelah 538 SM- abad 4 SM atau 250 SM
14 2 Tawarikh Ezra setelah 538 SM- abad 4 SM atau 250 SM
15 Ezra Ezra 458 SM
16 Nehemia Nehemia 445 SM
17 Tobit Tobit dan Tobias 350-170 SM
18 Yudit NN sekitar abad ke-2 SM
19 Ester Mordekhai setelah 480/465 SM
20 Ayub NN/ Musa sekitar 600- 400 SM
C Kitab-kitab Puitis dan Kebijaksanaan
21 Mazmur Daud, Musa,
Salomo, Asaph,
bani Korah, Eman,
Ethan, NN
sekitar abad ke-8 SM
22 Amsal Salomo 800 SM/sebelum abad ke-6 SM
s/d abad  ke-5 SM
23 Pengkhotbah NN/ Pseudo Salomo abad ke-3 SM
24 Kidung Agung Salomo setelah abad ke-8 SM
25 Kebijaksanaan NN/ Pseudo Salomo 200-150 SM
26 Sirakh Yeshua bin Sirakh 190-180 SM
D Kitab-kitab Nubuat
para Nabi
27 Yesaya Yesaya 742-701 SM, >539 SM, <520-473 SM
28 Yeremia Yeremia 627- <587 SM
29 Ratapan Yeremia sekitar abad ke-6 SM
30 Barukh Barukh/NN sekitar abad ke-6- 5 SM
31 Yehezkiel Yehezkiel sekitar abad ke-6 SM (592-570 SM)
32 Daniel Daniel sekitar abad ke-6 SM/ abad ke-2 SM
33 Hosea Hosea sekitar abad ke-8 SM (750-725 SM)
34 Yoel Yoel sekitar abad ke-8 SM/ abad ke-4 SM
35 Amos Amos 791-753 SM
36 Obadiah Obadiah sekitar abad ke-9 SM/ ke-6 SM/ <500 SM
37 Yunus Yunus/ NN sekitar abad ke-8 SM/ ke-7 SM
38 Mikha Mikha 740-695 SM
39 Nahum Nahum 663-612 SM
40 Habakkuk Habakkuk 610-600 SM
41 Zefanya Zefanya 640-609 SM
42 Hagai Hagai 520 SM (586-445 SM)
43 Zakaria Zakaria 520-518 SM
44 Maleakhi Maleakhi >460 SM
45 1 Makabe NN 134-104 SM
46 2 Makabe NN 124-80 SM
PERJANJIAN BARU:
47 Matius Matius 50 an
48 Markus Markus 55-62
49 Lukas Lukas 62
50 Yohanes Yohanes 90-100
51 Kisah Para Rasul Lukas 63
52 Roma Paulus 57/58
53 1 Korintus Paulus 54-57
54 2 Korintus Paulus 57
55 Galatia Paulus 57/58
56 Efesus Paulus 61-63
57 Filipi Paulus 54-57
58 Kolose Paulus 61-63
59 1 Tesalonika Paulus 50-52
60 2 Tesalonika Paulus 50-52
61 1 Timotius Paulus 65
62 2 Timotius Paulus 66-67
63 Titus Paulus 65
64 Filemon Paulus 61-63
65 Ibrani Paulus 64-67
66 Yakobus Yakobus sebelum 62
67 1 Petrus Petrus sebelum 67
68 2 Petrus Petrus sebelum 67
69 1 Yohanes Yohanes 90-100
70 2 Yohanes Yohanes 90-100
71 3 Yohanes Yohanes 90-100
72 Yudas Yudas 50-70
73 Wahyu Yohanes 60-70

Sumber:

1. Dom Orchard, gen.ed., A Catholic Commentary on Holy Scripture, (New York: Thomas Nelson and Sons, 1953)

2. Scott Hahn, gen. ed., Catholic Bible Dictionary, (New York: Double Day, 2009)

3. James D Newsome, The Hebrew Prophets, (Altanta: John Knox Press, 1984), alt. by David Twellman

4. George T. Montague SM, The Living Thought of St. Paul, (Encino, California: Benzinger Bruce & Glencoe, Inc., 1976)


CATATAN KAKI:

  1. Cf. Henri Daniel- Rops, What is the Bible, The Twentieth Century Encyclopedia of Catholicism, volume 60, (New York: Hawthorn Books, 1959) p. 14-25 [↩]
  2. Cf. St. Papias, Fragment of Papias, Ch. I. From the Exposition of the Oracles of the Lord, in Ante-Nicene Fathers: St. Papias berkata, “Maka, jika siapapun yang telah mendengarkan pengajaran para tua-tua datang, aku bertanya dengan serinci-rincinya tentang apakah yang mereka ajarkan, – apa yang dikatakan oleh St. Andreas, atau St. Petrus, atau apakah yang dikatakan oleh Filipus, atau Tomas, atau Yakobus, atau oleh Yohanes, atau Matius, atau oleh para murid Tuhan lainnya…. Sebab aku membayangkan bahwa apa yang harus diperoleh dari kitab-kitab tidaklah sedemikian bergunanya bagiku, seperti apa yang datang dari suara/ ajaran lisan yang telah hidup dan menetap. [↩]
  3. lih. St. Irenaeus, Against the Heresies, Book III, ch 1,1 [↩]
  4. Robert Stewart. ed, The Reliability of the New Testament: Bart Ehrman and Daniel Wallace in Dialogue, (Minneapolis: Fortress Press, 2011), p.17. [↩]

http://www.katolisitas.org/12702/dari-mana-asalnya-kitab-suci